Snow In Seoul

Snow In Seoul
MIWO HAEJWOSEO GOMAWO



"Kenapa aku harus berhenti bekerja? aku bisa menghindarinya jika itu maumu" gadis bermata kucing yang tadi sudah hendak pergi mendadak kembali. Ia membuka kacamatanya lagi.


"Kau pikir ia akan menyerah hanya dengan kau menghindarinya?"


"Apa kau bodoh?" kali ini matanya membesar, wajahnya tampak merah padam karena amarah.


"Apa kau bisa menjamin, ia akan berhenti menemuimu hanya karena kau mengacuhkannya"


Kali ini dia benar lagi, ku akui gadis bermata kucing ini sangat mengenal Kang chul. Ia tau dengan detail semua sifat dan sikap Kang chul.


"Jika aku pergi, apa kau bisa menjamin dia tidak akan menemuiku lagi?" ku tatap matanya, yang mirip mata kucing itu. Ini bukan sebuah tantangan, hanya sebuah pemberitahuan. Seperti yang ia katakan, kalau Kang chul tak akan menyerah. Menurutku meakipun aku pergi dari apartemen dan Bakery, Kang chul akan tetap berlari ke arahku


"Aku membencimu" teriaknya lantang


"Miwo haejwoseo gomawo (Terimakasih, karena sudah membenciku). Gomawo karena sudah repot-repot menyisakan ruang di hatimu untuk membenciku" dia menghentakkan kakinya lalu menampar wajahku dengan keras. Aku diam tak membalasnya. Entahlah, hatiku mengatakan jika aku pantas mendapatkannya. Jika aku pikir aku juga egois, bagaimana bisa aku begitu tidak tahu malu dan tak mau pergi dari sisi Kang chul. Meskipun aku tak punya alasan jelas kenapa aku tak mau jauh darinya.


"Jika kau wanita terhormat, kau tak akan terus menempel pada tunangan orang lain" gadis bermata kucing itu benar, padahal aku tak pernah berniat merebut Kang chul dari siapapun, tapi mengapa terkadang di sudut hatiku aku ingin menjadikan Kang chul milikku.


Setelah wanita itu pergi, aku menitikkan air mata. Bodoh, apa yang terjadi padaku?. Bukankah aku selalu menolak perasaan Kang chul, tapi kenapa terasa perih ketika aku di tuntut untuk meninggalkannya.


Sebuah pesan masuk ke ponselku, ku seka airmataku dan melihat isi pesan itu


"Yakk, gadis bodoh. November ini Blue akan mengadakan konser di negerimu. Apa kau akan pulang? aku akan membelikan tiket di penerbangan yang sama untukmu"


Pesan dari Tae jon, selalu saja datang tepat pada waktu yang sulit. Haruskah aku pulang? meninggalkan negeri ini? aku menutup kedua wajahku. Terhanyut dalam rasa bimbang parah, impianku untuk bertemu Kang tae jon sudah tercapai. Bahkan kenyataan yang ku dapat melebihi impianku. Harusnya aku iklas untuk kembali ke negeriku. Aku yakin meski sudah kembali dan menetap di Indonesia, hubunganku dengan Tae jon akan tetap baik-baik saja. Kami bisa saling mengirim pesan atau melakukan video call.


Namun kenapa aku merasa sangat berat meninggalkan negeri terbelah ini. Apa karena Kang chul? aku benar-benar tidak bisa menerka perasaanku sendiri.


"Apakah ini salah satu konser cameback Blue? album 1 and 1 kalian yang akan segera lounching itu?" aku langsung berbicara saat ku dengar telponku di terima.


"Tae jon sedang melakukan pemotretan, ponselnya ada padaku" ku dengar suara asing di seberang sana.


"Kau siapa?"


"Lay" sahutnya, Oh, dia Lay salah satu member Blue. Teman berbagi rap Tae jon.


"Kalau begitu aku akan menelpon lagi nanti" aku bersiap untuk menekan tombol merah "Tunggu" ucapnya cepat " Tae jon sudah selesai"


"Seharusnya kau balas saja pesanku, jangan menelpon kami sedang sibuk untuk persiapan album terbaru kami" kali ini aku mendengar suara Tae jon.


"Aku hanya ingin memastikan saja"


"Periksa Emailmu, aku mengirimmu MV terbaru kami. Kau harus bangga karena menjadi fans yang beruntung" ia tertawa lirih, mendengar suara tawanya cukup mengurangi rasa gundah di hatiku.


Tae jon adalah tipe pendengar yang baik, jika ada masalah dan aku butuh teman curhat. Berbicara dengan Tae jon adalah tempat terbaik. Saat di pulau Jeju pernah suatu ketika aku bercerita panjang lebar tapi dia tidak pernah menyela ceritaku. Saat aku bertanya mengapa ia hanya diam mendengarkan saja. Jawabannya membuat aku tersentuh.


"Aku di besarkan untuk menjadi pendengar. Mendengar dengan baik baru berbicara. Jika kita tidak mendengarkan dengan baik, bagaimana kita akan tau arah sebuah cerita"


Karena itu aku merasa nyaman di sisinya, menyukai semua tentang dirinya. Saat itu kami berada di sebuah lapangan sepak bola. Tae jon mengajakku bermain sepak bola di tengah dinginnya malam pulau Jeju.


"Kau suka berolahraga rupanya" sahutnya sambil mempertahankan bola di kakinya.


"Jika aku tak suka olahraga, aku tak akan pernah bisa bertarung"


Dia tertawa di antara nafasnya yang terengah, "Kau suka sepak bola?"


"Sedikit" sahutku, lalu mengambil alih bola dan segera menendangnya ke arah gawang.


"Goallll..." itu menyenangkan


"Kami harus melanjutkan pemotretan" suara Tae jon dari seberang sana membuyarkan ingatanku pada saat kami berada di pulau Jeju.


"Nae, see you" sambungan telpon ini terputus.


Aku menarik nafas panjang, aku harus membuat keputusan yang tepat. Aku tidak akan pulang ke negeriku.


Aku akan menetap di negeri ini, dan mencari pekerjaan lain. Dua hari lalu ibuku menelpon jika adik bungsuku membutuhkan biaya lebih untuk masuk kuliah. Kurs di sini lebih tinggi dari rupiah, aku harus tetap bekerja di sini untuk keluargaku.


Aku turun ke bawah menemui Yoo bi dan Cha ok yang kini ada di pantry. "Unnie, apa kau menangis?" tanya Yoo bi begitu melihatku.


"Ani~ mataku hanya kelilipan saja" aku pura-pura mengucek-ngucek mataku.


"Gadis yang tadi pergi dengan wajah marah, apa kalian bertengkar" selidik Cha ok


"Sedikit" sahutku pelan, lalu pergi ke kulkas untuk mengambil air. Ku teguk air dingin langsung dari botol.


"Siapa wanita itu?" tanya Yoo bi


"Tunangan Kang chul Oppa"


Mereka terbelalak, bahkan mulut Yoo bi membentuk huruf O sempurna.


"Wae? kenapa tunangan Sunbae menemuimu?" aku tersenyum kecut "Untuk mengusirku, memang untuk apalagi?"


Mereka berdua saling menatap "Kau akan pergi Unnie?" tanya Yoo bi hati-hati


"Tolong rahasiakan ini, aku masih waktu untuk berfikir" ku tinggalkan dua gadis baik itu di pantry.


Aku keluar menemui Ha sung yang sedang menata roti di rak diskon.


"Cha ok unnie, apa kau satu pemikiran dengan ku?" tanya Yoo bi


"Dia pasti pergi" sahut Cha ok, kemudian dia menarik nafas dalam-dalam "Aku tau bagaimana sikap En, meski kami kenal belum lama. Dia pasti pergi" mata Yoo bi berkaca-kaca, mendengarkan pendapat Cha ok, yang kebetulan sama dengannya.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Diam, kita hanya bisa diam dan melihat" sahut Cha ok bijak