Single Perents

Single Perents
bagian 24



" Dia itu punya suami tapi kelakuaanya sulit ditebak, contohnya pertama suaminya bawa mantannya dan sekaligus ibu dari anaknya ke rumah, terus istrinya di marah marahin, besoknya istrinya di dorong demi ngebelain si wanita itu, setelah itu tiba tiba hpnya istrinya itu hilang dan taunya ada di suaminya dan suaminya mengajak ketemuan makan siang di kafe, tiba tiba saja saat mau pergi, tangan istrinya di tarik dan di peluk, terus menurut pendapatmu gimana? istrinya itu harus ngapain? " ucapku panjang lebar dan sangat cepat


" rumit banget ya? " ucap Reta sambil menggaruk garuk kepalanya


" pokoknya intinya gini! gimana perasaan si suami sama istrinya, " ucapku membuat Reta paham


" terus gimana perasaan si istri sama si suami? " tanya Reta yang membuatku bingung dan ragu unyuk menjawab


" em gimana ya? gak tau ah! " ucapku bingung dan penub keragu raguan. Betul juga sih apa kata Reta gimana perasaanku sama Andrian? sepertinya nggak ada apa apa dan aku juga enggak erasain apa apa!


" sipertinya sih gak ngerasain apa apa! " ucapku pada akhirnya setelah berpikir cukup lama


" salah lo kalau berpikir begitu! " ucap Reta yang membuatku bingung, kan sudah jelas bahwa aku tidak ngerasain apa apa sama Andrian! sepertinya aku salah milih orang buat ngasih saran deh!


" dari yang lo ceritain bahwa mereka saling mencintai tapi terpedam lah pokoknya! mungkin sih karena si wanita itu deh! " ucap Reta dengan nada bijaksana


" masak iya sih? bukanya gak mungkin banget? " ucapku yang masih gak percaya apa yang dikatakan Reta


" coba deh lo amatin dari cerita itu! kenapa si istri tanya ia harus gimana? dan ngapain si suami tiba tiba peluk si istri? " ucap Reta menyakinkanku yang tak kunjung kunjung percaya


" enggak lah! " ucapku yang masih belum yakin dan sadar walaupun diyakinkan berkali kali


" terserah lo deh! percuma gue jelasin berkali kali lo gak akan percaya! tapi ini yang buat gue heran! ini kan masalahnya temen lo! ngapain lo yang ribet tinggal ngomong gitu aja ketemen lo! kan dia yang minta saran bukan lo! " ucap Reta sebel. Euh dasar Reta! masak cuma gitu aja udah kesal, padahal aku kan cuma bilang gitu aja! kan seharusnya wajar dan masih manusiawi jika gak percaya. Apalagi kan dia udah aku teraktir. Setelah cukup lama aku dan Reta terdiam untuk beberapa saat sibuk dengan pikiran masing masing. Tapi jika yang dikatakan Reta itu benar terus aku harus bagaimana?


" Terus apa yang aku eh maksutnya dia lakulan selanjutnya? " ucapku dengan mengalingkan pandanganku karena merasa gak enak sama Reta


" ya menerutku harus ada salah satu dari mereka yang ngungkapin duluan agar maslahnya cepet seleaai, " ucap Reta


" oh gitu, yaudah ya gue pulang dulu mau jemput Rian! " ucapku setelang melihat jam yang sudah menunjukkan set dua belas dan bersiap siap pergi dari kafe.


" Terus siapa yang bayar ini semua!! " teriak Reta yang menghentikan langkahku


" lo dulu aja yang bayar kapan kapan gue ganti deh! gue sudah telat buat jemput Rian sekarang! " ucapku terburu burudan membuat Reta pengertian


" kapan kapannya itu kapan?!! " teriak Reta yang tidak sempat aku jawab karena berlari supaya tidak ketinggalan naik bus.


Sesampainya di sekolahnya Rian di sana aku bertemu dengan Tino yang masih memakai seragam sekolahnya.


" Tino kamu enggak sekolah? " ucapku dengan nada terkejut


" uduh pulang kak! " ucap Tino dengan ringannya


" jangan jangan kamu bolos ya? kan gak mungkin jam segini sudah pulang, awas! aku laporin kamu ke mama sama papa! " ucapku mengancam Tino


" beneran kak aku gak bolos! di sekolahku sekarang ada ujian jadi pulang cepet! lagian aku di sini di suruh papa sama mama buat sekalian jemput Rian mereka rindu sama cucunya! " ucap Tino dengan nada meyakinkan


" kak gimana hubungannya sama kak Andrian? " ucap Tino dengan nada bijak


" ya sama aja kayak dulu, emnaya kenapa? " ucapku dengan nada malas kalau ada orang yang menanyakan hubunganku dengan Andrian. Karena sitiap orang bertanya pasti aku teringan tentang Selena yang handir di kehidupan rumah tangga kami dan yang membuat hari hariku menjadi buruk. Sebenarnya aku tidak terlalu benci sih sama dia karena berkat kesalahan dia di masa lalu membuatku bisa memiliki putra semanis Rian bisa bertemu dengan Andrian dan mendaparkan keluarga yang menyayangi aku dan mendukungku daripada putranya.


" Ini pasti gara gara kak Selena itu kan! bener bener kakakku itu dari dulu dia gak tau kalau kak Selena itu licik! apalagi sekarang dibawa ke rumahnya! pokoknya kakak harus hati hati sama dia! jangan sampai posisi kakak tergeser sama dia! kasian nanti Rian! " ucap Tino dengan nada bijaksana


" iya iya kakak inget nasehatmu! " ucapku dengan nada sedikit menggoda


" he he he kalau butih batuan panggila aku aja kak! " lanjut Tino dengan nada sombong


" siap! " ucapku dengan hormat. Tidak menunggu beberapa lama, aku melihat Rian dari segelorombolan anak anak kuluar dari gerbang.


" Unda! " teriak Rian berlari ke arahku dan aku sambut dengan pelukan dengan mengelus kepalanya


" tadi belajar apa aja Rian? " tanyaku dengan lembut ke Rian setelah melepaskan pelukanku


" banyak unda! menggabal, menuli cama banayak lagi unda! " ucap Rian antusias


" Rian! " sapa Tino sambil melambaikan tangannya


" om Tino, " ucap Rian dengan mada polos


" kok om sih Rian! kak! kak Tino! oke? " ucap Tino yang gak mau dipanggil om mungkin karena dia masih SMA


" gak mau nanti Ian dimalai nenek, " ucap Rian dengan menggelengkan kepalanya


" atau gini aja kalau ada nenek panggil om Tino kalau gak ada panggil kak Tino gimana? " ucap Tino meyakinkan Rian


" em enggak ah, itu namanya bohong katanaya bu gulu gak boleh bohong! bohong itu doca! " ucap Rian dengan nada polos


" bener Rian! kamu tuh anak kecil diajak bohong! " ucapku sambing mengelus rambut Rian


" ya udah Rian sama om Tino ya? ke kakek sama nenek , " ucap Tino


" unda? " ucap Rian yang menghawatirkan aku


" bunda nanti pulang sendiri ke rumah! " ucapku yang meyakinkan Rian dan setelah penjelasan ku tadi Rian menggukan kepala setuju.


" Ya udah kak Rian sama aku ya? " ucap Tino yang kemudian membawa Rian pergi dengan menaiki sepeda motornya. Setelah itu aku memesan taksi online untuk pulang ke rumah.


Sesampainya ke rumah aku langsung ke kamar dan merebahkan tubuhku dikasursambil memainkan telpon baruku. Oh ya aku baru ingat bukanya tadi aku mau servisin telponnya mbok Surti tapi di mana ya? atau oh ya pasti lupa aku abil dari tas yang isinya jasnya Adi. Sekarang aku harus cepat menelpon Andrian kasian mbok Surti nanti gak bisa hubungi keluarganya yang di kampung kalau gak selesai selesai.