Snow In Seoul

Snow In Seoul
ROPE OF RESTAURANT



Ternyata Rope of restaurant sedang merayakan hari jadinya yang ke sebelas. Pantas saja See wo mengundang kami kesini. Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling, aku bisa tersenyum dengan bebas. Bukan hanya aku yang datang ke pesta ini dengan memakai Hanbok.


Ada beberapa Ahjumma dan gadis muda yang juga memakai hanbok. Sudah jelas aku tak salah kostum. Tae jon tak pernah melepas jemariku. Kemana pun ia pergi, ia selalu menggandeng tanganku. Padahal banyak paparazzi di sini, tapi Tae jon berjalan dengan percaya diri sambil menggandengku. Apa ia tak takut ada berita skandal tentangnya


Beberapa Security langsung mengawal kami begitu terlihat para Paparazzi itu mendekati kami. Woww.. restoran ini benar-benar baik dalam menjamu tamu.


"Aku akan memperkenalkanmu pada Jang mi, dia juga datang ketempat ini" Ternyata rumor yang ku dengar tadi siang bisa jadi benar, Jang mi juga berada di Jeju.


"Tadi siang saat membeli gaun bersama Ahjumma, aku sempat melihat keributan. Kata orang-orang temanmu itu di serang Sangsaeng"


"Daebak, kau ada di sana saat itu?"


"Ani~, ketika aku datang sudah tak ada Jang mi di sana, aku mendapat kabar itu dari seorang gadis SMA"


"En, Tae jon" See wo melambaikan tangannya ke arah kami. Tae jon kembali meraih jemariku dan kami melangkah beriringan mendekati See wo.


"Aku senang kalian datang" Luka lebamnya masih terlihat, tapi raut wajah See wo tampak sumringah. "Kami juga senang berada di sini" sahut Tae jon sopan.


"Meja 25 di sana, itu meja untuk kalian" kami menoleh kearah yang di tunjukkan oleh See wo, meja itu ada di blakon menghadap langsung ke laut. "Bagaimana? romantiskan?" ia tersenyum menggoda kami, wajah Tae jon memerah. Aish.. ada apa dengannya?


Seseorang memanggil See wo, mau tidak mau See wo meninggalkan kami dan kami berakhir duduk di meja 25. Seorang Waiters datang, Tae jon membuka buku menu dan mulai memesan makanan. Aku hanya akan pasrah pada semua makanan yang ia pesan, lagi pula restoran sebesar ini pasti semua menu makanannya enak.


"Aku memesan cukup banyak, karena Jang mi nanti akan makan bersama kita" Tapi sampai semua makanan tersaji Jang mi belum juga menampakan batang hidungnya. Tae jon mencoba menghubungi Jang mi, tapi selalu gagal karena koneksi sinyal mendadak buruk. Kami memutuskan untuk makan lebih dulu, sambil menunggu main vokal Blue itu. Perutku sudah kenyang, benar-benar kenyang. Jang mi belum juga muncul.


"Aku akan ke toilet" pamitku, lalu melenggang pergi setelah menerima anggukan Tae jon. Antrian di toilet membuatku pusing, ku pikir toiletnya penuh tapi ternyata hanya bagian wastafel dengan dinding kaca yang penuh. Banyak gadis yang mengeluarkan alat make upnya. Mereka pikir toilet ini salon apa. Aku masuk ke dalam toilet untuk menyelesaikan urusanku. "Aku melihat dua member Blue tadi, mereka tampak tampan" aku menguping pembicaraan para gadis dari dalam toilet. Aku kerepotan juga saat hendak buang air kecil, baju ini sungguh aku tak ingin membuatnya basah. Terbayang olehku kerepotan para putri dan bangsawan Joseon saat hendak ke toilet, mereka harus mengatur hanbok agar tidak basah dan kusut. Sedangkan aku begitu keluar dari dalam toilet, bagian bawah hanbok yang ku pakai kusut.


Aku berdiri di depan cermin, mencoba merapikan pakaianku. Untung riasanku masih sempurna, Ahjumma Memang Chan dalam hal merias. Aku kembali menuju meja 25, dan melihat Tae jon tampak berdiri dan berbincang dengan seseorang. Apakah dia Jang mi?


Aku memang sering melihat personil Blue dari balik layar kaca, tapi kalau bertemu secara langsung belum. Jadi aku belum bisa mengenali Jang mi kalau hanya melihat dari belakang saja. Mereka nampaknya sedang bercanda, aku harus mengambil foto berdua dengan mereka, buat pamer pada teman-temanku kalau sudah kembali ke Indonesia.


Tae jon bergurau lalu memukul perut Jang mi, Jang mi langsung memegang perutnya dan meringis.


Wajah meringis itu? sama persis dengan wajah meringis pria yang ku tendang tadi siang. Jangan-jangan yang di maksud Sangsaeng itu aku. Wah, aku tidak boleh bertemu dengannya, dia bisa saja akan menuntutku dan membawaku ke penjara. Aku mundur dengan cepat, dan saat aku berbalik aku justru jatuh ke dalam kolam kecil yang ada di tengah-tengah restoran. Aku berdiri dengan cepat tapi semua orang sudah mengalihkan pandangannya kepadaku, termasuk Tae jon.


Begitu menyadari jika aku yang terjatuh kedalam kolam, Tae jon segera berlari sambil membuka jas yang ia pakai. Jang mi juga berlari mengikutinya. Aku menarik rambutku kedepan, tak apa lah sekarang aku mirip Sodako yang penting Jang mi tak mengenaliku. "Apa yang ada di pikiranmu gadis bodoh" Tae jon memasangkan jas yang ia lepas ke tubuhku. Aku tak menjawab dan hanya menunduk saja.


"Kau basah sekali, sebaiknya kita pulang" ia merengkuh pundakku. "Jang mi ya, tolong sampaikan pada See wo hyung kalau kami pulang duluan"


"Katakan juga kami minta maaf karena tidak bisa mengikuti acara hingga selesai" Jang mi melepas mantel biru yang ia pakai, lalu memberikan pada Tae jon.


"Pakaikan itu padanya, di cuaca sedingin ini fansmu itu bisa membeku" Tae jon menerima mantel itu, dan memakaikan di badanku "Yakk, katakan terima kasih" Tuhan, mengapa Tae jon tak mengerti keadaanku saat ini.


"Gomawo" ucapku lirih


Meski tubuhku sudah memakai jas Tae jon dan mantel Jang mi tapi rasa dingin ini tidak hilang. Seakan-akan seluruh tulang dan sendiku membeku. Aku takut jika kejadian ini membuatku masuk angin. Di negeri yang belum begitu ku kenal ini di mana aku bisa mendapatkan jamu tolak angin. Begitu mobil berhenti di halaman Villa, aku langsung berlari masuk, dan menuju kamarku. Aku sudah tidak kuat dengan rasa dingin ini, aku segera melepas seluruh pakaianku. Membasuh tubuhku dengan air hangat lalu berganti pakaian kering. Aku bersembunyi di balik selimut tebal. Rasanya nyaman sekali.


Suara pintu kamar berdencit tanda pintu sedang di buka, membuatku mengeluarkan kepala dari balik selimut. Tae jon membawaku segelas susu hangat. Aku duduk dengan selimut masih membungkus tubuhku.


"Cepat minum itu, agar tubuhmu terasa lebih hangat" ku terima segelas susu itu dari tangan Tae jon "Gomawo" segera aku meminumnya sedikit demi sedikit. Tae jon duduk di sampingku.


"Kenapa tadi kau sampai terjatuh ke dalam kolam?"


Buru-buru aku menghabiskan susu dari dalam gelas, memberikan gelas kosong itu pada Tae jon. Kemudian berbaring dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.


"Jangan bertanya ya? jangan tanyakan itu padaku lagi. oke"


"Kau malu" ejek Tae jon


"Keluar lah aku mau tidur" pintaku dari balik selimut. Tae jon menepuk tubuhku tiga kali lalu ku dengar pintu kamarku berdencit lagi.