Snow In Seoul

Snow In Seoul
SEMUA RASAKU



"Yakk, Sea ok. Semenjak berkencan dengan gadis muda mirip kelinci itu, kau menjadi lamban", teriak Eun sung dari seberang telpon.


"Sabar sedikit Sunbae, aku akan segera kembali" bergegas ku matikan saluran seluler ini, Yoo bi masih sibuk memasukkan semua roti yang ku beli kedalam kantong plastik. "Apa ini akan menjadi makan malam kalian?".


"Iya, kami hanya bisa makan ini. Terkadang karena terlalu sibuk kami tidak bisa keluar dari rumah sakit".


"Apa mengurus pasien sangat merepotkan?". dua bola mata Yoo bi tampak membulat dengan sempurna


"Ani~ tidak ada yang merepotkan selagi kau menyukai pekerjaanmu" aku menerima kantong plastik yang di ulurkan Yoo bi "Aku memasukan Kimbab untukmu, dalam kantong plastik ini"


"Kau... jangan terlalu memanjaku Yoo bi ya. Aku takut aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu" Yoo bi, mengusap wajahku dengan lembut.


"Berjanjilah untuk selalu berada di sisiku. itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semuanya" ku raih jemarinya, membelai lembut rambut berwarnanya. Ku kecup lembut kening gadis itu tanpa mempedulikan sekelilingku.


"Gomawo Yoo bi ssi"


 *****


 


Memandangi detak jarum jam biasanya ampuh membuat rasa kantukku datang. Namun kali ini, hingga pukul 2 dini hari, mataku masih enggan terpejam. Rumor bodoh itu, menggerogoti semua kesadaranku. Membuat otakku tak mampu berpikir jernih, kenyataan jika En sangat mengagumi aktor itu juga sebuah foto yang ku lihat di situs Newspath, foto dimana menampakan En yang sedang menghabiskan waktu bersama aktor itu.


Akhhhh...


Aku melempar semua bantal yang ada di pembaringanku. Bantal-bantal ini ku lempar ke segala penjuru kamar menghantam beberapa barang pecah belang, menimbulkan suara nyaring saat benda-benda itu jatuh dan hancur. Aku turun dari atas pembaringan tanpa menggunakan alas kaki, berjalan di atas benda-benda pecah yang berserakan di lantai. Kakiku terasa sakit dan perih, tapi luka-luka itu tak sedalam luka hatiku.


Ku lihat langit dari blakon kamarku, ribuan bintang bertaburan di sana. Seolah bernyanyi riang menyambut datangnya fajar. Bercak darah pada lantai kamarku, seakan mengatakan jika aku harus kuat dan mulai memberontak. Kali ini aku benar-benar ingin menjadi orang yang tamak.


Aku hanya ingin menjadi tamak sekali ini saja. Aku hanya ingin memiliki En seutuhnya. Aku tidak ingin ada satu pria pun yang mendekati atau mengisi ruang di hatinya. Kembali aku melewati pecahan-pecahan kaca yang masih berserakan. Dengan kaki yang masih tanpa alas, aku mengendarai mobilku dan melaju menuju tempat tinggal En yang baru.


Tiga hari lalu aku mengutus Dong sik untuk menemuinya, di luar dugaan ku Dong sik bilang kalau En tampak begitu tegar. Ia juga tidak terpengaruh dengan segala rumor jelek yang menyudutkannya.


Rasa perih mulai mengambil alih seluruh telapak kakiku, tapi aku tak mau peduli. Ku injak gas semakin dalam, agar aku bisa cepat sampai ketempat tujuanku.


Jalan menuju rumah En, adalah merupakan gang sempit yang tidak bisa di masukki oleh mobil. Aku harus memarkirkan mobilku di depan gang, lalu berjalan masuk. Sembari melangkah, ku tekan tust-tust di ponselku. Aku mendengar nada tunggu di seberang sana, dan kemudian terputus, satu kali, dua kali hal yang sama terulang. Namun saat panggilan ketiga


"Iya, Oppa"


"Aku ada di depan rumahmu" segera ku putuskan saluran seluler ini, beberapa saat kemudian ku lihat En keluar, dengan mata yang masih mengantuk.


"Oppa ada apa? kenapa menemuiku selarut ini?" aku menunggunya semakin mendekat, hingga saat tanganku dapat meraih tubuhnya segera ku tarik dia dalam pelukanku. Kali ini En hanya diam, benar-benar diam. Ia tidak memberontak seperti biasanya.


"Kenapa kau pergi dari Bakery?" aku menekan nada suaraku.


"Hanya saja... aku tak ingin merepotkanmu Oppa"


"Hanya itu?"


Dia hendak melepaskan pelukannya namun aku justru merapatkan pelukanku, aku bisa merasa di membalas memelukku.


"Aku hanya tidak ingin menjadi duri dalam kehidupanmu"


"Jika kau terus begini, kau justru menancapkan ribuan duri dalam hatiku"


"Ini yang terbaik buat kita Oppa, kita harusnya tidak pernah bertemu lagi. Kita harusnya saling menjauhi satu sama lain" ku dorong tubuh mungilnya, hingga ia terjatuh di atas tumpukan salju.


Aku benar-benar sudah hilang kendali, entah setan apa yang kini merasukiku?


"Aku tidak ingin menghancurkan pertunanganmu Oppa. Juga menghancurkan keluargamu. Jadi ku mohon lupakan aku, Jebal..."En masih dalam posisinya yang tersungkur di jalanan bersalju. Ia tidak bergerak, atau berdiri.


Aku menunduk, menempatkan posisi sejajar dengannya. "Apa kau bisa melupakanku?" Ia diam tak menjawab pertanyaanku dengan kata-kata. Ia justru menangis tersedu-sedu.


"Katakan kalau kau tidak pernah mencintaiku"


"Katakan kalau kau tidak pernah memikirkanku"


"Katakan itu En, katakan!!!"


Aku mengangkat paksa tubuhnya agar ia mau kembali berdiri "Jangan siksa aku En, biar lah saja semua orang mengacuhkan, tapi jebal jangan kau. Aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini" En melepaskan tanganku yang mencengkram kedua lengannya.


"Ani ya, ani ya" kepalanya menggeleng pelan


"Tetaplah di sisiku En, aku mampu menaklukkan seluruh dunia. Asal kau tetap di sisiku"


Aku berlutut di hadapannya, membiarkan diriku tampak begitu buruk. Tiba-tiba ponselmu berdering, suaranya nyaring membelah kesunyian malam.


Kau menatap layar ponselmu, lalu menatapku dengan kelu. Suara dering itu berhenti beberapa saat, kemudian kembali terdengar. Aku melihatmu yang pada akhirnya memutuskan menerima panggilan itu.


"Ya, Min ho ssi"


Aku berdiri dan langsung merebut ponselmu, meleparkannya dengan keras kearah pagar beton. Membuat benda pipih itu hancur berkeping-keping


''Kau menyukainya, apa kau begitu menyukainya?" aku berteriak dan sekali lagi mengguncang tubuhnya dengan kuat.


"Tidakkah ada sedikit saja ruang untukku"


"Aku sangat mencintaimu. Ahh, bodohnya aku. Aku terlalu mencintaimu, ku pikir kau adalah satu-satunya orang yang bisa tulus kepadaku." kau hanya diam dan masih terus terisak.


"Omma, Appa aku hidup di bawah perintah mereka. Sepanjang hidupku, aku selalu di dikte. Harus begini dan begitu, di sisimu aku menemukan hidupku. Aku bisa mengatur duniaku sendiri, ku mohon. Aku mohon, jebal" dengan tangan yang gemetar, ia meraih jemariku


"Kita tidak boleh seperti ini Oppa. Aku, aku hanya ingin kau bahagia. Aku tidak bisa terus berada di sisimu"


Aku mengangkat kedua tanganku, merasa jika semua ini cukup jelas buatku. Aku tidak pernah ada di hatinya, sejak awal hanya ada aktor itu di hati En "Kau memilihnya? kau memilih aktor itu?"


"Oppa" suaramu tercekat karena tangis


"Aku mengerti, aku mengerti" aku berbalik menatap jauh kedepan.


"Oppa, jangan seperti ini Oppa" kau meraih lenganku, namun dengan cepat aku menarik lenganku. Membuat kau kehilangan keseimbangan lalu kembali terjatuh. Aku berjalan mundur beberapa langkah, lalu berlari sekencang kencangnya. Sekencang yang aku bisa untuk meninggalkan semua luka yang terlanjur tersayat dan pedih.