
"Kau datang lagi. Woww... kau membawakannya makanan lagi" Eun sung melirik ke arah kotak makan yang di bawa Yoo bi. "Bolehkan aku menemuinya Sunbae?" Yoo bi bahkan mengikuti caraku memanggil Eun sung.
"Dia sedang tidur di dalam, kau boleh masuk tapi aku harap kau cepat pulang. Kami bisa dapat masalah jika kau terus-terusan mengunjungi kami"
Aku masih terlelap, mendapat sedikit waktu tidur adalah harta paling berharga bagi Residen seperti kami. Ku rasa Yoo bi mengetahui itu, ia hanya duduk sambil memandangi wajahku. Entah sudah berapa lama, yang ku tau saat aku terbangun, dia tertidur dengan kepala menyandar pada tepi ranjangku.
"Yoo bi ssi" aku mengusap-usap pipinya, perlahan ia membuka matanya, mengedip-ngedip sesaat.
"Kau sudah bangun?" dia bertanya dengan suara serak
"Aku baru saja terbangun"sahutku, ia segera bangkit dari duduknya. Mengambil kotak makan, membuka kotak itu dan memberiku sendok. "Makanlah, setelah ini kau harus bertugas lagi" Yoo bi selalu saja penuh dengan kasih sayang. Perhatian yang ia berikan justru aku harapkan, ku dapatkan dari orang lain. Sungguh aku manusia yang tak pandai bersyukur.
Mengapa kau selalu memperhatikanku Yoo bi? aku takut jika aku justru melukai hatimu. Tanpa kau ucapkan, aku tau dengan pasti bagaimana perasaanmu, tapi aku juga tau dengan pasti pada siapa perasaanku berlabuh. Aku memintanya duduk di sampingku, ia menurut dan duduk. Aku berdiri menuju kulkas mengambil dua kaleng minuman bersoda, mataku sempat melirik ke arah wadah berisi sup ayam yang masih tersisa di dalam kulkas.
Aku kembali duduk dan memberi satu kaleng minuman bersoda itu pada Yoo bi. Aku mulai memakan makanan yang di bawakan olehnya. Sempat tertangkap olehku binar bahagia di wajah gadis yang dua tahun lebih muda dariku itu.
"Kau punya waktu libur?" Yoo bi bertanya dengan hati-hati "Minggu depan adalah jadwal liburku"
"Ayo kita pergi ke Taman hiburan" ajak Yoo bi antusias, aku tersenyum kecut. Taman hiburan sudah memberiku kenangan yang kurang baik. Aku pernah seperti orang gila menunggu seseorang di sana hingga putus asa.
"Bagaimana kalau ketempat lain?" aku berhenti mengunyah agar bisa melanjutkan ucapanku " Kita pergi ke Namsagol Hanok Village saja. Ku dengar akan ada Samulnori (pertunjukan alat musik perkusi tradisional korea) di sana"
"Jeongmal? wah padahal Unnie juga ingin sekali melihat Samulnori " begitu antusiasnya kau bercerita tentang Unnie mu itu, aku sangat tau Unnie yang kau sebut merujuk pada siapa.
"Boleh aku mengajak Unnie, dua hari lagi dia kembali dari Jeju. Dia pasti akan senang" tanyanya pelan
"Apa kau ingin merusak kencan kita dengan membawa orang lain?" Wajahnya memerah saat mendengar ucapanku. Mian Yoo bi ssi, aku ingin melupakan En. Ku harap bersamamu aku bisa membuka hati dan lembaran baru.
Yoo bi mengangguk, dia mengambil tissue lalu membantu membersihkan bibirku "Ini akan jadi kencan pertama kita" ucapnya, dan aku hanya bisa tersenyum. Mudah-mudahan kencan pertama ini akan menjadi kencan kedua dan seterusnya sampai aku bisa mencintaimu Yoo bi ssi.
****
"Jangan mudah mengucapkan janji" suara En bergetar, kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat "Yoan juga pernah berjanji untuk selalu menjagaku, tapi ia mengingkari janji itu" bibirnya bergetar, bola matanya mulai berair. "Aku lah orang yang paling takut mati dalam kesendirian, tapi justru Yoan yang mengalaminya. Dia pergi tanpa ada aku atau Bella di sisinya"
"Saat aku melihat jasadnya di rumah sakit, aku bahkan tidak mampu menangis, dia membeku di sana, diam dan tak menyambutku" Aku meraihnya dan membenamkannya dalam pelukanku "Dia berbohong, dia berbohong padaku. Hal yang ku takutkan, malah terjadi padanya. Dia meninggal di atas darahnya yang mengalir, dia meninggal sendirian" tangisnya pecah, aku merasakan tubuhnya bergetar. Begitu beratkah beban hidupmu itu, gadis bodoh?
"Apa kau ingin aku bernyanyi?" dia menggeleng pelan, "Tapi aku harus bernyanyi untuk meredakan tangismu" Saat ini ia sudah cukup tenang, tangisnya sudah tidak seheboh tadi. Namun isak-isak tangisnya masih tersisa, membuat suaranya sengau saat bicara.
"Nyanyikan Monster" ucapnya lirih
"Ani~ itu lagu EXO, aku ingin menyanyikan laguku sendiri"
"Mamacita saja" ucapmu lagi
"Sudah ku bilang aku hanya akan menyanyikan lagu ku sendiri"
"Nyanyikan Growl saja, lagi pula EXO dan kau kan satu agensi" aku menunduk mencoba melihat wajahmu yang masih bersandar di dadaku "Apa kau EXO L?" tanyaku, membuatmu tertawa kecil "Ani~ aku Blueshaw, tapi aku menyukai baekhyun. Di drama saeguk yang pernah ku tonton. Dia berperan menjadi pangeran dan dia sangat Kyeopta(imut) peran itu sangat cocok untuknya"
Kembali aku menunduk berusaha melihat wajahnya, kali ini dia menyadarinya dan langsung menengadahkan wajahnya ke atas "Wahh, aku cemburu mendengar mu memuji Baekhyun, padahal aku juga inut tapi kau tak pernah memujiku" kau tersenyum di antara matamu yang sembab, lesung pipi itu menyembul keluar dan kau terlihat manis.
"Aku juga suka melihat Ji sso, dia juga menjadi pangeran di drama itu. Benar-benar drama yang bagus" wajahnya terlihat berseri-seri menceritakan kedua lelaki itu membuatku frustasi
"Ahh... jadilah penggemar mereka saja" aku melepaskan pelukanku, dan mendorongnya kepembaringan. Dia tertawa geli lalu duduk dan meraih tanganku. Menarik dengan kuat agar aku kembali duduk di sisinya.
"Perasaanku saat melihat mereka berakting, berbeda dengan perasaanku saat melihatmu" aku meraihnya dalam pelukanku lagi "Itu cukup membuatku tersanjung"
"Ngomong-ngomong kita ada dimana? kenapa ada box bayi di kamar ini?" kau melepaskan pelukanku, lalu menunjuk ke arah box bayi. "Ini klinik bersalin, karena bingung aku membawaku kesini" kau tersenyum tapi di detik kemudian kau tertawa keras, sambil menutup mulutmu dengan selimut.
"Teruslah tertawakan aku, kau tidak tau betapa kagetnya aku dengan suhu tubuhmu itu"
"Mian, mian aku tidak akan tertawa lagi" meskipun kau berusaha menahan tawaku, tapi aku masih bisa mendengar suara tawamu itu, dan itu membuatku bahagia.
Ia turun dari atas pembaringan, aku membantunya membawa infus. Kemudian menunggu di depan toilet. Ia keluar dengan wajah yang lebih segar, mungkin ia mandi atau mencuci muka tadi.
Ia kembali duduk di pembaringan "Ponselku?" tanyanya
"Saat kau pingsan tadi malam aku hanya ingat pada tubuhmu saja, bahkan ponselku sendiri tidak aku bawa" sarkasme dariku, dia manggut-manggut sambil mengulum bibirnya.