Snow In Seoul

Snow In Seoul
JEJU ISLAND



Apa saja yang harus aku bawa, beberapa kameja dan t-shirt. Apa aku perlu membawa stelan jas juga? mungkin aku harus membawa satu, bisa saja nanti aku akan mengajaknya untuk dinner romantis atau yang mirip seperti itu. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama penggemar mabukku itu.


Yupz ..


Sudah siap, semua yang ku perlukan sudah tersusun rapi di dalam koper. Ahh, sebaiknya aku membawa uang cash, aku ingin mengajak En kepasar-pasar tradisional. Gadis itu, apa dia juga merasa bahagia seperti aku? atau mungkin dia sangat bahagia?


Dalam garasi mataku masih sibuk memandang mobil mana yang nanti akan aku pakai. Haruskah aku pakai SUV hitam ini? En, gadis itu penggemar warna hitam. Segera ku masukkan koper ke dalam bagasi mobil. Ku nyalakan mesin mobil, dan segera meluncur menuju apartemen En. Ku harap gadis itu sudah siap dengan kopernya. Sebaiknya aku mengirim pesan kepadanya


"Aku segera tiba, tunggu aku di bawah."


Apa ini?


Apa yang baru saja ku pikirkan?


Ya, Tuhan bagaimana aku bisa memikirkan ciuman hangatnya malam itu?


Padahal saat itu dia sedang mabuk dan mengira aku adalah Yoan suaminya.


Aku hanya berharap ciuman itu bisa terulang, tapi ia harus dalam keadaan sadar. Jika benar itu terjadi, aku yakin akan sangat indah. Meskipun aku dan dia tidak mempunyai hubungan yang jelas, bahkan kami belum benar-benar resmi berteman tapi aku berharap perjalanan ini bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan.


Saat aku masuk ke dalam halaman apartemen, aku sudah bisa melihatnya di sana ia berdiri dengan mengenakan t-shirt putih di padu kameja kotak-kotak merah, celana pendek diatas lutut dengan sedikit robekan sebagai fashion. Sepatu Nike putih tanpa kaos kaki menghiasi kaki pendeknya, lengkap dengan kacamata hitam bertengger di batang hidungnya, di tambah senyum lebar mengembang saat melihatku.


Mempesona...


"Hanya satu koper? " tanyaku, begitu melihat koper yang ia pegang "Biasanya para gadis selalu ribet dengan banyak barang." sambungku lagi.


"Aku ingin berlibur Bung, bukan pindah rumah." sahutnya sambil beranjak masuk ke dalam mobilku.


Oke, Fix. Dia memang berbeda dari semua makhluk yang di sebut perempuan, mungkin dia sebangsa alien yeoppo.


*****


"Berhenti mengulurkan tanganmu keluar" Tae jon melirik kearahku dari balik kaca mata hitamnya.


"Wae? lagi pula ini mobil bukan pesawat, jika aku mengeluarkan tanganku dari jendela pesawat kau baru boleh memarahiku" aku memasang wajah tak acuh, dan masih asyik mengulurkan tanganku menikmati dinginnya angin pesisir laut.


"Kau begitu norak, apa kau tau?."


"Nee, kau tau? Norak adalah nama tengahku." aku tersenyum geli, menutup mulut dengan satu tanganku. Aku melihat ada senyum di sudut bibirmu.


"Jika kau merasa aku ini lucu dan menggemaskan, tidak usah sungkan untuk tertawa." ku kibaskan kedua tanganku di hadapannya. Senyumnya melebar, segera ia meraih tanganku.


"Boleh aku jujur " ia melepas kacamata hitam yang sedari tadi menghiasi wajah tampannya, melihat kedepan lalu menatapku. "Jujur saja, lagipula tidak ada yang akan mendendamu jika kau jujur." ku kedipkan kelopak mata kananku.


"Kau tahu.."


"Ani~ kau belum memberitahuku," potongku asal.


Tae jon menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.


"Kau di mataku begitu sempurna, kau bisa menjelma menjadi seorang ibu yang penuh kasih jika bercerita tentang anakmu. Namun kau juga bisa menjadi gadis yang penuh semangat dan menggemaskan. Kau perfect."


"Jinjja (serius)." aku mengibas-ngibaskan tangan di depan mulutku seperti orang kepedasan.


"E.. kau tidak akan bilang kalau aku sudah mencuri hatimu kan?."


"Entahlah, apa iya sebuah hati bisa di curi?." kau kembali memasang kacamata hitammu, membiarkannya bertengger dengan angkuh di hidung bangirmu. Aku mendengar suara deru ombak, merasakan hembusan angin, menenangkan.


Cukup merefreshkan otakku yang penat. Memikirkan semua tentang Kang chul membuat kinerja otakku ling lung. Kang chul sebenarnya apa yang kau pikirkan? mengapa kau harus membuat rumit keadaan. Bohong jika aku bilang aku tak ingin bersamanya, tapi hanya saja mustahil untukku berada di sisimu. Ku pasang kacamataku, aku tak ingin Tae jon melihat bulir bening yang tiba-tiba jatuh dari bola mataku.


Airmata ini jatuh bukan karena aku sedih akan pengakuan Kang chul. Aku hanya kecewa, kecewa pada sikap tamak Kang chul pada hubungan kami. Seharusnya ia tetap kekeh pada pendirian lamanya, menganggapku sebagai seorang adik, merawatku layaknya saudara. Dia tidak seharusnya mencintaiku, Kini aku bahkan tidak yakin bisa menghadapinya di kemudian hari.


Sanggupkan aku menatap matanya?


Sanggupkah aku bersikap biasa saja dan melupakan isi hatinya. Semua itu membuat kalut, bahkan hingga detik ini aku masih merasa gusar.


"Kau melamun?." aku terkejut dan membuatku sedikit tersentak


"Ani~ aku hanya sedikit mengantuk saja," sahutku mengelak


"Kau mengantuk? yang benar saja?tadi malam kau tidur dengan suara dengkur yang nyaring." dia tertawa renyah, membuat aku tertular untuk tertawa


"Harusnya aku yang mengantuk, karena merawatmu semalaman."


"Kau tidak boleh mengantuk." aku melengos kearahnya


"Wae? aku kan tidak tidur dengan baik semalam" ia membela diri.


"Aku tak ingin mati muda, kau sedang menyetir jadi jangan mengantuk" ku cubit perut bagian sampingnya.


"Auwh Appo(sakit)." kemudian tawa kami kembali terdengar.


Mobil ini akhirnya berhenti di halaman sebuah Villa, Tae jon bilang Villa ini milik kerabatnya. Selama satu pekan Villa ini akan menjadi tempat tinggal kami. Villa dengan dominasi warna putih dan biru laut. Arsitektur Villa ini perpaduan gaya kuno dan sedikit modern, gapura besar terlilit tanaman perdu menyambut kedatangan kami. Ada ayunan yang terbuat dari anyaman rotan di teras Vila, ayunan itu menghadap sebuah taman berisi beberapa bunga-bunga lokal, tanaman itu tertata rapi dan elegan, sepertinya pemilik Villa ini benar-benar tahu cara merawat taman.


Tae jon menurunkan koper dari dalam bagasi mobil, seorang lelaki paruh baya datang dan langsung membantu Tae jon. Lelaki itu membawa koper Tae jon masuk kedalam, sedang Tae jon membawa koperku mengikuti langkah lelaki paruh baya itu.


"Kau ingin kamar yang langsung menghadap ke laut?." aku mengangguk mantap.


Daebak!!


Ini kamarku, membuka jendela dan mendapati hamparan laut biru yang luas sebagai pemandangan utama membuat hatiku takjub terlebih aku dapat membaui aroma khas air laut. Kamar ini sangat sempurna, terlebih aku memiliki kamar mandi dan toilet di dalam. Sekarang aku ingin mandi dan berendam air hangat untuk melepaskan semua lelah saat di perjalanan tadi, juga melepas lelah di dalam hati ini.