Snow In Seoul

Snow In Seoul
PANGGIL AKU OPPA



Aku tidak tau bagaimana caraku melanjutkan hidup. Yoan sudah tak ada di sisiku lagi, berat memang, selama kurang lebih 3 bulan aku mengurung diri di kamar. Bahkan untuk melihat sinar matahari pun aku enggan. Bella menghabiskan waktunya bersama kedua orangtuaku.


Sampai sekarang aku masih belum mampu untuk menghadapi Bella. Aku takut ia akan memberiku banyak pertanyaaan tentang ayahnya. Dia yang akhirnya ku ketahui bernama Kang Chul, membiayai semua keperluan hidup kami. Dia selalu mentransfer uang yang jumlahnya fantastis untuk kalangan manusia seperti aku.


Langkah kaki kecil menghampiriku. Aku bisa merasakan hangat tangan mungil yang menyentuh pundakku. Aku berbalik lalu duduk di tepi pembaringan, ku lihat Bella juga sedang berupaya untuk naik dan duduk di sisiku. Ia tampak sangat menggemaskan,ku bantu ia duduk.


"Ibu, jalan-jalan yuk," ajaknya. Ia tersenyum manis.


"Kemana?, " tanyaku dengan suara serak, ia mengerlingkan matanya.


"Ke ikon jelawat." aku hanya mampu tersenyum hambar. Rasanya aku belum mampu untuk menampakkan kakiku keluar rumah.


Mendapatkan hangatnya sinar matahari dan kebahagiaan bagiku adalah pengkhianatan untuk Yoan. Karena aku yakin, di dalam sana Yoan kedinginan dan sendirian.


"Bella, jalan-jalannya sama Akung dan Uty aja ya," rayuku. dia menggeleng.


"Kok ibu nggak mau sih, "rajuknya.


"Ibu, lagi nggak enak badan, nanti kalau ibu pingsan gimana?, " aku beralasan.


"Ibu mau nangisin Ayah lagi kan?."


jantungku berdesir. Kenapa balitaku bertanya seperti itu.


"Kata bu Guru di tempat ngaji. Kalau kita nangisin Ayah terus nanti Ayah nggak bisa ke surga" aku mencoba menahan buliran bening yang berdesakan ingin keluar dari netraku.


"Bella sekarang nggak nangis lagi. Kata bu Guru ngaji, suatu saat nanti Bella akan ketemu lagi sama Ayah di surga. Bella harus sabar, ibu juga." ku raih tubuh mungil itu dalam pelukanku.


Dengan cara ini kah Allah menegurku?


Dari mulut kecilnya, seakan Tuhan ingin memberitahukan, bahwa hidup ini perlu aku tata kembali.


Aku mulai membuka semua tirai di kamarku, membiarkan sinar matahari menyentuh setiap jengkal tubuhku. Aku harus sadar dan mulai menjalani hidup, ada Bella yang masih sangat membutuhkanku.


Aku menutup akun bank lamaku, mengganti no ponsel seluruh keluargaku. Semua ini aku lakukan untuk memutuskan semua komunikasi dengan Kang Chul. Aku harus hidup tanpa belas kasihnya lagi. Menerima semua pemberiannya bagaikan menjual nyawa suamiku.


Aku sekarang bekerja di sebuah tempat karaoke sebagai kasir, gaji yang ku dapat cukup untuk membiayai semua keperluanku dan Bella.


"Hey, Bray ada drama baru nich," ucap Eka sambil melemparkan sebuah kaset dvd bajakan padaku.


"Seru nggak?," tanyaku, akhir-akhir ini karena di racuni terus-terusan oleh Eka aku jadi keranjingan nonton drama korea.


"Seru cerita si cewek nyamar jadi anak cowok. Biar bisa masuk sekolah khusus anak cowok. Pokoknya seruuu, tapi awas baper lho nanti"


Aku hanya tertawa ringan sambil memasukkan kaset dvd itu ke dalam tas, pukul 2 dini hari. Waktunya aku pulang,aku mengganti rok sepan mini dengan celana panjang. Mengikat tinggi rambutku dan memasukan yang teurai ke dalam jaket. Saat pulang seperti ini sebisa mungkin aku harus terlihat seperti laki-laki, agar nantinya aku aman selama perjalanan pulang.


Pukul 2:25 aku sampai di rumah. Aku melihat rumah orang tuaku yang sudah begitu sepi. Segera ku buka kenop pintu rumahku, mengganti pakaianku dengan piyama, mencuci wajah dan gosok gigi.


Rumahku dan rumah orang tuaku bersebelahan. Aku mencoba memejamkan mata,tapi rasa kantuk tak jua datang. Aku teringat pada kaset dvd pemberian Eka. Segera ku ambil lap top ku, dan mulai menonton drama korea itu.


Aku menghabiskan hampir tiga jam,untuk menonton drama ini. Aku bagai tersihir dan terpana oleh akting aktor pria di drama ini.


Aku suka padanya, pada aktor pria dalam drama tersebut, sudah banyak judul drama korea yang ku tonton. Tapi baru kali ini aku benar-benar tersihir pada aktornya.


Namanya Kang tae jon. Ia juga merupakan member boyband Blue. Aku terkesima melihat akting menangisnya di sungai Han, aku tergoda melihat saat ia beradu akting dengan lawan mainnya.


Jadilah mulai malam itu aku sebagai penggemarnya. Aku bahkan membeli poster sebesar dinding kamarku, agar aku bisa melihat senyum Tae jon setiap hari.


Pagi ini aku bangun dengan suasana hati yang baik. Terlebih Tae jon menyambut pagiku dengan senyum menawan, dalam poster tentunya. Hari ini aku masuk pagi, Bella masih tertidur lelap di sisiku. Aku menunduk membenarkan posisi selimutnya, ia begitu manis.


Aku memutuskan untuk mandi. Baru setelah itu membuat sarapan, tapi baru saja aku hendak membuka pintu kamar mandi, aku mendengar suara Bapak memanggilku dengan keras.


"En, En tolong Mamakmu ini," teriak Bapak


aku segera berlari menuju rumah orangtuaku, dan mendapati Mamak jatuh pingsan di pintu kamar.


"Ya Allah kenek opo Mamak Pak?, " aku langsung membalik tubuh Mamak, ku rasanya nafasnya yang payah.


"Pak, panggil kan pak Karno, minta tolong mengantar kita kerumah sakit" tanpa menunggu lagi Bapak langsung pergi menuju rumah tetangga kami itu.


**************************


Hampir 6 bulan tak ada kabar dari En. Dia benar-benar ingin lepas dari semua tentangku. Aku paham pasti akan sangat sulit baginya menerima bantuan dari orang yang menyebabkan suaminya meninggal.


Omma, aku harus bagaimana?


Suara dering ponsel membuyarkan semua lamunanku.


Di layar ponsel aku melihat nomor yang tidak aku kenal.


Agak ragu namun ke tekan tombol terima


"Hallo"


"Tuan, tolong bantu aku" suara ini, suara yang aku kenal.


"Ibuku sakit dan harus di operasi, uang yang ku punya tidak cukup untuk biaya operasinya, ku mohon Tuan, bantu lah aku" ia terus berbicara tanpa memberi aku kesempatan untuk menjawab.


"Beri aku no rekeningmu"


 


******


 


Meski memalukan, mau tak mau aku harus meminta tolong padanya. Biaya operasi Mamak terlalu di luar jangkauan kami, tapi jika Mamak tak segera di operasi maka nyawa Mamak tidak akan selamat. Nyawa mamak lebih berharga dari rasa egoku.


Sungguh, aku tidak ingin kehilangan lagi. tak berapa lama aku menerima sms laporan kredit dari bank. Tak tanggung-tanggung Kang chul memberiku uang yang cukup untukku membangun 13 rumah.


Aku pergi ke administrasi rumah sakit. Melengkapi semua persyaratan operasi, bagiku kini nyawa Mamak adalah yang utama.


Dua bulan pasca operasi Mamak tampak sehat dan bugar. Aku baru saja mendapat kabar jika Kang chul ada di kotaku, Hei-jin yang memberitahuku.


Ini adalah kesempatanku untuk berterimakasih. Aku mengirim pesan padanya .


-Bisa kita bertemu-


Tidak begitu lama aku sudah mendapat pesan balasan.


-jam 7 malam werra resorts-


Aku mematutkan diri di depan cermin. Bukan, aku bukan ingin tampil cantik di mata Kang chul. Aku hanya ingin terlihat pantas saja, karena kami bertemu di tempat yang formal.


Dengan motor beat kesayanganku, aku melaju menyusuri jalanan kota. Sampai di depan hotel Werra, aku langsung memarkirkan motor berjuta kenangan ini, dan segera masuk ke Werra resorts. Mataku menyapu sekeliling hingga ku dapati Kang chul melambaikan tangan kearahku.


"Duduklah," pinta nya saat kami sudah berhadapan.


"Mau pesan sesuatu." aku menggeleng pelan, aku agak risih melihat semua orang yang memandang kami. Apa kami tampak seperti tontonan?.


"Sepertinya kau tidak nyaman berada di sini"


kembali netraku melihat ke sekeliling.


"Semua orang melihat kita" jawabku.


"Kita? " ia menggeleng dan menggerakkan telunjuknya.


"Bukan kita tapi aku, mereka pasti kagum melihat ketampananku"


Aku tertawa kecil, ternyata dia pria konyol yang sangat percaya diri.


"Tuan, aku ingin berterima kasih karena kau sudah mau menolong ibuku" ia mengetuk-ngetuk meja menggunakan garpu.


"Berkat Tuan, ibuku bisa pulih seperti sedia kala, dan... "


"Jangan panggil aku tuan" potongnya cepat


"Aku lebih tua darimu.Jadi panggil aku Oppa" mataku terbelalak,Oppa dia bilang. Ahh,aku hampir lupa kalau dia berasal dari korea.


"Aku hanya ingin kau tau, Tuan maaf maksudku Oppa. Kalau aku akan membayar semua uang yang kau trasfer saat ibuku sakit, aku akan mencicillnya setiap bulan sampai semuanya lunas," ucapku percaya diri.


"Hmmm... barapa tahun aku harus menunggu? " aku terkesima pada pertanyaan yang ia berikan.


"Aku tidak bisa menjamin berapa lama. Aku hanya bisa menjamin kalau aku pasti melunasinya" mata kami beradu, bola mata coklat yang Indah itu membuat jantungku berdetak kencang, garis wajah yang terlihat jelas, berpadu dengan hidung bangir dan kulit yang mulus. Dia memang tampan, ketampanan khas pria negeri gingseng.


"Jika benar kau ingin melunasi semua bantuanku, ikut lah aku ke Seoul."