
Sesampainya di teras rumah aku manesehati Tino, biasalah menjalankan peran sebagai kakak ipar yang baik.
" Tino kamu sekarang pulang dulu, nanti kalau Andrian sudah tenang kamu minta maaf ke dia, oke? " ucapku dengan bijaksana dan dijawab dengan anggukan sama Tino. Setelah Tino pergi aku kembali masuk dan melewati mereka bigitu aja tanpa sepatah kata pun menuju ke kamar Rian dan ikut bermain bersama Rian.
" Rian udah makan? " tanyaku ke Rian dengan lembut
" undah unda, " ucap Rian dengan memainkan mainannya. Saat menemani Rian main tidak terasa hari sudah malam sampai sampai Rian ketiduran. Aku pun mengangkat Rian ke tempat tidurnya, menyelimutinya lalu mencium kening Rian. Aku membereskan mainan Rian sebelum kembali ke kamarku. Setelah selesai aku pun keluar dari kamar Rian, saat berjalan aku mendengar suara keramaintan yang ada dj bawa saat aku melihat ke bawah, ternya Selena yang sedang membawa koper. Entahlah apa maksutnya aku tidak menggubrisnya, biarlah urusan mereka, aku lagi males ikut campur masalah mereka. Aku pun masuk ke kamarku karena ngantuk yang menyerang dan tak bisah aku tahan.
Dan pagi harinya, aku menjalankan pagiku seperti biasa, tapi yang membuatku panik pagi itu! Rian tidak ada di kamarnya, apalagi dengan keadaan berantakan. Aku takut Rian berkeliaran di sekitar sini dan tersesat karena Rian belum mengenal tempat ini. Aku pun mencari Rian di seluruh ruangan ruangan yang ada di rumah ini. Saat aku berada di ruang tamu untuk mencari Rian, aku mendengar gelagat tawa anak kecil yang aku yakini itu suara Rian. Dengan rasa cemas dan penasaran aku mengikuti arah suara itu yang mengarah ke dapur. Sukurlah ternyata benar dugaanku, aku melihat Rian yang sudah memakai seragamnya dan duduk di depan bar dapur. Tapi yang aneh di sini bukan cuma ada Rian saja tetapi juga ada Andrian yang menggunakan celemek dan sibuk dengan kegiatanya didepan alat penggorengan.
" Papa telunya kelual acap lagi, " ucap Rian yang melihat telur yang digorong Andrian gosong. Setelah mendengar kata Rian Andrian pun segera mengangkat telurnya dan membuangnya ke tempat sampah. Kemudian sibuk lagi dengan aktivitasnya yang tak kunjung berhasil itu. Rasanya aku ingin tertawa tapi kasian, aku pun berusaha keras menanhan tertawaku dan karena itu aku mengeluarkan suara aneh yang membuat Rian menoleh ke arahku.
" Unda! " teriak Rian setelah melihatku dan yang membuat Andrian ikut menengok ke arahku. Aku pun yang dari tadi hanya berdiam mematung melihat tingkah mereka, akhirnya memghampiri Rian dan anehnya rasa ingin ketawa itu sudah menghilang.
" Unda antuin papa macak unda, Ian lapel, " ucap Rian dengan wajah kasihan. Kasihan banget anakku kelaparan gara gara nunggu orang ini masak telur yang enggak kelar kelar.
" Iya Rian, " ucapku sambil mengelus kepala Rian. Aku pun berjalan ke kulkas untuk mengambil telur telebih dahulu. Anehnya telur yang ada si dalam kulkas sudah habis padahal kemarin masih sekitar tiga kiloan kenapa tinggal satu. Aku mengambil telur satu satunya untuk dimasak.
" Aku bantu apa? " tawar Andrian ke aku
" gak usah lo duduk aja sama Rian, " ucapku dengan agak ketus. Entahlah tindakanku itu sepontan karena setiap aku melihat dia teringat kejadian kemarin sore. Aku pun memulai kegiatanku, karena telurnya cuma satu pasti gak mungkin bisa dibagi tiga orang jadi aku memiliki siasat untuk menambah banyak tepung di telur yang aku gorong, biasahlah mantan anak kos. Dan waktu aku tak sengaja melihat tempat sampah, waw ternyata disana banyak tumpukan telur gosong yang dibuang Andrian. Bayangin aja ya? telur tiga kilo tinggal satu, seberapa tinggi tumpukan telur gosongnya, pasti tinggi banget kan? Setelah selesai menggoreng telur aku membagi telur menjadi tiga bagian dan menyajikannya di meja makan.
" yeh ahilnya telulnya jadi! " teriak Rian kegirangan yang berada digendongan Andrian. Setelah menaru telur aku mengambil nasi untuk kita bertiga dan duduk disamping, didepan Andrian.
" tapi pagi pagi sekali salah satu kerabat dekat mbok Surti yang ada di kota ini datang dan mengabari mbok Surti bahwa anaknya sakit sekarang dirawat di rumah sakit, " ucap Andrian yang menghentikan aktivitas makannya
" terus Si Selena kemana? kok dari tadi gak kelihatan, " tanyaku yang sebenarnya malas tapi mau gimana lagi rasa kepoku melunjak
" oh Selena, dia pergi ke luar negeri semalam, perjalanan bisni, mungkin sampai seminggu dia di luar neger, " ucap Andrian panjang lebar. Oh jadi yang semalam Selena bawa koper itu mau ke liar negeri.
" Terus lo gak ikut? " tanyaku penasaran, karena Andrian dan Selena itu seperti kertas dan lem, nempel terus, hampir seyiap ada Andrian pasti ada Selena.
" enggak, aku punya kehidupan sendiri, " ucap Andrian malas. Setelah itu aku pun melanjukan makanku begitu juga dengan Andrian, kami pun menikmati makan dengan hikmat. Setelas selesai Andrian langsung membersikan meja makan sebelum aku membereskanya dan mebawanya ke dapur lalu mencuci piring serta gelas.Ya pemandangan yang mencengangkan lah! sangat diluar dugaan, ternyata orang seperti Andrian bisa mencucu piring.
" Unda unda tas Ian, " ucap Rian sambil menarik narik tanganku
" iya Rian bunda ambilkan, " aku pun kekamar Rian mengambiltasnya dan saat aku kembali Rian sudah tidak ada di ruang makan. Aku pun mencari Rian di garsi mungkin mereka sudah ada di sana. Ternyata benar Rian berada di dalam mobil Andrian? Kenapa sekarang Amdrian yang mengantarkan kami bukan Adi? entahlah nanti aku tanya ke Andrian. Aku pun masuk ke mobil dan Andrian menjalnkan mobil dengankecepatan sedang. Setelah seleaai mengantarkan Rian bukanya mengantarkan kau pulang. Andrian malah mengambil jalur lain yang berlawanan dengan arah ke rumah.
" Kita mau kemana? terus kenapa tadi bukan Adi yang anter? emangnya lo gak kerja? " tanyaku ke Andrian karena sudah tidak bisa menahan rasa penasaranku.
" Pantai, emang kamu ingin Adi yang anterin dan sekarang aku libur, " ucapnya dengan dingin. Aneh banget dia kenapa dadakan sih turun saljunya dan gak ada rambu rambunya lagi.
" ngapain ke pantai? iya sih enakan Adi yang anter, tumben banget biasanya aja sibuk, " ucapku dengan rada rada ketus. Dan dengan kata kata tadi tiba tiba Andrian membanting setirnya yang mebuatku deg degan. Ada apa sih sama dia emosinya gak bisa dikontrol, nanti kalau kecelakan giaman? terus aku terluka, setelah itu banyar ramah sakit, apalagi nanti berurusan dengan polisi bisa panjang urusanya dan kalau aku mati gimana? kadian orang tuaku, kalau Andrian mah enak gak ada menghalangi hubungannya dengan Selena. Masalah dengan Selena malah dilampiaskan di jalan! Andrian tidak menjawab ucapanku dan hanya mempercepat mobilnya. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya sampai di pantai karena dari tadi aku was was sama nyawaku dan sekarang aku bisa bernafas dengan lega. Saat aku melakukan proses bernafas tiba tiba Andrian membukakan pintu mobil dan aku pun keluar. Walaupun sih males banget keluar tapi kasian Andrian sudah cape cape buka pintu.