Snow In Seoul

Snow In Seoul
HANBOK



Dia belum juga muncul, apa benar dia akan pergi bersamaku? atau jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Aish.. Tae jon setidaknya beri aku kabar, agar aku tak menganggapmu sebagai pemberi harapan palsu. Aku masih berdiri di halaman berharap kau cepat datang dengan senyuman khas yang kau miliki.


"Ahgasshi, " panggil lelaki paruh baya itu, sambil berlari tergopoh-gopoh menghampiriku. Dia mengulurkan ponselku yang berdering keras. Ahh, aku pasti meninggalkannya di dapur saat aku sedang membantu Ahjumma tadi.


"Khasma hamamidha" ucapku sambil mengambil ponselku dari tangan tuan Park. Deringnya berhenti, aku melihat status log pada ponselku "Sesange..." aku terpetanjat, ada dua puluh lima panggilan tak terjawab dari Tae jon.


Ku lihat tuan Park kembali masuk, dan aku masih fokus menatap layar ponselku. Sepertinya aku akan mendapat omelan dari aktor tampan itu. Pabo, kenapa aku melupakan ponselku, dan benda kotak yang ada di saku jaket yang ku pikir adalah ponsel, ternyata coklat yang di belikan oleh Ahjumma.


Dia mencoba menghubungiku hingga puluhan kali, dan aku melabalinya sebagai orang PHP. Wahh, jahat hatiku ini. Nada dering kembali terdengar, buru-buru menyentuh tombol hijau.


"Yeobsseo(hallo)" sapaku hati-hati


"Kau.. Oh.. daebak! darimana saja kau, aku sudah berkali-kali mencoba menghubungimu. Ahh, ya Tuhan. Apa kau tau aku hampir karna mengkhawatirkanmu" keras sekali suaranya, save gedang telingaku.


"Apa kau punya gangguan pendengaran dan tidak bisa mendengar suara dering ponselmu. Aish, kau benar-benar membuatku kesal" suaranya naik beberapa oktaf lagi.


"Atau.. jangan bilang kau mengheningkan ponselmu, sudah ku bilang jangan lakukan itu. Karena aku akan menghubungimu sewaktu-waktu" Ya Tuhan, aku percaya jika dia benar-benar Rapper Blue, cara bicara cepatnya itu tidak bisa di ragukan lagi. Dia rapper sejati.


Untuk sementara diam tak menyela omelannya adalah jurus terjituku. Biarkan saja emosi itu meluap, baru setelah itu dia akan bisa menerima alasanku.


"Kau sudah selesai?" tanyaku pelan, terdengar tarikan nafas kasar dari seberang sana. "Aku tadi membantu Ahjumma, dan tidak sengaja meninggalkan ponselku"


"Kemana kau pergi, hingga melupakan ponselmu?"


"Menunggumu" aku tak mendengar ia menjawab atau bernafas.


"Aku menunggumu di halaman Villa karena kau tidak kunjung pulang" sambungku lagi.


"Apa kita pasangan menikah?" tanyanya aneh


"Maksudmu?" aku balik tertanya, ku dengar tawa kecilnya "Hmm.. hanya saja, aku suka mendengar saat kau bilang kau menungguku pulang. Tapi tetap saja jangan pernah lagi kau meninggalkan ponselmu"


"Oke Tuan"


"Bersiaplah, aku akan menjemputmu dan kita pergi ke restoran See wo. Mian, karena membuatmu menungguku" sejenak aku melupakan Kang chul, dan merasa dunia berpihak padaku karena berada di sisi Tae jon. Aku gadis beruntung setidaknya di sisi Tae jon aku bahagia.


"Apa kau mendengarku?" suara kerasnya itu "Nde, aku akan segera bersiap"


******


Saat Soo he meninggalkanku di jalan, pengawal Appa menjemputku. Mungkin gadis itu mengadu, Rip kebebasan.


Kembali aku berada di sangkar emasku, hanya mampu melihat bintang dan merindukan gadis yang ku cintai. Tanpa tau bagaimana kini dia di sana. Ku harap aktor itu bisa membahagiakanmu En. Membuat senyum lebar di wajahmu, dan membuat hatimu nyaman.


Aku tak bisa bertemu Dong sik, saat ini bisa jadi Dong sik mendapat sanksi karena membantu aku kabur. Appa adalah orang yang berpendirian keras, ia tak menyukai pengkhianatan. Perbuatan Dong sik dalam membantuku, adalah pengkhianatan besar dimata Appa. Ku harap dia baik-baik saja.


"Hyung" aku benar-benar bahagia, karena melihat Dong sik baik-baik saja. Sebenarnya tidak seratus persen baik-baik saja. Ada luka lebam di wajahnya, aku juga melihat tangannya yang terlilit perban. Dong sik benar-benar mendapat sanksi. Dia berjalan dengan sedikit pincang menghampiriku, Dong sik kau pasti melalui sesuatu yang berat karena aku.


"Sunbae, Presdir Kang memanggilmu"


Aku berlari kecil dan langsung menghamburkan pelukku ke arahnya. " Hyung, kau baik-baik saja. Mian, karena aku kau.."


"Aku baik-baik saja. Segera temui Presdir Kang. Jangan memikirkan aku, karena aku melihat Soo he menemui Presdir Kang tadi"


Gadis itu? kenapa dia bertemu Appa? apa ini akhir kebebasanku?


Ku percepat langkahku agar aku bisa segera sampai ke ruang kerja Appa. Di sana Appa, Omma sedang santai menikmati cangkir teh mereka, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Bodohnya aku, mereka selalu begitu. Tak pernah menganggap perasaanku sebagai masalah. Bagi mereka yang berkuasa, tidak akan pernah ada masalah. Mereka selalu bisa membuat semua berjalan sesuai keinginan mereka, termasuk pernikahanku.


"Kau sudah datang" Appa menatapku dari balik kacamata minusnya, lalu memberi isyarat agar aku duduk. Aku memilih duduk di kursi yang paling jauh dari mereka berdua.


"Soo he tadi menemui kami" Appa berhenti bicara, kemudian menyalakan cerutunya. Sesuatu yang paling ku benci, adalah asap cerutu Appa " Gadis itu memintaku, untuk mengundurkan tanggal pernikahan kalian"


"Benarkah? Apa benar Soo he mengatakan itu" Aku coba bertanya ulang, takut kalau tadi pendengaranku yang bermasalah.


"Ya, jadi kami memutuskan pernikahan kalian di undur satu tahun, sampai Soo he selesai dengan pendidikannya" Appa menghisap cerutunya dalam-dalam lalu membiarkan asapnya terbang bebas di ruangan ini. Baru pertama kali ini aku melihat asap cerutu itu indah.


Setelah berpamitan aku langsung berlari menuju kamarku. Aku ingin menemui Dong sik dan membawanya makan ayam serta minum bir. Ini harus di rayakan? haruskah aku pergi ke Jeju juga? See wo hyung juga ada di sana.


******


"Hanbok?" itu yang keluar dari mulut Tae jon, saat melihatku berbalut gaun tradisional korea itu. "Kau memakai Hanbok?"


"Ya, baguskan?" aku berputar-putar di hadapannya, lalu berdiri tegak dengan sempurna "Ahjumma, yang meriasku" Tae jon menatap ke arahku tanpa berkedip, tatapan mata itu membuat hatiku berdesir. Hati ini semakin liar tak terkendali, semakin sulit untukku menjinakkannya.


"Kau terpesona?" dia tampak tersentak, lalu mengalihkan pandangannya. Aku tau ia berusaha menyembunyikan sesuatu. "Kau pakai Hanbok, kau pikir kau mau kemana?" cetusnya padaku, aku tau sikap cetusmu itu rekayasa. Kau memang pandai berakting di layar kaca, tapi tidak di hadapanku.


"Apa salahnya, ini juga gaun. Aku yeoppo (cantik) kan?" ku kerlingkan kedua mataku. Ia tampak tersenyum kikuk, dan aku menyukainya.


"Aku menyuruhmu membeli gaun modren"


"Kau tak suka aku memakai ini?" dia berusaha tak menoleh kearahku lagi


"Kau seperti manekin saja"


"Manekin banyak yang yeoppo" kilahku, Tae jon menarik lenganku, sehingga wajah kami saling bertemu. Kemudian Salah satu tangan Tae jon melingkar di pinggangku "Aku tak mau kau di liat dan di pandang bebas oleh orang lain seperti manakin pajangan. Kau yeoppo, jinjja yeoppo" kali ini aku yang jadi kikuk, dan bingung harus berbuat apa. Beruntung Ahjumma datang, sehingga Tae jon buru-buru melepaskan tangannya dari pinggangku.


"Ahgasshi, kau harus memakai hiasan rambut ini" Ahjumma memasang sebuah jepit kecil bermotif bunga di rambutku.


"Kau benar-benar cantik" puji Ahjumma, aku menyunggingkan senyum terbaikku "Gomawo Ahjumma"