
Aku menyiapkan bekal makanan. Seperti biasa Yoan akan memanaskan mesin motor setelah sarapan, dan aku menata bekal yang akan ia bawa bekerja. Aku melihat Bella anak semata wayang kami, masih asyik bermain dengan boneka hello kittynya. Sesekali matanya yang bulat menatap Yoan penuh arti.
Yoan hanyalah buruh kasar. Ia bekerja sebagai buruh bangunan, yang berpenghasilan mingguan. Tidak banyak tapi cukup untuk kehidupan sederhana kami. Aku dan Yoan bertemu saat kami sama-sama bekerja di perkebunan kelapa sawit. Ia bekerja sebagai buruh lahan yang mengaplikasikan jajangan kosong, sementara aku menjadi admin gudang.
Karena kurangnya perumahan kantor sehingga aku dan temanku, harus tinggal di perumahan karyawan lahan. Di sini awal mula kami bertemu.
Aku mengalami kecelakaan di minggu ketiga aku bekerja, ketika aku dan ketiga temanku hendak pergi ke pasar membeli keperluan dapur. Malah berakhir apes terserempet truck.
Aku dan satu temanku terpental kepinggir jalan, sementara satu temanku yang lain terseret motor.
Keadaannya cukup parah. Begitu juga dengan ku, kakiku luka dari mata kaki hingga lutut, yang paling parah lututku.Lukanya dalam dan berbentuk lubang.
Setelah kecelakaan aku jadi sulit berjalan, rasanya sakit sekali. Padahal aku harus mengambil air sendiri jika mau mandi,yang pernah kerja di perkebunan kelapa sawit pasti paham, susahnya mencari air bersih.
Saat sedang kepayahan , mengangkut jirigen berisi air. Aku di kejutkan dengan tangan kekar yang tiba-tiba meraih pegangan jiregenku, dan membawakannya sampai kedepan rumah yang ku tinggali.
"Mulai besok, tak perlu mengangkat jirigen sendiri, beri tanda dengan ikatan rumput Jepang. Biar aku tau kalau jirigen itu milikmu, biar aku saja yang mengambilkan air untukmu"
Aku belum mengenalnya. Tapi di mataku saat itu ia tampak jantan dan maskulin, jadi lah kami mulai dekat. Ia sering mengantarku berangkat ke kantor, ia juga yang menjemputku pulang, hingga akhirnya kami memutuskan untuk lebih dekat lagi.
Enam bulan berpacaran, Yoan memutuskan untuk melamarkanku. Kami menikah di usia yang cukup muda. Aku dua puluh tahun dan Yoan dua puluh tiga tahun
Kehidupan rumah tangga kami pasang surut, kai bekerja berpindah - pindah dari perkebunan satu ke perkebunan yang lain. Di tahun kedua pernikahan kami aku mengandung.
Sangat riskan jika aku tetap tinggal di perkebunan, sehingga Yoan memutuskan untuk pulang ke kota dan tinggal dengan orangtua ku. Ia akan mulai mencari pekerjaan di kota, agar aku dan anakku tidak harus tinggal di hutan lagi.
Awalnya sulit, tapi dengan tekad Yoan yang kuat kami bisa bertahan hidup di kota. Memulai kehidupan baru, Yoan terus bekerja keras. Sampai akhirnya Bella lahir, dan kami mampu mendirikan pondok kecil tepat di sebelah rumah orangtuaku.
Roda kehidupan kami mulai membaik kini, tak lagi harus berhutang kesana kemari hanya untuk makan.
Yoan sudah siap berangkat, ia memasukan bekal makanan ke dalam tas, menimang Bella sebentar lalu menciumi wajah Bella dengan gemas.
"Berangkat dulu ya," pamitnya, sambil mengulurkan tangan kanannya, ku sambut uluran tangan itu, mencium punggung tangannya dengan takjim. Aku menatap lekat Imam dalam hidupku. Entah kenapa rasanya aku ingin terus memandang wajahnya yang teduh.
"Hati-hati," ucapku lirih
kau mengangguk sambil menunggangi kuda besimu, kemudian berlalu dan menghilang di ujung gang.
******
Aku sangat menyukai pulau ini, sehingga aku memutuskan untuk berinventasi di beberapa perkebunan kelapa sawit yang ada di pulau ini. Meski orangtua dan beberapa rekan bisnisku banyak yang tidak setuju, tapi itu bukan beban yang akan membuatku mundur.
Aku membuka laci di dalam mobil,hendak mengambil berkas untuk meeting pagi ini, tapi aku tak menemukan secarik kertas pun disana.
Setelah ku ingat-ingat,aku sempat membacanya tadi saat sedang sarapan.Ahh pasti tertinggal di sana. Aku meraih ponselku, menekan nomor telpon sekertarisku.
"Hei-jin, tolong masuk ke dalam kamar hotelku. Sepertinya berkas meeting yang harus ku bawa tertinggal di sana. "
"Ya, Sunbae. Apa aku harus mengantarnya ke lokasi meeting?."
aku hendak berbelok tapi malah menjatuhkan ponselku, mobil sewaan ini tak sehebat mobil-mobil pribadiku,ku dengar suara Hei-jin yang terus memanggilku.
Aku menunduk sesaat mencoba meraih ponselku yang berada di dekat pedal rem.
Ciietttttt...
Bruakkkkkk...
Ketika aku mengangkat kepalaku,aku melihat seorang pria menghantam kaca depan mobilku. Kemudian terpental ke angkasa dan jatuh dengan keras di atas aspal.
Omma, apa yang harus ku lakukan?
Omma, apakah aku membunuh seseorang?
Kini, aku berada di rumah sakit, Hei-jin dan Dong-sik datang, mereka nampak serius berbicara dengan beberapa anggota kepolisian, Sementara pria yang tadi, ia di nyatakan meninggal dunia setelah sempat mendapat perawatan intensif.
Pihak keluarganya baru saja di hubungi, dan tidak sampai 15 menit mereka datang, seorang wanita dan lelaki paruh baya datang Begitu melihat jasad pria yang ternyata bernama Yoan, mereka langsung menangis histeris.
Sementara nampak seorang wanita muda hanya berdiri diam. Tapi dengan jelas aku melihat tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak menangis atau bicara, dia hanya diam sambil terus memandang jasad Yoan.
*****
Aku terkejut ketika mendapat telpon dari rumah sakit. Mereka hanya bertanya apakah aku keluarga Yoan, lalu menyuruhku untuk bergegas kerumah sakit.
Aku menitipkan Bella pada kakak iparku. Aku, Bapak, dan mamak langsung menuju rumah sakit, aku berboncengan dengan mamak dan bapak naik motor sendirian.
Sesampainya di rumah sakit, kami menanyakan di mana keberadaan Yoan. Mereka menunjuk ke sebuah ruang bersekat, di sana di atas pembaringan aku melihat seseorang terbujur kaku, tertutup selimut dari kaki sampai kepala.
Otakku mendadak menjadi kosong. Aku sama sekali tak bisa mendengar penjelasan dari pihak rumah sakit, yang ku dengar hanyalah tangis histeris mamak dan bapak. Mereka memanggil-manggil nama Yoan dalam isak.
Aku tak bisa bicara ataupun menangis, aku hanya bisa berdiri terpaku menatap jasad lelaki yang aku cintai. Ini kah alasan pagi tadi aku ingin terus menatapnya?
Inikah jawaban dari rasa was-was yang ku rasa dari kemaren?
Harusnya aku turuti firasatku. Harusnya aku larang saja Yoan bekerja. Harusnya..
Harusnya...
Kenapa aku tidak bisa menangis?
Padahal rasanya sakit dan sesak.
Aku ingin meraung-raung dan memeluk Yoan tapi kenapa kakiku enggan melangkah.
Seseorang datang menghampiriku, seorang wanita cantik dengan kaca mata minus. Ia memintaku untuk ikut dengannya. Aku melihat beberapa anggota polisi, dan dua pemuda berkulit putih.
Salah satu dari pemuda itu memakai borgol di tangannya, pihak kepolisian mulai berbicara padaku. Otakku linglung dan tak paham dengan semua yang mereka omongkan.
Hingga pria dengan tangan yang terborgol mendekatiku.
"Maaf, aku sungguh tidak sengaja,aku bersungguh-sungguh.Kau boleh memukul dan mencaciku sesuka hatimu.Tapi ku mohon maafkan aku." ia menunduk dan menitikkan air mata.
"Aku teledor sehingga kecelakaan ini terjadi, aku benar-benar memohon maafkan aku." di katupkannya kedua tangannya di depan dada.
"Aku akan menanggung semua kesalahanku, dan aku akan menolong kehidupanmu aku akan... "
."Tolong aku," ucapku lirih. Ia terdiam dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Tolong, beritahu anakku apa yang menimpa ayahnya. Beritahu dia dengan lembut. Beritahu... Beritahu dia apa yang terjadi" tangisku luruh dengan bebasnya, dadaku bergemuruh mendorong semua emosi yang ku miliki.
"Dia baru berumur tiga tahun. Saat nanti jam 4 sore, Ketika ayahnya seharusnya pulang. Tolong jelaskan padanya apa yang terjadi, jelaskan padanya jika ia harus berpisah dari ayahnya.. " aku menarik nafas dalam-dalam.
"Apa kau bisa?."
Ku tarik kerah kemejanya dengan kasar
"Jawab aku, apa kamu bisa menolongku, apa kamu bisa?? Apa kamu bisa???. " lututku terasa lemas. Aku jatuh terduduk dan terus meraung.
Kenapa ini terjadi padaku?
Kenapa kami harus berpisah?