Snow In Seoul

Snow In Seoul
PRIA BARU



Pintu kamarku tiba-tiba terbuka dengan kasar Kang chul Omma berdiri di ambang pintu "Sebaiknya kau minta maaf pada Kang chul" Perempuan itu masuk ke dalam kamarku, berdiri tepat di hadapanku dengan dua tangan menekuk di pinggang. Aku enggan menoleh atau menjawab, aku hanya fokus pada pakaian yang sedang ku masukkan ke dalam tas.


" Kau mau pergi?" Aku merasa perempuan itu melangkah semakin dekat, aku menghentikan aktivitasku, memilih duduk di tepi ranjang dan menatap Kang chul Omma


"Nde (iya dalam bahasa formal) , aku akan pergi ke Jeju, aku ingin memantau restoran kita yang ada di sana, sudah hampir satu tahun aku tidak pernah pergi kesana" perempuan itu masih berdiri kali ini hanya satu tangan yang menekuk ke pinggang.


"Kali ini karena Kang chul aku tidak akan melaporkan perbuatan kasarmu para Presdir, seandainya Kang chul tidak memohon padaku, aku pasti sudah melaporkan mu dan.."


"Dan apa? Appa akan membenciku? Appa akan balas menamparku? Huh.. apa lagi? aku sudah kebal dengan semua itu, semenjak Omma datang kerumah ini"


"Jaga bicara See wo, kau tidak pernah sadar akan posisimu" bentaknya kasar


Aku tertawa lirih "Omma, aku sudah berusia 18 tahun saat Appa meresmikan hubungan gelap kalian. Pada umur itu aku sudah tau dan sadar di mana tempatku, yang aku pikirkan hanya satu" ku tarik tasku dari atas kasur lalu menggendongnya di pundak "Kenapa di usiamu saat itu, kau masih belum sadar akan tempatmu?" ucapku sinis sambil beranjak pergi.


"Hei Kang see wo, berhenti bersikap angkuh di depanku. Dasar ******** tak tau diri, apa jadinya dirimu jika keluarga ini tak memungutmu"


Selalu sama, mulutnya selalu tajam dan mampu menusuk dan mengiris-iris hatiku. Mengapa perempuan yang di pungut Appa di jalanan bisa begitu angkuh setelah bergelar menjadi nyonya keluarga Kang. uri omma (ibuku) adalah seorang wanita bangsawan, namun sikapnya selalu lembut dan penuh welas asih. Kenapa orang baik selalu pergi lebih dulu, mengapa Omma meninggalkanku? memberi peluang untuk perempuan itu masuk ke dalam rumah ini. Memegang gelar sebagai Ratu di keluarga Kang. Mengubah seluruh seluk beluk rumah ini seakan tak ingin meninggalkan sedikitpun memori tentangmu Omma.


Lukisan tangan Uri Omma yang dulu tergantung mewah di dinding ruang keluarga, kini berubah menjadi lukisan segerombolan kuda yang sedang berlari dan entah mereka berlari karena apa. Bahkan lemari tempat koleksi boneka crystal uri Omma, kini bergeser mendekati pintu dan beralih fungsi menjadi tempat keramik-keramik kumuh milik perempuan itu yang entah ia pulung dari mana.


Aku meluncur pergi meninggalkan bangunan megah yang berlabel istana keluarga Kang. Istana yang dulu ku anggap surga kini berubah menjadi neraka kedua selain kantor. Pergi ke Jeju adalah pilihan instan terbaikku, daripada aku harus terus mendengar rengekkan Kang chul. Aku tau uri dongsaeng (adikku) itu berhati tulus, ia ingin aku mendapatkan apa yang sudah menjadi hak ku. Di istana itu hanya Kang chul lah orang yang tulus menerimaku, anak itu berbeda jauh dari ibunya, Bagiku Kang chul Omma tidak kurang seperti iblis yang menyamar menjadi manusia.


*****


Aku mendengar ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku. Aku langsung melompat keluar dari bathub dan segera mengunci pintu kamar mandi


"Apa kau sedang mandi?" ouch.. ternyata Tae jon ku pikir pencuri. Tadi l


suara langkahnya terdengar mengendap-ngendap.


"Nee, sebentar lagi aku keluar, ada apa?"


"Aku hanya ingin mengajakmu pergi jalan-jalan keluar"


"Tunggu lah sebentar dan tolong tunggu aku di luar kamar" aku mendengar dia berdehem lalu pintu kamar yang berderit terdengar kembali, pertanda ia sudah membuka pintu dan keluar.


Memakai celana training dan T-shirt pink lengan pendek sangat nyaman untuk suasana pantai yang santai. Tae jon menatapku dengan senyum di kulum


"Wae yo? ada yang salah?"


Tae jon melirik ke arah tua Park, tuan Park adalah penjaga Villa ini.


"Yeoppo, dia sangat cantik. Berhentilah menggodanya Tuan muda" Ahh.. tuan Park kau memang Chang (nomer 1). Tae jon meraih jemariku mengajakku berjalan keluar Villa. Kami melewati mobil yang terparkir di halaman dan terus berjalan.


"Apa kau ingin mengajakku tersesat di Jeju?" tanyaku seraya meliriknya


"Entahlah... Aku hanya ingin mengulang momen saat kita tersesat di Seoul. Saat itu sangat menyenangkan karena aku bersamamu" aku tersenyum dan menggenggam erat jemarinya. Tuhan, ini mimpi yang menjadi kenyataan.


"Di negeriku ada sebuah trend merayu" ucapku saat kami berhenti di bawah rindangnya pohon hmm.. aku tak tau nama pohon ini, sekali lagi jika aku di suruh menyebutkan nama pohon ini. Aku akan bilang ini pohon Akasia.


"Rayuan?" Tae jon mengeryitkan keningnya "Emm" sahutku sambil mengangguk. "Seperti apa?" kau mengambil beberapa lembar daun di tanah, melipatnya lalu menusuknya dengan ranting-ranting kecil.


"Jika Tuhan menciptakanku sebagai sebuah benda, apa kau tau aku ingin menjadi apa?" kau menggeleng, menatapku dan menghentikan kegiatanmu.


"Aku ingin menjadi sebuah sisir"


"Sisir? Wae?" kali ini keningmu berkerut.


"Agar aku selalu bisa membelai lembut rambutmu" Tae jon tersentak, ada rona merah di pipinya. Dia tampak salah tingkah, bahkan untaian daun yang ia buat jatuh dari pegangannya.


"Seperti itu contohnya"


"Ouch... " Tae jon menunduk dan mengambil untaian daun yang jatuh "Menarik.." Seperkian detik kemudian Tae jon kembali hanyut dengan daun-daun di tangannya, aku terdiam dan membiarkan rambutku yang tergerai tertiup angin laut.


"Selesai" sebuah mahkota dari daun terpasang di kepalaku rupanya ini yang ia kerjakan dari tadi, Ahh.. kekanak-kanakan.


"Kau menyukainya?" Aku mengangguk, Kami memutuskan untuk berjalan dan mencari restoran terdekat, sambil berjalan kami bercerita tentang masa lalu dan keluarga kami masing-masing, seakan-akan tak ada rahasia lagi di antara kami.


"Awas!!" aku melesat kedepan. Menarik tubuh Tae jon ke pinggir. Seorang namja sedang berlari ke arah kami, jika aku tak cepat menarik tubuh Tae jon, Namja itu bisa saja menabrak tubuh Tae jon dengan keras. Tae jon tercengang menatapku, Namja itu terus berlari, hanya berbeda beberapa detik segerombolan laki-laki berbadan kekar juga berlari kearah kami, mereka mengejar Namja itu.


Kurang lebih 15 meter dari tempatku berdiri, namja itu tertangkap, dengan jelas aku bisa melihat para pria kekar memukuli namja itu tanpa ampun. Aku melangkah mendekat, Tae jon memegang lenganku dan memaksa langkahnya mengikutiku. namja itu tampak kepayahan, jas ia pakai robek, hidungnya berdarah, ada darah juga di pelipis mata kirinya. Banyak orang menonton kejadian ini tapi tak ada yang tergerak untuk menolong Namja itu. Aku melepaskan pegangan tangan Tae jon dan segera berlari mendekati kericuhan itu.


"Apa yang kalian lakukan?" aku menerobos masuk ke area perkelahian, dan menarik tangan namja yang sudah babak belur itu."Sebaiknya kau jangan ikut campur Agashi(nona)" ucap salah satu lelaki bertubuh kekar.


"Minggir, jika kau mau selamat gadis kecil'?" teriak lelaki yang memiliki tubuh lebih besar."Oke kita lihat siapa akan selamat,kau atau aku" aku memasang kuda-kuda, bersiap untuk sebuah perkelahian, sengaja aku menantang lelaki yang bertubuh paling besar karna aku yakin dia lah Boss dari komplotan ini.


Bukan karena aku kuat atau sok berani, tapi sebuah falsafah di perguruan pencak silat yang ku ikuti mengatakan, "Besar belum tentu menang, kecil belum tentu kalah" karena falsafah itu aku yakin jika aku berpeluang menang melawan lelaki. bertubuh paling besar ini