
Tae jon memintaku memakai hanbok untuk acara malam ini. Aku hanya punya satu hanbok, yang dulu ku beli di Jeju. Saat ini aku tidak bisa membeli hanbok baru, aku harus berhemat karena setelah pergi dari sisi Kang chul, aku tak akan pernah tau bagaimana nasib keuanganku. Beruntung Cha ok meminjamiku sebuah hanbok berwarna kuning lembut berpadu warna merah jambu.
Aku berdiri di depan cermin, melihat apakah penampilanku sudah sempurna. Sayang sekali jepit pemberian Ahjumma hilang. Jepit itu akan sangat pas dengan warna hanbok yang ku pakai sekarang ini.
"Kau sudah terlihat sangat cantik, jadi berhenti bercermin. Aku takut cermin itu akan merasa cemburu padamu" aku bisa melihat pantulan bayangan Tae jon di cermin.
"Kau masuk tanpa permisi, Bung" aku berbalik menghadap ke arahnya
"Salahmu"
"Salahku?"
"Kau tidak mengganti pasword pintu apartemenmu" Aku memang tidak mengganti pasword pintu apartemenku, dan tidak ada niat untuk menggantinya. Aku pelupa akut jika menyangkut hal-hal seperti pasword, no pin dll. Jika aku sudah cukup nyaman dengan satu pasword aku tidak akan menggantinya.
"Ayo berangkat" Tae jon menaruh satu tangannya di pinggangku, dia bilang itu adalah salah satu cara agar aku mau bergandengan dengannya. Ku pegang lengan tangannya dan kami melangkah beriringan.
Kami tiba di Namsangol Hanok Village, saat turun dari mobil. Aku melihat Sea ok dan Yoo bi di pintu gerbang. Segera ku gandeng lengan Tae jon mendekati mereka berdua.
"Hai, kalian di sini juga" sapaku berbasa-basi, padahal aku dan Yoo bi sudah mengatur semua ini, agar di mata Sea ok kami bertemu karena kebetulan semata. "Apa kalian berkencan?" tanyaku sambil mengerlingkan mata ke arah Sea ok.
"Ya, ini kencan pertama kami" sahut Sea ok lirih. "Mari kita bersenang-senang bersama" ucapku, seraya kembali menggandeng lengan Tae jon. Yoo bi melakukan hal yang sama, ia segera menggandeng lengan Sea ok. Mereka tampak sangat serasi, Yoo bi yang imut dan Sea ok yang cute.
Namsangol Hanok Village adalah tempat wisata yang terletak di kota Seoul. Tempat ini berisi rumah-rumah kuno, sehingga tempat ini sangat pas jika di jadikan tempat penyelenggaraan pertunjukan tradisional korea seperti Samulnori yang hendak kami tonton saat ini.
Ketika pertunjukan Samulnori di mulai, Telingaku di manjakan oleh alunan-alunan musik yang khas. Apalagi pertunjukan ini di padu padankan dengan pertunjukan tarian tradisional korea. Membuat tak henti-hentinya aku berdecak kagum, dan mata ini enggan berkedip. Bulir-bulir salju yang turun dari langit, di terpa cahaya lampu dari atas panggung, bagai ribuan crystal-crystal kecil yang sengaja di turunkan Tuhan untuk menyemarakkan malam ini.
Aku merasa Tae jon melingkarkan kedua tangannya di pinggangku "Byol corom naye maem sogeso binnanda( seperti sebuah bintang, kau bersinar di hatiku)"
Kalimat ini memiliki arti apa? apakah pernyataan cinta? atau hanya karena terbawa suasana saja. Aku menoleh kearahnya, dia tersenyum lalu mencium pipiku dengan lembut. Di seberang sana aku bisa melihat Sea ok dan Yoo bi sedang memperhatikan kami.
******
Bertemu denganmu di sini menjawab segala keraguanku. Pertemuan ini bahkan sikap mesramu dengan aktor itu, telah membuatku semakin yakin untuk melanjutkan hubunganku dengan Yoo bi.
"Yoo bi ssi, bisakah kau terus berada di sisiku?" matanya berbinar, senyum lebar tersungging di bibirnya. Ia hanya mengangguk tanpa suara, aku yakin kini hatinya sedang bahagia, aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia terlepas dari semua perasaanku.
"Liat disana, bukankah itu permainan melempar gelang" Yoo bi menunjuk ke arah dimana En dan Tae jon berada. Mereka berada di tempat bermain melempar gelang, dimana jika mereka bisa melempar gelang dan masuk ke dalam botol dalam jumlah tertentu mereka akan dapat hadiah.
"Ada Unnie di sana, ayo kita kesana" tanpa mendengar persetujuanku, Yoo bi segera menarikku mendekati dua manusia yang sedang ingin ku hindari. "Bisakah kau mendapatkan boneka beruang itu untukku" ku dengar permintaan En pada aktor itu. Aku harus bisa memasukkan sepuluh gelang untuk mendapatkan boneka beruang itu. Jarak aku berdiri dan botol-botol itu sekitar tiga meter.
Aku melihat aktor itu membayar untuk dua puluh gelang. Aku pun melakukan hal yang sama, kami berdiri berdampingan. Aku harus bisa lebih dulu memasukkan sepuluh gelang untuk boneka beruang yang di inginkan En. Kami mulai melempar gelang.
"Yes" aku bisa memasukkan satu gelang, aku melirik aktor itu sudah memasukkan dua gelang.
Kami terus melempar dengan perhitungan masing-masing seakan-akan kami berada di sebuah pertandingan. Hanya ada satu boneka beruang dan kami sama-sama menginginkan itu. Jika ku lihat aktor itu terlalu bersemangat, nampaknya ia benci kekalahan. Dia memiliki jiwa persaingan yang tinggi.
Kami berhasil memasukkan sembilan gelang, namun semua gelang yang kami bayar sudah habis kami lempar. Aktor itu membayar untuk sepuluh gelang lagi, aku pun mengikutinya.
Lemparan pertamaku meleset, begitu juga dengan lemparan keduaku.
"Yes okk" aktor itu mengangkat kedua tangannya, perayaan untuk kemenangannya. Sial, pada lemparan ketiga aku baru bisa memasukkan gelang terakhirku.
Ahjussi pemilik tempat permainan memberikan boneka beruang pada Tae jon, dan memberiku boneka lumba-lumba besar. Aku melihat wajah En yang semakin berseri-seri karena bahagia.
"Peluk boneka ini jika kau merindukanku" Aktor itu sangat pandai membual, membuatku merasa mual berada di dekatnya. Anehnya En tampak menikmati semua bualan dari aktor itu.
"Maafkan aku Yoo bi ssi, aku cuma bisa mendapatkan boneka ini" Seandainya boneka lumba-lumba itu tidak tertutupi oleh boneka beruang itu, pasti En akan memilih boneka ini. En sangat menyukai lumba-lumba. Yoo bi mengambil boneka yang ku berikan dengan wajah yang sama berserinya seperti En. "Gomawo, ini sudah lebih dari cukup untukku"
Kami memutuskan untuk kembali berjalan bersama, melihat semua keindahan malam di Namsangol Hanok Village. Kenapa mata ini selalu saja tertuju kearah En, dan sering kali hatiku menjadi sakit. Beruntung Yoo bi selalu saja bisa meredakan rasa sakitnya.
Yoo bi dan En menunggu kami dan duduk di dekat jembatan kayu. Sementara aku dan aktor itu membeli gulali, sambil mengantri kami hanya diam saja. Tak bersuara atau tak bertukar cerita, pesanan aktor itu sudah selesai lebih dulu. Sebelum pergi ia menepuk pundakku dua kali
"Berhenti memandang wanitaku, dan hargai wanita yang ada di sisimu" itu yang ia bilang, membuatku membeku dan bingung memberi jawaban apa untuk mengelak ucapannya. Sampai ia berlalu pergi aku masih tak mampu mengelak ucapannya, itu karena ucapannya benar. Aku hanya memperhatikan En sedari tadi, tanpa benar-benar memperhatikan Yoo bi.