
Sesampainya di taman hiburan aku mengajak Rian mengantri membeli tiket dan setelah itu kami pun masuk dan tentunya dengan mengantri. Rian pun langsung berteriak dengan girangnya ' unda liat itu unda, unda Ian mau naik itu, unda Ian mau makan itu, unda Ian mau ke sana unda ' itulah kata kata yang dari tadi Rian katakan. Aku akui aku kewalahan ngurus dan mengejar Rian dari tadi, aku membelikan Rian es krim dan duduk sebentar untuk mengistirahatkan tubuhku. Dan tiba tiba Rian berlari dan berteriak memanggil ayahnya. Saat aku menoleh aku melihat sosok Andrian yang sedang menggendong Rian dengan di dampingi pria berkacamata yang bertemu denganku di perusahaan Andrian dan mungkin dia asisten pribadinya Andrian. Kok bisa tau ya dia aku di sini taman hiburan ini kan luas dan kadang aja ada orang yang kehilangan anaknya,tidak tau pintu keluarnya berada di mana atau bahkan tidak tau letak toiletnya. Dan dimana pak Rehan kok gak nyusul?
" Papa ini ciapa?"
" oh ini om Adi, temannya papa," ucap Andrian dengan lembut
" hai Rian, kamu mirip sekali sama papamu," ucap Adi melambaikan tangannya
" makaci om tapi Ian lebih milip unda," ucap Rian yang membuatku terharu
" dimana pak Rehan?" ucapku saat mereka sudah berada di depanku
" saya tidak tau"
" kan terakhir sama e lo, masak lo gak tau sih," ucapku yang di gubris sama dia dan malah pergi begitu saja bersama Rian
" ayo bu Difa," ucap Adi asisten pribadi Andrian
" apa gue se tua itu sampai lo panggil bu dan gue minta maaf soal kemarin bentak lo"
dan kata dia, Dia udah terbiasa di bentak bentak kayak gitu, jadi ya gak di ambil hati. Apa mungkin si Andrian itu sekejam itu sampai asistennya terbiasa dengan bentakan. Dan akhirnya ada yang membantuku mengurus Rian jadi sedikit lega aku. Rian mengajak naik roller coaster tapi tidak sesuai tinggi badannya jadi akhirnya dia menaiki roller coaster mini bersama ayahnya dan gak muat untuk tiga orang. Aku hanya menunggu di bawah dengan Adi berbincang bincang menceritakan menceritakan kehidupannya dulu waktu kecil di kampung bersama neneknya sebelum pindah ke kota ini setelah neneknya meninggal dunia. Tak terasa Rian sudah ada di sampingku setelah puas menaiki roller coaster mini itu.
" Unda unda kita naik itu unda," ucap Rian menarik narik bajuku dan menunjuk komedi putar
" iya, Rian kan sudah ada papa," ucapku dengan nada lembut dan menyesuaikan tinggi badanku dengan Rian
" dak mau, Ian maunya cama unda dan Papa"
" Rian," ucapku meyakinkan Rian
bukanya aku gak mau tapi, aku selalu pusing atau bahkan muntah muntah setelah menaiki komedi putar. Rian pun sudah melipat wajahnya dengan bibir bawah cemberut. Aduh jika kayak gini tandanya Rian akan segera menangis dan akhirnya aku menuruti keinginan Rian. Rian naik bersama Andrian sementara aku berada di sampingnya. Adi? Adi tidak mau ikut katanya sih untuk berjaga jaga jika terjadi sesuatu. Setelah dua putaran Aku pun sekarang sudah merasa pening di kepalaku dan pandangan mulai kabur dengan perut yang mulai mual, Tubuhku sudah mulai lemas.
" Anda tidak apa apa?" ucap Andrian melihatku yang sudah dengan keadaan lemas dan wajah yang pucat. Dan kemudian dia menelfon Adi untuk segera menghentikan komedi putarnya. Dan setelah komedi putarnya berhenti aku turun, aku mulai limbung dan untungnya dengan sigap Andrian menangkapku dari belakang dan mendengar keributan di sekelilingku. Andrian menepuk pipiku sambil memanggil namaku dan mendengar Rian yang menagis di sampingku, itulah yang aku dengar terakhir kali sebelum aku menutup mataku. Saat aku membuka mataku, aku melihat ruangan yang bernuansa putih dan aku menoleh ke arah kiri, aku melihat Rian yang berada di sampingku dan juga ada Andrian.
dan Andrian pun segera berlari memanggil dokter untuk memeriksaku. Dokter itu mulai memeriksaku.
" Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
what? istri? sejak kapan dia menjadi suamiku?
" istri bapak baik baik saja, dia hanya pingsan biasa dan boleh pulang setelah infusnya habis," kata dokter itu dan setelah itu pergi
" un unda maapin Ian gala gala Ian un unda cakit," ucap Rian yang mulai menangis lagi
aku pun duduk dengan di bantu Andrian, jarak di antara kami terlalu dekat yang membuat jantungku berdetak kencang. Aduh situasi apa ini mudah mudahan Andrian tidak mendengarnya. Setelah itu aku mengelus rambut Rian untuk menenangkannya.
" Sudah Rian, bunda gak apa apa kok kan katanya pak dokter tadi bunda sudah boleh pulang setelah infusnya habis," ucapku menenangkan Rian dan tangisannya Rian pun mulai mereda
ini adalah kejadian yang paling parah yang aku alami setelah menaiki komedi putar dan gara gara aku Rian tidak menikmati permainannya dengan puas. Maaf bunda Rian. Rian mencoba untuk naik ke atas ranjanngku, kemudian di bantu Andrian duduk di tepi ranjanngku. Rian pun langsung memelukku dan aku pun langsung membalas pelukannya. Setelah infusku sudah habis kami pun segera pulang, aku di bantu Andrian berdiri dan membantu berjalan menuju parkiran, maklum lah aku masih lemas jadi gak bisa jalan sendiri dan Rian berada di sampingku. Jantungku mulai berdetak kencang lagi, kenapa lagi dengan jantungku ini? tolonglah jantung berkerja sama denganku. Jangan bilang aku suka sama dia, yang benar aja Difa masak cuma di perhatikan dan diberi sentuhan sedikit aja udah membuatmu suka sama dia sih dan tanpa aku sadari sudah sampai di parkiran rumah sakit. Andrian membantuku masuk ke mobil. Di dalam mobil sebelum berangkat Andrian memasangkanku sabuk pengaman dan jantungku berdetak kencang lagi lama lama kalau begini terus ya bisa bisa aku pertahanan yang aku bangun selama ini bisa runtuh atau lebih fatalnya bisa sakit jantung, uh mengerihkan sekali. Dan baru setelah itu memasangkan sabuk pengaman untuk Rian. Sekitar jarak satu kilometer mobil kami melewati taman hiburan tadi. Oh ya dimana Adi saat di rumah sakit aku tidak melihatnya. Loh kok bukan jalan yang menuju apartemenku ya?
" Kok arahnya ke sini?"
" mulai sekarang kita akan tinggal di apartemen baru yang sesuai dengan lingkungannya Rian dan soal barang barang anda dan Rian semuanya sudah diatur sama Adi," ucap Andrian panjang lebar
oh jadi si Adi itu di suruh sama Andrian memindahkan barang barangku dan Rian ke apartemen yang baru.
" Yeah kita pindah lumah balu, yeah, yeah" ucap Rian berteriak kegirangan
" Tunggu dulu, kita?"
" iya saya, anda dan Rian, dengan keadaan anda yang lemas seperti itu tidak akan bisa menjaga Rian"
ya juga sih aku gak akan bisa jaga Rian dengan keadaan ini dan berarti aku harus tinggal satu atap lagi dengan Andrian dan setelah itu tidak lagi percakapan di antara kita. Mobil kami pun masuk di area perumahan elite dan ya disana banyak sekali rumah rumah yang mewah dan juga lingkungan yang asri yang membuat indah di pandang mata.