Single Perents

Single Perents
bagian 18



Suldah satu Minggu tidak ada kabar dari Andrian, setiap hari bahkan setiap jam Rian selalu menanyakan keberadaan ayahnya. Sudah aku coba menelpon tapi handphonenya tidak aktif bahkan aku kirim pesan gak pernah di jawab. Kemana sih dia walaupun sesibuk apapun pekerjaannya disana seharusnya kirim pesan kek kalau gak ada waktu bisa telpon meski hanya satu kali, kasian Rian, dan juga aku.


" Unda unda, " ucap Rian menarik narik bajuku


" iya Rian, " ucapku jongkok sambil memegang bahu Rian


" kapan papa ulang unda? "ucap Rian dengan wajah sedih


" sebentar lagi Rian, " ucapku menghibur Rian, agar Rian tidak sedih


" benelan unda? " ucap Rian gak percaya


" iya Rian, ayo kita lanjutkan mainnya! " ucap mengajak Rian min lagi di ruang tempat biasa Rian main. Setelah cukup lama bermain.


" unda unda Ian lapel! " ucap Rian dengan memegang perutnya


" Rian laper? "


" iya lapel anget! " ucap Rian sambil mengembangkan pipinya yang membuat gemas melihatnya hingga mencubit pipinya.


" Unda akit unda! "ucap Rian yang membuatku melepaskan cubitanku dari pipinya dan Rian langsung mengelus elus pipinya.


" masih sakit Rian? " ucapku bersalah dan ikut mengelus pipinya


" Udah dak cakit lagi unda, "ucap Rian dengan tersenyum manis, aku mengacak ngacak rambutnya


" ayo! " ucapku menggandeng tangan Rian


" ayo! " ucap Rian dengan semangat dan kami pun pergi ke dapur. Rian duduk di depan bar dapur sementara aku masak telur untuk Rian.


" Biar saya aja nyonya, " ucap mbok Surti melarangku


" gak usah mbok ini cuma masak telur doang buat Rian, " ucapku meyakinkan mbok Surti


" beneran nyonya? " ucap mbok Surti gak percaya


" iya mbok! "


Aku kembali melanjutkan masak telur, sementara mbok Surti menemaniku sampai selesai masak. Sebegitu kawatirnya sampai segitunya, tenang mbok aku ini pakarnya dalam hal masak memasak. Banyak pengalaman yang sudah aku lakukan, mulai dari masak telur, masak mie instan, sampek sampek aku jago masak air, hebatkan. Dulu pernah terbesit di kepalaku bahwa aku mau jadi chef tapi, berhubung ibuku gak ngizinin katanya sih masakanku itu terlalu enak jadi percuma kalau belajar masak lebih baik meningkatkan potensi di bidang akademik. Sampek segitunya kan ibuku memujiku, jadi gak ada yang perlu dikawatirkan karena aku adalah ratunya kalau soal dapur. Setelah selesai masak aku memberikan telur itu ke Rian dan saat aku berbalik ternyata Rian nya gak ada. Aku pun pergi mencarinya, sebelum pergi menaruh piring itu di dapur.


" Rian! Rian! " teriakku memanggil Rian


Saat di ruang tengah aku mendengar kebisingan di ruang tamu, Apa mungkin itu Rian? dengan penasaran aku menuju ruang tamu. Dan saat di ruang tamu tiba tiba Rian berlari dan bersembunyi di belakangku, dan tak lama setelah itu ada seseorang wanita yang mengejar Rian.


" dak mau Ian maunya cama unda! " teriak Rian


tunggu dulu ini drama apaan sih, terus nih orang siapa? enak aja datang datang ngaku ngaku mamanya Rian, woy aku ini ibunya Rian bukan dia! Aku memutar tubuhku dan menyesuaikan tinggi badanku, Rian pun langsung memelukku sambil menangis, yang membuat tambah bingung, aku menenangkan Rian terlebih dahulu sebelum menanyakannya.


" Jagoan bunda kenapa nangis sih? anak laki laki itu gak boleh cengeng! katanya Rian kalau sudah besar mau ngelindungin bunda? " tanyaku saat Rian mulai tenang, melepaskan pelukanku dan mengusap air matanya.


" ibunya Ian cuma unda! Ian gak mau, maunya cama unda! " teriak Rian kembali menangis dan aku pun kembali memeluknya


" Selena? " ucap Andrian yang membuat menengok ke arahnya, ' dek' aku melihat Andrian dan di sebelahnya ada Adi yang membawa koper


" honey! " ucapnya manja bergeliat di tangan Andrian yang membuat tersenyum miring. Kenapa ya ada pelakor yang seperti itu.


" Ada apa hem? " ucap Andrian lembut sambil menghapus air matanya


" honey Rian gak mau sama aku, " ucapnya manja


" sabar ya Selena biar aku yang ngurus Rian! " ucap Andrian dengan bahasa no formal.


Oh my God aku geli sendiri liat interaksi antara mereka, kalau lama lama begini bisa ngerusak mataku, waktu Difa bertindak.


" Rian! " teriak Andrian yang membuat Rian semakin ketakutan, aku gak pernah liat Andrian berteriak ke Rian sebelumnya, karena Andrian selalu menggunakan nada halus saat bicara dengan Rian, entah apa yang merasukimu Andrian!


" Itu ibu kamu Rian jangan seperti ini Rian! kasihan dia! " ucap Andrian dengan nada yang merendah yang membuat tersenyum miring. Ibu apanya yang berusaha menyalahkan anaknya dengan semua perbuatan yang dia lakukan, emang bener sih aku gak tau kejadian sebenarnya tapi, aku percaya sama Rian, Rian tidak akan pernah melakukan itu, apa lagi gak hormat sama orang yang lebih tua, itu bukan karakter Rian banget.


" uuh dramanya sedih banget! sampai sampai ngebuat gue terharu nih! gara gara drama kalian putra gue jadi nangis juga kan? " ucapku dengan nada mengejek dan mengelus rambut Rian. Itulah jika seseorang ibu bertindak untuk membela putranya.


" Kenapa anda seperti ini! jika Anda terus terusan membela Rian itu akan merusak karakternya! " ucap Andrian tergesa seperti biasa mengguna bahasa formalnya


" apa yang kalian tau hah! gue yang ngebesarin dia! gue yang nyukupi dia walaupun dengan perekonomian gue yang buruk, gue harus kerja, kuliah dan ngerawat Rian di waktu bersamaan! yah memang benar Rian bukan anak kandung gue, tapi dia sudah menjadi belahan jiwaku, nafasku, jantungku dan hidupku! " ucapku marah dan tanpa sandar air mataku mengalir deras dan menggandeng tangan Rian dan membawanya masuk ke kamar tanpa memedulikan panggilan Andrian. Sesampainya di kamar aku memeluk Rian dan air mataku kembali mengalir. Entahlah kenapa aku menjadi emosional seperti ini sih! seharusnya kan aku gak peduli dia sama siapa? ngapain aja? Apa mungkin aku kecewa gara gara gak ngabarin selama seminggu ini dan eh datang datang malah bawa perempuan. Dan yang paling mirisnya yang ia bawa adalah cinta pertamanya plus ibu kandungnya Rian. Sekarang adalah hari paling aku takuti dimana Rian bertemu dengan ibu kandungnya.


" Unda, unda angis? " ucap Rian kuatir


" gak Rian bunda gak nangis, " ucapku ngelak dengan menghapus air mataku, dan kemudian melepaskan pelukanku.


" Rian jujur sama bunda, apa Rian tadi gak sopan sama wanita itu? " ucapku lembut karena anak anak seusia Rian itu emosional jadi gampang banget tersentuh hatinya, kalau aku memarahinya dengan nada tinggi maka dia akan sulit diatur saat besar nanti dan jadi anak yang pembangkang.


" Benelan unda Ian tadi melakukan hal yang diajali unda, " ucap Rian dengan polosnya


" Tapi kenapa tadi Rian teriak teriak? " ucapku dengan nada yang sama


" Ian gak telima katanya unda bukan ibunya Ian dan nanti unda ninggalin Ian, kalau Ian akan tinggal sama dia unda! " ucap Rian dengan mata berkaca kaca dan akhirnya kembali menangis lagi