Snow In Seoul

Snow In Seoul
SAAT KAU MABUK



Kau mabuk lagi.


Dasar pemabuk payah.


Kau membuat warung tenda ini berantakan, kau bernyanyi dan berdiri di atas meja. Aku harus merogoh uang lebih untuk mengganti segala kerugian pemilik warung. Tanganmu terluka karena botol dan piring yang tidak sengaja kau pecahkan.


"Babo (bodoh)."


Aku mengalungkan tasmu di leherku, lalu dengan bersusah payah menaikan badanmu ke punggungku.


"Oppa" kau mulai lagi


"Kang chul Oppa *p*abo kau pabo." namja yang namanya ia sebut, bukankah dia Ceo Kang group.


"Wae? Wae naleul sarangghani (kenapa kamu mencintaiku)."


Apa yang terjadi antara kalian berdua, apa namja itu yang menjadi alasanmu untuk mabuk seperti sekarang ini.


"Kenapa kau tidak menganggapku sebagai adik saja, paboya (kamu bodoh)."


Sepanjang perjalanan pulang En terus meracau soal namja itu, dari semua rangkaian pembicaraan tak jelasnya. Aku hanya bisa menyimpulkan jika gadis bodoh ini sudah memcampakkan Kang chul, dan dia merasa menyesal. Bukan menyesal karena menolak namja itu, dia hanya menyesal karena terpaksa melukai namja yang telah menolong kehidupannya.


Aku sudah ada di kamar apartemennya, kamarnya rapi dan bersih. Satu hal yang membuatku merasa bangga adalah aku bisa melihat posterku terpajang di dinding kamar En, dia memang blueshaw sejati.


Aku melepaskan sepatu yang ia pakai, melepas jaketnya juga, hanya sampai di situ saja. Aku tidak akan berbuat kurang ajar. Ku ambil air hangat di dalam wadah, dengan handuk kecil yang ku ambil dari kamar mandi aku menyeka wajah dan lengan En.


Tiba-tiba ia bangkit dan duduk. Matanya sayu namun justru terlihat memukau. Ia memegang kedua pipiku, sudut bibirnya terangkat.


Cup..


Bibirnya mendarat di bibirku, rasanya hangat dan nyaman.


"Yoan, kenapa kau meninggalkanku. Bogosipoyo.." ia memeluk tubuhku, lalu menangis terisak. Inilah keajaiban En saat mabuk, ia bisa tertawa dan menangis tanpa aba-aba.


Ku tepuk-tepuk pelan punggung tubuhnya. Biarlah ia meluapkan seluruh emosinya malam ini, hingga besok jika ia kembali dalam mode on dia akan meninggalkan semua beban penderitaannya.


Aku tidur di ranjang ini, dan En tidur di lengan kananku. Jika nanti ia sudah benar-benar terlelap aku akan pulang, atau aku akan tidur di sofa depan. Ku elus-elus rambutnya yang terurai, nafasnya mulai teratur dan ia tak lagi meracau. Sekarang ia pasti sudah terlelap, ku harap ia bermimpi indah.


*******


Sinar matahari menyelinap masuk ke dalam kamar, sinarnya yang tepat mengenai bola mataku, membuat aku menggeliat dan terpaksa bangun.


Kepalaku terasa berat, aku benar-benar mabuk tadi malam. Ku lihat kakiku sudah tidak menggunakan sepatu, jaketku juga terlepas. Tae jon pasti merawatku, ia menjalankan pesanku dengan baik. Mungkin sekarang ia sudah pulang, hari ini kan kami akan pergi Jeju.


Sebuah aroma masakan yang lezat menusuk rongga hidungku. Siapa yang masak? apa ada orang di dapurku? Kang chul kah? aku bangun dan bergegas menuju kamar mandi, segera aku membersihkan diri tubuhku berbau alkohol dan keringat.


Aku mengenakan kameja tidur dan celana pendek, melilit rambut yang basah dengan handuk. Ku seret langkahku menuju dapur. Seseorang sedang sibuk memasak di sana, seketika dia menoleh saat mendengar suara langkahku mendekat.


Tae jon! apa dia tidak pulang semalam? apa dia menginap di sini? atau, dia pulang tapi buru-buru kembali kesini lagi? otakku berdemo dengan puluhan pertanyaan. Baju yang ia pakai masih sama seperti baju yang ia pakai kemarin. Fix, dia pasti tidak pulang.


"Aku membuat sup toge, untuk meredakan pengarmu." Ia meletakkan semua masakannya di atas meja. Ia juga menghangatkan susu untukku.


"Kau tidak pulang?." tanya ku setelah sukses menelan suapan pertama sarapanku.


"Kau tidak ingat?." ia balik bertanya, aku menggeleng pelan.


"Kau merengek memintaku untuk tidak meninggalkanmu. Kau terus menggenggam tanganku ini hingga terpaksa aku tidur maksudku hingga terpaksa aku tidak pulang."


"Benarkah? aku benar-benar tidak ingat. Sungguh memalukan." aku mendesah kasar lalu menyuapkan nasi ke mulutku. "Ada yang lebih memalukan." ucapnya sambil meneguk susu dari dalam gelas.


"Apa aku melepas bajuku?." tanyaku hati-hati


"Ani~ (tidak)."


"Apa yang ku lakukan cepat katakan."


"Kau mengeluarkan air liur terlalu banyak saat tidur, ihhh menjijikan." kau bergidik setengah meledek ke arahku.


"Jeongmal ? aish memalukan." aku menyuapkan nasi kemulutku dengan cepat, mengunyahnya kasar dan langsung menelannya.


Tae jon berpamitan untuk pulang, ia juga memintaku agar segera bersiap-siap karena kurang lebih dua jam lagi dia akan datang kembali untuk menjemputku.


Aku mencuci semua peralatan makan yang kotor, kemudian duduk berselonjor di atas sofa. Ku ambil tas yang ada di sisi sofa, mencari ponselku di dalam sana. Aku harus memberi tahu Cha ok jika aku akan mengambil libur selama satu minggu, ku harap ia bisa menggantikanku selama aku pergi.


Siall..


ponselku mati, bateraynya sudah habis. Ku colok pengisi daya bateray, dan segera beranjak menuju lemari. Aku mengeluarkan sebuah koper ukuran sedang. Aku mulai memilah dan memilih pakaian yang akan aku bawa ke Jeju. Aku tidak ingin terlihat memalukan jika harus berjalan bersama seorang idol.


Aku juga menyiapkan keperluan untuk mandi, membawa handuk berwarna biru tua. Handuk pemberian Kang chul, di ujung handuk ini tertulis inisial namaku.


Hari ini aku benar-benar akan pergi bersama Tae jon. Ini adalah moment yang selama ini sudah aku nantikan. Keberuntunganku yang bagus membuat aku bisa bertemu Tae jon dan mengenalnya dengan baik. Padahal sekian lama aku hanya bisa mengaguminya dari balik layar kaca saja.


Membayangkan aku akan menghabiskan satu pekan bersama Tae jon membuat hatiku bersemangat. Selama satu minggu itu aku harus bisa membuat Tae jon tidak menyesal karena memilihku untuk menemaninya.


Aku juga membawa sepotong gaun pesta, dan lagi-lagi gaun itu pembelian Kang chul . Gaun ini pernah aku pakai untuk pergi dinner bersama Kang chul di saat hari ulang tahunnya.


Lalu tiba-tiba muncul pertanyaan aneh di hatiku, dari seperkian puluh juta para fansgirllnya ia memilihku untuk menemaninya pergi ke Jeju.


Dan baru aku sadari, kenapa juga aku harus membawa gaun pesta. Rasanya mustahil Tae jon akan membawaku pergi dinner atau pergi ke sebuat pesta.


Segera ku keluarkan kembali gaun yang sudah ku masukkan ke dalam koper. Aku menggantikannya dengan t-shirt dan celena jins. Sekarang aku hanya tinggal menunggu kedatangan Tae jon untuk menjemputku. Baterayku sudah lumayan terisi segera aku mengirim pesan kepada Cha ok. Ia dengan cepat membalas pesanku dan memintaku agar berhati-hati.


Ponselku berdering dari layar yang berkedip-kedip tampak no kontak Tae jon. Dia pasti sudah menungguku di lobi.