Snow In Seoul

Snow In Seoul
KONFLIK KELUARGA KANG



En, kemana kau pergi dengan aktor itu? setelah kejadian di antara kita kemaren, kau memilih pergi bersama dia. Tidakkah kau sedikit saja memikirkan perasaanku, atau setidaknya kasihan pada orang malang sepertiku. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan saat kau masuk ke dalam mobil aktor itu dan melaju pergi. Aku ingin mengejarmu, tapi masalah ku di sini jauh lebih pelik.


Pernikahanku yang di percepat, membuat kepalaku hampir meledak. Sebelum hari itu tiba aku harus bisa membatalkan acara pernikahan ini, aku tidak ingin menghancurkan hidupku ataupun hidup Soo he. Tidak akan pernah ada cinta di antara kami, meskipun aku mencoba sekuat hati dan pikiranku, aku tetap tidak akan bisa mencintai Soo he.


Aku melempar mantel ke arah sofa, menghempaskan tubuhku ke atas sofa, menarik nafas dalam-dalam dan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Rasanya hidup ini begitu rumit.


Kehidupanku normal yang ku miliki saat aku hanya hidup bersama Omma, hingga pada akhirnya Kang si won datang. Dia lelaki yang tidak pernah aku dengar keberadaannya, tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ayah kandungku. Selama 12 tahun hidupku, Omma tidak bercerita tentang Appa sekalipun. Yang aku tau aku seorang anak yatim.


Omma mulai memberi pengertian kepadaku, kenapa selama ini kami harus bersembunyi. Kenapa Omma tidak pernah menceritakan perihal Appa. Kenyataannya Omma adalah istri simpanan Appa, layaknya sebuah barang simpanan. Aku dan Omma harus bersembunyi dari semua orang yang mengenal Appa. Mereka menyimpan rahasia hubungan mereka dengan sangat rapi.


Istri pertama Appa meninggal karena sakit, tiga bulan setelah kematian istri pertamanya Appa menikahi Omma, lalu memboyong kami untuk tinggal di istananya yang megah. Ia mengakui dan sangat menyanyangiku tapi ia tidak pernah mengakui sebagai anak kandungnya di hadapan media atau semua orang. Mengakuiku bearti mengungkap skandal masa lalunya.


"Kang chul, kau akan menjadi pewaris tunggal Kang group. Kau akan menjadi kebanggaan keluarga Kang. Appa yakin kau akan menjadi langit kejayaan Kang group. Kelak Appa akan menyerahkan semua ini di atas pundakmu, jadi lah pria dewasa yang hebat. Anakku"


Kalimat-kalimat itu terus menghantuiku. Seakan memberi sebuah tali kekang di leherku, yang semakin lama semakin rapat dan mencekikku sehingga aku kehabisan nafas. Appo yo


"Chagiya (Sayang), kau sakit?" Omma duduk di sisi sofa lalu menyentuh dahiku menggunakan telapak tangan kanannya.


"Omma, bisakah kau membantuku?" ku raih dan ku genggam jemarinya.


"Jika tentang pernikahanmu, Omma tidak bisa membantumu karena Appa sudah mempersiapkan semuanya secara mendetail.


Aku melepaskan genggaman tanganku dan menarik nafas kasar. "Apa benar kita tidak bisa membatalkan pernikahan ini?" mataku menatap deretan lemari keramik koleksi Omma, ada beberapa figure binatang yang terbuat dari keramik dan nampak mengkilat, Omma juga memiliki beberapa piring dan gelas dari dinasti Joseon.


"Kita tidak bisa sayang. Kau juga tau jika pernikahan ini sangat berharga untuk kelangsungan kerajaan bisnis kita"


"Omma, kenapa Appa tidak menjodohkan Soo he dengan Hyung? Hyung bahkan sudah di usia yang baik untuk menikah di banding aku" aku menarik lengan kamejaku, bangkit untuk duduk dan memberi ruang lebih banyak untuk Omma.


"Kang chul, kau sangat tau jika See wo bukanlah anak kandung Appa-mu"


"Lalu kenapa? bukan Appa membesarkannya, Hyung juga terdaftar sebagai anak Appa dan Ny. Hae (mendiang istri Kang si won) Hyung juga anak Appa, seharusnya tidak ada perbedaan di antara kami, Omma mengertilah" aku melihat Omma menunduk menarik-narik ujung dres yang ia kenakan.


"Jelas kita berbeda adikku" Aku tersentak tanpa kami sadari See wo sudah berdiri di hadapan kami.


"Hyung"


"Hyung, untuk menutupi skandal masa lalunya Appa tidak pernah mengakuiku sebagai anak kandungnya di mata dunia. Semua orang berfikir aku adalah anak tiri dari presiden Kang. Lalu apa yang membuat kita berbeda? Appa tidak pernah bersikap adil kepadamu"


"Kau tidak boleh berbicara seperti itu" See wo mengalihkan pandangannya tapi justru membuat emosiku membuncah.


"Wae? Hyung, apa yang aku katakan adalah kebenaran. Appa tidak pernah adil padamu. Appa mengirimku ke Harvard padahal kau lah yang ingin pergi kesana. Kau berjuang sendiri agar mendapat beasiswa dan menyusulku ke Harvard. Bahkan ketika kau sudah berada di sana, Appa melarangmu tinggal serumah denganku, ia melarangmu mengambil jurusan yang sama denganku. Lebih parah lagi Appa menyuruhmu bersikap seolah-olah tidak mengenalku"


"Cukup Kang chul" See wo bangkit dari duduknya, aku melihat tangannya gemetar "Bagiku Appa adalah keberuntunganku, aku tidak akan bisa berdiri dengan kepala tegak seperti saat ini jika Appa tidak memungutku. Mematuhi semua perintahnya adalah bukti berbaktiku, aku tidak ingin mengecewakannya"


"Meski kau selalu dibuat kecewa? Hyung, jika kau sekarang berpaling darinya itu lebih baik untukmu. Kau bisa bekerja di perusahaan lain, mendapat gaji tinggi dan menikah, tanpa perlu terus menerus menjadi anjing penjilat Appa"


Plakk...


"Kang See wo berani-beraninya kau menampar anakku" Omma berteriak dan langsung memeluk tubuhku.


"Pukul aku Hyung, pukul hingga kau merasa puas, hingga semua pikiranmu terbuka, agar kau sadar kalau Appa bukan lah keberuntungan untukmu atau untukku. Appa hanyalah tali kekang untuk leher kita berdua."


See wo membalikkan tubuhnya , segera melangkah menuju pintu meskipun aku masih berteriak-teriak padanya. Tampaknya teriakanku tak mengganggunya sama sekali terbukti sekarang dia sudah menghilang di balik pintu, aku hanya bisa menatap kepergiannya. Sementara Omma sibuk mengelus-elus pipiku


Hyung, aku mengerti perasaanmu?


tapi kenapa kau selalu menyembunyikan semua lukamu?


"******** itu sungguh tidak sadar akan tempatnya." aku menepis tangan Omma yang terus memegang pipiku.


"Omma akan mengambil air dingin dan handuk, Omma akan mengompres pipimu itu"


"Jebal Omma, berhentilah" Omma menatapku dengan pandangan ambigu.


"Aku bahagia saat tak ada Appa di sisi kita, kau lihat luka di mata See wo Hyung. Lukaku juga sama dalamnya, jadi ku mohon berhentilah"


"Berhenti? kau minta Omma berhenti dari apa? Berhenti jadi Omma-mu? berhenti menjadi istri Appa-mu? berhenti melindungimu? atau berhenti menjadi ibu tiri See wo?." aku mengambil mantel yang tadi ku lempar ke atas sofa.


"Berhenti menyakitiku atau See wo, aku sudah sangat lelah Omma." aku melangkah menjauhinya, Omma masih berdiri di tempatnya hingga aku menghilang dari balik pintu. Di saat aku terlibat konflik yang tak berkesudahan, kau bersenang-senang dengan aktor itu di Jeju.