
Aku pura pura tidak melihat kejadian itu dan berjalan melewati mereka bersama dengan Reta dan Rian tanpa menengok sekalipun ke arah mereka. Daripada merasa kesal melihat kebersamaan mereka yang sangat harmonis, lebih baik tidak melihatnya. Iri? Jelas! Jelas aku iri dengan orang yang namanya Sa Sati eh buakan! Sa Sari! Ya Sari! Aku sangat iri dengan Sari, karena orang tua mas Rehan menyukai dan bahkan mengingankat dia menjadi menantunya daripada aku.
" Bunda! Bunda! Itu bu Sari sama om Rehan! " ucap Rian menunjuk ke arah mereka. Bu Sari? Jangan bilang itu bu Sari gurunya Rian di TK? Guru yang menjadi teman curhatku? Aku melihat ke arah mereka dan ternyata benar! Dia adalah gurunya Rian. Seketika itu, rasa kecewa dan menyesal hadir.
" Itu! " ucap Reta menunjuk ke arah bu Sari
" iya! Ibu Sari! " teriak Rian antusias yang membuatku terkejut dan spontan ingin mebawa Rian pergi. Tapi sayang, dia lebih dulu menjawab sapaan dari Rian.
" Rian? " ucap bu Sari. Waduh! Aku terjebak dalam masalah dan kecanggungan. Mata mereka tertuju pada kita. Rian megandeng tanganku dan mengajaku bertemu mereka. Akumenatap mata Reta dengan tatapan memohon, tapi tetap saja Reta tidak peka. Dia hanya berdiri memaku disana. Aku bersalaman dengan orang tuanya mas Rehan dan seperti biasa ibunya tidak mau memberikan tangnanya. Sebenarnya aku sudah tidak tahan dengan perlakuan ibunya mas Rehan, tapi mau bagaimana lagi aku harus menahannya demi mas Rehan. Hanya ini saja yang bisa aku lakukan untuk membalas semua kebaikan mas Rehan padaku. Tanpa disuruh Rian mencuim tangan mereka.
" Pintar sekali! Pasti ini didikan bu Sari ya? " ucap ibunnya mas Rehan menyindirku, seakan akan aku tidak mendidik hal hal baik ke Rian.
" Tidak bu, saat pertama masuk sekolah dia sudah menerapkan kebiasaan itu dan pastinya hal itu diajarkan bu Difa, " ucap bu Sari membelaku. Bu Sari memang orangnya sangat baik hati, sopan dan ramah. Jauh berbeda jauh denganku yang urakan.
" Pasti diajarkan guru di sekolah sebelumnya, " ucapnya lagi yang tidak percaya bahwa aku yang mengajari Rian sopan santun sebelum masuk sekolah. Benar ternyata, kalau orang sudah tidak suka atau membenci seseorang sekalipun dia melakukan beribu ribu kebaikan, tetap saja memandang dari sudah pandang lain dan menganggapnya sebuah kesalahan. Aku hanya diam saja tanpa berniat membalas ucapannya yang pasti dapat merumitkan suasana. Setelah itu suasana menjadi canggung antara aku dan bu Sari. Ternya orang selama ini dia bicarakan adalah Rehan ini, bukan Rehan orang lain yang merupakan cinta masa kecilnya sampai sekarang yang tidak memudar. Sekitar dua puluh tahun dia mencintai mas Rehan, aku tidak menyangka ada orang yang mencintai sampai selama itu. Ternyata orang yang membuat dia iri adalah aku?
Dia iri, karena mas Rehan begitu mencintaiku tanpa satu kalipun memandangnya, tidak memperhatikan dia dan tidak menginkan dia sedikitpun. Sampai sampai dia mentang orang tuannya dan bersikeras menikah denganku. Mas Rehan selalu bersikap dingin dengannya.
" Ini calon istri yang aku inginkan ibu, bukan dia! " ucap mas Rehan dengan nada tegas sambil memegang tangaku. Saat aku mrlihat ekspresi sedih di wajahnya membuatku semakin tidak enak ke bu Sari. Setelah itu mas Rehan menggendong Rian, menggandeng tanganku dan pergi meninggalkan mereka pergi menuju mobilnya. Mebukakan pintu untukku, setelah itu menurunkan Rian dan membukakan pintu belakang untuk Rian, barulah setelah itu dia masuk ke kursi pengemudi. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Sebenarnya dilubuk hatiku paling dalam, aku merasa tidak pantas bersanding dengan mas Rehan dan menurutku bu Sari lah yang paling pantas. Dia mencinta mas Rehan begitu dalam dibandingkan aku yang hanya memanfaatkan dia dan tidak pernah memiliki rasa sedikitpun ke dia.
" Apa? " ucap mas Rwhan lembut
" apa mungkin kita mengakhiri hubungan ini? " ucapku sedikit ragu ragu dengan pertanyaanku. Karena kaget, dengan spontan mas Rehan membanting setirnya dan berhenti di pinggir jalan. Mebuatku kaget dan sekaligus takut mengalami kecelakaan. Dengan ekpresi panik, spontan aku menengok ke belakang melihat keadaan Rian. Untung saja Rian baik baik saja sedang terlelap dalam tidurnya dan tidak terusik sama sekali dengan tindakan mas Rehan yang tiba tiba ini.
" Apa maksud perkataanmu itu! Mengakhiri hubungan kita? Kenapa hal itu sampai terbesik di kepalamu? Karena ibu tadi yang menyindirmu dan masih belum merestui hubungan kita? atau karena Si Sari? Katakan! " ucap mas Rehan marah yang seketika membuat mentalku ciut untuk bicara apa adanya ke dia. Tidak Difa, kamu harus membicarakannya sekrang, sebelum banyak hati yang tersakiti. Semoga saja aku dan Rian tidak diturunkan di pinggir jalan ini, setelah mengatakan sebenarnya.
" Bukan itu mas Rehan! " ucapku mengelak
" terus apa Difa! " ucap mas Rehan frustasi. Aku menghebuskan nafas dan mulai mengatakn sebenarnya.
" Se sebenarnya aku tidak mencintaimu mas Rehan! Aku itu hanya memanfaatkanmu untuk membantu menyelsaikan masalahku! Samapai saat ini aku masih mencintai Andrian! Aku tidak sebanding dengan bu Sari yang sudah mencintaimu selama dua puluh tahun dan dia orangnya baik hati dan selalu meperdulikan dirimu! Walaupun selalu kamu hiraukan, dia tetap saja menginginkan kebahagianmu! Jangan merelakan orang sudah tulus mencintaimu demi orang seperti aku! Dan untuk masalah aku setuju menikah denganmu itu semata mata hanya permitaan terima kasih! " ucapku panjang lebar ingin membuat dia mengerti dan aku tidak berani menatap matanya. Bukan aku berbohong, tapi aku takut melihat tatapan kecewa mas Rehan.
" Tapi aku sangat mencintaimu Difa! Aku tidak peduli kamu manfaatkanku berkali kali! Aku akan melakuakan apapun demi kamu! Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan! " ucap mas Rehan dengan tatap memohon ke aku. Aku tidak tega melihat tatapannya.
" Aku ingin kamu meniakah dengan bu Sari! " ucapku terus terang sambil menatap mata mas Rehan. Mendengar kata kataku seketika dia tersenyum dengan raut wajah kecewa.
" Ternyata dia sudah memanfaatkanmu! Kalau begitu menikahlan denganku karena terima kasih! " ucap mas Rehan menghetikan tersenyumnya dan memasang ekspresi suram.Aku tidak berani menjawab perkatannya. Dia melaanjukkan menyetir mobilnya. Ternyata mas Rehan benar benar membencinya, walaupun berkali kali aku menjelaskan bahwa bu Sari itu begitu mencintai dia. Tapi tetap saja prasangka buruk tentang bu Sari yang selalu terbesit dipikirannya. Aku harus bagaimana lagi menyakinkan dia untuk menikah dengan bu Sari. Ini adalah salah satu bentuk terima kasihku untuk mas Rehan, karena dia orang baik dan harus bersanding dengan orang baik agar hidupnya bahagia. Tapi orang itu bukan aku! Aku tidak mau menikah dengan seseorang, jika hatiku bukan untuk orang itu dan parahnya masih ada orang lain yang benar benar tulus mencintainya. Maka pastinya aku akan mundur.