Snow In Seoul

Snow In Seoul
TERSESAT BERSAMAMU



Akhir-akhir ini aku selalu teringat pada gadis mabuk yang bernyanyi dengan lantang di dalam gerbong kincir angin raksasa. Dia mabuk dan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya. Ia bercerita lalu menangis, kemudian tertawa tak berapa lama menangis lagi.


Dia bilang dia sangat merindukan putri kecilnya, ia juga merindukan keluarganya. Ia terpaksa bekerja di Seoul untuk membayar semua hutang-hutangnya, tapi aku juga menjadi alasan lain ia mau menginjakkan kaki ke negeri gingseng ini. Dia bilang dia aku adalah idolanya.


Awalnya ku pikir ia memiliki seorang suami, tapi ternyata suaminya sudah meninggal. Suaminya tewas dalam kecelakaan dengan pengusaha ternama negeri ini. Pengusaha itu lantas membawanya ke Seoul dan menjadikannya Manager di salah satu usaha miliknya.


Sea ok, teman kencannya itu ternyata hanya teman baiknya saja. Sea ok adalah residen tahun kedua mereka kenal dan menjadi dekat karena Sea ok adalah pelanggan tetap Bakery.


Ada satu hal yang paling mengena di hatiku, entah itu hanya bualan belaka, atau ucapan jujur dari orang mabuk "kau tau tujuan utamaku menginjakkan kaki di kota ini? itu adalah kau Kang tae jon"


Sejenak aku berfikir, apa bedanya dia dengan para penggemarku yang lain? Terkadang mereka bersikap berlebihan untuk menarik perhatianku, tapi dia? sikap anehnya saat mabuk justru memberi daya pikat tersendiri. Wajahnya tak begitu menarik, tapi memiliki daya tarik tersendiri. Ia acuh dan lugas, tak peduli pada pandangan orang lain, selama itu tak melanggar hukum alam dan Tuhan, ia akan melakukan semua yang ia suka dengan bebas.


Bodohnya aku, kenapa pula aku memikirkannya. Aku hanya merasa lucu jika mengingat tentang semua tingkah lakunya.


Aku mempunyai kegiatan selama lima hari di pulau Jeju. Akan lebih baik jika aku mengajaknya, bukankah dia ingin pergi ke Jeju bersamaku. Aku akan mengirimi dia pesan


" Aku punya pekerjaan di Jeju, maukah kau ikut denganku?." aku segera menekan tombol hijau pada layar ponselku. Aku berharap dia akan segera membalas pesan dariku, dan juga menerima ajakanku. Aku akan berdoa pada Tuhan, agar kami bisa memiliki hari yang baik di Jeju. Aku ingin lebih mengenalnya lebih detail lagi.


Agar aku bisa memutuskan ada apa dengan hati dan perasaanku padanya. Aku akan dengan cepat berkata TIDAK jika di tanya apa aku jatuh cinta padanya. Aku hanya berharap mendapat kepastian dari perasaan hatiku yang terasa lebih berwarna semenjak mengenalnya.


Mungkin saja?


Hmm, mungkin saja kami bisa menjadi sahabat, atau menjadi teman baik. Mungkin juga kami bisa jadi saudara atau sekedar teman curhat. Ahh, aku hanya ingin berada di dekatnya apapun hubungan kami kelak.


*********


"Apa kau tidak membaca pesanku?." Tae jon membantuku bangkit, aku membersihkan celanaku. Ia menunduk dan ikut membersihkan celanaku yang kotor.


"Aku tadi bermaksud menemuimu di Bakery" segera aku memeriksa ponselku, ada pesan masuk di sana. Apa yang terjadi di ruang kerja Kang chul tadi, membuatku tak mendengar suara dari ponselku. Dalam pesan singkatnya Tae jon mengajakku pergi berlibur ke Jeju besok.


Dia ada di sini untuk mendengar jawabanku. Apakah ini suatu kebetulan yang baik. Kejadian tadi membuatku tak ingin menemui Kang chul untuk sementara waktu. Pergi bersama Tae jon bukan lah ide yang buruk. Aku yakin dia adalah pria baik-baik.


"Aku senang kau mengajakku, ini pasti akan membuat semua Fansgirll mu merasa iri padaku." sahutku dengan senyum sumringah. Dia menunduk melihat luka di lututku "Lukamu cukup parah" ucapnya lalu berlutut, mengeluarkan sapu tangan, mengikatnya di lututku. "Luka kecil ini jauh dari area pernafasanku, aku tidak mungkin mati karena luka sekecil itu"


Ia berdiri lalu menyentil dahiku "Jangan menjadikan luka sebagai bahan guyonan." aku tersipu malu. Ia kembali duduk kali ini bukan berlutut tapi duduk jongkok membelakangiku.


"Naiklah aku akan menggendongmu."


Daebak!!!!! naik ke punggungnya, ini benar-benar punggung Tae jon selama ini selalu ku kagumi.


"Tak perlu, aku masih bisa berjalan sendiri. Orang-orang melihat kita, nanti mereka bisa mengetahui identitas aslimu." aku berusaha membuat dia bangun dan berhasil.


"Aku melihat mu berlari tadi. Seharusnya aku menghindarimu, tapi anehnya aku justru berdiri mematung dan membuatmu terjatuh, Mian"


"O.. jadi kau berniat menggendongku, karena ingin menebus kesalahanmu?" dia mengangguk pelan.


"Ani yo, kesalahanmu tidak bisa di maafkan hanya dengan menggendongku." aku memasang wajah angkuh.


"Temani aku tersesat." keningnya berkerut, tanda ia bingung.


"Kita berjalan kaki mengelilingi Seoul semampu kaki kita melangkah, makan omuk dan teokkboki. Kita akan terus berjalan seolah-olah kita tersesat. Kemudian kita akhiri semuanya dengan minum soju dan makan mie udon."


Kau tertawa "Minum soju? kau ingin mabuk lagi?."


"Saat ini aku benar-benar ingin mabuk." aku tertawa ringan. Aku meraih lengannya dan mulai mengajaknya berjalan, menyusuri jalanan Seoul yang bersalju, seperti khayalanku selama ini.


Hari sudah mulai gelap, kami masih melangkah sambil memakan cemilan, kami membeli sosis bakar dan bakso ikan.


"Wahhhh... aku benar-benar bahagia hari ini. Liat salju-salju ini dan bulan yang ada di sana."


"Hey, habiskan makanan di mulutmu baru berbicara, dasar jorok."


"Apa! aku jorok? hahh aku jorok" ku masukan sosis bakar kemulutku, Dia menarik leherku dan memitingnya dengan lengan tangannya. Membuatku tersedak. Ia justru tertawa penuh kemenangan.


Aku berlari ke arah keramaian, dan menyalakan musik pada ponselku, aku memasang volume paling tinggi. Aku mulai menari mengikuti alunan musik.


"Berhentilah En kau terlihat konyol."


Aku menarik Tae jon agar ia bergabung dan ikut menari bersamaku, awalnya dia kekeh menolakku, tapi saat salah satu toko menyalakan musik salah satu lagu dari album Blue, Kang tae jon akhirnya mau menari bersamaku.


Kami menjadi tontonan para pejalan kaki, tapi kami tak pedulikan itu dan entahlah apakah ada yang mengenali Tae jon sekarang. Dia menggila dan melepaskan kaca mata hitamnya.


Aku menggerakkan tubuhku seirama alunan musik, begitu juga dengan Tae jon. Kami seperti penari profesional yang menari di atas panggung dunia. Malam ini sangat menyenangkan seolah-olah dunia milik kami berdua dan yang lain cuma ngontrak.


Malam semakin larut, akhirnya kami terdampar di sebuah warung tenda. Tae jon memesan sebotol soju dan seporsi telur gulung, kami kehabisan mie udon, menyebalkan.


Tae jon menuangkan segelas soju untukku. "Kau benar ingin minum soju?." Tae jon tampaknya mengkhawatirkanku.


"Boleh aku bertanya?." ku kedip-kedipkan mataku agar terlihat imut "Aku belum punya pacar." jawabnya cepat.


"Aku tidak menanyakan itu."


"Lalu?."


"Hmm.. aku sedang benar-benar ingin mabuk, mau kah kau nanti menggendongku?."


"Aku tidak akan menggendongmu, karena aku sudah menebus kesalahanku dengan tersesat bersamamu."


"Kau harus. Apartemenku no 2088 lantai 14 dan passwordnya adalah 6 digit nomer belakang ponselku. Kalau aku mabuk tolong antar aku pulang." aku tak mau menunggu lagi, segera ku teguk soju dari botolnya, entahlah berapa tegukan yang ku minum. Saat ini aku hanya ingin melupakan kejadian di ruang kerja Kang chul tadi.


Tae jon mianhe sudah merepotkanmu