Snow In Seoul

Snow In Seoul
HARUAKAH AKU PERGI?



Gila...


Harga dua kameja ini sama dengan satu bulan gajiku, aku lupa jika aku berada di butik elite. Ahh, harga kameja ini sepadan dengan ketulusan dua orang itu padaku, jika berniat memberi mereka hadiah, memang harus di beli di butik kelas atas seperti ini. Aku menyelipkan kameja-kameja itu di sela-sela gaun-gaun yang ku bawa. Aku akan memberikan kameja ini pada Kang chul saat ia mengantarku pulang.


Kang chul tidak hanya mengantarku pulang, tapi ia juga membantuku membawa semua belanjaanku masuk ke apartemen. Ia nampak lelah, dan duduk di sofa depan televisi. Ku ambilkan segelas jus jeruk untuknya, segera ia meminum jus jeruk itu hingga tandas. Aku duduk di sampingnya, dengan membawa tas berisi kameja yang ku beli untuknya.


"Mengantar wanita berbelanja itu melelahkan" aku menyembunyikan kameja itu di belakang tubuhku "Tapi aku senang"


"Karena kau sudah bersedia menemaniku belanja seharian ini, aku akan memberimu upah"


"Upah? memangnya berapa banyak kau akan membayarku" tantangnya dengan senyuman.


"Bukan dengan uang" sahutku, ku ambil tas berisi kameja dari belakang tubuhku. Ku ulurkan tas itu pada Kang chul "Aku membayarmu dengan ini"


Kang chul menerima tas kertas itu dengan ragu, lalu mengeluarkan isinya "Kameja baru, kau membelinya di butik yang tadi?" aku mengangguk mantap


"Kenapa kau membuang-buang uangmu, kau tau kan harga pakaian di sana mahal" kakek tua penggerutu mode on


"Kau juga sering membuang-buang uangmu untukku" mendengar ucapanku ia terdiam dan hanya mampu menggeleng pelan. Dia melepas kameja yang ia pakai, aku bisa melihat dengan jelas dada berotot, dan perutnya yang sixpack. Dia memakai kameja baru yang ku belikan, lalu berdiri di depan cermin mematut-matutkan diri dan sesekali bergumam, tapi aku tak bisa mendengar apa yang ia bicarakan.


"Kau menyukainya, Oppa?" dia mengangguk "Ini sangat cocok untukku, kau pandai dalam memilih pakaian untukku" aku tertawa lirih


"Aku tau selera berpakaianmu, Oppa"


Kang chul pulang saat langit berubah warna, aku sendirian lagi di rumah. Aku masuk ke dalam kamar dan mencoba gaun-gaun yang di belikan Kang chul. Ada satu gaun berwarna pink lembut, itu gaun yang paling aku suka. Aku akan memakainya saat pergi bersama Tae jon minggu depan.


Meski hubunganku dan Tae jon belum pasti ke arah mana? setidaknya aku tetap bisa pergi dan berbagi tawa bersamanya. Biarlah waktu yang akan memberi tahu, tentang perasaanku yang sesungguhnya.


Pagi ini, aku pergi bekerja untuk pertama kalinya setelah liburanku. Yoo bi paling antusias menyambutku, karena sakit di penghujung liburan. Aku jadinya tak bisa membeli oleh-oleh untuk mereka semua.


"Apa liburanmu menyenangkan Unnie? apa Tae jon adalah pria yang baik?" Yoo bi terus membuntutiku dan menyerangku dengan banyak pertanyaan.


"Sangat menyenangkan" aku mengacungkan satu jempol padanya "Tae jon adalah pria baik dan bertanggung jawab, dia merawatku saat aku sakit dia juga menggendongku"


"Unnie, kau sangat beruntung" aku duduk di pantry dan dia mengikutiku "Yakk, kau tak akan bekerja. Teman-temanmu sedang sibuk di luar" ucapku galak, tapi dia malah tersenyum.


"Unnie, gomawo" ucapnya tiba-tiba dn langsung memelukku.


"Ada apa ini? kau kencing sembarangan ya? jadinya kesambet?" tanyaku asal.


"Unnie" ia terlihat kesal "Kau membuatku bingung dengan ucapan terimakasih dan sikap sok manismu itu"


"Aku berterima kasih karena berkat kau, aku dan Sea ok.."


"Kalian pacaran?" tebakku cepat


Dia menggeleng "Kami belum resmi berpacaran, tapi kami sudah sangat dekat. Minggu depan dia mengajakku kencan" wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan, ahh.. aku iri padanya.


"Kau membuat kemajuan besar Yoo bi ssi Kalian akan pergi kencan kemana?" tanyaku


"Namsangol Hanok Village"


"Daebakk..." tanpa sadar aku bersorak dan melompat.


"Woww, kita bisa melakukan double date" kami bersorak bersama seperti anak kecil yang mendapatkan banyak permen karet. Tiba-tiba Cha ok datang, ia memberi tahuku jika ada seorang gadis yang datang mencariku.


"Ia menunggumu di atas, sepertinya wajahnya tidak asing, tapi aku lupa di mana aku pernah melihatnya" ucap Cha ok, sambil mencoba mengingat-ngingat lagi


"Dia yeoppo?" tanya Yoo bi polos


"Sangat cantik" sahut Cha ok


"Jangan-jangan dia artis atau model" entahlah apa yang mereka bicarakan, aku memilih untuk segera menemui gadis itu. Daripada terus menerka-nerka.


Sesampainya di atas, aku melihat punggung seorang gadis mengenakan mini dress berwarna hijau botol.


"Maaf" sapaku, dan gadis itu langsung membalikkan badannya


Heoll..


Dia gadis bermata kucing, yang dulu pernah ku lihat sedang bertengkar dengan Kang chul.


"Apa anda mempunyai keperluan dengan saya?" tanyaku menggunakan bahasa korea formal. Ia menarik kursi lalu duduk, membuka topi dan kacamata hitamnya. Aigo.. seharusnya topi selebar itu, ia pakai saat berkebun itu lebih cocok.


"Kau Endah Darmawan, Janda beranak satu dari Indonesia itu'' suara terdengar lembut tapi penuh dengan kecaman.


"Ya, aku memang janda. Ada yang salah dengan itu" sikap sopanku berangsur menghilang, aku rasa gadis bermata kucing ini tak pantas mendapat sikap sopan dariku. Ia tertawa dengan wajah mengejek "Jauhi Kang chul Oppa" kalimat itu sudah ku duga akan keluar dari mulutnya. Beruntung tak ada gelas berisi air. Jika tidak ia pasti menyiram wajahku dengan air seperti dalam drama - drama korea yang sering ku tonton.


"Oppa yang terus menemuiku, bukan aku yang mengejarnya" kali ini aku yang memasang wajah mengejek. Dia memukul meja dengan keras. "Apa kau tidak tau malu? apa kau tidak tau akan tempatmu?"


"Aku manusia yang tau malu, karena itu aku berpakaian lengkap dan tidak pergi tanpa busana" sahutku asal


Dia tertawa licik "Kau tau karena kau dia di kurung berhari-hari di dalam kamarnya?"


"Kalau kau ingin mengarang cerita, sebaiknya kau segera membuat novel. Pasti akan laris di pasaran" sarkasme dariku.


"Aku tidak berbohong, temui Dongsik kalau kau tidak percaya. Dongsik saat ini terluka saat membantu Kang chul oppa melarikan diri"


Dongsik, aku sempat melihatnya sekilas kemaren. Dongsik memang memiliki luka lebam di wajahnya, juga tangan yang di perban. Benarkah yang di katakan gadis bermata kucing ini?


"Oppa menolak menikah denganku karena dia menyukaimu, walau aku tau rasa sukanya padamu adalah sebuah rasa kasihan yang terselubung" aku menggigit gigiku dengan kuat, menahan amarah yang tiba-tiba meluap.


"Menolak menikah denganku sama halnya dengan menghancurkan masa depannya. Si won ahjussi tak akan pernah memberinya ruang untuk bernafas jika Oppa menolak perintahnya''


Si won Ahjussi apa yang ia maksud adalah presdir Kang si won ayah dari Kang chul.


"Kau harus pergi dari kehidupannya. Itu pun jika kau tak ingin melihatnya menderita" tanpa sadar tanganku mengepal, apa yang harus ku lakukan? apakah aku harus percaya padanya? tapi semua ucapannya tampak masuk akal bagiku.


"Tinggalkan apartemenmu, tinggalkan Bakery. pergi sejauh yang kau bisa. Aku akan memberimu uang sebanyak apapun yang kau pinta" ia berdiri memakai topi dan kacamatanya lagi. Uang, ia pikir aku pengemis apa?


"Aku melakukan semua ini karena aku mencintai Oppa, aku tak ingin melihat dia terluka. Jika kau juga tak ingin dia terluka. Maka pertimbangkanlah untuk pergi menjauhinya" kalimat-kalimat itu cukup menusuk lurus ke relung hatiku.


"Haruskah aku pergi?"