Snow In Seoul

Snow In Seoul
KINCIR RAKSASA



Daebak!!


Ini kah Taman hiburan itu?


Wow, ini kali pertama aku menginjakan kaki di taman hiburan. Maklum saja aku terlahir di sebuah kota kecil yang ada di salah satu pulau di indonesia. Kota kelahiran ku belum begitu berkembang, jadi tidak ada Taman hiburan sebesar ini. Di sana yang berjalan dengan pesat dan baik hanya lah perkebunan kelapa sawit, sisanya sedang belajar merangkak.


Di kota kelahiran ku hanya ada sebuah taman kota yang tidak begitu luas. Aku bisa mengelilingi Taman kota itu tanpa merasa lelah. Di sana hanya ada sebuah patung buaya yang besar dan dua patung rusa.


Tunggu dulu, aku pun tidak begitu yakin apakah itu patung rusa, seingat ku dulu ada tanduk di patung rusa tapi kini sudah tidak ada. Dulunya di sekeliling taman banyak sekali pedagang kaki lima.


Penjual baju, makanan, parfum, mainan dan sebagainya berlimpah ruah. Pernah juga banyak pengrajin akik berjejeran rapi di setiap penjuru Taman kota. Bebatuan indah dari seluruh indonesia bisa kita temukan di sini.


Yoan dulu juga penggila batu-batuan itu, karena ekonomi kami yang rendah. Yoan biasanya memotong, menghaluskan dan membentuk bebatuan itu sendiri, menggunakan gerinda listrik . Kami bahkan memiliki cincin couple batu akik. Yoan, bogoshipoyo (merindukanmu)


"Kau ingin memainkan permainan yang mana?"


Mataku menyapu sekeliling, dan terhenti pada suatu permainan berputar. Ada banyak patung kuda yang berputar-putar di iringi irama musik.


"Aku ingin yang itu" telunjukku mengarah pada Komedi putar. "Aku ingin menaiki kuda biru metalik yang di sana"


Sea ok segera pergi membeli tiket, ketika ia kembali aku sudah berada di sisi komedi putar.


Demi menyenangkan aku, Sea ok berusaha merayu seorang gadis kecil agar mau bertukar kuda denganku, gadis kecil itu menunggangi kuda biru metalik yang ku inginkan. Namun sekeras apapun usaha Sea ok gadis itu diam tak bergeming.


"Sudah lah, Seok. Aku akan naik kuda ini saja" ku naiki patung kuda berwarna ungu dan memiliki satu tanduk ke emasan.


"Noona, ku harap kali ini berhasil. Noona maukah kau bertukar kuda denganku"


"Wae, apa kuda itu rusak"


"Ani-yo. Aku hanya malu jika harus menaiki kuda berwarna pink" aku tertawa kecil


"Bukan kah kau penggemar A pink, kau bisa merasakan getaran-getaran seperti hendak bertemu Naeun A pink saat menaiki kuda pink itu"


"Haish" wajahnya tampak kesal tapi tetap saja dia menunggangi kuda berwarna pink itu.


Berputar-putar dengan alunan musik yang bersemangat, rasanya menyenangkan sekali. Sea ok juga membelikan ku Es krim. Ahh, andai saja yang ada di sisi ku sekarang adalah Tae jon. Pasti rasanya akan lebih menyenangkan dan romantis. Tae jon saranghae..


Aku melirik arlojiku, sudah pukul 3 sore, pantas saja perutku sudah berdendang. Ada sebuah pohon yang rindang di sisi rumah kaca, jangan tanya padaku apa nama pohon tersebut? karena aku tidak akan bisa menjawabnya, dan jika aku di paksa untuk menjawab, maka aku akan bilang itu pohon akasia.


"Aku membawa banyak bekal makanan, ada omuk makanan kesukaanmu" Semua makanan dari dalam tas ransel Sea ok sudah tertata rapi di atas kain bermotif kotak-kotak. Aku juga mengeluarkan kimbab yang ku buat. Sea ok juga membawa dua botol soju. Aku tidak akan meminum itu, aku ingat dengan jelas saat Kang chul memperkenalkan soju padaku. Aku hanya minum satu gelas kecil dan aku sudah mabuk parah, aku hernyanyi dengan keras sepanjang malam.


Bahkan Kang chul harus membawaku menginap di rumahnya karena aku lupa pasword pintu apartemenku. Pagi nya Kang chul langsung mengusirku sebelum ibunya bangun. Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan ibunya Kang chul tapi momennya kurang pas, dulu beberapa kali Kang chul mengatur jadwal agar aku bisa bertemu ibunya, tapi selalu gagal karena ibu Kang chul orang yang sibuk, Menyebalkan.


"Minum ini Noona, ini bisa menghangatkan tubuhmu" Sea ok menuangkannya ke dalam gelas kecil dan memberikannya padaku. "Apa kau siap menggendongku pulang Mr.setengah dokter?"


"Wae?"


"Aku peminum yang payah, aku bisa mabuk berat hanya dengan meminum dua gelas soju. Sebaiknya kau habiskan minuman itu sendiri dan aku akan menghabiskan omuk buatan ibumu"


Bibir botol soju itu pecah sehingga tidak bisa di tutup lagi, Sea ok menuangkannya kedalam botol air mineral, dan membuang botol aslinya.


Sudah pukul 7 malam, dan rasanya aku masih enggan untuk pulang. Aku melihat kincir angin raksasa. Dalam drama-drama romantis tempat itu selalu saja menjadi tempat untuk adegan-adegan kissing.


"Sea ok aku mau naik itu"


"Kincir angin raksasa, kau mau naik itu"


"Andwe (Jangan), kau sudah terlihat lelah ayo pulang saja"


Aku menggeleng, lalu menariknya kearah permainan itu. Sea ok akhirnya setuju ia pergi membeli tiket dan meninggalkan ranselnya bersamaku.


Aku merasa haus, aku mengambil air mineral dari dalam ransel Sea ok dan menegaknya berkali-kali.


"Kenapa rasanya aneh" ku lihat botol air mineral itu lagi, aku tidak salah mengambil ini memang air mineral. Mendadak kepalaku menjadi pusing.


Semua orang tampak berputar-putar, orang-orang yang berputar-putar atau aku yang sedang berputar-putar. Aku melangkah masuk ke dalam antrian untuk naik ke kincir angin raksasa.


*****


Aku segera berlari dan mengambil tas ranselku. Lalu buru-buru berlari ke arahmu. Sedikit lagi aku akan sampai di sisimu, sehingga aku bisa menjadi penompang tubuhnya yang mulai sempoyongan.


"Ouch" seseorang mendorong tubuhku sehingga aku kehilangan keseimbangan dan hampir terjerembab. Ia melesat masuk ke dalam gerbong yang seharusnya menjadi tempatku dengan En. En dia sudah ada di dalam sana dan pria yang mendorongku juga masuk kesana. Setelah aku bisa menyeimbangkan posisiku, aku berlari dan hendak ikut masuk tapi pintunya sudah tertutup.


Siapa pria itu?


Apakah dia orang jahat?


Bagaimana dengan En?


Nampaknya En sedang mabuk sekarang, apapun yang akan di lakukan pria tadi, En tak akan bisa memberi perlawanan.


Ya, Tuhan.. lindungi Noona.


***


Aku merasa bersalah pada pria yang tadi aku dorong. Seseorang tadi mengenaliku meskipun aku sudah memakai topi, kacamata dan masker. Aku hanya ingin naik kincir angin raksasa dengan tenang. Resiko jadi publik figur adalah kau tidak akan punya ruang pribadi.


Ada gadis yang duduk bersamaku, dia hanya diam rambutnya terikat tapi sedikit acak-acakkan. Aku membuka topi, masker dan kacamataku. Dia menoleh kearahku sebentar lalu menunduk lagi.


"Maaf, apa kau tidak mengenalku?" rasanya aneh jika dia tidak mengenaliku, wajahku sudah banyak menghiasi layar kaca. "Apa aku harus mengenalmu? mana Sea ok? panggil dia, kenapa kau yang duduk bersamaku" dia meracau, apa dia mabuk?


Dia menatapku lekat, dia memiliki dua bola mata yang hitam pekat, rambut bergelombang, kulit kuning langsat, ia terlihat pendek dan berisi tidak bisa di hilang gendut tapi tidak juga bisa di bilang kurus. Wajahnya sepertinya aku pernah melihat dia di suatu tempat.


Kedua tangannya menyentuh wajahku, aku bisa mencium aroma parfum. Mungkin dia menyemprotkan Parfum ke kedua pergelangan tangannya.


"Kau? Kang tae jon?"


"Ne"


"Blue?"


"Ne"


"Wow, daebak!!!"


Gadis aneh ini lalu berbalik dan menempelkan wajahnya pada pintu gerbong. "Seo ak ahh, kau dengar aku"


Sedari tadi dia terus memanggil nama Sea ok. Siapa Sea ok sebenarnya? kekasihnya kah? atau mereka baru putus. Aku mencium bau soju dari mulut gadis itu. Jangan-jangan dia di campakkan oleh namja (Pria) bernama Sea ok, lalu dia memilih mabuk?


"Sea ok, apa kau mengenal Tae jon. Dia bersamaku sekarang" gadis ini benar-benar mabuk. Dia bahkan menyanyikan banyak lagu Blue, dan mengaku kalau dirinya adalah salah satu blueshaw.


Gadis itu terus saja bertingkah kemudian duduk diam, sepertinya energinya sudah habis.


"Kenapa pintu gerbong ini tidak pernah terbuka, dan terus berputar menjadi tinggi dan lebih tinggi lagi"


"Aku membeli lima tiket, jadi kita tidak akan keluar dari gerbong ini kecuali tiketku habis"


Mendadak sepi


Gadis aneh itu tertidur. Aku mengamati wajah manisnya. Bodohnya, aku bahkan belum menanyakan siapa namanya.


****


Kakiku terasa pegal, aku mencoba menghubungi En tapi ponselnya ada di dalam tas yang kini ku pegang, setelah minum soju tadi dia membuang tasnya sembarangan.


Bagaimana keadaannya. Sedari tadi aku menunggunya di bawah ini. Dan aku tidak bisa melihatnya. Semua ini terasa menyiksaku.


Haruskah aku pulang saja?


Bagaimana nanti kalau En mencariku?


Atau jangan-jangan dia sudah pulang?


Aku mengambil keputusan untuk pulang, karena bis terakhir akan segera tiba. Maafkan aku En, ku harap kau baik-baik saja.