
Aish, seperti biasa aku selalu mendengar teriakan In ha di Bakery. Terkadang aku ingin meminta Kang chul untuk memecatnya. Dia terlalu berisik dan terkadang sikap sok berkuasanya itu membuat aku dan yang yang lain tidak tahan. Dia berlagak seperti Ceo di tempat ini.
Ahh, gadis ini benar-benar membuatku hampir gila. Yoo bi, Sean bi, Hwang jung, Ha sung, Cha ok setiap hari dia mengomeli mereka padahal mereka semua bekerja dengan sangat baik. Kali ini In ha berteriak-teriak pada Ha sung, hanya karena Ha sung lupa mematikan kran air.
"Apa yang ada di pikiranmu Ha sung? Kau tau pembayaran tagihan air akan membludak bila kau ceroboh seperti itu" suara cempreng itu
"Cukup In ha. Ini baru kesalahan pertama Ha sung, kau cukup memberitahunya saja. Tidak perlu berteriak-teriak seperti itu" aku memasuki pantry dan melihat Ha sung tertunduk lesu, berulang kali ia membungkuk meminta maaf.
"Jika kita memaafkan satu kesalahan maka akan muncul kesalahan lain" sahut In ha ketus
"In ha, sekarang aku adalah orang yang bertanggung jawab atas tempat ini, untung dan ruginya biar aku yang memikirkan dan mencari jalan keluar. Ku mohon bersikap baiklah pada rekan kerjamu" Aku memandang sengit ke arahnya, dia membalas pandanganku dengan lebih sengit lagi Mungkin kah ia mengajak genjatan senjata?
"Oke. Kau memang yang berkuasa di sini, kau boss nya" In ha melangkah ke arahku dan tak ku sangka ia mendorong tubuhku. Sungguh mengesalkan..
"Kau!! kenapa mendorongku" bentakku. Tak ada ampun nenek sihir, kali ini aku akan menyambut umpanmu dengan baik. Sudah cukup selama ini aku terus-terusan mengalah , kini sikapmu sudah benar-benar keterlaluan nenek sihir.
"Wae? kau tidak terima" dan dia mendorongku lagi. Ketika tangannya bergerak untuk menampar wajahku, secepat kilat aku meraihnya. Memelintirnya kebelakang, dan menghentaknya dengan kuat.
"Akh"
Huhh, kau belum mengenalku dengan baik In ha. Setidaknya pelajari dulu latar belakangku sebelum berulah. "Lepaskan aku bodoh" teriaknya
"Memohon lah, aku bukan tipe orang yang suka di perintah" ku tekan semakin kuat pergelangan tangannya, ia kembali memekik.
"Kau akan menyesal melakukan ini padaku En, cepat lepaskan"
"Sudah ku bilang aku tidak suka di perintah. Jadi memohonlah In ha" semakin ia meronta dan berteriak semakin kuat pula aku menekan pergelangan tangannya. Beruntung kami belum membuka Bakery, tidak ada pelanggan yang akan terganggu dengan keributan ini.
"Akh, kau menyakitiku gadis sialan"
"Kau yang meminta ini In-ha, kau yang memulai" aku akan menanggalkan namaku jika aku melepasnya begitu saja, dia harus memohon padaku. Benar- benar memohon sampai aku luluh dan melepaskannya.
Siapa?
Seseorang menarik tubuhku ke belakang. Membuatku terpaksa melepaskan In ha, aku hanya butuh sedikit keseimbangan saja dan
Bruk... aku memutar tubuhku dan menendang seseorang yang menarikku tadi. Tepat mengenai wajahnya, membuat luka kecil pada sudut bibirnya.
"Hyung" aku terperanjat
"Maafkan aku Hyung, aku sungguh tidak sengaja" Dong sik hanya mengangguk kecil, lalu mengambil sapu tangan putih dari saku celananya, ia menyeka luka di sudut bibirnya.
"Tampaknya kau tidak memerlukan perlindunganku. Kau cukup mahir dan mampu untuk melindungi dirimu sendiri. Terlalu berlebihan jika Sunbae selalu mengkhawatirkanmu"
Dulu memang aku menginginkan dia berbicara karena terlalu sepi saat dalam perjalanan berdua dengannya. Sekarang aku lebih suka dia diam, dia melangkah melewatiku dan menarik In ha keluar.
"Mereka?" aku menatap para karyawan Bakery
"Mereka bersaudara, kakak adik" sahut Cha ok. Saudara? ku pikir mereka berkencan. Pantas saja setelah memperlakukanku dengan begitu kasar, Kang chul tidak memecatnya. Ini juga rupanya alasan sok berkuasanya itu, karena dia adalah adik dari orang kepercayaan Kang chul. Adik dari Hyung kaleng sarden hitam.
*****
"Dia selalu mencari masalah, dia mengusikku" In ha melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya merah padam menahan amarah. Dadanya turun naik tak beraturan.
"Kau tau gadis itu adalah hidup Sunbae, jika kau terus mengusiknya kau akan di pecat dari sana"
"Ini tidak adil" In ha menarik kameja coklat Dong sik. "Aku adalah orang yang selalu bekerja keras untuk kemajuan Bakery, tapi dia malah mengangkat gadis sialan itu sebagai manager. Sunbae benar-benar tidak adil padaku" Dong sik memegang kedua tangan In ha
"Sadarlah In ha. Sunbae sudah banyak menolong kita. Tidak sepantasnya kau mengharapkan lebih. Jika Sunbae tidak mau menolong kita, mungkin saat ini kita adalah gelandangan yang tak tau akan tidur di mana dan makan apa?" di tariknya tubuh In ha kuat-kuat, sebuah dekapan hangat memerangkap tubuh In ha.
"Berdamailah, cobalah untuk berdamai. En, bukan gadis yang rumit, sebenarnya ia ramah dan mudah bergaul. Kau hanya perlu memulainya dan..." In ha melepaskan diri dari dekapan kakaknya itu.
"Dan apa? aku harus jadi pengikutnya. Aku harus mendengarkan semua perintahnya. Ani yo Oppa. Lebih baik aku keluar dari tempat itu dari pada harus menjadi sepatu En" In ha mendorong tubuh Dong sik lalu berlari menjauh.
******
"Annyeong haseyo" ku dengar suara Saen bi menyapa seorang pelanggan, tapi beberapa saat kemudian dia memanggilku. Katanya seorang pelanggan yang spesial ingin bertemu denganku. Aku berjalan ke arah pelanggan itu menungguku. Dia seorang namja, dengan sweater hijau, topi putih, kacamata dan masker.
"Permisi, anda mencari saya" ucapku formal. Pelanggan itu menoleh ke arahku lalu membuka masker dan kacamatanya.
"Tae jon" pekikku tertahan. Ia tersenyum lalu melambaikan tangannya
"Aku merindukanmu penggemar mabukku, itu sebabnya aku kemari" Ya, Tuhan. Dia datang ke sini, tapi dari mana dia tau tempat ini? Apakah kini wajahku semerah tomat?
Aku mengajaknya ke teras yang ada di atap. Di sana ada tempat makan untuk tamu-tamu vip kami. Sebelum naik ke atas aku meminta Ha sung untuk membawakan kami dua jus jeruk dan beberapa roti terbaik.
"Dari mana kau tau tempatku bekerja?" ini kalimat pertama perbincangan kami. Dia tersenyum lalu membuka botol jusnya, meneguknya sesaat.
"Kau yang memberi tahuku saat kita ada di kincir angin raksasa" Tuhan, apa saja yang sudah ku ucapkan saat aku mabuk, dasar payah
"Bisakah kita pergi berdua suatu saat nanti?" aku tak mampu menjawab dan hanya menatapnya saja " Bukan kah kau ingin pergi ke Jeju bersamaku?"
"Apa aku bilang begitu dalam mabukku?" dia mengangguk senyum itu tak pernah lepas dari bibirnya
"Apa saja yang aku ucapkan saat aku mabuk?" dia menggeleng. Meneguk jus jeruknya lagi, memakan sepotong roti, dengan tatapan mata ke arahku. Sanubariku bagai tertembus.
"Kau tak akan menjawab?"
"Bukankah tidak sopan jika aku bicara dengan mulut penuh makanan" kembali ia memakan sepotong roti, aku terpaku dan hanya mampu menatapnya mengunyah habis seluruh roti itu.
"Beri aku nomer teleponmu, aku akan menghubungimu jika aku tidak punya acara. Kita akan pergi ke pulau Jeju"
"Tapi kau harus menjawab pertanyaanku yang tadi" tangan itu mengusap lembut rambut ikalku. "Aku akan memberi tahumu nanti, di sana di pulau Jeju" dia menyerahkan ponselnya padaku. Mau tak mau aku menuliskan nomer ponselku.
"Aku pergi dulu jadwalku padat" Tae jon menepuk pundakku sebelum beranjak. Oh, Tuhan aku melihat punggung itu menjauh lagi.
Hmm, apa saja yang ku ceritakan saat aku mabuk seminggu yang lalu. Aku memang pernah punya angan-angan pergi ke pulau Jeju bersama Tae jon. Apa aku meracau saat aku mabuk? Ahh.. benar- benar memalukan.