Snow In Seoul

Snow In Seoul
TAMAN HIBURAN



Pagi yang dingin, sepertinya musim dingin akan segera tiba. Jadi seperti ini rasanya musim dingin, dinginnya masih terasa menusuk ke tulang padahal aku sudah memakai baju lengan panjang,jaket dan mantel, lengkap dengan sepasang sarung tangan. Seperti biasa aku berjalan kaki menuju Bakery


"Akan kah turun salju?"


"Hai, Noona (Panggilan dari laki-laki muda untuk wanita yang lebih tua)"


Sea ok melangkah terburu-buru menghampiriku, jaket tebal juga menyelimuti tubuhnya. "Pagi" sapa ku begitu ia mendekat. Dia tersenyum, mengangkat sebelah alisnya.


Terkadang Sea ok pulang ke rumah orang tuanya, walaupun hampir seluruh waktunya ia habiskan di Rs. Haesung. Namun Sea ok selalu menyempatkan diri untuk menengok orang tuanya. Jika ia pulang dari rumah orang tuanya, maka pemandangan ini terjadi. Kami akan melangkah beriringan menuju tempat kerja, aku menuju Bakery dan dia menuju Rs. Haesung.


Sea ok baru berusia 22 tahun, dengan tinggi 175 cm, berkulit putih bersih, hidung yang sedikit bengkok mungkin hidung itu pernah mengalami cidera atau patah tulang dan tidak bisa kembali pada posisi semula. Dia memiliki mata yang indah di hiasi dua alis tebal. Dia berbicara dengan dialek Jeju, jujur saat awal mendengar ia berbicara aku merasa sedikit lucu dengan dialek yang ia pakai, tapi seiring waktu bersama, aku baru tau kalau dia berasal dari pulau Jeju. Orang tuanya memutuskan pindah ke Seoul karena ingin mendukung cita-cita Sea ok menjadi seorang dokter.


Rumah orang tuanya tak begitu jauh dari apartemenku, beberapa kali Sea ok mengajak ku pergi mengunjungi orang tuanya. Orang tuanya mengelola restoran ayam goreng, Sea ok juga memiliki seorang adik yang baru berusia 10 tahun.


Ponselku berdering


"Hallo, sayang" sapaku hangat


"Ibu hari ini aku mau berenang sama om Dika" ku dengar suara manja dari malaikat kecilku itu.


"Ok, tapi Bella harus jadi anak yang patuh. Selama di kolam renang Bella harus mendengarkan semua arahan dari om Dika, pake rompi dan kacamata renang mu ya"


"Iya, Bu"


"Mana mbah Uty ibu mau ngomong sebentar"


Aku mendengar suara Bella memanggil Mamak, aku juga mendengar suara langkah terburu-buru


"Hallo, enek opo En?"


"Enggak, jare Bella de'e arep berenang karo Dika"


"Iyo, ket winginane njaluk renang terus. Ki mumpung Dika libur yo tak kon gowo renang" Dika adalah adik bungsuku, ia baru duduk di kelas 2 SMA.


"O.. yo wes"


"Seng ngati-ati adoh sobo parane kuwi, jaga awak'e dewe temen-temen, neng kono kowe dewe ra enek keluargane" Mamak selalu saja mengkhawatirkan ku, padahal aku selalu bilang kalau aku baik-baik saja di sini.


Aku memutuskan sambungan seluler itu, dan beralih memandang Sea ok. Dia mengangkat kedua bahunya kemudian berjalan sambil bersiul.


Aku mencoba mensejajarkan langkah kaki kami, kaki Sea ok lumayan panjang dan aku sedikit kewalahan. Aku menarik lengannya memberi intruksi agar ia berhenti.


"Wah, kau ingin menraktirku?"


"Ani-yo. Hari ini kau yang harus menraktirku Mr. setengah dokter" aku segera masuk kedalam Hawaii nach seoul dan memesan dua coffe latte. Ketika pesanan kami datang, aku segera menatap Sea ok memberi isyarat mata agar ia segera membuka isi dompetnya dan memberi uang kepada kasir.


Kami kembali berjalan beriringan sambil menikmati coffe latte yang hangat "Masitta (Enak), hari ini dingin sekali, aku merasa tubuhku membeku"


"Besok pakailah baju yang lebih tebal, kalau perlu pakai rompi penghangat. Aigo, aku sangat kasihan pada Ahjumma sepertimu, musim dingin memang lawan yang buruk untuk wanita tua" hampir saja aku tersedak dan memuntahkan kopi yang ku minum. Sea ok tertawa seraya berlari pergi, kalau saja aku belum sampai Bakery akan ku kejar dan ku pukul kepalanya.


Aku membuka Bakery sambil tertawa lirih mengingat guyonan Sea ok tadi. Enak saja dia bilang aku wanita tua, awas saja nanti ya.


Cling...


Ada pesan masuk


"Minggu depan aku libur. Bagaimana kalau kita kencan, aku akan mengajakmu ke taman hiburan"


"Aish, kencan? dengan brondong? mana mungkin." segera ku tekan tust tust pada ponselku.


****


Aku sudah sampai di lobi rumah sakit ketika aku mendapat pesan balasan dari En.


"Kencan? denganmu? Hmm, boleh asal kau yang bayar semuanya"


Aku tersenyum tipis, meski harus merogoh uang tabunganku tapi aku tidak menyesal. Dia gadis yang baik dan ramah pada semua orang. Sering kali aku melihat senyumnya merekah walau aku tau terkadang ia menyimpan sakit karena merindu anak semata wayangnya.


" Matrealialistis" kembali aku mengirim pesan.


Pintu lift terbuka, aku buru-buru masuk ke dalam.


Ada sebuah pesan balasan rupanya, aku segera mengeceknya.


"Baka"


Seperti biasanya dia tidak akan meninggalkan satu bahasa jepang andalannya itu. Aku justru menyukai umpatannya itu, sesuai ucapannya


Ahh.. betapa bodohnya aku.


Mungkin aku harus membawa bekal makanan saja nanti. Sehingga nanti aku bisa sedikit mengirit. Aku hanya perlu membeli tiket masuk dan beberapa tiket bermain. Mungkin di tambah sebungkus gulali tapi En tidak menyukai makanan manis, atau aku membawa Omuk saja, dia sangat mebyukai panganan itu.


Ibu juga tidak akan keberatan. Bukankah Ibu sangat menyukai En.


***


"Kang chul Oppa" sapamu


Aku berdiri di luar pintu apartemenmu


"Masuklah Oppa" kau membuka pintu lebih lebar lagi, aku masuk dengan dua kantong besar belanjaan.


"Berhentilah berbelanja untukku Oppa"


Aku langsung duduk, sementara kau membawa kantong belanjaan ke dapur. Saat kembali menemui ku kau membawa dua cangkir kopi.


"Oppa, besok aku akan pergi berkencan" Aku benar-benar terkejut mendengar ucapannya, berkencan? dia akan berkencan?


Dengan siapa?


Apa dia mempunyai teman dekat selain aku?


Apa dia pergi dengan Hyung?


Tapi En tidak menyukai Hyung, dia sering mengeluhkan sikap dingin Hyung.


lalu dengan siapa?


Ha sung atau Hwang jung? setahuku dia tidak memeliki banyak teman pria di negeri ini. Haruskah aku bertanya dengan siapa dia akan pergi.


Omma, aku benar-benar bingung saat ini, atau ku larang dia pergi. Tapi apa hak ku melarang dia pergi. Alasan apa juga yang harus ku pakai untuk melarangnya pergi?


Omma, aku benar-benar tidak ingin dia pergi berkencan dengan pria lain selain aku. Besok, aku harus membuat rencana agar dia membatalkan acaranya.Ya, tuhan. aku tidak akan bisa tenang jika melihat En pergi dengan pria lain. Tuhan turunkan hujan yang lebat besok, atau tiupkan angin topan saja sehingga besok rencana kencannya bisa batal.


Omma, apa yang harus aku lakukan? bantu aku Omma.


***


Mengapa wajah Kang chul jadi aneh, apa rasa kopi yang ku buat terlalu manis, atau terlalu panas atau jangan-jangan dia flu.


"Oppa, ada apa denganmu?"


"Dengan siapa kau pergi berkencan?" Kang chul balik bertanya 'Bodoh,mengapa aku bertanya seperti itu' pekik Kang chul dalam hati.


"Seorang Residen tahun kedua di Rs.Haesung, namanya Choi sea ok'' sekali lagi aku melihat raut wajah yang aneh dari Kang chul "Wae Oppa? ada yang salah?"


Dia menggeleng, meletakkan cangkir kopinya. "Kau sudah lama mengenalnya?"


"Lima bulan mungkin lebih" aku berusaha mengingat.


"Oppa, besok kan Hangul day, bagaimana kalau kita pergi ke taman hiburan bersama"


Kali ekspresi wajah Kang chul nampak terkejut. Bahkan menurutku terlalu berlebihan. Aku hanya mengajaknya pergi ke taman hiburan, tapi wajahnya memerah seperti ku ajak kencan saja.


*****


Omma, besok adalah Hangul day. Berarti besok adalah hari pertunangan ku dengan Soo he. Kenapa aku melupakan hal ini? Kenapa pula aku menyetujui pertunangan ini tahun lalu. Pantas saja kemaren Soo-he datang ke kamarku. Dan jas berwarna Navy yang tadi pagi di kirim ke rumahku. Pasti itu jas yang harus ku pakai besok. Dulu aku berkata iya karena ku pikir tidak ada salahnya jika aku menikahi Soo-he. Dulu aku tidak pernah mengira akan jatuh cinta pada orang lain, tapi ternyata aku salah.


Aku tidak pernah mencintai Soo-he, aku hanya ingin melindunginya, karena itu ku terima tawaran pertunangan ini.


"Oppa" En menggoyang-goyangkan tubuh ku, sudah cukup lama aku melamun.


"Mian" aku menutup wajahku, dan menghela nafas sesaat.


"Aku tidak bisa ikut En, besok aku masih memiliki beberapa pekerjaan."


"Hmm, apakah hidupnya hanya di kelilingi dengan pekerjaan. Apa dia tidak punya waktu untuk bersenang-senang. Apa dia merasa bosan? Padahal sering sekali aku mendapati wajah jenuh di hari-harinya" gumam En dalam hati.


****


"Soo-he, kau harus terlihat cantik malam ini. Walaupun pesta pertunanganmu hanya acara keluarga saja, tapi kau harus tampil memukau di depan Kang chul" Seorang wanita paruh baya duduk di atas sofa berwarna ungu. Wajah dan postur tubuhnya tidak menunjukkan usianya yang sesungguhnya. Ia tampak cantik dan berkelas.


"Setelah pertunangan kami selesai, aku ingin mengajaknya ke pulau Jeju tapi sedari tadi dia tidak mengangkat telpon dariku" aku tersungut menatap ponsel di tanganku.


Calon ibu mertuaku itu, tampaknya juga ikut kesal pada kelakuan anak tunggalnya itu. Ia segera mengambil ponsel dari dalam tasnya, ponselnya yang harganya setara dengan modal membangun restoran ayam goreng. Ia menekan tust tust di ponselnya, menempelkan ponsel itu di telinga kirinya. Berkali-kali pemandangan itu terlihat dan mungkin Kang chul juga memperlakukan ibunya sama seperti dia memperlakukanku.


"Immo (Tante) sudah lah. Mungkin Oppa masih sibuk. Aku akan bicara padanya langsung setelah acara pertunangan kami"


"Aku selalu berharap kau dan Kang chul menjadi pasangan yang berbahagia"


******


Percaya pada masa di mana waktu akan mempertemukanmu dan aku. Di bawah hujan butiran salju kau dan aku akan berjalan menyusuri jalanan kota yang sampai sekarang masih asing buatku.


"Suatu saat pasti, Tae jon" gumamku lirih.


"Apa yang pasti" Kang chul muncul seakan menembus ruang dan waktu


"Aigo, kau selalu muncul di saat aku sedang bergosip dengan hatiku"


"Hahhh" ekspresi wajah Kang chul bagai tikus bangun kesiangan.


"Dasar gadis dungu. Bagaimana bisa kau bergosip dengan hati" tangannya tanpa ampun mengacak-acak rambut bergelombangku, hingga aku nyaris jatuh.


"Oppa, kau merusak tatanan rambutku, aku baru saja menatanya di salon tadi" aku menyisir rambutku dengan jari-jari tanganku.


"Ommo, jadi saat aku tertidur di sofa kau meninggalkanku ke salon"


"Ya, bukankah aku sudah bilang. Aku akan pergi berkencan besok" Aku menjulurkan lidahku padanya, dan siap berlari. Buru-buru Kang chul menyerangku hingga aku jatuh kelantai. Tanpa ampun ia menghancurkan rambut yang baru saja ku smonting.


"Oppa... apa kau ingin ku hajar" teriakku sambil mendorong tubuh Kang chul yang kini menindihku.


Aku menginjak perutnya lalu dengan satu sentakan aku melemparnya ke atas.


Tubuh Kang chul menghantam meja kecil yang ada di sudut ruangan, membuat meja bergerak dan vas bunga yang ada di atasnya terjatuh. Pecahannya berserakan di lantai. Aku segera berdiri dan menghampirinya "Aku adalah gadis yang pandai bela diri ingat itu Oppa" ku tiup poni depanku. Tangan kananku menjulur ke arahnya aku akan membantunya untuk bangun. Ia meraih tanganku dengan cepat. Aku siap menarik dan membantunya bangun, tapi Kang chul justru menarik tubuhku hingga aku terjatuh dan bertumpu di atas tubuhnya. Mata kami saling beradu bahkan deru nafas kami saling bersahutan.


Semakin dalam mata kami beradu membuat wajah kami semakin mendekat, hangat nafas Kang chul menerpa wajah ku. Kami saling berpandangan hingga sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirku.


Aku tersentak dan langsung bangun "Aku harus segera mandi" ucapku canggung, dan langsung berlari menuju kamar meninggalkan Kang chul sendiri berteman pecahan vas bunga.


Aku menutup pintu kamar rapat-rapat , memejamkan mataku dan berharap ini semua hanya mimpi, bagaimana bisa aku berciuman dengan Kang chul.


Mungkin kami hanya terbawa emosi dan tidak ada yang spesial. Sebaiknya aku segera mandi. Aku masuk ke dalam kamar mandi menyalakan shower dan menikmati dinginnya air. Semua ini tidak pernah terjadi En, tanamkan itu di hatimu.


Setelah selesai mandi dan berpakaian aku segera keluar dari kamarku. Aku tidak mendapati Kang chul di rumahku bahkan pecahan vas bunga pun sudah bersih. Oppa, ku mohon lupakan kejadian hari ini.


****


"Hangul day" aku membuka tirai jendela, menikmati pagi yang dingin di hari libur. Hangul day selalu di peringati pada tanggal 9 oktober di setiap tahunnya. Pada tanggal ini lah Raja Sejong menemukan huruf hangul atau huruf alphabet korea. Hari ini merupakan hari yang bersejarah untuk rakyat korea


Sebentar lagi Sea ok akan datang menjemputku. Sebaiknya aku segera mandi dan bersiap. Aku tadi sudah membuat beberapa makanan untuk bekal, aku membuat kimbab, dua hari yang lalu Yoo bi mengajariku cara membuatnya. Aku melihat syal Kang chul tertinggal di sofa, warnanya merah marun. Ini syal rajutan tangan, mungkin hadiah natal dari seseorang.


Ada inisial SH di ujung syal, aku mengenakannya di leherku. Terasa hangat dan nyaman. Tercium aroma parfum Kang chul yang melekat pada syal ini. Hmm, terasa semakin nyaman. Aku mendengar bell apartemenku berbunyi "Sea ok sudah datang"


Aku segera meraih tasku dan menuju ke arah pintu. Sea ok terlihat seperti orang yang hendak mendaki ketimbang mau pergi ke taman hiburan. Ia membawa atas ransel yang cukup besar. Ia memakai topi hangat dan syal berwarna merah cerah.


"Pergi sekarang?" tanyaku yang di jawab anggukan mantap dari Sea ok.


*****


Halte bus hari ini sangat padat. Entahlah apa kami bisa masuk bus pertama atau tidak. Apalagi dengan beban berat di punggungku ini. Aku membawa banyak makanan, dan juga jaket cadangan. Aku tidak pernah tau akan segila apa suhu di Seoul nanti. Aku bahagia akhirnya aku bisa mengajak En berkencan. Bagiku ia mempesona.


Jika ada yang bertanya apa dia cantik?


Bagiku cantik itu relatif, jika di bandingkan dengan dengan wajah gadis korea. Dia akan tertinggal jauh, dia mempunyai wajah khas gadis indonesia, kulitnya tidak putih tapi lebih ke kuning langsat. Dia sering bilang jika tinggal di negerinya ia cenderung menjadi lebih hitam, karna pada dasarnya kulitnya itu sawo matang.


En gadis tangguh yang pesonanya tak bisa ku elakkan, dia tidak sembarangan berbicara dengan sembarang orang, tapi ia bisa tersenyum untuk semua orang. Bus datang, segera aku meraih jemari En, mengajaknya berlari ke barisan depan, kami harus bisa lebih dulu masuk ke dalam bus agar bisa mendapatkan tempat duduk. Walau penuh perjuangan tapi kami berhasil masuk dan mendapat kursi kedua di belakang supir.


"Sepertinya taman hiburan akan ramai hari ini" aku memandang keluar jendela. En juga ikut melihat keluar jendela. Perjalanan yang menyenangkan. Apalagi saat aku melihat En terus tertawa saat ku nyanyikan beberapa lagu-lagu konyol.