
Aku masih tidak mampu memejam mataku. Haruskah aku ikut Kang chul ke korea? tapi bagaimana dengan Bella? Ahh.. tetap saja aku harus melunasi semua hutang - hutangku pada Kang chul.
Ku peluk Bella yang sedang terlelap. Ketika anganku menerawang jauh, pandanganku justru terpaku pada sosok tampan yang tertempel di dinding kamarku. Tae jon, mungkinkah aku bisa bertemu dengannya jika aku pergi ke negeri Kpop itu. Won lebih besar dari Rupiah, jika aku bekerja di Korea akan lebih cepat bagiku untuk melunasi semua hutang - hutangku. Aku harus memantapkan hati untuk sebuah pilihan.
Kang tae jon tunggu aku. Aku akan pergi ke negerimu, mudah - mudahan kita bisa bertemu. Aku memejamkan mataku, memimpikan Yoan yang tersenyum seperti memberikan petunjuk jika ia setuju dengan keputusanku.
Matahari sudah mulai mengepakkan sayap cahaya orangenya. Menembus kisi-kisi jendela kamarku. Aku menggeliat sesaat, Bella sudah duduk dan menatapku teduh.
"Anak Ibu yang cantik sudah bangun. Mau susu? " dia mengangguk dengan cepat, senyumnya mengembang lebar. Ku gendong dia dan pergi ke dapur.
Ia menegak susu dengan lahap, ku seka sisa susu yang membasahi pipi imutnya.
"Bella kalau Ibu kerjanya jauuuh dan jarang pulang, Bella nyariin Ibu nggak"
"Embah uty ikut nggak?, " tanyanya polos.
Aku menggeleng "Enggak Mbah uty kan sudah tua jadi Mbah sudah nggak boleh kerja lagi" ku belai rambut lurusnya.
"Bella sama Embah aja. Nggak apa-apa kalau Ibu mau kerja jauh, nanti Bella di beliin jajan ya" ada perih di sudut hatiku. Semenjak Yoan pergi dan aku bekerja, Bella memang lebih dekat dengan kedua orang tuaku.
Tapi, mendengar ia rela melepaskan aku pergi jauh asal ia tetap bersama Mamak. Ada rasa iri yang tak terungkap.
Awalnya aku pikir orang tua ku akan keberatan dengan keputusan yang aku ambil. Di luar dugaan mereka justru mendukungku. Mereka pikir akan lebih baik buatku untuk memulai hidup baru di tempat yang tidak ada kenangan tentang Yoan.
Mereka ingin aku bisa membuka hatiku, dan menemukan tambatan hati yang baru. Usiaku baru 23 tahun, dan aku masih punya masa depan yang panjang.
"Hallo" ku dengar suara serak dari seberang sana.
"Aku sudah membuat keputusan"
Aku mendengar suara gemerisik kain, mungkin selimut atau mungkin ia baru bangun dari tidur.
"Apa itu keputusan yang baik" suara air yang di tuangkan, lalu suara orang meneguk air.
"Mungkin, "jawabku singkat.
"Itu harus keputusan yang baik, karena aku tidak mau mengawali hariku dengan kabar yang buruk" suara tak lagi terdengar serak, mungkin air yang tadi ia minum, membantu tenggorokannya menjadi lebih baik.
"Aku akan ikut ke Seoul, " ucapku pelan. Aku mendengar tawa lirih. "Bagus, aku suka keputusan yang kau ambil"
"Hmm, Hei-jin akan membantumu. Untuk sementara dia masih harus tinggal di kotamu. Mengurus beberapa pekerjaan. Dia akan mengajarimu bahasa kami. Dia juga yang akan mengurus pasport dan keberangkatanmu" ia berbicara dengan penuh semangat.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk belajar bahasa korea.. "
"Tiga bulan, aku hanya akan memberimu waktu tiga bulan. Belajarlah dengan giat karena aku sudah tak sabar menunggumu, "
"Baik, Oppa. Aku akan berusaha semampuku"
"Dan jangan berubah pikiran"
Pembicaraan ini berakhir. Semua sudah di putuskan. Come on En, kamu pasti bisa, jangan ragu dan terus saja menatap kedepan.
Hey-jin adalah guru yang baik. Ia mengajariku dengan telaten. Cara mengajarnya pun di buat sesederana mungkin, sehingga aku dengan mudah bisa mengingat semua yang di ajarkan.
Tae jon, dalam waktu dekat aku akan fasih berbicara dengan bahasa yang sama denganmu. Haruskah kelak aku berusaha menemuimu?
Tak apa-apa kan aku sedikit berkhayal?
*****
Omma, jika dia benar-benar berada di sini. Aku akan menjaganya dengan baik. Di hari yang naas itu, saat tubuh Yoan di angkat ke atas tandu. Yoan memegang tanganku, bibirnya bergerak seakan ingin memberitahu sesuatu.
Aku mendekatkan telingaku kebibirnya.
"En.. En" hanya itu kata yang bisa ku dengar, imajinasiku berkata bisa saja saat itu ia ingin menitipkan istrinya? atau ia tidak rela berpisah dari istrinya.
Yang jelas, aku hanya bisa berjanji. Sambil menggenggam erat tangannya.
"Aku akan melindungi keluargamu"
Jika ia jauh di sana aku tidak bisa melindungi En. Beda halnya jika dia ada di sisiku. Aku bisa menjaganya dengan baik. Aku juga bisa tau kabar seluruh keluarganya.
Aku harus mengurus semua keperluannya agar ia bisa tinggal di sini dengan nyaman. Aku harus membeli apartemen yang letaknya tidak jauh dari Bakery. Toko roti yang kelak akan menjadi tempat En bekerja.
Soo-he datang dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Aku tak bergeming dan tetap asyik menatap ponselku.
"Oppa, bisakah kau menemaniku hari ini? " Tanyanya. Mataku melirik kearah gadis 28 tahun itu. Rambutnya berwarna blonde dengan kulit putih bersih. "Aku sibuk pagi ini" Sahutku seraya beranjak ke dalam kamar mandi.
"Bukan pagi ini Oppa, tapi malam" ucapnya dengan nada suara agak meninggi. Ia pasti khawatir aku tak mendengar suaranya karena shower yang menyala.
"Baiklah akan aku usahakan" sahutku.
Aku yakin gadis itu kini tengah melonjak kegirangan. Soo-he adalah anak teman baik Ayah, sejak kecil kami selalu bersama. Aku sangat menyayangi Soo-he, dia sudah ku anggap seperti adik kandungku sendiri.
Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggang. Menutupi bagian bawah tubuhku. Aku sedikit terkejut saat melihat Soo-he masih duduk di sana.
"Kau tak pulang?, aku kan sudah bilang malam ini aku akan menemanimu" ku buka lemari pakaian. Memilih pakaian mana yang seharusnya ku pakai. Ekor mataku menangkap keberadaan seseorang yang berdiri tepat di belakangku.
Aku berbalik dengan cepat. Soo-he sudah berdiri di sana. Ia menatapku dengan pandangan yang aneh. Tiba-tiba tangannya menyentuh dadaku yang bidang. Matanya berkedip pelan "Kau memiliki tubuh yang Bagus, Oppa"
Aku memang suka berolahraga, hingga memiliki tubuh yang atletis. Menurutku tidak sewajarnya Soo-he begitu terkesima melihat tubuhku ini. Kami sering pergi ke pusat kebugaran bersama.
"Aku akan berganti baju, bisakah kau keluar sebentar"
"Oh, mian" ia segera menarik tangannya, lalu buru-buru pergi keluar.
Anak nakal itu entah apa yang sedang dia pikirkan?
****
Waktu yang di berikan Kang chul sudah habis. Tiga bulan aku harus menelan banyak materi yang cukup kuat untuk membuatku kehilangan beberapa kilogram berat badanku.
Semua sudah di persiapkan dengan matang. Aku hanya membawa satu koper pakaian. Kang chul bilang jangan terlalu banyak membawa barang. Kami akan membeli barang-barang yang ku butuhkan nanti.
Dari kota kelahiranku, kami harus terbang dulu ke ibu kota. Menginap satu hari di sana baru terbang ke negeri gingseng.
Aku memeluk Bella erat-erat, matanya yang bening menatapku dengan pandangan yang tidak bisa ku tebak. "Ibu hati-hati ya" di ciumnya kedua pipiku.
Airmataku tak boleh luruh. Sebisa mungkin aku harus membendungnya. Jika aku menangis Bella juga pasti akan ikut menangis. Bergantian aku memeluk Bapak dan Mamak.
Hei-jin menjemputku, aku melarang keluargaku ikut mengantarkan aku ke bandara. Pasti akan sulit bagiku untuk melangkah pergi jika melihat mereka. Sekarang fokus utamaku adalah menghasilkan banyak uang, kemudian kembali berkumpul dengan semua keluargaku.
Pesawat Nam air mengantar kepergianmu menuju Ibukota negara ini. Ada perih menelusup di hatiku saat pesawat ini lepas landas. Tanpa ku sadari air mataku meluncur turun. Hei-jin menyadari itu, di ulurkan selembar tissue ke arahku.
"Mian, aku hanya terbawa perasaan" ucaoku sambil menerima tissue pemberiannya.
Satu jam kemudian kami sampai di Jakarta. Aku dan Hei-jin berjalan beriringan sambil menarik koper masing-masing. Tiba-tiba Hei-jin melambaikan tangannya seolah-olah sedang memanggil seseorang "Sunbae kami disini" ia sedikit berteriak.
Dari arah lambaiannya aku melihat Kang chul dan Dong sik berjalan. Rupanya mereka menjemput kami di sini. Ku pikir mereka ada di Seoul.
"Kami sudah memesan hotel, ayo kita bergegas" Kang chul meraih koper yang ku bawa, lalu menggandeng tanganku dan membawaku berjalan menuju mobilnya.
Kami semua masuk ke dalam mobil yang sama. Dong sik dan Hei-jin duduk di depan. Aku dan Kang chul duduk di kursi belakang.
"Bagaimana perasaanmu? " Kang chul bicara menggunakan bahasa negerinya, mungkin ia ingin menguji kemampuan berbahasa koreaku.
"Senang, ini menyenangkan"
"Wow, Hei-jin benar. Kau sudah pandai berbahasa Korea" Kang chul memberiku sebuah tepuk tangan yang lucu.
"Sudah ku bilang kan Sunbae. Aku adalah guru yang baik" Hei-jin menyombongkan diri. Kami tertawa serempak. Benar-benar suasana yang hangat.
Aku pikir aku akan berbagi kamar dengan Hei-jin di hotel. Ternyata tidak aku mendapatkan kamar sendiri. Ku rebahkan tubuhku di atas pembaringan. Rasanya nyaman dan menenangkan, hingga akhirnya aku mendengar suara kaca di ketuk. Aku sempat berpikir jika ada hal mistis di dalam kamar hotel ini, sebelum akhirnya aku melihat Kang chul berdiri di balkon hotel.
Aku menyeret langkahku untuk menghampirinya, ia mengangkat dua gelas Wine dan sebotol sampanye.
Ku buka pintu kaca pembatas balkon dan kamar. Kang chul mundur kebelakang dan aku keluar. Rupanya kamar kami memiliki balkon yang terhubung.
Ia meletak semua yang ia bawa di atas meja, membuka sampanye. Menuangkannya ke dalam dua gelas.
"Ini adalah sampanye yang Bagus, kau akan menyukainya" Kang chul mengulurkan satu gelas berisi sampanye padaku.
Aku menggeleng pelan. "Mian, Oppa. Aku tidak boleh minum itu" Kang chul mengangkat bahunya dengan ekspresi lucu. Di habiskan Sampanye itu dalam sekali tegukan.
"Apa kau pernah ke kota ini? " ia melangkah menuju pagar balkon, dan menatap lurus kedepan.
"Pernah, waktu kelas 3 smp. Aku mengikuti sebuah lomba dan sebelum pulang ke kotaku kami jalan-jalan dulu di kota ini selama dua hari. " dia mengangguk. "Aku pergi ke taman mini dan pantai Ancol" sambungku, dia kembali menegak minumannya.
"Saat itu menyenangkan. Di ancol ada jembatan yang terbuat dari kayu, jembatan itu memanjang ke arah laut. Aku suka ketika berada di sana" entah kenapa, sepertinya Kang chul sedari tadi sedang mengamatiku.
"Kau ingin kesana?"
"Hahh"
"Ke pantai Ancol, mau kesana? kita punya waktu senggang hari ini"
"Jeongmal? " tanyaku antusias.
"Ne, segera lah bersiap" sahutnya. Aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku ingin mandi sebentar dan berganti pakaian.
Dua puluh menit kemudian aku sudah siap. Aku memakai t-shirt berwarna biru laut, celana levi's panjang berwarna hitam, dengan sobekan-sobekan kecil di paha dan lutut.
Kami berkumpul di lobi hotel, Dongsik dan Hei-jin juga memakai pakaian yang santai. Tidak berapa lama Kang chul turun, mata kami saling terbelalak menatap satu sama lain. Ootd kami hari ini sama persis, baju dan celana dengan warna serupa.
"Apa ini? apa kalian sudah berencana memakai pakaian yang sama" ledek Dong sik, wajahku memerah dan tak bisa berkata apa-apa.
"Hyung, berhentilah meledek kami. Kau lihat wajah En sudah semerah tomat" sahut Kang chul santai, sambil memberi kode agar kami berjalan mengikutinya. Ku pilih duduk di kursi depan. Aku terlalu malu untuk duduk berdua dengan Kang chul di kursi belakang. Aku terkesima saat melihat Dong sik duduk di kursi belakang dan Kang chul duduk di kursi kemudi.
"Hyung, kenapa bukan kau yang mengemudi? " protesku, aku tau seharusnya aku tidak memanggil Dong sik dengan sebutan 'Hyung' karena sebutan itu hanya boleh di pakai untuk pria yang lebih muda memanggil pria yang lebih tua. Namun aku lebih suka memanggil Dong sik dengan sebutan itu.
"Kami selalu bergantian saat menyetir, jika satu orang menyetir terus menerus tanpa bergantian, setir mobil ini akan bosan padanya" justru Kang chul yang menanggapi protes yang ku buat.
Hari sudah hampir senja. Suasana yang romantis jika kau pergi berjalan dengan pasanganmu di pantai. Angin juga tidak berhembus dengan kencang. Aku dan Kang chul berdiri di jembatan yang tadi aku ceritakan.
Ia mengeluarkan ponselnya. "Berdiri di sini, aku akan memotretmu" ia berjalan mundur kira-kira lima langkah.
Dia mengatur posisi ponselnya agar mendapat hasil yang Bagus saat memotret. "Tersenyum lah" pintanya sambil terus fokus menatap layar ponsel.
Aku mulai tersenyum dan memasang beberapa pose.
"Sunbae, bergabunglah dengannya. Aku akan memotret kalian" Dong Sik mengambil alih ponsel Kang chul. Kang chul berlari kecil menghampiriku. Kang chul merangkul pundakku, membuatku sedikit terperanjat. "Buatlah pose senatural mungkin. Matahari mulai tenggelam, itu adalah background yang bagus" Hei-jin datang dan memberi usul yang mencengangkan, ia mengatur posisi kami agar saling berhadapan. Tidak lupa ia mengarahkan tangan Kang chul agar memegang pipiku Kening kami saling beradu.
Untungnya dalam hasil foto yang kulihat, kami hanya terlihat seperti siluet dalam cahaya matahari senja. Wajah kami tak terlihat dengan jelas.
Kami kembali ke hotel saat mendekati jam makan malam. Hei-jin mengusulkan agar kami langsung makan malam saja, jadi nanti kami tak perlu turun naik dari kamar lagi. Aku memesan nasi mawut, mereka bertiga memesan sate, rendang, udang goreng dan banyak lagi.
Apa mereka bisa menghabiskan semua itu. Akan sangat mubajir jika banyak yang tersisa dan terbuang sia-sia. Kang chul mengambil sepotong rendang dan menaruhnya di piringku. "Makan ini agar kamu sehat" yang lain tersenyum penuh misteri sambil menatapku.
Selesai makan malam kami kembali ke kamar masing-masing. Ku putuskan untuk mandi, tubuhku terasa lengket karena keringat. Usai mandi aku memakai piyama yang di sediakan oleh hotel. Aku berbaring di kasur, mencoba memejamkan mataku. Namun hingga mataku terasa pegal kantuk tak juga menyerangku. Aku berangsur dari pembaringan menuju balkon, mungkin menghirup udara segar bisa membantuku untuk tidur.
"Kau belum tidur? " tanya Kang chul membuatku kaget.
Ia duduk di sebuah kursi, sambil minum tentunya. Ia memakai piyama mirip kimono, dadanya terlihat karena piyama itu tidak tertutup dengan baik.
"Aku belum mengantuk, Oppa" ku tarik kursi di hadapannya dan duduk. " Apa kau cemas? " ia kembali bertanya.
Ku buang pandanganku jauh ke arah jalan. "Tak ada yang perlu ku cemaskan. "
"Masih ada waktu jika kau ingin merubah pikiran" aku menggeleng tanpa mengubah pandanganku. "Keputusan yang ku ambil sudah bulat. Aku dan keluargaku sudah berpikir dengan matang" saat aku menoleh, tatapan mata Kang chul menjurus ke arahku, seakan mampu memporak-porandakan hatiku.
"Percayalah, aku akan selalu melindungimu" ucapnya lirih.
******
Pergi ke pantai adalah keputusan yang tepat. Tidak hanya En yang bahagia, aku juga bahagia. Menghirup udara yang segar sambil mendengar semua celoteh En seakan membuat hidupku berwarna. Ia jauh lebih muda ketimbang Soo-he, tapi kadang ia terlihat jauh lebih dewasa di banding Soo-he, mungkin karena En adalah seorang ibu. Namun ada kalanya ia bertingkah kekanak-kanakan dan menggemaskan. kepribadian En begitu menarik, membuat aku ingin mengenalnya jauh lebih dalam lagi.
Aku tak bisa memejamkan mataku, ku putuskan untuk pergi ke balkon. Menikmati angin malam di temani hangatnya wine. Aku berdiri di depan pintu kaca kamar En. Ku lihat gadis itu tampak berbaring dengan gelisah. Aku buru-buru beralih saat ku lihat ia bangun dari tempat tidur. Aku berpura-pura duduk sambil menikmati suasana malam.
Rupanya ia juga tak bisa tidur, kami ngobrol sebentar. Aku memerhatikan wajahnya, wajahnya memiliki raut kecantikan khas negeri batik. Ia memiliki lesung pipi di pipi kirinya, menambah kesan manis saat ia tersenyum. Tubuhnya hanya memiliki tinggi sebatas dadaku saja. Tapi ia selalu mengklaim jika di antara para wanita di keluarganya, ia adalah satu-satunya yang memiliki tubuh tinggi.
Besok kami akan berangkat ke Seoul, ku harap di sana En bisa menemukan kehidupan baru yang lebih baik. Sehingga dia bisa sedikit melupakan rasa sakit atas kepergian Yoan.
*****
Salju pertama turun, menambah hawa dingin yang menusuk tubuh. Aku merapatkan jaket, berharap kehangatan bisa ku dapatkan. Tae jon melihatku, ku pikir ia tau jika kini aku kedinginan. Ia melepas syal yang ia pakai, lalu mengalungkannya di leherku
"Cuacanya sedang dingin, pakai ini agar kau tidak masuk angin" aku mengangguk, hatiku di penuhi bunga-bunga yang Indah, aku harap bunga-bunga ini terbuat dari plastik sehingga bisa awet dan bertahan lama. Ia meraih tanganku dan memasukannya ke dalam sau mantelnya. Benar-benar suasana yang romantis. Apalagi kini kami berada di pinggir sungai Han. Aku jadi teringat beberapa drama yang pernah ku tonton.
"En, En" aku mendengar suara Kang chul memanggilku. Aku juga merasa tubuhku bergetar, sampai akhirnya aku membuka mata. Aku masih berada di dalam pesawat. "Kita sudah sampai, lap dulu liurmu itu" Kang chul tertawa lalu bangkit, aku segera menyentuh kedua pipiku tak ada bekas air liur di sana. Dia membohongiku.
Bandara di sini sangat berbeda dengan bandara di ibukota negaraku. Sangat luas dan tertata rapi. Aku melihat banyak orang berjalan dengan membawa koper, mereka berbicara satu sama lain. Ya tuhan. Aku benar-benar sudah sampai di korea.
"Wow.. bandara di Seoul sangat ramainya" ucapku polos. Kang chul tertawa lirih "Ini Incheon bukan Seoul, sebentar lagi kita akan pergi ke Seoul"
Bodohnya aku, kenapa aku lupa jika ini bandara Incheon. Untung Dong sik dan Hei-jin sedang sibuk mengambil koper, jadi mereka tidak mendengar perkataanku tadi.
Aku melihat keramaian, banyak gadis berlarian sambil membawa balon berwarna biru. Hei-jin melihatku yang tampak asyik mengamati keramaian. "Blue baru menyelesaikan tour Jepang mereka, jadi para blueshaw menyambut mereka" mataku berbinar, berarti ada Kang tae jon di sana. Haruskah aku berlari ke sana, bergabung dengan para blueshaw. Tapi, aku terlalu malu karena Kang chul dan lainnya pasti akan menertawakanku.
"Ayo, jemputan kita sudah datang. " Kang chul mengambil koperku dan berjalan lebih dulu, sedangkan aku mengikutinya dengan pandangan masih tertuju ke arah keramaian. Berharap aku bisa melihat Tae jon.