
Aku haus, pukul berapa sekarang? aku melihat arloji yang masih terpasang di tanganku. 00:56 malam, aku lupa meminta tuan Park mengisi gelas di kamarku, dan sekarang mau tak mau aku harus mengambil air sendiri ke. dapur.
Perlahan aku membuka kamar, semua gelap karena lampu-lampu yang berada di dalam rumah rata-rata di matikan kecuali lampu-lampu taman. Tapi kenapa lampu dapur masih menyala? apa ada orang di dapur? Ahjumma tidak mungkin datang semalam ini.
Ada seseorang di meja makan, dia duduk dengan wajah tertelungkup di meja. Gelas air di depannya tinggal separuh, aku menarik kursi dan duduk di sampingnya. Tanpa melihat wajahnya aku yakin dia pasti En dan bukan hantu, apa dia ingin mengerjaiku "Yakk, kau tak punya kamar?" aku mendorong pelan tubuhnya, tapi tubuh itu malah jatuh terkulai ke lantai.
"En, kau kenapa?" aku merengkuh tubuhnya Tuhan, badannya terasa panas sekali. Gadis bodoh ini demam, pasti karena terjatuh ke kolam tadi. Apa yang harus aku lakukan? tuan Park dan istrinya sudah pulang, tidak ada yang bisa membantuku. Aku pernah melihat sebuah klinik di dekat sini, sebaiknya aku membawa En kesana.
Aku segera menaruhnya di punggungku, aku membawanya menuju mobil. Ku rogoh saku celanaku, "Siall" tak ada kunci mobil di sana. Aku mengintip ke dalam mobil dan ku lihat kunci mobilku di sana, aku pasti melupakannya karena tadi aku buru-buru mengejar gadis bodoh ini ke dalam Villa. Punggungku terasa panas, karena ku rasa suhu tubuh En terlalu tinggi. Mungkin jika kau menggunakan suhu tubuh En pada saat ini untuk merebus telur, telur itu akan matang dengan sempurna.
Mau tak mau aku harus membawa En menuju klinik dengan berjalan kaki, bahkan aku hanya menggunakan kaos kaki saja. Untungnya tubuhku adalah tubuh olahragawan, jadi menggendong gadis dengan berat 58kg tidak akan membuat jantungku berhenti berdetak mendadak.
Aku sudah melihat kliniknya, semakin mendekat aku bisa melihat dua perawat yang sedang berjaga dengan mata mengantuk. Aku menerobos masuk "Tolong dia, cepat tolong dia" teriakku, dan kedua perawat itu langsung mengarahku ke ruang pemeriksaan, setelah menidurkan En di atas pembaringan. Seorang perawat memeriksa tekanan darah En, dan seorang lainnya memanggil dokter.
"Apa istri anda sedang hamil Tuan?" pertanyaan bodoh apa lagi ini? Hamil katanya, hamil dari mana ku sentuh saja tidak pernah, bahkan jika aku sembarangan menyentuhnya. Aku bisa kehilangan satu-satunya aset dalam hidupku, terbayang olehku bagaimana bringasnya En saat berkelahi melawan preman-preman yang mengejar See wo tempo hari.
"Dia bukan istriku" perawat itu mengangkat wajahnya dan tampak terkejut, mungkin dia mengenali wajahku kini "Aku menemukannya pingsan di dapur, tubuhnya terasa panas jadi aku membawanya ke sini"
"Anda tinggal di mana?"
"Seoul, sekarang sedang berlibur di Villa keluarga Lee" sahutku
"Padahal jika anda pergi ke arah utara, sekitar satu block anda akan menemuka klinik dokter umum" perawat itu menahan senyumnya. "Tapi ini juga klinik kan?" tanyaku polos, jika ku perhatikan memang klinik ini agak ganjal, banyak foto ibu hamil bertebaran di dinding, juga foto bayi.
"Ini Maternity clinik Tuan, klinik khusus ibu hamil dan persalinan" aish, aku menunduk malu, aku main masuk aja tanpa melihat plang nama klinik ini. Ahh.. memalukan.
"Tapi kalian bisa menolongnya kan? besok jika keadaannya belum membaik aku akan membawanya ke klinik lain"
Setelah dokter datang dan memeriksa En, En di pindahkan ke kamar rawat inap. Aku meminta ruang VIP agar aku juga bisa istirahat di sana. Di ruang rawat ini ada kasur lain yang biasanya di pakai oleh para penunggu pasien. Ada Box bayi lengkap dengan mainan yang bergelantung. Satu sofa panjang, kulkas dan televisi.
Aku menyelimuti tubuh En, wajahnya terlihat pucat
Aku menyesal memarahinya tadi, seharusnya aku tau jika dia akan sakit seperti ini. Dengan demamnya ini ia akan merasa bangga, karena aku sering bilang padanya gadis bodoh tidak akan bisa demam. Sekarang dia demam bearti dia bukan gadis bodoh.
"Dasar ceroboh"
"Oppa.." lirih ku dengar suaranya. Oppa, dia tidak sedang memanggilku. Orang yang ia panggil dengan sebutan Oppa adalah Ceo muda itu, Kang chul.
Saat bersamaku pun kau masih mengingat namja itu En, cukup membuat sakit hatiku.
Matahari sudah menyapa, aku menggeliat dan bangun dari atas kasur. Ku lihat En yang masih tertidur pulas. Ku raba keningnya, masih terasa hangat. En membuka matanya, lalu menyunggingkan senyum manis untukku.
" Sudah bangun?" tanyaku lembut ku genggam jemarinya lalu duduk. "Gomawo karena sudah merawatku" En berusaha untuk duduk dengan sigap aku membantunya.
"Aku yang membawamu kemari, jadi kau adalah tanggung jawabku"
"Aku bermimpi kau menggendongku" ucapnya lirih
"Iya, mimpimu membuat punggung dan kakiku sakit, apa kau tidak pernah mencoba berdiet dalam mimpi" candaku membuat wajah lesu itu berbinar dengan tawa riang.
"Tadi malam kenapa kau tidak membangunkanku jika kau merasa sakit?" dia menggeleng pelan "Aku tak mau merepotkanmu, jadi aku pergi ke dapur untuk mencari obat, tapi kepalaku malah terasa sakit"
"Sudah berapa kali ku bilang kau tidak pernah merepotkanku, lain kali jangan kau ulangi. Bagaimana jadinya jika aku tak ke dapur malam tadi. Sekarang kau pasti sudah jadi hantu penunggu dapur" tawanya semakin lebar, bahkan bisa mencubit lenganku. Pertanda jika ia mulai sehat, En selalu bar bar dalam menyerang.
"Padahal tadi malam aku begitu takut?"
"Kenapa, apa kau melihat hantu?" tanyaku asal.
En menarik nafas berat " Aku takut mati sendirian" ucapnya sambil menunjuk air di dalam gelas. Segera ku ambil gelas itu dan membantunya minum.
"Jangan bicara yang tidak-tidak" ucapku, ku ambil tissue lalu membersihkan sisa air di dagunya. "Gadis bodoh tidak akan mati dengan cepat? dan aku baru tau jika gadis bodoh bisa takut pada kematian" ejekku
"Bukan kematiannya yang membuatku takut, tapi mati dalam kesendirian. Tak ada sanak saudara atau orang yang kau kasihi menemani saat terakhirmu itu yang membuatku takut" terkadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis pemabuk ini. Terkadang ia terlihat kuat, tapi terkadang sorot matanya memperlihatkan jiwanya yang rapuh.
"Tuhan, tidak mengizinkan kau mati dalam kesendirian. Buktinya ia mengirimku saat kau pingsan di dapur" ia tersenyum, aku kembali menggenggam jemarinya. "Selama aku ada di sisimu, kau tidak akan pernah sendirian. Aku berjanji" Mata sayu itu menatapku, dan mengangguk ringan. Kau harus tau satu hal, jika Kang tae jon sudah berjanji, pantang bagiku mengkarinya. Selamanya aku akan menjagamu. "Im promise"