
Kang chul memberiku apartemen yang cukup mewah. Letaknya juga tidak begitu jauh dari tempatku bekerja, aku hanya perlu berjalan selama lima belas menit untuk mencapai Bakery. Bekerja dan bekerja menjadi fokus utamaku.
Upss..tunggu dulu
Mungkin menjadi fokus keduaku, karena sejak pertemuanku dengan Tae jon di restoran bulan lalu membuat fokusku terbagi-bagi tak menentu. Aku malah jadi terobsesi padanya. Sampai-sampai ingin rasanya aku menjadi salah satu sasaeng atau slakernya, tapi akan sangat memalukan jika terlalu terobsesi seperti ini.
"Igeo eolmayeyo ?(ini harganya berapa)"
"1000 won"
"Igeo saegeotinga yo?(apakah ini barang baru)"
Cerewet sekali pemuda ini, apa ia tidak melihat segel pada roti itu. Dia masih juga bertanya apakah ini barang baru. Ku pikir dengan jas putih dokter itu, ia memiliki mata yang sehat juga.
"Ya, tuan. Ini barang baru"
"i geogyeoki matnayo?(harga ini benar)" Ya, tuhan. Jika sekali lagi dia bertanya, mungkin aku harus memberinya piala penghargaan. Sebagai pelanggan paling cerewet.
"Ne, harganya seribu won"
"Seribu won untuk roti. Wow daebak" ia menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Tuan, apa anda mengambil satu roti dalam ikatan pita merah, di rak sebelah sana?" aku melihat roti itu adalah roti promo yang terikat menjadi satu. Empat roti terikat dalam satu pita dan harganya seribu won.
"Ne, saya mengambilnya dari rak yang ada di depan"
"Tuan, seribu won itu untuk satu ikat roti. Sekarang anda bisa mengambil tiga roti yang tertinggal di rak depan" Aku berusaha menyunggingkan senyum terbaikku. Aku harus tampak ramah pada setiap pelanggan ku. Meskipun terkadang pelanggan yang terlalu cerewet bisa merusak syarat di otak ku.
"Maaf, sudah hampir satu minggu saya tidak tidur dengan baik, karena itu saya tidak bisa terlalu fokus tadi"
"Ok, dalam artian anda lola" umpat ku dalam hati.
"Hmm, apa di sini juga menyediakan ramen?" mungkin benar dia tidak tidur dengan baik selama seminggu ini. Lihat wajahnya sudah mirip seperti zombie. Bibirnya juga tampak kering, pantas dia tidak bisa fokus. Bagaimana mungkin mencari ramen di toko roti?
"Tuan sekitar dua puluh meter dari sini ada toserba, anda bisa mendapatkan ramen di sana" Ayolah En, kamu harus bisa tetap terlihat ramah, dan kalau bisa sedikit menggemaskan. Jangan marah pada pelanggan manapun. Apalagi pelanggan yang sudah terlihat mayat hidup ini.
Ku lihat dia menghela nafas "Hanya saja toserba itu sedang libur hari ini. Roti ini adalah titipan dari seniorku, dan sekarang aku begitu lapar. Aku tidak bisa merasa kenyang hanya dengan memakan roti"
Tampaknya makhluk malang ini, benar-benar kelaparan. Apa jangan-jangan selain tidak tidur selama seminggu, dia juga tidak makan dengan baik selama itu juga.
Dari penampilan luarnya, dia terlihat seperti seorang dokter, tapi aku sedikit sangsi juga. Apa ada seorang dokter yang tampak seperti mumi?
"Apa anda begitu lapar?"
"Ne, saking laparnya aku kira mungkin aku akan mati dalam hitungan detik"
"Duduk lah di sana" ada meja dan kursi di sisi lain Bakery. kami juga menyediakan tempat untuk para pelanggan yang ingin menikmati rotinya di tempat. Aku segera menuju pantry dan menyeduh dua mangkuk ramen. Aku mengambil kimci dari kulkas memotongnya menjadi beberapa bagian, dan menempatkannya di wadah kecil. Aku menghampiri pemuda tadi dan menyimpan semua makanan di meja. Karyawan yang lain sedang pergi makan siang. Hari ini Hwang jung berulang tahun, mereka meminta izin padaku agar bisa makan siang di luar.
"Aku akan menraktir mu makan hari ini bung?" Aku menarik kursi dan duduk.
"Heol, kau orang baik ternyata"
"Ani-yo, kelak kau harus membalas kebaikan ini"
"Ommo, ternyata kau tipe wanita seperti itu"
Aku tersenyum dan segera menyumpit ramen yang sudah memanggil-manggil untuk berpindah ke dalam lambungku, kami makan tanpa suara. Aigo, tampaknya zombie ini benar-benar sangat kelaparan, apa rumah sakit tidak menyediakan makanan untuk para dokternya?
"Irumi mwoeueyo?(nama kamu siapa)"
"En" sahutku pendek
"Apa kau seorang dokter?"
"Hampir"
"Maksudmu?" beberapa kerut muncul di dahiku, ucapannya terlalu mengambang.
"Aku seorang Residen, baru tahun kedua. kelak aku akan menjadi dokter bedah umum yang hebat. Kau akan melihatku tampil di acara good doctor"
"Baik, aku akan mendoakan mu. Dari wajahmu yang sudah mirip zombie ini. Aku yakin kau telah bekerja keras. Kau pasti bisa jadi dokter yang handal" aku tersenyum dan mengangkat ke dua jempol tanganku.
"Kita baru bertemu sekarang, tapi kau sangat baik dan ramah"
"Aku harus terus bersikap baik bila ingin memiliki banyak teman"
"Kau bukan orang Korea kan?"
"Iya, aku berasal dari Indonesia"
"Indonesia? maksudmu Bali. Wah, aku sangat ingin mengunjungi Bali"
"Indonesia tidak melulu hanya Bali, aku berasal dari pulau kalimantan"
" Apakah Indonesia itu luas?" Ya tuhan, mungkin memang ia tidak mengenal Indonesia
"Indonesia itu terdiri dari banyak pulau, banyak pulau yang jika ingin kau datangi. Kau harus menyebrangi lautan dulu"
"Suatu saat aku pergi melancong ke negerimu"
"Cepatlah menjadi dokter yang hebat, agar kamu bisa menabung banyak uang dan pergi ke negeriku"
Aku memberinya tambahan beberapa roti dan tiga kotak tiramishu untuknya. Anggap saja aku sedang memberinya hadiah perkenalan. Karena dia adalah teman pertamaku. Maksudku teman pertama yang aku dapat sendiri tanpa bantuan Kang chul.
*****
"Hai, apa saja yang kau lakukan. Kenapa lama sekali membeli pesanan rotiku" Eun sung tersungut di atas meja.
Aku melangkah pelan sambil menenteng dua kantong kresek besar. "Sunbae liat yang aku bawa" aku mengeluarkan semua roti dna tiramishu dari dalam plastik.
"Manager baru Bakery memberiku banyak sekali bonus"
"Wow daebak!! apa kau merayunya" Eun sung maju dan langsung membuka sebungkus roti.
"Dia terlihat seusia mu mana mungkin aku merayu wanita tua" aku masih sibuk mengeluarkan kopi dari dalam kardus, Eun sung memukul kepalaku dari belakang "Sekali lagi kau menyebut ku wanita tua, akan aku patahkan tulang rusukmu" ia berlalu sambil membawa satu gelas kopi. Aku tertawa kecil, Sunbae ku itu memang sedikit galak.
Tae oh sunbae datang, ia langsung duduk di samping ku. "Eun sung bilang, kau mendapat banyak bonus dari manager baru Bakery" Aku mengangguk mantap memamerkan kebanggaan.
"Dia bukan orang Korea" Tae oh mengambil satu roti.
"Dia dari Indonesia" Tae oh mengangguk-angguk aku tidak tau apa makna dari anggukannya itu. Ia menanggapi obrolanku atau ia sedang menikmati rasa roti.
"Apa dia cantik?"
"Yeoppo" jawabku mantap.
"Pinta kan no handphonenya untukku"
Dasar psiko... setiap kali ada wanita sedikit bening, jiwa badboynya pasti keluar. Untuk En aku tidak akan membiarkan dia jatuh pada rayuan buaya dengan ekor pendek ini.
Ponsel kami berdering, kami saling menatap sebelum akhirnya berlari berhamburan menuju Igd.