Snow In Seoul

Snow In Seoul
JEJAK MERAH ITU



"Oppa.. Oppa" pekikku keras, aku tidak peduli pada para tetangga yang terlihat keluar dari dalam rumah mereka masing-masing. Sekuat apapun aku memanggil namanya, Kang chul tak jua menghentikan kaki-kaki jenjangnya yang terus membawanya menjauh dariku. Ia bahkan tak lagi mau menoleh kearahku. Hanya jejak kaki merah di putihnya salju, menjadi bukti bahwa ia tadi berada di sini bersamaku.


"Oppa, honja isselte naye senggageso jeil naan iremi baro naye iremida" (Nama yang selalu muncul di pikiranku saat aku sendirian yaitu namamu).


Bahkan tak ada artinya lagi air mata ini, dan kenapa aku menangis? bukan kah ini keinginanku?


Aku lah gadis yang dengan congkaknya ingin menjauh dari kehidupan Kang chul.


Aku lah gadis yang dengan sombongnya menolak semua rasa cinta Kang chul.


Namun, saat Kang chul benar-benar pergi, saat ia sudah tak sudi melihatku lagi. Kenapa hatiku sakit?


kenapa rasanya sesak sekali?


Kenapa aku menjadi tak rela jika Kang chul benar-benar meninggalkanku?


Ya, Tuhan betapa tamaknya diri ini.


Beberapa tetangga mulai mengomel, karena keributan yang aku perbuat, menyebabkan mereka terkejut dan harus bangun di larut malam.


Cha ok yang sedari tadi hanya berdiri terpaku, kini perlahan mendekatiku. Memelukku dengan hangat, seakan memberi tompangan pada jiwaku yang tersesat. Ia membantuku berdiri lalu membawaku masuk ke dalam rumah.


Aku tau sejak Kang chul masih di sini Cha ok sudah menatap kami dari kejauhan, ia pasti tidak ingin mendekat karena tak ingin turu campur dengan pertengkaranku dan Kang chul.


Cha ok membantuku berbaring, ia iuga menyelimutiku dengan selimut tebal.Ia keluar sebentar dan kembali dengan segelas susu hangat. Aku masih terisak dari balik selimut. Cha ok dengan lembut menuntunku untuk duduk dan meminum susu yang ia buatkan.


"Tenangkan dirimu En, kau harus bisa menguasai pikiranmu. Jangan terlalu menjadikan semua ini beban yang berat." ia menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Semua ini bukan hanya berat untukmu, tapi juga untuk Sunbae. Hanya kalian berdua saja yang bisa memahami situasi ini. Apakah benar ini keinginan kalian atau ini hanya sikap egois kalian saja" Cha ok menepuk pundakku beberapa kali sebelum keluar kamar, ia memilih tidur di luar agar aku bisa menenangkan pikiranku. Ia bilang aku pasti butuh waktu untuk sendiri.


Cha ok sangat mengenalku, ia tau jika aku butuh menangis semalaman agar bisa melepas semua beban yang ada di hatiku. Aku juga tidak tau apa benar semua ini adalah keinginanku? atau hanya rasa egoisku saja?


Jejak merah itu, jejak yang tercipta dari telapak kaki Kang chul yang tidak memakai alas kaki. Mengatakan jika ada luka yang cukup serius pada kedua telapak kaki Kang chul.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Ku mohon Oppa berhentilah bersikap bodoh, dan jangan lagi kau menyakiti atau melukaimu dirimu sendiri.


Tapi, jika ku pikir lebih jauh lagi. Aku lah penyebab utama semua rasa sakitnya. Aku lah pemicu dari setiap tindakan bodohnya.


Aku lah gadis yang tidak tau diri dan tidak sadar akan tempatku.


******


"Selarut ini kau ingin pergi kemana Sunbae." suara Dong sik terdengar serak, ia pasti saja baru terbangun karena mendengar suara klakson mobilku.


"Kemana saja asal tidak pulang." sahutku asal. Dong sik menoleh ke arahku, aku yakin Dong sik kini sedang memperhatikan setiap jengkal tubuhku. Matanya terbelalak saat melihat kondisi kakiku yang di penuhi noda merah.


"Apa yang kau lakukan Sunbae? kau menyakiti dirimu sendiri?.'' aku menggeleng berat.


"Ada yang lebih sakit dari pada luka ini," sahutku dengan pandangan nanar. "Kita harus kerumah sakit sekarang," ucap Dong sik tegas, ia menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas dan membawaku pergi menuju bangunan putih dengan aroma obat yang kuat.


Dokter mengeluarkan beberapa pecahan kaca uang terperangkap pada luka-luka di kakiku, bahkan beberapa lukaku harus di jahit. Dong sik menyiapkan kursi roda untukku tapi buru ku tolak, aku masih berjalan walau rasa nyeri dan perihnya menusuk hingga ubun-ubun.


Dong sik berniat mengajakku menginap di rumahnya, tapi aku mengajaknya mampir ke Bar lebih dulu. Ku pesan beberapa minuman yang terkenal memiliki kandungan alkohol yang kuat.


"Sebenarnya apa yang terjadi Sunbae?," tanya Dong sik setelah menegak minuman yang ia pesan. Aku menunduk kelu, menjadikan kedua tanganku untuk tumpuan kepalaku.


"Hyung, apa aku tidak tampan?," tanyaku putus asa.


"Jika ada orang yang mengatakan kau jelek mungkin dia harus segera memeriksakan kondisi kesehatan matanya."


Aku tertawa getir, mengangkat kepalaku dengan berat dan menjuruskan pandanganku kepada orang kepercayaanku itu. "Hyung, apa aku tidak pantas untuk di cintai?"


Dong sik membuat pandangannya dari arahku, kembali ia memesan segelas minuman yang lain. "Dia menerima telpon dari Idol itu saat kami sedang bertengkar."


"Dia bahkan tidak memperdulikan perasaanku." aku mengambil gelas yang masih ada isinya, meminumnya dalam sekali tegukan.


"Dia menolakku, dia tidak menyukai atau mencintaiku. Mungkin dia membenciku," aku meracau dan Dong sik tampak bingung untuk menanggapi ucapanku.


"Dia tidak mencintaiku, tapi Wae... apa aku tidak tampan? apa segala perhatian dna ketulusanku tidak cukup untuk membuktikan semua rasa cintaku."


Aku tak peduli pada bartender yang memandangku dengan pandangan yang aneh, dan menganggapku sebagai bucin yang memalukan.


Tiba-tiba airmataku luruh, dan membuatku terisak. Hatiku neomu neomu appo (benar-benar sakit). Aku merasa seperti pecundang yang kalah sebelum bertanding.


Aku tertawa sinis "Aku pembunuh, aku yang sudah membunuh suaminya. Aku sudah membunuh Yoan. Wajar saja jika dia tidak bisa mencintaiku. Aku seorang psikopat."


"Berhentilah Sunbae, jangan mempermalukan dirimu sendiri." Dong sik mearaih gelas lain yang ingin ku minum.


"Cukup, sudah cukup. Sebaiknya kita pulang, kau butuh beristirahat" Dong sik bangkit dan mencoba memapahku, tapi aku menolak. Ku dorong tubuh lelaki tegap itu. "Aku tidak mau, aku masih ingin minum. Aku ingin melupakan semuanya."


Tanpa ada aba-aba Dong sik memukul tengkuk leherku, membuatku sempoyongan dan akhirnya Dong sik menaikan tubuhku ke pundaknya yang lebar. Ia membopong tubuhku dan membawaku keluar dari dalam Bar. Ia bahkan melempar tubuhku ke jok belakang mobil, benar-benar kasar dia memperlakukanku. Meskipun aku merasakan itu semua tapi aku tak bisa apa-apa dan memilih tidur. Sedangkan Dong sik duduk di sebelahku dengan tenang, ia memesan supir pengganti karena di Korea tidak boleh menyetir setelah minum alkohol.