
Saat di tengah jalan aku bertemu dengan ibu ibu yang mengantarkan anaknya dan lagu lagi di tanya dengan hal yang sama.
" Mbak Difa itu siapa lagi mbak?" ucap salah satu ibu ibu itu yang menghentikan langkahku dan sementara Andrian terus berjalan menuju mobilnya
" oh itu ayahnya Rian"
" trus yang kemarin siapa? selingkuhan?"
dan pastinya ucapannya pedes banget dan langsung ke intinya lagi.
" Itu bos restoran tempat saya bekerja, jadi ibu ibu salah menuduh saya, saya permisi!" ucapku langsung meninggalkan mereka. Lalu di ladenin ya panjang nanti acaranya. Saat aku sampai di mobil Andrian aku melihat Andrian masih belum masuk ke mobilnya.
" Anda saya antar ke restoran tempat anda bekerja," ucap Andrian dengan sopan
" terserah"
beginilah keadaan kita berdua jika tidak ada Rian, canggung. Kalau ada Rian, Rian yang selalu mencairkan suasana di antara kita. Aku pun masuk ke mobil Andrian dan Andrian langsung melajukan kendaraannya.
" Rencananya aku mau memindahkan sekolah dan tempat tinggal Rian"
" emangnya ada apa dengan tempat tinggal dan sekolah Rian, gak baik gitu"
" bukan begitu saya ingin Rian bersekolah seperti saya dan lingkungan sekitar yang sama seperti saya waktu kecil"
" gue gak setuju, Rian udah nyaman kok dengan lingkungan seperti ini"
" Jika Rian tinggal di lingkungan seperti itu maka Rian tidak akan mengetahui jati dirinya"
apa yang di kata Andrian ada benarnya Rian dan lingkungan yang sekarang itu jauh berbeda. Lingkungan yang Rian tempati sekarang itu bukan lingkungan Rian yang sebenarnya dan dia mungkin akan menjadi CEO selanjutnya di perusahaan Andrian.
" Ya udah terserah"
kalau itu yang terbaik buat Rian dan aku akan melakukan segalanya yang terbaik untuk putraku itu. Setelah itu keheningan terjadi diantara kita.
" Terimakasih," ucapku sebelum keluar dari mobilnya
" nanti bawahan saya yang jemput anda," ucap Andrian yang menghentikan aku saat mau membuka pintu mobil
" gak usah gue punya motor," ucapku dan setelah itu keluar dari mobilnya
dan tidak menunggu sampai mobil Andrian pergi aku langsung berjalan menuju restoran. huh akhirnya aku bisa bernafas lega, bayangkan dari semalam aku harus memasang muka cuek dan dingin agar dinding yang aku bangun tidak runtuh karena aku itu tipikal orang yang mudah jatuh cinta apa lagi orangnya kayak si Andrian. Dan jika itu terjadi aku hanya memiliki kemungkinan kecil bisa bersama Andrian walaupun ajakannya yang kemarin. Aku juga tau kemarin pasti Andrian mengatakan itu tanpa ada rasa cinta. Dan aku tidak mempercayai bahwa rasa cinta akan tumbuh dengan seiring waktu. Jika itu terjadi pada hubunganku dan Andrian pasti yang jatuh cinta hanyalah diriku Karena, sepertinya Andrian sangat mencintai ibu kandung dari Rian hingga ia rela melakukan segala cara untuk bersama, membahagiakan dan bahkan sampai mencari Rian segitunya, mungkin banyak kenangan yang tersimpan di dalamnya. Aku tidak mau tersakiti seperti ibuku waktu dulu oleh ayahku dan itu berdampak pada anak anaknya, khususnya pada diriku. Aku tidak mau Rian maupun anakku di masa depan mengalami hal yang sama yang aku alami waktu kecil dulu korban dari broken home.
Saat aku memasuki restoran, aku langsung di kelilingi banyak karyawan restoran yang semuanya menanyakan siapa orang tadi yang mengantarkan aku dengan mobil mewah dan sepertinya mobil tadi bukan milik pak Rehan.
untunglah ada mbak Tami yang menyelamatkan aku dari kejaran wartawan kepo itu, salut buat mbak Tami. Gak di apartemen, di sekolahnya Rian dan bahkan sekarang di restoran, banyak saja orang orang yang mau mengetahui kehidupan pribadiku, serasa seperti selebriti aja aku.
ucap Mbak Tami mendekat ke arahku
e alah mbak Tami ku kira cuma mbak Tami yang gak mau ngurusin masalah pribadiku, tapi emang sih biasanya aku yang cerita duluan sama mbak Tami. Dia kan teman curhatku setelah si Reta.
" Oh tadi, itu ayah kandungnya Rian"
" jadi kemarin kamu itu gak sakit, gimana ibu kandungnya Rian kamu ketemu sama dia?"
" maaf saya menguping pembicaraan kalian, tapi apa maksud mbak Tami tadi ya? ibu kandungnya Rian? Difa?" ucap pak Rehan yang tiba tiba berada di sampingku dan menghadap ke arahku
eh pak Rehan, kirain pak Rehan itu orangnya cuek dan gak peduli keadaan sekitar. Tapi baru kali ini loh pak Rehan ikut campur urusan pribadi orang.
" Itu si Rian bukan anak kandung Difa, Difa nemuin dia di tempat pembuangan sampah dan sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiriā¦" ucap mbak Tami menceritakan tentang semuanya
" betul itu Difa?" ucap pak Rehan dengan berbinar
ada apa sih orang ini apa jangan jangan dia salah makan atau mungkin salah memilih minum obat lagi. Tadi aja di apartemen ekspresi wajahnya gak enak buat dilihat masak sekarang berbinar kayak gitu cepat amat perubahan moodnya.
" Iya pak, bener"
" ya udah saya permisi dulu, nanti saya antar kamu jemput Rian," ucap pak Rehan meninggalkan kami yang mematung
" kenapa ya pak Rehan?" ucap mbak Tami bingung dengan melihat kepergian pak Rehan
" aku juga gak tau mbak," ucapku yang sama bingungnya
" sepertinya pak Rehan suka sama kamu deh!" ucap mbak Tami menghadap ke arahku
" gak mungkin lah mbak"
ya ya lah pak Rehan itu baik mapan dan juga tampan lagi pasti ribuan wanita yang mau nikah sama dia. Dan pastinya kelasnya itu tinggi tinggi kalau dibandingkan dengan aku jauh banget. Apa lagi kalau pak Rehan sampai memilihku ya itu gak mungkin banget. Apa yang menarik pada diriku muka aja pas pasan, duit aja gak punya, yang aku itu hutang dan cicilan yang menumpuk belum aku bayar. Kenapa sih banyak orang menganggap pak Rehan suka sama aku, heran aku.
" Kamu itu, kamu gak lihat tadi pak Rehan, pak Rehan itu gak pernah suka ikut campur urusan orang lain, pengecualian kamu! kamu masih gak peka," ucap mbak Tami menyindirku dan aku hanya mengedipkan mataku masih gak paham apa yang dimaksud mbak Tami. mbak Tami hanya mengembuskan napas pasrah meninggalkan aku begitu aja. Aku hanya diam termenung memikirkan yang di katakan mbak Tami. Apa aku selama ini gak peka ya? dengan perhatian khusus yang di berikan pak Rehan kepadaku.
" Mbak Difa!" ucap Tina mengagetkan aku
" ngagetin aja kamu Tin"
" eh e mbak ngapain ngelamun aja, nanti pengunjung keburu datang"
oh iya aku di sinikan untuk bekerja bukan memikirkan masalah pribadiku. Aku melihat jam di dinding restoran yang menunjukkan bahwa restoran sebentar lagi buka. Aku langsung menuju ruang ganti mengganti bajuku dan mengerjakan tugasku.