
Kenapa juga Tae jon harus memaksaku membeli gaun. Apa tidak bisa aku pakai pakaian informal saat makan malam nanti. Dia bilang aku harus tampil cantik dan elegant. Apa karena ia seorang public figur jadi ia tak ingin datang ke sebuah acara dengan gadis yang berpenampilan acak-acakkan.
Padahal aku tidak tau gaun seperti apa yang sedang trend sekarang. Bertanya pada Ahjumma pun percuma. Ia malah memilihkan Hanbok (pakaian tradisional korea) untukku. Dia bilang hanbok juga gaun. Apa aku pakai hanbok saja ya, biar keliatan cantik kaya princes-princes di drama saeguk.
"Pilih yang warnanya lembut, warna lembut cocok dengan warna kulitmu" saran Ahjumma. Aku malah tidak tau warna lembut itu seperti apa, apa warna biru laut juga termasuk warna lembut. Aku memilih satu hanbok dengan warna dominan biru laut dan putih.
Kami keluar dari dalam butik, aku membawa sebuah tas kertas dengan gambar logo butik yang baru kami tinggalkan. Aku dan Ahjumma berjalan menyusuri terotoar. Ahjumma berjalan di sisi terotoar yang langsung berbatasan dengan jalan sedangkan aku berjalan di sisi lainnya.
Kami berjalan sambil ngobrol dan bercanda, ternyata Ahjumma adalah orang yang menyenangkan. Pandanganku teralihkan pada awan putih yang menghiasi langit. Cuaca begitu cerah, meski terasa dingin.
Brakkk...
Seseorang berlari di sebelahku, dan Ahjumma terjerembab ke jalanan beraspal, pria itu menabrak tubuh tambun Ahjumma.
"Ahjumma, gwencana yo?" aku hendak membantu Ahjumma berdiri saat Ahjumma bilang "Pria tadi mengambil tasku" tanpa pikir panjang, ku lempar tas kertas yang ku bawa kearah Ahjumma. Aku segera berlari menuju pria yang menabrak Ahjumma tadi. Padahal tadi hampir saja aku pakai rok yang ku pinjam dari Eun bi agar terlihat feminim di mata Tae jon, beruntung aku mengurungkannya. Aku memilih memakai celana karena takut kedinginan.
Aku melihatnya, pria itu berdiri di halte bus. Aku tadi sempat melihatnya, ia memakai jaket hitam bertuliskan Winner yang di tulis dengan warna hijau berbercak warna merah darah. Kali ini ia memakai tudung jaketnya. Uhh.. dia pikir aku tidak akan mengenalinya. Pria itu memilih mangsa yang salah, rupanya ia belum tau gesitnya gadis Terate sepertiku.
Ku tarik kasar tudung jaketnya, ketika ia berbalik segera ku layangkan tendangan ke perutnya. Ia mundur beberapa langkah sambil mengerang kesakitan. Ku raih lengannya dengan cepat, dan memelintirnya kebelakang "Cepat kembalikan tas Ahjumma" bentakku. Ahjumma yang berhasil mengejarku, menarik tanganku dengan kuat "Bukan dia" nafasnya terengah-engah "Aku tadi sempat melihat wajahnya tapi bukan dia" aku segera melepaskan lengan pria itu. Ia meringis lalu memegang perutnya.
"Itu dia, di sana" teriak Ahjumma sambil menunjuk kearah pemuda yang baru saja berlari. "Mianatha, aku akan menebus kesalahanku nanti. Jika kau ke Seoul mampirlah ke Bakery aku bekerja di sana" ucapku setengah berteriak, karena aku harus mengejar pria yang mengambil tas Ahjumma.
Stamina pria itu cukup kuat, ia berlari dengan ringan. Aku percepat kecepatan berlariku. Agak sulit memang karena perbedaan panjang kaki kami terlihat jelas. Jarak kami semakin dekat, jika aku tak kunjung bertindak bisa saja dia berlari menjauh lagi dariku, aku melihat dinding pembatas jalan segera aku melompat ke sana dan membalik tubuhku, ku atur posisi kakiku agar aku bisa menedangnya dari belakang.
Bruakk...
Kali ini dia yang terjerembab, dan jatuh ke aspal. Tas Ahjumma yang ia pegang terlempar jatuh. Aku segera mengambil tas itu, dan menghampiri pria yang masih kesulitan bangun karena terjatuh saat ku tendang "Cepat pergi sebelum orang-orang datang. Dan apapun alasannya mencuri itu perbuatan terlarang" pria itu berdiri, lalu mendorongku sebelum akhirnya berlari menjauh.
"Ini tasmu Ahjumma" wanita tambun ini sepertinya kehabisan nafas, bukannya menerima tas yang ku berikan ia malah duduk di bawah pohon dengan nafas ngos-ngosan. Aku mengambil posisi duduk di sebelahnya, menunggu nafas Ahjumma kembali normal.
"Ahgasshi, kita harus kembali dan mencari pria yang kau tendang tadi" aku melongo dan Ahjumma paham dengan tampang sok polosku
"Kau harus minta maaf padanya Ahgasshi"
"Itu tidak sopan Ahgassi, tadi kau minta maaf sambil berlari" Aku berdiri, lalu membantu Ahjumma berdiri "Pria tadi sepertinya sangat kesakitan, kita harus bertanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit"
"Baik Ahjumma" sebaiknya ku turuti saja kemauan Ahjumma, lagi pula aku memang harus bertanggung jawab. Wajah pria yang ku tendang tadi, kenapa rasanya tidak asing ya, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.
Kami kembali ke halte bus, tapi pria itu sudah tidak berada di sana. Namun, tempat itu jadi begitu ramai, jangan-jangan pria yang ku tendang tadi pingsang karena serangan jantung. Apa aku akan di penjara?
Setelah aku melihat-lihat tidak ada yang special, dan tidak ada kejadian yang janggal. Lalu kenapa banyak orang berkerumun. Jeongmal, jangan-jangan Tae jon menyusulku kesini. "Apa yang terjadi?" tanya Ahjumma pada seorang gadis SMA.
"Saya juga baru datang Ahjumma, tapi kata orang-orang disini ada member Blue yang di serang oleh Heatersnya"
"Member Blue, apa maksudmu Kang tae jon?" aku maju beberapa langkah.
"Bukan Tae jon tapi Jang mi, Kim jang mi"
"Jang mi" bisa jadi, Tae jon bilang mereka sedang melakukan syuting iklan di daerah ini. Wah Heaters itu jahat sekali kenapa tega dia menyerang Jang mi. Padahal Jang mi adalah maen vokal Blue, bagaimana jika dia terluka dan tak bisa bernyanyi lagi. Sebagai blueshaw, aku akan membuat perhitungan dengan antifans itu.
Ahjumma masih mengedarkan pandangannya, ia pasti masih mencari pria yang tadi.
"Ahjumma sepertinya pria itu sudah pergi, ayo kita pulang"
Semula Ahjumma menolak ia masih ingin mencari pria tadi. Ahjumma bilang kami harus memberi pria itu konspensasi. Akhirnya Ahjumma bersedia pulang saat ku bilang bisa Tae jon kini sudah menunggu kami.
Saat baru saja memasuki Villa, aku langsung memegang tangan Ahjumma.
"Ahjumma, tolong rahasiakan kejadian hari ini dari Tae jon ya. Aku tak mau membuatnya khawatir"
Ahjumma hanya mengangguk, lalu meninggalkanku masuk ke dalam dapur.
Petang berganti malam, tapi Tae jon belum juga pulang. Apakah pekerjaannya belum selesai? apa dia lupa pada makan malam kami di restoran See wo malam ini. Ahh... bodohnya aku kenapa aku terus berharap bisa saja saat ini Tae jon sedang pergi berkencan dengan rekan sesama artisnya. Park shin ye misalnya. Siapa aku yang selalu ingin di istimewakan oleh Idol sekeren Kang tae jon. Mestinya aku sadar diri dan jangan selalu berharap.