Snow In Seoul

Snow In Seoul
WANITA BERMATA KUCING



"Jadi gadis itu bernama En. Apa Kang chul Oppa sangat memperhatikannya?" aku mencoba menggali lebih dalam lagi. Aku cukup terkejut dan tak menyangka In ha menemuiku pada jam makan siang. Dia bilang ingin bercerita tentang seseorang, dan aku harus berhati-hati pada orang tersebut karena bisa saja dia merebut Kang chul dari sisiku.


"Sunbae selalu menemuinya di tengah kesibukannya. Mereka pergi makan malam bersama. Jika tidak salah dengar saat Hangul day kemaren ia pergi kencan ke taman hiburan. Bisa ku pastikan ia pergi bersama Sunbae"


Itu hari pertunangan kami, jadi karena ia punya janji dengan ****** itu, makanya Kang chul tampak gelisah.


"Gadis itu sangat sombong. Dia banyak bertingkah karena Sunbae mendukungnya. Dia bahkan memanggil Sunbae dengan sebutan Oppa, serta selalu bertingkah manja di depan Sunbae" semua yang ku dengar dari mulut In ha membuat hatiku mendidih. Aku tak boleh lengah dan membiarkan gadis itu terus menempel di sisi Kang chul. Dia adalah hama pengganggu, dia harus di semprot pestisida sampai mati.


"Besok aku akan menemui ****** itu, kau punya alamat apartemennya?" In ha mengangguk mantap.


****


"Oppa" sapaku ketika Kang chul datang dengan kantong plastik di tangannya "Apa yang kau bawa?" ternyata itu adalah bebek peking panggang utuh. Kang chul langsung menuju dapur ia menata bebek peking panggang itu di atas piring, lalu mengambil dua mangkuk dan mengisinya dengan nasi. "Kau pasti belum sarapan juga kan?" aku duduk di meja makan, ia segera memberiku mangkuk berisi nasi dan sumpit.


"Mari makan" ucapku riang


Kang chul selalu mengerti tentang selera makanku. Ia tau apa saja yang menjadi favoritku, terkadang ia harus membelinya dari luar Seoul. Entahlah? aku pun tidak mengerti, terkadang perhatian Kang chul terlalu berlebihan untukku.


"Ahh, kenyangnya.. bebek yang enak" ku teguk segelas air, aku hendak berdiri dan membereskan meja makan. Namun Kang chul buru-buru melarangku "Tetaplah duduk tuan putri, biar pelayan mu ini yang membereskan semua ini" ia mengambil mangkuk dan gelas kosong dari hadapanku. Menaruh semua ke wastafel, kemudian kembali dengan membawa serbet, ia membersihkan meja sampai terlihat bersih. Lalu mencuci semua alat makan yang kotor.


"Senangnya jika ada kau di rumah ini. Aku tak perlu lagi mengerjakan semua pekerjaan rumah" aku melangkah menuju ruang tv, menekan tombol on pada remote, dan duduk santai di sofa.


"Jika kau senang aku terus berada di sini, maka menikahlah denganku" Kang chul mengambil posisi duduk di sampingku.


"Hahh.. menikah denganmu lalu melupakan Kang tae jon. Ani-yo, itu berat buatku" aku tertawa lirih.


Setelah ku ingat-ingat Kang chul selalu menyuruhku melupakan Tae jon. Dia selalu mengomel jika masuk kamarku dan melihat poster besar Tae jon yang melekat di dinding. Dia juga bilang menyesal sudah memotretku bersama Tae jon enam bulan yang lalu. Karena foto itu selalu menjadi walpaper di ponselku.


"Kalau kau menikah denganku, kau akan melupakan idol itu. Jika kau melihatku dengan bersungguh-sungguh sebenarnya aku lebih tampan dari aktor idola mu itu" aku membuang fokusku pada televisi lalu menatapnya. Jika di amati Kang chul memang tampan, baik dan bisa mengerti aku, tapi untuk menikah dengannya? ku rasa tidak.


"Hmm, maaf Oppa. Meskipun aku menatapmu sampai mataku berair. Kang tae jon masih jauh lebih tampan darimu" aku tergelak lepas dan berpaling kembali ke arah televisi. Kang chul meraih wajahku, memaksaku menatap matanya yang teduh. Bibirnya siap untuk berucap, tapi sayang bell di apartemenku berbunyi dengan nyaring. Menandakan ada seseorang di luar sana menungguku membukakan pintu.


"Biar aku yang membuka pintu" Kang chul beranjak menuju pintu, aku kembali fokus ke televisi menonton drama korea favoritku.


Cukup lama Kang chul pergi untuk membuka pintu, juga tidak ada tamu yang masuk. Siapa yang datang? mungkin, aku harus memeriksanya, dengan malas aku menyeret langkahku. Tidak ada siapa-siapa di depan pintu, apa mereka di luar?


Aku membuka pintu.


Sepi, tidak ada satupun orang. Tidak mungkin Kang chul pulang tanpa pamit dulu padaku.


Jangan-jangan? Oppa?


Aku segera berlari menuju lift, menekan tombol dan menunggu pintu lift terbuka. Lama sekali pintu sialan ini terbuka. Aku bahkan tidak menggunakan alas kaki. Terlalu lama, aku putuskan untuk turun melalui tangga darurat.


"Congmal ge sarami? ge yojanen nol saranghal jul molla!! ne yope ge saram bada nega da coroullitenda" (Apakah kau sungguh menyukainya? Wanita itu tidak tau cara mencintaimu!! di bandingkan dia aku lebih pantas berada di sampingmu)


Kenapa wanita itu berteriak- teriak seperti itu, terlebih di lobi apartemen ini banyak sekali orang. Bahkan semua orang memperhatikannya. Wanita cantik dengan mata mirip kucing. Sepertinya dia berada dalam tahap emosi tinggi. Wajahnya memerah dalam cuaca sedingin ini. Dengan siapa dia berbicara? aku harus melangkah sedikit ke depan agar aku bisa melihat siapa yang jadi lawan bicaranya.


Oppa? itu benar-benar Kang chul?


Aku segera berlari dan menghambur pelukku kearahnya. Aku benar-benar bersyukur dia baik-baik saja dan tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, dia masih utuh dan sehat.


"Kang chul Oppa. Kau hampir membuatku mati. Ku pikir kau di culik karena kau tiba-tiba menghilang tadi"


."Wanita ******" seseorang menarik rambutku, memaksa tubuhku berbalik, lalu serta merta menampar wajahku.


"Soo he kau sudah keterlaluan" Kang chul menarikku, memposisikan ku di belakang tubuhnya. "Oppa, kau membelanya? kau lebih memilih dia di banding aku tunanganmu"


Apa yang harus ku perbuat. Wanita bermata kucing itu terlihat seperti orang kesurupan yang butuh segera di ruqyah. Dia mendorong-dorong tubuh Kang chul, berusaha menggapai tubuhku, tapi Kang chul selalu berhasil melindungiku. Di tengah ke putus asaannya, wanita itu menarik-narik rambutnya sendiri, mencaci makiku tanpa henti.


" Kau mempermalukan dirimu sendiri Soo he. Sebaiknya kau segera pulang, lihatlah semua pandangan tertuju ke arah kita, bisa jadi media akan datang"


"Biarkan media datang. Biarkan semua orang di korea tau, jika kau pewaris tunggal Kang group telah mengkhianati tunangannya. hanya untuk ******* murahan seperti dia!"


Plak...


Kang chul...


Kang chul menampar pipi wanita itu dengan keras. Menyisakan bekas merah berbentuk telapak tangan. Wanita itu memegangi pipinya, bulir bening kian deras membasahi wajahnya. Ia berbalik kemudian berlari pergi.


Dia tunangan Kang chul? Kang chul tidak pernah bercerita kalau dia memiliki tunangan. Jika memang benar dia tunangan Kang chul, memang sudah sepantasnya dia menamparku. Aku tiba-tiba dan memeluk tunangannya. Hanya saja aku tadi terlalu khawatir, sehingga aku tidak bisa mengontrol diri saat melihat Kang chul, pelukan itu hanya berupa tanda syukur.


*****


Harusnya Soo he tidak datang ke apartemen En. Bahkan membuat keributan seperti ini. Sekarang apa yang harus ku jelaskan pada En. Selama ini aku tak pernah menyinggung tentang Soo he pada En, aku bahkan tanpa sadar sudah memukul gadis manja itu.


Mungkin sekarang dia sudah menangis di pelukan ibunya, dan mengadu tentangku. Ibunya akan mengadu pada ayahnya, dan ayahnya akan mengadu pada Appa. Aku yakin Appa sebentar lagi akan menelponku, dan aku akan mendapat ceramah panjang darinya.


En, dia berdiri dengan pakaian tipis, ia juga tidak mengenakan alas kaki. Apa tadi ia benar-benar berpikir jika aku di culik? Ahh, sungguh menggemaskan.


Aku melepas jaket yang ku kenakan, memaksa En untuk memakainya. Aku juga melepaskan sepatu ku. Ponselku berdering, suara deringnya nyaring melolong seakan aku sudah mampu mendengar suara Appa berteriak memanggilku. "Masuklah kembali ke apartemen. Aku harus segera pergi" aku membantu memasukkan kakinya ke dalam sepatuku.


"Kau masih hutang penjelasan kepadaku Oppa" ucapnya lirih. Aku mengangguk '' Aku akan membayar hutang itu segera. Sekarang cepat masuk kedalam, aku akan pergi"