
Kami berhenti di depan sebuah restoran bintang lima. Kang chul turun terlebih dulu tapi aku ragu untuk ikut turun. "Kenapa kau masih membeku di sana. Ayo cepat, kau bilang kau lapar" aku menggeleng pelan
"Wae? "
"Tidak bisalah kita makan di warteg saja? "Tawa Kang chul lepas, terdengar ringan dan nyaman. "Aghassi, disini tidak ada warteg. Ayolah jangan ribut dan cepat turun"
"Aku malu" ucapku lirih, Kang chul masuk kembali ke dalam mobil "Malu karena apa? " aku menatap baju seragam Bakery yang aku kenakan. Kang Chul tampaknya paham dengan isyarat mataku.
"Hyung, berikan jaketmu padaku" dan, si Hyung kaleng sarden hitam langsung melepaskan jaketnya, ia memberikan jaket itu pada Kang chul tanpa bertanya atau bersuara. Jaket itu kini melekat di tubuhku, menutupi seragam karyawan yang ku kenakan, aroma parfum Hyung kaleng sarden hitam begitu melekat di jaket ini, aromanya begitu maskulin.
"Kau makan apa? "
"Pecel lele" sahutku asal.
Senyum tipis mengembang di wajah Kang chul, "Tidak ada warteg, tidak ada pecel lele di sini" aku mengedip-ngedipkan kedua mataku "Pesankan yang sama denganmu"
Seorang waiters datang menghampiri Kang chul, dan aku sedang berpariwisata memandangi seluruh sudut restoran besar ini. Pandangan ku berhenti pada satu sosok di sana. Sosok yang selalu hadir di setiap mimpi indahku, Kang tae jon dia ada di sana. Dia berada di meja nomer lima, berjarak tiga meja tempatku duduk.
Haruskah? tidak, aku tidak boleh muncul di hadapannya seperti para penggemar konyol, tapi aku ingin bersalaman atau sekedar berfoto selfie dengannya. Bathin berkecamuk, hingga ku dengar Kang chul memanggilku. "Apa yang kau lihat? " Kang chul ikut menoleh kearah yang sama denganku . "Melihatnya" tanyanya lagi.
"Tidak, ayo makan"
"Benar tidak sedang menatapnya? " aku menggeleng "Ani-yo"
Sulit bagiku untuk tidak menoleh dan memandang wajah mempesona di sana. Diam-diam saat Kang chul lengah, aku kembali menatapnya menikmati setiap gerakannya. Ya tuhan, sungguh ini bukan mimpi. Pemuda itu ada di hadapanku, hanya berjarak kurang lebih dua puluh langkah saja.
"Benarkan kau menatapnya" aku terkesiap, mendapat pandangan ambigu dari Kang chul.
"Tidak. Aku hanya sedang melihat-lihat saja"
"Dia tampan"
"Oppa, berhentilah" mungkin kini wajahku memerah. Aku segera menunduk dan menghabiskan sup ikan yang ada di hadapanku. Aku tidak ingin Kang chul melihat rona merah di wajahku.
Dia sudah tidak ada di sana, meja itu sudah kosong. Kenapa ada rasa kecewa di hati ini. Mengapa aku tidak melihat punggungnya saat ia pergi. Bodohnya aku, mengapa aku terus memikirkannya. Ku harap di Seoul akan turun salju, agar kepalaku itu bisa terbentur butiran salju, sehingga menyadarkanku dari segala kegilaanku.
Kami selesai makan, tapi Tae jon lebih dulu selesai makan, ia sudah lebih dulu pergi. Kang chul menyuruhku menunggu di depan lift sementara ia pergi ke kamar kecil.
Pintu lift terbuka.
Deg
Hanya ada satu orang di sana. Dia, itu dia! kami berdiri berhadapan dan saling menatap. Aku, apa yang harus ku lakukan, apa aku harus menyapa lebih dulu atau
"Anyoeng" Dia, dia yang menyapaku lebih dulu, dengan senyuman di sudut bibirnya. Aku hanya bisa membungkukkan tubuhku. Dia berjalan melewatiku, kembali masuk ke dalam restoran. Punggungnya, aku melihat punggungnya yang pergi dsn menghilang di balik pintu restoran.
"Aigo, apa yang kau lihat hingga air liur menetes seperti itu" Kang chul sudah berada di sampingku.
"Tidak, tidak.. air liur apa? Oppa, berhentilah menggodaku" Kang chul tersenyum menggoda sambil menekan tombol lift. Aku memasang wajah merajuk, kami masuk kedalam lift dan Kang chul segera menekan angka satu. Saat pintu lift hendak tertutup tiba-tiba ada sebuah tangan yang menerobos menghentikan pintu lift yang tertutup.
"Kang tae jon" lonjak bathinku.
Dia masuk dan berdiri di antara aku dan Kang chul. Sejenggal, kami hanya berjarak sejenggal aja. Bahkan aku bisa membaui aroma tubuhnya, mengukur seberapa tingginya dia. Ini benar-benar nyata, aku menatapnya, menghafal setiap sudut wajahnya. Tangannya ada tepat di sisi tanganku, sekali rengkuh aku bisa menggenggam jemarinya.
Dia menoleh ke arahku, spertinya ia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya "Mianhae" ucapku sambil menunduk malu.
Bodohnya aku, aku sudah mempermalukan diriku sendiri. Dia masih menatapku, bahkan sampai pintu lift terbuka pandangan matanya belum beralih. Aku mengangkat wajahku hingga pandangan mata kami saling beradu.
"Tunggu" Kang chul meraih lengan Tae jon.
"Oppa.. "
Kang chul menaruh telunjuk di bibir, memberi isyarat agar aku diam.
"Mau kah kau berfoto dengan adikku yang polos itu. Sejak di restoran dia selalu memperhatikanmu" Dia tersenyum, dan melangkah mendekatiku. Merengkuhku dengan satu tangan.
Wajahku, wajahku semerah apa sekarang?
"Angkat wajahmu anak nakal, apa kau mau berpose seperti itu" Kang chul sudah siap dengan kamera handphonenya.
Mengangkat wajahku terasa sangat berat, sperti memikul puluhan batu cadas. Apalagi aku harus tersenyum, keadaan ini sangat canggung. "Tersenyumlah, kita harus mendapatkan foto yang Bagus"Dia, dia berbicara padaku.
"Hore.. baru tiga hari aku di sini, aku sudah bisa bertemu dengannya" hatiku bersorak gembira, mengembangkan senyum tulus di wajahku.
Mungkin malam ini aku tidak akan pernah bisa tidur dan terus mengenang masa Indah ini. Rengkuhan yang hangat, senyum menawan itu. Akh.. ingin rasanya aku berteriak "Im happy, Very-very happy" senyumku terus mengembang hingga kami berada di dalam mobil.
"Mungkin saja gigimu akan kering besok"
"Aish, kau begitu suka meledekku,Oppa"
"Apa kau ingin aku mengirim foto ini keponselmu, atau aku harus mengha.. pusnya"
"Oppa" Jeritku sambil merebut ponsel dari tangan Kang chul. "Kau tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis yang ada di negeri ini" dalam tawa dia mengacak-acak rambutku, dan aku masih sibuk mengirim foto-foto itu ke nomerku.
*****
Perlakuan In-ha pada En membuatku malu pada semua janji-janjiku yang pernah ku katakan. Kalau aku akan melindungi En.
Saat makan tadi, aku melihat En yang terus-terusan mencuri pandang ke arah meja nomer lima. Ada seorang Pria dengan wajah yang familiar, mungkin dia publik figur. Apa En menyukainya? Mungkin dia sama seperti gadis-gadis lain yang mempunyai seorang idola.
Ketika aku pergi ke toilet, aku sempat mendengar percakapan pegawai restoran yang mengatakan jika ada Kang tae jon Blue sedang makan tadi di restoran. Pantas saja wajahnya familiar, ternyata di anggota grup boyband Blue. Mereka pernah bekerja sama dengan perusahaanku, mereka adalah ambasador produk kecantikan yang di luncurkan oleh perusahaanku.
Aku melihat En di depan lift, mulutnya seakan-akan meneteskan buliran-buliran air liur. Saat kami masuk kedalam lift dan siap turun ada orang lain yang menerobos masuk. Dia, idol itu. Wajah En bersemu merah dan terlihat malu-malu.
Aku putuskan membantunya mendapat foto bersama idolanya itu. Saat idol itu merengkuh tubuh En, kenapa hatiku terasa tak menerima itu. Ada apa sebenarnya denganku?