Snow In Seoul

Snow In Seoul
Memory



Saat aku terbangun aku melihat Tae jon tertidur di sofa. Padahal kemaren seharusnya aku sudah boleh pulang, tapi Tae jon bersikeras agar aku di rawat satu hari lagi. Katanya agar ia yakin kalau aku memang sudah benar-benar pulih.


Ini adalah kali kedua aku di rawat di rumah sakit selama aku tinggal di korea. Dulu aku juga pernah demam tinggi, semua karena kebodohanku yang menunggu Kang chul di taman. Saat itu dia berjanji akan menemuiku di sana, tapi hujan turun dengan deras seketika. Aku sudah berusaha mencari tempat berteduh, walau pada akhirnya aku sudah basah kuyup sebelum sampai tempat berteduh.


Anehnya, bukannya pulang tapi aku masih menunggunya di bawah pohon yang besar. Hujan semakin deras dan angin kian kencang, tapi aku masih bertahan. Aku hanya takut, jika Kang chul datang dia akan kecewa jika tak menemukanku di sini. Bateray ponselku habis, karena itu aku hanya bisa menunggu tanpa bisa bertukar kabar.


Tubuhku menggigil, gigiku bergemeletuk. Aku bahkan bisa merasakan tubuhku yang gemetar. Di kejauhan aku melihat seorang pria berlari menembus hujan, semakin mendekat aku bisa melihat wajah Kang chul yang basah karna hujan. Aku melambaikan tanganku, memberi kode jika aku berada di bawah pohon. Karena dari tadi Kang chul tampak menoleh kesana kemari mencari keberadaanku. Begitu melihatku ia langsung berlari menghampiriku.


"Pabo ya, kenapa kau terus menungguku di sini, kau memang benar-benar gadis yang bodoh" meski Kang chul sudah berteriak tapi suaranya terdengar samar, karena suara hujan mendominasi. Melihat aku yang tak bisa mendengar jelas ucapannya, Kang chul lalu meraih lenganku dan membawaku berlari di bawah derasnya air hujan. Ia segara menyuruhku masuk ke dalam mobil, lalu ia masuk dan duduk di balik kemudi.


"Kau sendirian? Mana Hyung?" tak biasanya Kang chul mengendarai mobil SUV hitam ini sendirian, biasanya Hyung kaleng sarden hitam selalu menemaninya.


"Berhenti memanggilnya Hyung, panggil dia Oppa. Hyung itu adalah panggilan untuk.."


"Nde, aku mengerti" potongku cepat, hanya saja aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan Hyung. Orang dingin dan beku seperti dia, rasanya aneh jika harus ku panggil Oppa. Lagi pula Dong sik tidak pernah protes meski aku panggil Hyung.


"Sekarang aku akan mengantarmu pulang?" katanya sambil memasangkan sabuk pengaman di pinggangku. "Apa kau akan membatalkan janji kebioskop kita" rajukku. Ya, hari ini dia berjanji akan menemaniku berkeliling taman lalu pergi menonton Train to Busan ke bioskop.


"Tidak, kita akan tetap menonton Train to Busan seperti keinginanmu, tapi kau harus pulang dan ganti pakaian dulu" berada di sisinya aku merasa seperti wanita spesial, ia selalu menuruti semua keinginanku. Selalu mengalah dan sabar menghadapi tingkah polahku yang terkadang tanpa ku sadari terlewat manja padanya.


"Tapi akan sangat terlambat untuk pergi ke bioskop bila aku harus mandi dan ganti baju" Kang chul melirik arlojinya, lalu mengusap-usap kepalaku "Lain kali, aku pasti mengajakmu ke bioskop"


"Kau tidak pernah menepati janjimu, kau sering datang terlambat dan membatalkan semua acara kita. Jika tak berniat pergi denganku, jangan membuat janji. Dasar tukang PHP"


"Apa? tukang Pi Hey Pi?"


"P.H.P" ucapku sedikit keras


"Mian, aku tak mengerti apa maksudmu"


Aku langsung masuk ke kamarku, sebelum ke kamar mandi aku sempatkan melempar handuk ke arah Kang chul, tapi dengan memasang wajah cemberut.


"Oke, oke malam ini kita pergi bioskop" ucapnya lembut sambil mengeringkan rambutnya "Shierro yo( tidak mau)" teriakku sambil masuk ke dalam kamar. Aku menyalakan kran air hangat lalu berendam di bathtub. Rasanya nyaman dan menenangkan.


Saat aku selesai, aku sudah tidak mendapati Kang chul di rumahku. Handuk yang tadi ia pakai, sudah terjemur rapi. Bahkan ada segelas teh hijau hangat di meja makan. Kang chul pasti membuat itu sebelum ia pulang.


Malamnya Kang chul kembali, ia membawa popcron dan beberapa kaleng minuman bersoda. Ia juga membawa beberapa kaleng bir. Aku duduk santai sambil menonton televisi, setelah menyimpan semua bawaannya di atas meja. Ia segera pergi mendekati televisi lalu menancapkan flashdisk. "Aku kan tadi bilang kita akan tetap menonton Train to Busan" ucapnya tangannya masih mengotak atik remote televisi. Ya di layar kini sudah terlihat pembukaan flim Train to Busan.


Kang chul duduk di sampingku, ia meraih jemariku lalu memasang wajah kaget "Kau demam" kini telapak tangannya berada di dahiku.


"Kau sudah minum obat?" aku menggeleng pelan "Kau punya simpanan obat?" sekali lagi aku menggeleng, aku tidak pernah sakit selama ini jadi aku tidak pernah membeli obat. Demamku ini pasti karena aku kehujanan dalam waktu yang cukup lama tadi. Apalagi belakangan ini aku merasa sangat lelah.


Tanpa banyak bicara Kang chul langsung membopongku, membawaku keluar dari apartemenku dan masuk ke dalam lift. Aku merasa nyaman dalam dekapannya, suara detak jantungnya terdengar keras dan tidak beritme, mungkin karena kini ia sedang menggendongku dan juga khawatir padaku.


Kang chul membawaku ke Rs universitas Congkuk, dan memesan kamar VVIP untuk gadis miskin sepertiku. Fasilitas kamar ini tidak berbeda dengan kamar hotel bintang lima. Bahkan kasur tempat ku tidur terasa empuk dan nyaman.


Semalam Kang chul menjagaku, ia bahkan tidur di kursi dengan kepala menyandar pada tempat tidurku. Matahari sudah terbit, aku melihat Kang chul menggeliat dan menguap, aku langsung menutup kedua mataku dan pura-pura tidur. Beberapa saat kemudian aku merasakan kecupan hangat mendarat di dahiku.


Aku tergeragap tiba-tiba Tae jon membuka matanya dan menatapku dengan tajam. "Kenapa kau bangun pada jam ini" Tae jon melihat jam pada dinding. "ini baru jam 2 dini hari"


Tae jon bangun dan duduk, "Apa kau merasa ada yang sakit?" tanyanya lagi. "Aku hanya terbangun saja," sahutku lirih.


"Apa kau haus" Tae jon mengambilkanku segelas air, ia membantuku untuk minum. Wajah tampan itu terlihat kelelahan. "Ayo kita pulang" pintaku lirih. "Baik, kita memang akan pulang, tapi tidur dulu. Biarkan matahari muncul dulu"


Tae jon menaruh gelas di meja dekat pembaringanku, lalu menyuruhku untuk berbaring. Di benahinya selimut yang ku pakai, ia mengambil kursi lalu duduk di sampingku. Di usap-usapnya dahiku dengan lembut "Tidurlah, aku akan menjagamu" ucapnya lirih.


Ia mulai bernyanyi untukku, aku merasa dejavu. Kang chul juga melakukan hal yang sama saat aku masuk rumah sakit dulu. Entah kenapa, memori-memori tentangnya berterbangan di pelupuk mataku.