
Siapa wanita yang datang bersama Tae jon di Rope of restaurant. Jepit rambutnya lepas saat ia mengucapkan terimakasih tadi. Aku merasa aku pernah mendengar suaranya di suatu tempat, suaranya tidak asing bagiku. Rambutnya yang basah menutupi sebagian wajahnya . Sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Perutku terkadang masih sakit, memar bekas tendangan gadis pengejar copet masih bisa ku lihat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib pencopet itu jika tertangkap. Gadis itu pasti tidak akan melepaskannya, aku sangat yakin pencopet itu akan berakhir di rumah sakit.
Tubuhku bergidik. Aneh, membayangkan pencopet itu babak belur membuatku ngeri.
"Maafkan aku, datanglah ke Bakery jika kau berkunjung ke Seoul.."
"Gomawo"
Deg ...
Kedua suara itu? suara gadis pengejar copet, dan gadis kenalan Tae jon, suara keduanya sama. Jangan-jangan gadis kenalan Tae jon dan gadis pengejar copet adalah orang yang sama.
Untuk memastikannya, aku harus mengunjungi Bakery dan menemui gadis itu.
Mungkin saja dia mau menjadi temanku, dan mengajariku ilmu bela diri. Aku mencoba menghubungi Tae jon tapi tidak di angkat, kemana bocah itu? jarang sekali ia mengabaikan telpon dariku.
"Jangmi ssi, makan malam sudah siap" teriak asistenku dari ruang makan.
****
Kami akan pulang hari ini, Tae jon sudah memasukkan koper kami kedalam mobil. Aku memeluk Ahjumma dengan erat, Ahjumma begitu baik padaku. Ia merawatku saat kami berada di sini, aku sungguh menyesal karena telah menghilangkan jepit rambut pemberiannya.
Aku juga memeluk tuan Park, semoga saja suatu hari kami bisa bertemu lagi. Tae jon membukakan pintu mobil untukku, aku masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangan kearah tuan Park dan istrinya.
Tae jon mulai menjalankan kemudi mobil dan meluncur meninggalkan Villa yang memberiku cukup banyak kenangan. Aku membuka jendela mobil, membiarkan angin laut masuk. Ku rekam semua pemandangan yang ku lihat, agar bisa tersimpan dengan baik di ingatanku. Aku tidak ingin melupakan pemandangan indah ini walau hanya sejengkal.
"Kau bahagia?" tanya Tae jon
"Maksudmu?" aku mengernyitkan keningku
"Selama di Jeju, apa kau bahagia?"
"Aku bahagia, sangat" ku sunggingkan senyum terbaikku
"Kau ingat saat perjalanan kita menuju Jeju?"
"Ya, kenapa?"
"Kau bertanya, apa kau mencuri hatiku?"
"Benarkah, apa aku menanyakan itu" sahutku sambil terus mengingat-ngingat.
"Kau sudah ingat sekarang?" tanyanya lagi, dan aku mengangguk karena ingatanku tentang perkataanku saat perjalanan menuju Jeju sudah ku temukan.
"Iya, jawabanku Iya"
"Apa maksud dengan jawaban Iya itu"
"Ne, nonen naye maemel huncyatta (kau telah mencuri hatiku)"
Aku tersentak, ku rasakan wajahku memanas. Pasti kini wajahku semerah tomat, Tae jon tersenyum.
Tuhan..
Ahh.. aku sedikit kecewa, aku memang gadis bodoh yang tak tau akan tempatku. Selalu saja berharap lebih, padahal pengakuannya ini sudah cukup membuat gadis-gadis lain terbang ke awang-awang.
Setelah mengantarku pulang, Tae jon langsung memutar balikkan mobilnya untuk menuju rumahnya. Awalnya ia ingin mampir ke apartemenku tapi aku menolak dan menyuruhnya cepat pulang, agar bisa lekas beristirahat.
Aku menghempaskan tubuhku di pembaringan, aku merindukan suasana kamar apartemenku ini.
Bagaimana kabar Kang chul sekarang? apa dia baik-baik saja? haruskah aku menelponnya, tapi aku ragu untuk menghubunginya. Teringat olehku kali terakhir kami bertemu, itu cukup buruk. Aku memandangi no kontak Kang chul di layar ponselku. Antara iya atau tidak untuk menyentuh tombol berwarna hijau.
"Bagaimana kabarmu, Oppa?" tanpa sadar aku mengirim pesan itu para Kang chul, lalu sesaat kemudian
"Bagaimana liburanmu? aku baik-baik saja" ini lah Kang chul yang ku kenal, dia tidak akan pernah lama dalam hal membalas chat dariku. Aku harus membalas apa ya.
"Oppa, saat libur kemaren aku sakit dan sempat di rawat di RS" Pesan ini akan membuat Kang chul melompat mencari kunci mobilnya, lalu segera menemuiku di sini. Ia mempunyai kepanikan berlebih jika mendengar aku sakit.
Aku duduk santai di depan telivisi dan menunggu kedatangan Kang chul. Hanya dua puluh menit, ku dengar pintu apartemenku di buka dari luar "Oppa" aku tersenyum girang
"Kau" Kang chul membuang nafasnya, lalu menghempaskan tubuhnya di sisiku. "Aku membatalkan rapatku ketika kau bilang kau sakit, dan kau menipuku?"
"Aku kan bilangnya aku sakitnya saat liburan di Jeju, bukan sekarang" dia berpaling menatapku
"Aku waktu itu jatuh ke kolam pada malam hari, lalu aku demam tinggi. Aku di rawat di RS untuk menurunkan demamku" dia menarik lalu memelukku. "Tapi sekarang aku sudah sembuh Oppa, aku baik-baik saja. Aku mengirim pesan itu karena bogosippo yo"
" Dasar gadis nakal, kau harus mendapat hukuman" kedua tangan Kang chul langsung menggelitik pinggangku, aku memberontak tapi ia terus menggelitikku. Aku tertawa terpingkal dan berguling di lantai, Kang chul masih saja terus menyerangku. Kami tertawa bersama dan melupakan konflik di antara kami.
"Oppa, kau kemari karena mengira aku masih sakit kan? tapi mengapa kau tak membawakanku makanan?"
"Apa kau tidak punya makanan di sini?" aku menggeleng "Aku kan baru pulang liburan, aku belum belanja dan kini aku lapar sekali"
"Oppa, traktir aku makan" rengekku manja, ia menarik kepalaku lalu mengacak-acak rambutku. "Kau selalu saja memanfaatkan aku, dasar gadis nakal"
Tetap saja Kang chul tak akan pernah bisa menolak permintaanku. Kami makan di restauran yang ada di lantai bawah apartemenku. Kang chul juga mengajakku pergi berbelanja, kami membeli isian untuk kulkasku yang kosong.
Tentu saja semua itu Kang chul yang membayarnya, jika pergi bersamanya atau Tae jon aku tidak akan pernah mengeluarkan uang dari dalam dompetku. Mereka selalu melarangku jika aku ingin membayar sesuatu yang ku beli dengan uangku sendiri, kalimat yang sama selalu terlontar dari bibir mereka
"Dimana harga diriku sebagai lelaki jika wanitaku harus membayar apa-apa dengan uangnya sendiri"
Kang chul membawaku ke dalam sebuah butik, "Kau harus membeli gaun" ucapnya padahal aku menolaknya tapi ia tetap kekeh membawaku ke butik ini.
Saat Kang chul sibuk memilihkan gaun untukku, aku mendapat pesan dari Tae jon "Mau pergi ke Namsangol Hanok Village dengan ku. Akan ada pertunjukan Samulnori minggu depan"
Ku lirik Kang chul, sekarang ia sibuk memilih sepatu untukku "Oke, aku menyukainya" ku kirim balasan untuk Tae jon.
Kang chul memanggilku menyuruhku mencoba sebuah sepatu tanpa hak, aku biasanya menyebut sepatu seperti itu dengan sebutan selop.
"Bagus untukmu, kau tidak suka heals. Jadi kau bisa pakai sepatu yang seperti ini" aku mengangguk, dan memperhatikan kakiku. Tidak buruk, terlihat feminim dan elegan. Saat ku lihat bandrol harganya. Daebak... harganya juga elegan tapi tidak feminim.
Kang chul memaksaku untuk mencoba beberapa gaun. Gaun dengan bandrol harga yang membuat kepalaku pening, aku harus ektra hati-hati saat memakai dan melepas gaun-gaun ini, aku tidak ingin merusak gaun-gaun ini lalu membayar denda.
Kang chul membelikanku dua belas gaun, padahal aku tidak tau harus ku pakai kemana gaun-gaun ini kelak. Kang chul juga membeli beberapa kameja untuknya. Aku melihat sebuah kameja berwarna abu-abu, dengan hiasan benang timbul di kerah dan kancing tangannya.
Aku akan kembali lagi nanti kesini, aku ingin membelikan kameja untuk Tae jon. Jika aku membelinya sekarang ini akan membuat Kang chul terluka.
Namun Kang chul mengatakan jika ia ingin pergi ke toilet, segera aku mengambil kameja yang ku incar. Saat mengambil kameja yang ku inginkan, aku melihat kameja lain berwarna kuning lembut. Itu akan cocok untuk Kang chul, aku memutuskan untuk membeli kameja itu juga. Kang chul sudah baik kepadaku, tidak ada salahnya jika aku memberinya hadiah.