Snow In Seoul

Snow In Seoul
AKU TIDAK AKAN PULANG



Aku bahagia, bisa menghabiskan malam bersamamu. Dalam balutan hanbok itu kau tampak seperti bunga yang baru merekah indah di musim semi. Wajahmu yang tak pernah berhenti berseri-seri menandakan jika kau bahagia. Kita melangkah bersama, ku genggam salah satu jemarimu, sedangkan tanganmu yang lain sibuk memeluk boneka beruang yang ku beri. Tak sia-sia aku bergelut dengan gelang-gelang itu agar bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Setidaknya aku juga menang dalam kompetisi dengan residen itu. Aku yang bodoh saja bisa tau kalau matanya tak pernah lelah menatap En, padahal ia sedang pergi berkencan dengan wanita lain. Aku yakin residen muda itu menatapmu dengan penuh rasa. Mungkin ia menyukaimu tapi maaf kau sudah ku beri tanda. Tak akan ku izinkan ada orang lain yang mendekatimu termasuk Ceo muda itu.


"Tae jon" panggilmu lirih


"Nae"


"Sepertinya ada yang merekam kita di sana" kau menunjuk kearah kerumunan para gadis belia. Aku menoleh kearah tanganmu menunjuk, gadis-gadis itu langsung Koor memanggil namaku.


"Tak apa mungkin mereka Blueshaw sepertimu" aku melambaikan tangankan ke arah sekumpulan gadis-gadis itu. Dengan antusias mereka balas melambai.


"Aku harus menghapus apa yang mereka rekam" kau segera beranjak tapi buru-buru ku raih lenganmu.


"Sudahlah tidak apa-apa" aku mencoba mencegahmu


"Bagaimana jika foto atau rekaman yang mereka ambil tersebar di media sosial, itu akan memberi citra buruk untukmu" aku menepuk-nepuk pundakmu, menarikmu dalam pelukanku "Jangan berfikiran buruk, tidak akan ada rumor apapun"


"Aku memang bukan berasal dari dunia bergemerlap sepertimu, tapi yang aku tau dari semua pengalamanku sebagai Kpopers. Rumor-rumor murahan bisa menjatuhkan imej mu. Aku tidak ingin itu menimpamu"


"Berhentilah khawatir semua akan baik-baik saja" kau menunduk, aku mengangkat dagumu membuat wajahmu terangkat penuh di hadapanku. Kembang api kini berterbangan di langit, meledak dan memberi warna-warna indah di langit.


Mata kita saling beradu, di bawah hujan salju yang menutupi Seoul. Wajah manismu terlihat lebih menawan, menggugah rasa yang tersimpan jauh di lubuk hatiku. Aku menundukkan kepalaku, semakin menunduk untuk menyejajarkan posisi kita. Kita sama-sama memejam mata saat kedua bibir kita saling bertemu.


Ku resapi semua suasana indah malam ini. Tak akan ku tinggalkan setiap rasa yang ku dapatkan malam ini. Meski pada akhirnya kita menjadi salah tingkah karena ciuman tadi. Di hari sedingin ini wajahmu memerah, ku raih jemarimu dan ku masukkan ke saku mantelku, kita kembali melangkah menyusuri hujan salju yang berkilauan.


"Unnie, ayo kemari. Liat kesana" teriak Yoo bi, gadis itu berjalan terburu-buru sambil bergandengan dengan residen itu dan kenapa nama Sea ok seakan tak asing di telingaku. Dimana aku pernah mendengar nama itu ya? Bahkan sepertinya aku pernah mendengar nama itu berulang-ulang.


Ternyata Yoo bi mengajak kami menonton atraksi api. Dimana ada beberapa pria bertubuh kekar, menyemburkan minyak dari dalam mulutnya ke api obor yang menyala. Api itu akan membesar, di selingi beberapa atraksi memukau lainnya.


Aku menyuruh En berdiri di hadapanku, dari matanya yang tak kunjung berkedip. Aku bisa mengambil kesimpulan kalau En menyukai atraksi api ini. Tinggi tubuhnya yang hanya mencapai bahuku saja membuat nyaman untukku bersandar, aku menaruh daguku dia atas kepalanya. Melingkar kedua tanganku di pinggangnya, dan menikmati pertunjukan atraksi api bersama.


Waktu terus mengalir, tanpa sadar aku sudah menghabiskan banyak waktu bersama gadis pendek ini. Aku mengantar Yoo bi dan Sea ok pulang, baru setelah itu aku mengantar En. Di sepanjang jalan En terus bercerita, banyak hal yang ia ceritakan. Dan aku, jelas aku hanya akan menjadi pendengar yang baik.


Setidaknya saat ini ia bercerita dalam keadaan sadar, sehingga semua cerita yang ia ceritakan terdengar terarah. Tidak seperti ketika di gerbong kincir raksasa, ia bercerita tak terarah dan kadang terdengar amburadul.


"Bagaimana?" tanyaku


"Tentang kembali ke Indonesia bersama ku"


Kau diam sesaat, menghembuskan nafas berat "Aku tidak bisa pulang sekarang, mungkin aku akan pulang tahun depan"


"Kenapa menunggu Tahun depan?" tanyaku


"Aku hanya menunggu uang tabunganku cukup untuk aku membuka usaha di kota kelahiranku. Kelak jika aku pulang, aku tidak akan kembali ke korea lagi" kau membuang pandanganmu jauh keluar jendela


''Oke, jika kelak kau tak ingin kembali lagi ke Korea. Maka pulanglah tahun depan, atau pulanglah lima tahun lagi. Saat itu aku akan menjalani wajib militer, sehingga aku tak perlu melihat punggungmu menjauh pergi" Ia tersenyum simpul, kini beralih menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.


"Tae jon ssi" suaramu terdengar serak, mungkin karena cuaca yang terlampau dingin. "Dulu aku pernah bermimpi bisa melihat punggungmu saat berlalu pergi" ia menarik nafas sesaat.


"Aku berdoa pada Tuhan. Jebal sekali saja, sekali saja aku ingin melihat punggung Tae jon dengan mata kepalaku secara langsung" ia menunduk dan tertawa kecil.


"Rasanya baru kemaren, aku hanya memandangi poster-postermu di dinding kamarku. Kini aku bisa melihatmu secara langsung, tidak hanya melihat punggungmu, tapi aku juga bisa bergandengan dengan mu. Aku merasa aku nampak serakah. Tuhan sudah memberiku lebih banyak, dan aku masih menginginkan lebih"


Aku membelai lembut rambut berombaknya "Kau tidak serakah, hanya saja sifat manusia memang begitu. Selalu menginginkan lebih"


"Tapi aku menyesal"


"Menyesal? karena apa?"


"Mimpiku" ia kembali menunduk "Mimpiku untuk melihat punggungmu saat kau pergi, beberapa kali aku melihat punggungmu menjauh pergi dan aku kecewa"


"Wae?"


"Melihat punggungmu berlalu dan menjauh bearti kau sedang pergi meninggalkanku, Selain serakah aku juga tamakkan? ingin mimpiku menjadi nyata, tapi ketika terkabul aku justru kecewa"


Aku tersenyum, kali ini ku tarik jemarinya. Menggenggamnya dengan hangat. Sama sepertimu yang kecewa melihat punggungku pergi menjauh. Aku pun akan kecewa jika melihat punggungmu berlalu dan menjauh pergi. Terlebih jika kau benar-benar tidak akan kembali ke negeri ini. Saat ini ingin rasanya aku mengikatmu, agar kau tidak akan pernah bisa kembali pulang kenegerimu. Tidakkah aku lebih tamak dan serakah darimu.


Aku juga menyesal karna mengajakmu kembali ke Indonesia bersamaku. Bagaimana seandainya jika kau setuju, lalu malah tak kembali lagi ke sini. Akan jadi apa hatiku kelak.


Terkadang hidup ini bukan alur yang bebas bisa kita pilih. Bahkan berlayar dalam kehidupan ini, arah anginmu tak bisa kita tentukan. Kita juga tak akan tau arah angin mana yang akan membawa kita berlabuh. Oleh karena itu En, ku harap keinginanmu untuk kembali ke negeri ini. Bisa pupus terbawa angin, hingga kau tetap berada di sini di sisiku.