
Pernikahan bodoh ini semakin dekat, apa yang harus ku lakukan? Hyung, di mana dia sekarang? seharusnya aku tak memulai perkelahian bodoh kemaren. Di saat terdesak seperti biasanya Hyung selalu bisa membantuku. Aku membuka tirai jendela, dan aku bisa melihat keadaan di luar. Terlihat jelas banyak orang berjaga, Omma pasti mengadukan semua kepada Appa. Apakah Omma takut aku kabur, dan meninggalkan Soo he. Sehingga ia menyuruh Appa memperlakukanku seperti tawanan.
Soo he apa gadis itu benar-benar ingin menikah dengan ku? Ani~ aku harus bertemu dengan Soo he dan membicarakan semua ini dengan kepala dingin. Memastikan jika pernikahan yang terburu-buru tidak baik untuk masa depan kami. Ahh.. dengan penjagaan yang begitu ketat, bagaimana caranya aku melarikan diri. Aigo.. bahkan Appa menyita ponselku. Aku seperti gadis dalam pingitan.
Soo ahjumma masuk dengan kereta cuciannya. Dia mengumpulkan semua baju kotorku, juga mengganti sprei tempat tidurku. Sebuah ide gila muncul di otakku "Ahjummma aku mau mandi'' aku membuka pintu kamar mandi lalu menutupnya kembali tanpa masuk ke kamar mandi. Diam-diam aku menyelinap masuk kereta cucian, sementara Soo ahjumma masih sibuk mengganti sprei tempat tidurku.
"Saya selesai Tuan muda" lapornya, mendorong kereta cucian keluar tanpa menunggu jawabanku, dan itu sangat baik untukku. Soo ahjumma masuk ke kamar Hyung sebelum akhirnya masuk keruang cuci, aku mengintip dari balik pakaian kotor. Ku lihat Soo ahjumma pergi keluar penyimpanan, mungkin ia akan mengambil deterjen. Ini kesempatanku untuk keluar dari kereta cucian ini.
Di belakang ruang cuci ,ada pintu penghubung antara rumah ini dan butik Omma. Aku bisa kabur melewati butik, pada jam seperti ini Omma biasanya sibuk di salon dan meninggalkan butik. Aku melangkah mengendap-endap dan memutar kenop pintu pelan-pelan dan berhasil keluar dari ruang cuci. Perjuanganku belum berakhir, aku masih harus menyelinap kebelakang bangunan kecil ini, sebelum akhirnya sampai ke pintu penghubung butik.
Mereka fokus berjaga di pintu utama, dan aku tak akan sebodoh itu, pergi melewati pintu utama sama halnya dengan bunuh diri. Karena itu aku memikirkan alternatif lain. Aku sampai di belakang ruang cuci dan segera menuju pintu penghubung, ku putar kenop pintu dan mendorongnya..
"Sialll" umpatku, pintu ini terkunci.
Aku mendorong pintu itu dengan sekuat tenagaku, berusaha membuka paksa pintu ini tapi hasilnya nihil. Pintu sialan ini tak juga terbuka. Aku bahkan sudah kehabisan tenaga.
"Sunbae" panggilan Dong sik membuat jantungku hampir jatuh dari tempatnya.
"Kau hampir membuatku mati Hyung"
"Aku membawa kunci pintu ini. Saat aku tak menemukanmu di kamar, aku yakin kau pasti ada di sini" Dong sik segera memasukkan kunci ke lubang, memutarnya sehingga pintu sialan ini mau terbuka.
"Cepatlah pergi Sunbae, aku akan mengatasi keadaan di sini" Dong sik mengeluarkan dompetnya dan memberiku kartu kreditnya juga beberapa lembar uang. Dong sik memang yang terbaik. Dia tahu betul keadaanku, Appa menarik semua fasilitasku karena aku menolak menikahi Soo he.
Segera aku melesat masuk kedalam butik, mengendap-endap di antara manekin dan pakaian-pakaian yang tergantung. Aku bisa bernafas dengan lega, ketika aku bisa masuk kedalam taksi. Aku merasa ada beban yang terangkat dari dadaku.
Sekarang aku harus menemui Soo he. Hanya dia yang bisa menghentikan pernikahan ini, atau setidaknya menunda pernikahan ini. Aku tidak memiliki ponsel, aku bahkan tak ingat no ponsel Soo he. Sebaiknya aku pergi kerumah Yhu sa, dia pasti mau menolongku.
Rumah Yhu sa ada di Incheon, cukup memakan waktu untukku sampai di rumah Yhu sa. Aku harus menaiki kereta listrik, baru kali ini aku benar-benar berjuang untuk menemui Soo he. Yhu sa memiliki rumah yang masih terbuat dari kayu murni. Soo he pernah bercerita jika rumah ini di turunkan dari generasi ke generasi semacam rumah warisan.
Terima kasih Tuhan. Aku melihat mobil Soo he terparkir di halaman rumah Yhu sa. Gadis manja itu pasti sedang mengunjungi Yhu sa. Aku menekan bel berkali-kali sampai akhirnya Yhu sa keluar dan membukakan pintu.
"Kang chul oppa, kau di sini?" Yhu sa menampakan wajah terkejut yang berlebihan.
"Tolong panggil Soo he untukku"
"Dia ada di halaman belakang Oppa, ikut lah denganku" Yhu sa menunjukkan jalan menuju halaman belakang rumahnya. Aku mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Yhu sa. Aku bisa melihat Soo he duduk santai di bawah pohon
"Soo he" panggilku lirih
"Oppa.." dia tampak terkejut tapi segera bangkit dari duduknya dan menghampiriku.
"Masuk" perintahku, aku duduk di kursi kemudi. Setelah Soo he masuk dan memasang sabuk pengaman, segera aku melaju kembali menuju Seoul. " Ada apa Oppa kenapa kau seperti ini" Soo he terlihat gelisah
"Aku ingin membicarakan pembatalan pernikahan kita"
"Wae!!! Ani~ itu tidak akan pernah terjadi" Soo he melipat tangannya di depan dada.
Aku menghentikan laju mobil, dan berpaling menatap Soo he yang memasang wajah kesal.
"Mian" ku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku harus bisa mengontrol emosiku.
"Aku tidak benar-benar bermaksud membatalkan pernikahan ini, tapi jebal setidaknya kita harus menunda pernikahan kita sampai hatiku benar-benar siap menerimamu"
Tarikan nafas Soo he begitu kuat. Aku melihat bibirnya bergetar. Soo he adalah gadis keras kepala, semakin aku berbicara dengan nada tinggi dia akan semakin memberontak. Menghadapi gadis seperti Soo he aku harus menyetok rasa sabar yang banyak.
Aku meraih lembut jemarinya, mengenggamnya dengan hangat. "Mianhe Soo heya. Aku hanya meminta sedikit waktu untuk menetapkan hatiku. Sungguh aku hanya butuh sedikit waktu, untuk bisa menerimamu dengan setulus hatiku" aku menghela nafas, lalu meremat jarinya dengan kuat.
"Jebal sekali ini saja, berilah aku waktu"
Dia menarik jemarinya dengan kasar. menatapku dengan mata berair "Apa menikah denganku adalah beban buatmu Oppa?"
"Ani yo, aku hanya butuh waktu untuk.."
"Untuk apa?" potongnya "Untuk berusaha mencintaiku? kita sudah lama bersama, apa waktu yang kita lalui itu tidak bisa membuatmu mencintaiku? " Aku justru membuatnya menangis.
"Menikah denganmu adalah cara terakhirku untuk mengikatmu, agar tak ada lagi kata lelah dan capek saat aku ingin makan atau pergi bersamamu"
Aku menunduk kelu, menatap kakiku yang bahkan tidak memakai alas kaki karena kabur tadi.
"Keluar...."
"Soo he, dengar dulu. Kita.."
"Keluar...." dia berteriak histeris, membuatku tak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah Soo he. Begitu aku keluar dari dalam mobil, Soo he segera melaju meninggalkanku.
Apa ini akhir hidupku? sepertinya Soo he tak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk mengikatku. Tak ada harapan lagi, tali kekang di leherku akan segera bertambah.
Sebenarnya usahaku membatalkan pernikahan ini untuk siapa? bahkan gadis yang ku cintai tak peduli kepadaku. Padahal aku hanya ingin berada di sisinya.