
"Dia tidak masuk kerja hari ini?" aku mendesah perlahan.
"Unnie sedang pergi ke pulau Jeju, Unnie bilang mungkin dia akan pulang minggu depan" aku mengangguk tanda mengerti.
"Apa kau ingin menitipkan pesan?"
"Ani~ tidak perlu" aku hendak beranjak ketika pegawai Bakery itu bicara "Namaku Yoo bi dan kau?" aku berpaling dan menatapnya
"Sea ok, Choi sea ok"
"Ommo.." dia mengeluarkan reaksi tak terduga, ia keluar dari balik rak roti "Kau residen itu kan? tempo hari Unnie memasak sup ayam untukmu"
"Ya"
"Daebak!! Unnie sering bercerita tentang dirimu padaku, Unnie terlihat sangat menyayangimu, dia bilang kau Nam donsaeng yang paling kyeopta"
Nam dongsaeng? ahh... sudah jelas posisi ku di hati En. Aku bisa apa sekarang, usiaku yang lebih muda dari En, menjadi alasan kalau aku hanya akan menjadi adik di mata En. Bahkan gadis itu sering memanggil dengan sebutan Brondong, dia bilang itu sebutan untuk lelaki yang lebih muda.
"Malam ini, apa kau punya acara?" gadis pemberani ini, baru kenal sudah menanyakan acaraku malam ini.
"Aku piket di rumah sakit" sahutku sambil menyunggingkan senyum.
"Apa aku boleh mengunjungimu? mungkin jika malam ini aku senggang, aku hanya akan jalan-jalan dan mampir kesana"
"Hmm.. " aku kembali tersenyum "Tentu, aku akan menyambutmu"
"Malam ini aku benar-benar akan mengunjungimu, dan membawakan makanan untukmu. Benar yang Unnie bilang, kau adalah tipe ku" gumam Yoo bi dalam hati.
Setelah berpamitan aku melangkah keluar dari pintu Bakery. Tempat dimana aku mengenal En, tempat di mana cinta bertepuk sebelah tangan ini di mulai dan mungkin akan menjadi tempat cinta ini berakhir.
****
See wo menarik gelas susu mendekat, di angkat kemudian di teguknya perlahan. "Aku dan adikku memiliki hubungan yang baik. Sebenarnya ini pertengkaran pertama kami. Adikku adalah satu-satunya orang yang tulus menyayangiku." aku beralih duduk mendekati See wo lalu mengusap-usap punggungnya lembut. Aku berharap bisa memberi sedikit ketenangan untuknya "Gwenchana yo gwenchana yo (tidak apa-apa)"
"Gomawo, kalian sudah sangat baik padaku" ucapnya lirih. "Sebaiknya sekarang kita tidur, sudah terlalu larut, kau bisa tidur di kamarku. Aku akan tidur di kamar atas" Tae jon bangkit lalu memapah See wo menuju kamar, aku juga mengambil langkah untuk masuk ke kamarku. Tubuhku terasa lelah.
Merebahkan diri di atas kasur yang empuk terasa sangat nyaman. Sudah lama aku tidak berkelahi, perkelahian kali ini cukup menguras tenaga dan membuatku lelah. See wo, kasihan sekali dia. Mendengar ceritanya aku jadi teringat lagu dangdut yang sempat populer dulu judulnya 'Ratapan anak tiri'. Di zaman sudah serba robot seperti sekarang masih saja ada ibu tiri yang jahat. Tapi kalau See wo adalah anak adopsi bearti ibunya yang sekarang bukan ibu tiri dong, trus jadinya ibu apa? ibu jari mungkin. Entah lah...
Aku menggeliat merenggangkan seluruh otot-otot di tubuhku, aku duduk di sisi pembaringan beberapa menit. Rasanya enggan untuk bangkit dari kasur. Mataku masih terasa sangat berat, tapi matahari dari balik tirai jendela sepertinya sudah melambung tinggi. Jam berapa sekarang? ku raih ponsel yang ada di atas meja.
"Apa... sudah pukul 11 siang. Aku benar-benar kelelahan. Sampai tidur dan lupa caranya bangun." Sekarang tujuan utamaku adalah kamar mandi. Aku selalu tampil rapi di depan Tae jon. Jangan sampai ia melihat jejak-jejak air liur di wajahku.
Aku membuka pintu kamar, terdengar suara derit pintu yang kencang. Pintu kamar ini membutuhkan sentuhan oli sepertinya. Suasana begitu sepi. Kemana perginya orang-orang. Aku menyeret langkahku menuju dapur, sebaiknya aku bertanya pada Tuan Park. Di dapur tak ku dapati sosok tuan Park, yang ada hanya seorang wanita paruh baya. Apa dia Nyonya Park? Tae jon bilang Nyonya Park bekerja di sini juga.
"Ahjumma" sapaku pelan
"Ouch, Agasshi kau sudah bangun. Suamiku sedang pergi ke pasar saat ini" Tepat dugaanku, dia Nyonya Park
" Ahjumma kemana See wo dan Tae jon?"
"Nde" sahutku antusias
"Dia pergi pagi-pagi sekali dan dia menyuruhku memberikan ini pada kalian" Nyonya Park mengeluarka sebuah surat dari saku celemeknya dan memberikannya padaku.
Baka!!
Ini tulisan hangul, aku bisa berbahasa korea dengan lancar tapi aku tak bisa membaca tulisan hangul. Bodohnya aku.. kenapa dulu aku tidak giat mempelajari huruf-huruf hangul.
"Tae jon, dia ada dimana?"
"Mungkin masih tidur di kamar atas" Aigo.. dia masih tidur? ku pikir aku lah yang bangun paling siang, tapi ternyata dia lebih parah dariku. Aku menaiki anak tangga pelan-pelan, lalu membuka pintu kamar tempat idol itu tidur pelan-pelan. Benarkan dia tidak mengunci pintu kamarnya.
Aku masuk dengan perlahan setiap jendela masih tertutup tirai, kamar ini menjadi gelap hanya ada satu cahaya dari lampu tidur di atas meja. Tae jon masih terlelap, aku duduk di sisi pembaringan. Memandang wajahnya yang terlelap, dia selalu tampil mempesona, semua yang ada pada dirinya tampak sempurna, aku selalu saja terhipnotis akan
pesonanya.
Garis rahang yang kokoh, bibir tipis yang menawan, juga aroma parfumnya yang khas. Tanpa sadar aku terus memandang wajahnya yang terlelap berharap jika kelak aku bangun dari mimpi di siang bolongku ini. Aku masih bisa mengingat setiap jengkal wajahnya.
"Apa kau ingin mencium bibirku, Ppalli (cepat) aku sudah menunggunya dari tadi" Tae jon membuka matanya membuatku terperanjat dan langsung berdiri.
Aku merasa kikuk dan mati gaya, berlari kearah jendela sambil membuka semua tirai adalah jalan pintas yang ku ambil, aku tak ingin Tae jon melihat wajahku yang kikuk ini. Cahaya matahari langsung berebut masuk begitu tirai-tirai itu ku buka. "Kau sudah bangun?" tanyaku tanpa menoleh ke arah Tae jon.
" Aku sudah bangun dari tadi bahkan aku juga sudah mandi, tapi mendengar ada suara langkah menaiki anak tangga aku memutuskan untuk pura-pura tidur"
"Dasar kekanak-kanakan, kenapa harus berpura-pura tidur"
"Karena aku ingin kejadian seperti di drama-drama terjadi, saat seorang yeoja (perempuan) masuk ke kamar namja, dan si namja sedang tertidur biassnya sang yeoja diam-diam aku mengecup bibir si namja"
senyumnya menggoda apalagi saat ia melakukan wink (kedipan mata) ke arahku, kenapa kau selalu saja menawan?
Aku menyerahkan surat See wo padanya lalu mengambil posisi duduk di samping Tee jon.
"Ahjumma bilang See wo pergi pagi-pagi sekali dan menitipkan surat ini"
"Aku akan membacanya dulu" Tae jon membuka lipatan kertas dan mulai serius membaca isi dalam surat tersebut. "Dia bilang dia harus pergi karena urusan pekerjaan, dia tak ingin membangunkan kita jadi dia menulis surat ini untuk berpamitan"
Tae jon menoleh ke arahku, aku bisa mencium aroma sabun dari tubuhnya, dia benar-benat sudah mandi. "See wo mengundang kita makan malam di restoran miliknya" aku mengangguk.
"Kau punya gaun" aku menggeleng lemah "Aku tidak pernah punya gaun" sahutku jujur
"Nanti kau bisa pergi ke butik dan beli gaun bersama Ahjumma.
"Tuan, Agasshi makan siang sudah siap" terdengar suara Ahjumma setelah mengetuk pintu tiga kali. Woow.. kami melewatkan sarapan dan langsung makan siang .
Ahjumma memasak hidangan laut, ada udang, cumi-cumi, gurita, kerang dan lobster. Masakan Ahjumma Sangat lezat.