Single Perents

Single Perents
bagian 27



Dan aku pun turun, tanpa sepatah kata pun tiba tiba Andrian menarik tanganku.


" Kita mau kemana sih! " ucapku yang penasarandan kesal sih karena kejadian tadi di mobil. Dan ya! dia tidak menjawabnya, hanya diam, berjalan dan menggandeng tanganku.


" Kita mau ngapain jauh jauh kesini? " ucapku pantang menyerah yang disebabkan kekepoa. Ya ya lah gimana gak kepo masak iya ke pantai harus memakan waktu sekitar dua jam setengah, jauh banget kan? padah di kota kan juga ada pantai, ngapain cari jauh jauh. Terus apa tujuannya bawa aku ke sini, aku akui sih sebenarnya aku menyukai pantai, dulu waktu kecil hampir setiap hari libur aku selalu di ajak orang tuaku ke pantai, sebelum perceraian orang tuaku panstinya! setelah itu aku selalu datang ke pantai setiap akir pekan menunggu orang tuaku bersama nenek dengan memandangi batu karang besar yang berada di tepi pantai. Karena mereka sudah berjanji akan selalu datang bersama menemaniku di pantai setiap pekan walaupun mereka tidak bersama lagi. Tapi ternya itu tidak terjadi, aku dengan naifnya menunggu sampai malam dengan nenek, tapi mereka malah tidak kunjung datang dan gam pernah datang! Mereka sudah melupakan aku dan memulai hidup barunya. Sejak nenek meninggal aku tidak pernah ke pantai lagi dan mulai membenci pantai. Dan akhirnya kita pun sampai di suatu tempat seperti restoran yang berada di pinggir pantai dan restoran ini sama sekali tidak ada pengunjung. Dari sini kita bisa melihan pemandangan pantai dengan nelas tanpa merasakan teriknya matahari.


" Kenapa ke…" ucapanku yang terpotong oleh dia


" sembentar, aku mau mengambil sesuatu, kamu duduk dan tunggu di sini! " ucapnya setelah memasang wajah kaget, mungkin dia lupa akan sesuatu, apa jangan jangan lupa nelpon si Selena, mangkaknya dia kaget sampai segitunya. Aku pun kemudian mengalihkan pandanganku dari Andrian dan melihat pemandangan pantai. Kalau dilihat lihat sepertinya pantai ini gak asing, kayam pernah ke sini deh! tapi kapan? dan akhirnya pandangan jatuh di batu karang besar yang berada di tepi pantai. Batu karang itu? apakah ini pantai yang dulu sering aku kunjungi? Saat melihat batu karang itu, tidak terasa air mataku menetes larena mengingat masa masa itu!. Saat aku merenung cukup lama, aku mendengar suara laki laki yang aku kenal, ternyata benar pak Rehan sedang berbicara dengan salah satu karyawan restoran ini, aku pun langsung menghapus air nataku dan menyapa pak Rehan.


" Pak Rehan! " teriakku ke pak Rehan


" eh Difa? " ucap pak Rehan tidak percaya dengan apa yang lihat. Dan aku pun menghampiri pak Rehan buat membuktikan bahwa aku itu Difa. Setelah aku menghampiri pak Rehan, karyawan itu meninggalkan kita berdua


" pak! giman kabarnya pak? " ucapku dengan antusias, karena sudah lama tidak bertemu pak Rehan.


" ba ik, kalau kamu gimana kabarnya? " ucapnya dengan tersenyum


" ya baik lah pak! " ucapku sambil tersenyum juga


" gimana kabar Rian? suamimu? " ucap pak Rehan yang dengan senyum yang memudar


" oh baik baik saja mereka, " ucapku santai


" oh ya gimana kabar mbak Tami Tina dan karyawan lain? " tanyaku karena sudah lama gak ketemu mereka


" baik baik saja, mereka rindu banget sama kamu! kenapa kamu gak pernah berkunjung ke restoran? " ucap pak Rehan


" sukurlah kalau mereka bauk baik saja. Ya! maaf pak, aku sekarang sangat sibuk! jadi gak sepet berkunjung! dustaku, sebenarnya sih aku lupa sama mereka bukan gak sempet. Kedengaranya sih jahat, tapi memang itu kenyataanya. Karena selama ini aku sibung memikirkan diriku dan masalah di rumah yang gak kunjung usai dengan keberadaan Selena yang menghantui.


" Lusa mungkin pak aku ke sana, " lanjutku


" bapak di sini ngapain? " tanyaku sekali lagi. Banyak nmbangetkan yang aku tanyakan, ya! namanya aja penasaran daripada nanti kepikiran.


" Oh gak ada cuma liburan doang! buat refresing " ucap pak Rehan santai


" sama siapa pak? " ucapku kepo, ya mungkinkan pak Rehan udah punya gandengan.


" kamu di sini sama siapa? " tanya pak Rehan sambil melihat ke arah belakangku.


" Dia sama saya! " ucap Andrian tegas dengan menggadeng tanganku. Aneh banget dia, padah dari tadi aku melihat ke sana, kenapa aku gak lihat Andrian datang ya! serem banget orang ini lama lama. Kayak hantu datangnya gak kelihatan dan langkah kakinya juga gak kedengeran.


" Ayo sayang! " uacap Andrian menarik tanganku menjauh dari pak Rehan dan menuju parkiran. Saat di dekat tong sampah, Andrian membuang buket bunga yang di bawanya yang tidak aku sadari sejak tadi dan yang terpentingnya bunga itu adalah bunga kesukaanku.


" Loh kok di buang sih! " ucapku mau mengambil bunga yang dibuang Andrian tadi dan dihentikan Andrian. Dan tanpa sepatah katapun dia kembali menarikku tangaku menuju mobilnya. Kemudian membukakan pintu mobilnya untukku, memutari mobil dan menyusul aku masuk.


" Kenapa pulangnya cepet banget padahal gue belum makan loh! " ucapku berusaha santai padahal udah panas rasanya! sampai sampai AC mobil gak kerasa dingin. Karena dari tadi aku bicara gak pernah dijawab jawab. Dan sekarang juga gak dijawab lagi dan fokus menyetir mobil. Setelah lama kita berkendara perutku keroncongan minta makan, karena sekarang udah masuk jam makan siang. Oh ingat ingat makan siang, jadi ingat Rian, siapa ya? yang jemput Rian.


" Oh ya siapa yang jemput Rian? " tanyaku dengan nada agak kawatir kalau Rian gak ada yang jemput dan nunggu di depan gerbang sendirian, terus di culik sama orang gimana?


" Adi yang jemput, " ucap Andrian singkat


" oh syukurlah, " ucapku lega setelah mendengar kata kata dari Andrian. Setelah itu kesunyian melanda kita berdua.


" Aku lapar! " ucapku dengan nada rendah dan aku yakin dia mendengarnya, tapi dia tidak menjawab dan menggubeisnya.


" Aku bilang aku lapar! " ucapku berteriak


" kenapa gak dijawab sih? " ucapku dengan emosi. Entahlah lama lama kalau aku ersama dia bisa bisa kena darah tinggi atau lebih parah kena strok.


" Apa yang kamu bucarakan sama mantan bosmu itu? " ucap Andrian pada akhirnya, tapi sayangnya dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah balik bertanya.


" Aku kan bertanya kenapa… " ucapku yang terpotong oleh ucapan Andrian


" Apa yang kamu bicarakan dengan Rehan? " ucapnya dengan nada tinggi dan penuh penekanan yang membiatku bergidik ngeri, apalagi dengan ekspresi wajahnya itu.


" Cu cuma tanya kabar doang! " ucapku berusaha netral


" tapi kenapa senyum senyum tadi! " ucapnya dengan nada yang sedikit menurun dan dengan penekana dikata senyum senyum.


" Kan aku bahagia mendengar kabrnya baik baik saja sama temanku temanku yang di restoran, itu aja! " ucapku yang mengalihkan pandanganku dari Andrian karena takut melihat ekspresinya yang menyeramkan itu. Setiap marah dia selalu mengerihkan, maka dari itu aku selalu berusaha agar dua tidak marah. Tapi pertanyaanya sekarang ' apa yang aku lakukan sehingga membuat dia marah? '