Snow In Seoul

Snow In Seoul
PRIA BARU 2



Tanpa pikir panjang ku arahkan kakiku ke wajahnya. Lelaki itu mundur beberapa langkah, siap memasang kuda-kuda dan balik menyerangku, perkelahian sengit di mulai. Aku mengelak pukulannya, bergeser lalu menendang telak kearah ***********, lelaki itu meringis kesakitan. Beberapa detik kemudian ia sudah kembali menguasai dirinya, menyerang dan telak memukul wajahku. Aku mimisan, tidak buruk.


Aku tak mau lengah, aku mengeluarkan tendangan putarku sedikit melompat sehingga aku bisa menendang tepat di tengkuk lehernya. Lelaki itu sempoyongan, dan sebelum ia benar-benar jatuh ke tanah, aku lebih dulu memberinya kembali tendangan yang kini mengarah ke lehernya. Lelaki itu ambruk.


Melihat Boss mereka sudah terjerembab tak berdaya, mereka mulai menyerangku secara bersamaan membuat Tae jon ikut masuk ke arena perkelahian. Namja babak belur yang tadi ku kami tolong, kini bangkit dan ikut membantu perkelahian ini. Meskipun pertarungan ini tak begitu imbang, karena 3 orang berbadan kecil melawan 5 pria bertubuh besar. Namun berkat bantuan Tuhan kemenangan berada di pihak kami, mereka lari tunggang langgang sambil sesekali mengumpat kearah kami.


"Gomawo" ucap namja itu lirih. ia tampak terengah-engah, wajahnya babak belur dan sulit untuk di kenali. Mungkin jika suatu saat kami bertemu di jalan dan wajahnya sudah kembali normal aku tak akan mengenalinya. "Sebaiknya kau ikut dengan kami, kami akan mengobati luka-lukamu" aku menoleh pada Tae jon berharap dia mengerti isi pikiranku, tampaknya Tae jon setuju denganku.


"En benar, ikutlah dengan kami" Tae jon maju untuk membantu namja itu berjalan. Kami memapahnya sedikit demi sedikit menuju arah Villa, kami sudah berjalan cukup jauh tadi sehingga untuk kembali pun kami membutuhkan banyak waktu terlebih kami harus memapah namja ini berjalan.


"Ahjussi, bantu kami" Tae jon berteriak ketika kami mulai memasuki gapura terlilit tanaman perdu. Dengan tergopoh-gopoh tua Park berlari menghampiri kami, dan menggantikanku memapah namja yang kami tolong masuk ke dalam Villa. Kami menidurkannya di atas sofa, tuan Park segera berlari menuju dapur untuk mengambil air hangat dan handuk kecil.


Aku segera menyeka setiap luka di wajahnya, membersihkan noda darah dari wajahnya. Tiba-tiba Tae jon menyeka bawah hidungku dengan kain hangat "Aku tak menyangka kau bukan hanya pemabuk, tapi preman juga" sarkasmenya padaku.


Aku tersenyum tipis "Apa aku belum cerita jika aku mengikuti pelatihan beladiri sejak sekolah menengah"


"Kau melewatkan bagian itu kau hanya bercerita kalau kau aktif di kegiatan pramuka"


Namja itu meringis saat aku meneteskan obat pada luka-lukanya. "Siapa namamu? sebenarnya sejak tadi aku ingin bertanya, tapi karna keadaannya rumit jadi aku urungkan" dia menggerisut lalu duduk "Namaku Kang see wo"


"See wo, perkenalkan aku En dan dia kau pasti sudah mengenalnya dia Kang tae jon" tuan Park datang dengan membawa 3 mangkok ramyeon. Mungkin ia dan istrinya tidak memasak, karena saat kami pergi tadi kami berpamitan untuk makan malam di luar.


"Sebaiknya kita makan dulu, bertarung membuatku lapar" Tae jon segera memberiku semangkuk ramyeon, ia mengambil mangkuk lain dan menyerahkannya pada See wo, dan akhirnya mengambil mangkuk untuk dirinya sendiri.


Aku menyuap ramyeon ke mulutku berusaha menikmati rasa rumput laut pada ramyeon. Aku melirik mangkuk yang di makan Tae jon, isinya dan warna ramyennya berbeda dengan milikku.


"Mengapa menatapku, apa kau menginginkan ramyeon bulgogiku" Tae jon memeluk erat mangkuk ramyeonnya seolah-oleh melindungi miliknya yang paling berharga.


"Aku hanya ingin sedikit menyicipi ramyeon milikmu" rengekku manja


"Oke, sedikit ya" Tae jon menyuapkan sesendok ramyeon kemulutku, rasanya lebih enak dari ramyeon milikku. "Tae jon ayo kita bertukar ramyeon" pintaku


"Aku tidak mau, kecuali kau memanggilku Oppa" godanya


"Aku dua tahun lebih tua darimu, kau yang seharusnya memanggilku Noona" aku berdalih.


"Kau bukan Noona, tapi Ahjumma" ia mengulurkan lidah kepadaku.


"Apa rasa ramyeonmu" see wo mulai membuka mulutnya


"Rumput laut" sahutku pendek, See wo mengulurkan mangkuk ramyeonnya padaku "Aku akan menukar ramyeonku dengan milikmu, ini juga rasa bulgogi" dengan senyum sumringah aku menukar ramyeon ku dengan milik see wo.


"Kau baik sekali Oppa, tidak seperti seseorang yang ku kenal" aku melabuhkan pandangan sinis ke arah Tae jon.


"Hyung, kau orang yang tidak pilih-pilih makanan, tidak seperti gadis pemabuk yang ku kenal" balas Tae jon. Kilatan mata kami saling beradu, membuat kami menyuapkan ramyeon ke mulut kami masing-masing dengan cepat.


"Kalian sepasang kekasih" tanya See wo


"Ani-yo" jawabku dan tae jon bersamaan


"Ani-yo" sekali lagi kami menjawab serempak


"Dia sesaeng(fans fanatik) yang selalu mengikutiku" Tae jon melirikku dengan senyuman menggoda


"Bohong, bahkan dia yang mengajakku kemari"


Tae jon berdiri di hadapanku, aku tak mau kalah dan ikut berdiri dengan kedua tangan menekuk kepinggang "Kau sudah lupa saat kau mabuk di kincir raksasa kau bilang 'aku ingin berlibur ke pulau Jeju bersamamu' rengekkanmu itu yang membuatku membawaku kemari"


"Aigo, aigo aigo. Jadi begitu, siapa yang bilang ingin membawaku ke Pulau Jeju karena takut kesepian" aku menyentakkan kepalaku dan mengenai hidung mancung Tae jon


"Akhh.. dasar gadis pemabuk payah" aku mencibir menatap hidungnya yang memerah. Aku jadi menyesal karena sudah merusak wajah tampannya. Aku mengambil handuk hangat lalu menyeka hidungnya "Mian, kau suka menggodaku dan membuatku kesal"


"Kalian pasangan serasi, mengapa kalian tidak berkencan saja"


"Shiro yo(tidak mau)" ucap kami serempak membuat See wo tertawa geli. tuan Park datang dan membereskan mangkuk bekas kami makan, juga membawa wadah air hangat dan handuk kecil yang tadi kami pakai kebelakang.


"Kenapa orang-orang tadi mengejarmu" See wo mendesah, meluruskan kaki panjangnya "Ku pikir mereka adalah orang-orang suruhan istri muda uri Appa"


"Jeongmal (benarkah/serius) bearti ibu tirimu" Tae jon mencoba memastikan.


"Entahlah, apa bisa aku menyebutnya ibu tiri, bagiku dia hanyalah wanita simpanan Appa"


Aku menyeruput susu hangat yang baru saja di suguhkan oleh tuan Park


"Apa dia jahat? seperti ibu tirinya putri salju?"


"Yakk (Hei), mengapa membawa dongeng dalam kehidupan nyata" please Tae jon berhentilah mengkritikku.


"Lebih jahat dia lebih jahat dari semua kisah ibu tiri pada buku dongeng"


"Sebelum aku berangkat ke pulau ini. Aku terlibat perkelahian kecil dengan adik tiriku, aku memukul wajahnya, wanita itu tidak terima dan memaksaku untuk minta maaf pada anaknya, aku menolak, Karena itu ia mengirim preman-preman tadi untuk memberiku peringatan"


"Hanya karena itu ibu tirimu mengutus preman-preman tadi. Wahh dia wanita yang mengerikan"


See wo mendesah "Dia bukan ibu tiriku, aku pun tidak tau harus menyebutnya dengan sebutan apa? aku adalah anak adopsi Appa dengan alhmarhum istri pertama Appa"


"Jadi ibu yang bukan ibu tirimu itu, selalu bertindak kasar kepadamu, untuk membela anaknya?"


"Tapi memukul namja dongseang-mu juga salah (adik laki-laki)" seloroh Tae jon.


"Pertengkaran dengan saudara itu lumrah Bung, aku pernah bertengkar dengan Oppa-ku, bahkan banyak memar di tanganku. Pada akhirnya kami baikan lagi"


Tae jon manggut-manggut tampak seperti pak ogah pada sinema si Unyil. "Aku juga punya Hyung, tapi kami tidak pernah bertengkar"


"Kau beruntung Bung, karena seingatku temanku yang bukan anak tunggal, pasti pernah bertengkar dengan saudaranya" ucapku sambil duduk di sebelah Tae jon.