
Kantor Kang group bukanlah kantor sembarangan. Kantor ini begitu besar memiliki empat belas lantai, entah apa saja yang mereka kerjakan. Aku bisa melihat banyak karyawan berseliweran. Bagaimana cara aku menemui Kang chul? sama seperti Sea ok, ponselnya pun tak bisa ku hubungi. Sebaiknya aku bertanya ke resepsionis.
"Permisi, bisakah aku menemui Kang chul?." wanita cantik berkulit putih itu menatap aneh kearahku. "Apa anda sudah membuat janji?." aku menggeleng pelan "Beberapa hari ini aku tidak bisa menemuinya, ponselnya juga tidak aktif. Aku tidak bisa memberitahunya kalau aku akan datang hari ini."
"Maaf Agasshi, anda hanya bisa bertemu dengan Ceo kami jika anda sudah membuat janji temu."
Ottokke, apa yang harus ku perbuat? apa aku harus menitipkan sup ayam ini lagi. "Bisakah kau menelpon Ceo mu untukku, katakan aku ingin menemuinya." Dia menggeleng cepat "Maaf Agasshi, kemungkinan besar Ceo kami ada di ruang rapat sekarang."
"Apa aku bisa menunggu di ruangannya?."
"Maaf, kami tidak bisa menerima sembarangan orang berkujung ke kantor Ceo kami."
Huft.. haruskan aku menyerah, atau bertindak bar bar dan menyelinap masuk. Baka, aku bahkan tidak tau di mana letak kantor Kang chul.
Seseorang meraih lenganku "Apa yang kau lakukan di sini?."
Oh my god , selama ini aku tidak pernah benar - benar merasa sebersyukur ini bertemu dengan si Hyung kaleng sarden hitam. "Hyung, aku ingin menemui Oppa."
"Ikut aku." dia menarik lenganku dan membawaku menuju arah lift. Aku di perlakukan layaknya tahanan, dia bisa saja menggandeng jemariku, bukan menarik lenganku seperti ini.
Kami naik ke lantai enam, di sana lah kantor Kang chul berada. Dong sik membuka pintu ruangan Kang chul dan menyuruhku masuk "Tetap di sini sampai Sunbae datang." ucapnya kemudian pergi.
Jadi ini ruang kerja Kang chul. Ruangan ini cukup luas dan elegan. Mirip kamar hotel berbintang, bedanya tak ada kasur di sini. Ada sofa coklat yang terlihat sangat mewah, ada kulkas di sudut ruangan. Lemari - lemari dari kayu berukir dengan pintu kaca, di dalamnya tampak banyak berkas-berkas tersusun rapi.
Ada foto pria paruh baya yang nampak begitu berwibawa terpajang di dinding. Mungkin dia Ayah Kang chul. Aku menata sup dan nasi meja, aku sengaja tak membuka tutup wadah sup karena aku ingin sup ini tetap hangat saat Kang chul datang.
Aku membuka kulkas, ada berbagai macam jenis minuman kaleng di sana. Aku mengambil satu kaleng jus leci, membuka penutupnya dan kembali ke tempat duduk. Sudah 45 menit berlalu dan Kang chul belum juga muncul. Jus leci yang tadi ku ambil dari kulkas sudah tandas tak bersisa.
Tiba - tiba pintu ruangan terbuka, Kang chul masuk sambil berbicara dengan seorang wanita, mungkin sekretarisnya. Ia terkejut melihat keberadaanku. Apa Hyung kaleng sarden hitam belum memberitahu Kang chul, kalau aku menunggu di sini?
Segera ia menyuruh sekretarisnya keluar, Aku melempar senyum ke arahnya. "Oppa, apa kau sudah makan siang? aku memasak sup ayam hari ini, kemarilah ayo kita makan."
Dia masih berdiri di tempatnya, tanpa ekspresi. Aku berdiri dan menghampirinya, aku ingin meraih tangannya dan menggandengnya agar ia duduk bersamaku tapi ia mengelak "Oppa, apa kau marah padaku?." aku mencoba mengingat-ingat pertemuan terakhir kami, tapi saat itu aku sangat yakin aku tidak membuat tindakan bodoh yang membuat ia marah.
"Oppa." ia menunduk sesaat, dan tiba - tiba menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Kemudian dengan cepat ia mencium bibirku, aku meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi tenaga Kang chul begitu kuat.
**********
En, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau tau betapa sulit aku bertahan menahan segala rindu untuk tak menemuimu. Sepanjang malam setelah terakhir kita bertemu, aku selalu memikirkan tentang perasaan apa yang sebenarnya ku miliki untukmu.
Lama merenung dan berfikir membuatku sadar, kalau sebenarnya aku mencintaimu. Aku tau ini salah, karena itu ku putuskan untuk menjauh darimu. Namun, kini kau ada di sini. Apa kau juga merindukanku En? apa kau juga mencintaiku?
En, mulai memberontak tapi aku terus saja memaksa kehendakku, hingga akhirnya ia melawan dengan kemampuan bela dirinya. Ia memelintir tanganku lalu mendorong tubuhku ke sofa. Sebelum aku bisa menguasai tubuhku En sudah berlari keluar.
******
Oppa apa yang kau lakukan?
Kau tau kalau ini salah, dan aku tak mengharapkannya. Keluar dari dalam lift aku langsung berlari. Menyusuri terotoar dengan nafas terengah. Ya, aku terus berlari hingga nafasku menyerah. Butiran putih seperti kapas turun dari langit, apa ini?
Ini kali pertamaku melihat salju secara langsung, Yeoppo.
Ini salju pertama yang ku temui di Seoul, aku menengadahkan kedua telapak tanganku. Berharap bulir - bulir salju itu mendarat di telapak tanganku.
Akh.. aku tersentak, seseorang memelukku dari belakang. Nafasnya terdengar terengah. Jeongmal, apa mungkin Kang chul mengejarku.
"Jangan menghindariku En, jangan pernah menghindar dariku." suara Kang chul dia benar - benar mengejarku.
"Apa yang kau lakukan Oppa." aku berusaha melepaskan tangannya yang melingkar kuat di pinggangku. "Aku mencintaimu En." dia merenggangkan sedikit pegangannya sehingga aku bisa meloloskan diri dari pelukannya. Aku berbalik lalu menatap matanya.
"Aku tidak pernah menyangka tentang.." kau meletakkan jari telunjukmu di bibirku "Jangan pernah menyangkanya, tapi pahami lah perasaanku. Aku bersungguh-sungguh."
Aku melangkah mundur beberapa langkah, menatap salju yang terus menerus turun dari langit "Hmm, kau berbohong kan?." aku tersenyum tipis "Aku pernah menonton sebuah drama. Katanya jika salju pertama turun maka semua kebohongan akan termaafkan. Mirip april mop, kau sekarang sedang mengerjaiku kan?." aku berharap ini benar-benar hanya tipuan dan keisengan Kang chul belaka.
Kau mendesah, nafasmu membeku. "Tatap mataku dan katakan aku berbohong." ia justru menantangku "Aku bersungguh-sungguh En."
Tuhan, aku tau sinar mata itu menyiratkan kejujuran.
"Kau tidak boleh mempunyai perasaan itu, Oppa." aku menggeleng dan menghela nafas
"Wae? ada yang salah denganku? aku single dan kau single. Aku mengenalmu dan juga keluargamu dengan baik. Aku bahkan tulus menyayangi Bella, dan yang terpenting aku mencintaimu."
Dan kenapa aku menangis?, untuk apa airmata ini jatuh? apa penyebab airmataku keluar?
"Aku ingin menikahimu En, aku ingin kau menjadi istriku." lututku terasa lemas mendengar semua pengakuan Kang chul. Tubuhku seakan tak bertulang aku hanya mampu menggeleng dan berharap Kang chul menghentikan semua ini .
"Beri aku jawaban, apa kau bersedia menikah denganku?."
"Ini tidak adil untuk Bella, Oppa" nafasku terasa sesak, ada beban keras yang menghimpit dadaku.
"Bella menyukaiku, dia pasti akan menerimaku."
"Ani yo" aku mundur beberapa langkah "Ini tidak adil untuk anakku"
"Wae?" nada suaramu meninggi
"Bagaimana mungkin aku menikahi pria yang telah menyebabkan kematian Ayah kandungnya" aku melihat sorot mata Kang chul berubah, bibirnya bergetar tanpa mengucapkan kata.
"Bagaimana jika kelak ia bertanya, Ibu kenapa ibu menikahi pria yang telah merebut Ayah dari sisi kita? Ibu, kenapa aku harus memanggil pria yang telah membunuh ayah dengan sebutan Ayah juga? lalu aku harus menjawab apa, Oppa."
Tanpa sadar langkah kakimu berjalan mundur, lalu jatuh duduk di atas terotoar. "Hubungan seperti itu tidak akan berhasil pada kita, Oppa." aku berdiri dan kembali berlari. Kali ini, kali ini aku yakin Kang chul tidak akan mengejarku
Bruakk....
Aku terjatuh, lututku mengesek terotoar membuat celanaku koyak dan lututku berdarah. Aku mendongak keatas dan melihat seorang pria yang tadi ku tabrak. Dia menatapku dari balik kaca mata hitamnya. "Apa kau tidak membaca pesan dariku." Tae joon mengulurkan tangannya, membantuku untuk bangun.