Snow In Seoul

Snow In Seoul
SIKLUS



Aku melihatnya melangkah pulang, meninggalkan jejak kaki di atas salju putih. Huh.. selalu saja seperti ini. Aku hanya bisa diam-diam memperhatikannya dari kejauhan. Semakin aku mengamatinya, aku semakin tau letak ke istimewaan yang ia milikki. Kang chul benar, En memang berbeda. Melihatnya dari jauh saja sudah cukup membuatku terhibur.


Di ujung jalan di depan sebuah rumah kecil ia berhenti, merenggangkan badannya yang lelah sebentar. Sebelum akhirnya menghilang di balik daun pintu. Aku menunduk, mengambil salju yang membentuk jejak sepatu. Hanya jejak-jejaknya lah yang bisa ku miliki, karena aku tau akan tempatku.


Aku mengetuk pintu dimana En tinggal sekarang, tak begitu lama


Krekk...........


Pintu perlahan terbuka, wajah gadis asli Indonesia itu muncul. Sejurus kemudian ia menyunggingkan senyum yang menawan.


"Hyung" sapanya ramah


Hmm... gadis ini selalu saja memanggilku dengan sebutan itu, padahal ia tau dengan pasti jika sebutan itu salah untuknya.


"Bisa kita bicara sebentar?" dia menoleh sebentar kebelakang, sepertinya sedang memastikan sesuatu. Lalu mengangguk kecil, dan berbalik untuk mengambil jaket. Dari sini aku bisa mendengar ia berpamitan dengan Cha ok.


"Apa Cha ok sudah tidur?" kami berjalanan beriringan, "Dia belum tidur, apa kau ingin mengajaknya juga?" tanyanya antusias. Dengan cepat aku menggeleng, malam ini aku ingin menghabiskan sedikit waktu berdua dengannya. Cha ok, aku sedang tak ingin membuatnya salah paham. In ha pernah bilang padaku, jika Cha ok menyukaiku. Setelah tau tentang perasaan Cha ok aku lebih memilih untuk menghindar darinya. Aku seperti pecundang.


En merapatkan jaket yang ia kenakan. Malam ini memang terasa begitu dingin. Aku melepas jaketku, lalu ku pasangkan ke tubuh mungil En.


"Tidak perlu, Hyung. Kau harus memakai jaketmu sendiri, malam ini begitu dingin" ia hendak melepas jaket yang ku pasangkan, buru-buru aku menggeleng dan menahan gerak tangannya.


"Aku Dong sik. Kau lupa kalau cuaca dingin tidak akan mengalahkan ku" aku tersenyum simpul, ia balas tersenyum.


Di sebuah restoran kecil kami berhenti. Kami memesan dua porsi mie udon. Aku memesan dua botol soju dan sekaleng soda untuk En. Aku sangat tau kalau gadis di hadapanku ini, memiliki tubuh yang tidak menolerin alkohol.


Aku sedang menyuap sesendok mie udon ke mulut ku saat ia berkata


"Terasa aneh, hanya makan berdua saja bersamamu?"


Aku tertawa lirih "Wae?"


"Karena meski kita cukup lama saling mengenal tapi hubungan kita tidak terlalu baik" aku mengusap poni rambutnya, membersihkan salju yang tak sengaja terperangkap di antara rambut hitamnya.


"Maksudmu selama ini kita tidak akur?"


Dengan cepat dia menggeleng "Ani~ maksudku kita jarang mengobrol. Selama ini kau selalu diam saja seperti es batu" Mendadak makanan ini menyedak di tenggorokanku. Ini karena aku terkejut oleh ucapan blak-blakan dari En. Aku batuk beberapa kali hingga harus menenggak sebotol soju.


"Itu lah siklusnya" ucapku setelah berhasil menguasai rasa tersedakku.


"Siklus?" keningnya berkerut


"Aku memang akan terlihat seperti es batu, aku sering membisu. Itu karena aku tidak mempunyai teman. Aku miskin, semua orang menjauhiku" ku buka botol soju kedua, meneguknya perlahan langsung dari botolnya. "Satu-satunya teman yang ku punya hanyalah Sunbae" Aku melihat En mengaduk-aduk mie udonnya, menatapku dengan serius dan begitu khusyu mendengar ceritaku.


"Cerita hidupku membosankan kan?"


"Ani~ tidak ada kisah hidup yang membosankan, aku suka mendengar semua ceritamu. Hanya saja, aku masih penasaran akan satu hal''


"Izinkan aku memberimu sebuah pertanyaan, dan kau harus menjawabnya" aku mengangguk pelan.


"Kenapa kau memanggil Oppa dengan sebutan Sunbae, dan kenapa Oppa memanggilmu Hyung" ia menarik nafas sebentar


"Wajar Oppa memanggilmu Hyung , karena kau lebih tua dari Oppa. Tapi panggilanmu pada Oppa buatku terasa sedikit canggung" sekali lagi ia menarik nafas.


"Bukankah seharusnya ia di panggil Tuan atau Boss, bukan Sunbae" kali ini ia meneguk minuman bersodanya, lalu ada bekas soda berwarna merah di sudut bibirnya.


"Aku bertemu Sunbae di sekolah menengah. Kami satu kelas, dan karna aku satu tahun lebih tua darinya. Dia langsung memanggilku dengan sebutan Hyung" kembali aku meneguk soju sambil menoleh kearahmu yang masih antusias menunggu kelanjutan ceritaku.


"Sunbae memiliki nasib yang sama denganku, meskipun ia berasal dari keluarga kaya. Tapi ia masih saja di perlakukan seperti sampah sepertiku" kali ini aku yang menghela nafas.


"Kenapa mereka menganggap Sunbae sebagai sampah"


"Karena di mata mereka, Kang chul adalah sampah yang di pungut/ambil oleh keluarga Kang. Ibunya di anggap sebagai wanita penggoda terhebat. Karena mampu membuat hati presdir Kang takluk, lalu membuat orang paling kaya di korea ini mau menikahnya secara sah hukum dan agama."


Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi. "Dulu banyak orang-orang yang mengolok-olok Sunbae. Mereka selalu bertanya 'Chul dimana ayah kandungmu?' atau 'Chul sekarang kau memeiliki sendok emas di mulutmu' aku yang mendengar saja merasa sakit hati apalagi Kang chul. Tapi Kang chul selalu tak ingin membuat keributan"


"Dia hanya diam dan menerima semua omelan serta olok-olokan dari teman-temanku yang lain" aku menghela nafas, menghisap pave kuat-kuat. Lalu membiarkan asapnya terbang kelangit-langit restoran.


"Yang lebih menyedihkan lagi, para adik tingkat kami bahkan tak ada yang memanggil kami dengan sebutan Sunbae"


"Jadi karena itu pada akhirnya kau memanggil Kang chul dengan sebutan Sunbae" aku mengangguk


"Kang chul hanya ingin kami menjadi lebih akrab. Setelah lulus kuliah ia memberiku pekerjaan sebagai orang kepercayaan. Sunbae bilang dari pada memanggilnya dengan sebutan Bos. Akan lebih berkesan jika semua bawahannya memanggilnya dengan sebutan Sunbae"


Kau meminum sodamu, kali ini kau menyeka mulutmu dengan tissue " Dari tadi aku memperhatikanmu, kau tampak khusyu mendengar ceritaku. Seperti sedang mendengar dongeng dari seorang nenek." kau tersenyum tipis


"Seseorang mengajariku untuk menjadi pendengar yang baik. Dia bilang dengan mendengarkan kita bisa tau arah dan inti sebuah kisah. Sehingga kita akan lebih mudah memberi pendapat"


En kehabisan minumannya, begitu juga aku. Ku pesan dua kaleng soda dan dua botol soju lagi.


"Apa kau baik-baik saja?"


Dia memasang wajah bingung "Kenapa aku tidak dalam keadaan baik. Aku makan banyak dan cukup beristirahat, jadi aku baik-baik saja." kau tersenyum masgul membuatku tertawa lirih


"Maksudku rumor itu. Rumor antara kau dan Tae jon"


"Dalam rumor itu mereka hanya menjelek-jelekkan aku. Dan semua itu tidak mengusikku, karena pada dasarnya aku memang jelek" kau tertawa lirih, dengan pandangan nanar kearahku.


"Selama hanya aku yang di jelek-jelekkan dan bukan Tae jon, insya allah aku akan selalu santai menghadapi rumor itu'' suaranya bergetar, seakan menutupi sesuatu.


"Jika kau butuh bantuanku, kau bisa hubungi aku" aku tau En sedang menyimpan gundah tapi aku takut En akan marah jika aku terus-terusnya bertanya.