
Oke kali ini aku mengalah lagi, aku pergi ke meja yang jauh dari mereka. Rasanya gak kuat melihat mereka bersama. Saat aku pergi dari sini tiba tiba Rian beranjak dari tempat duduknya berlari dan memegang tanganku. Walaupun disaat seperti ini, aku bersyukur ada Rian yang akan selalu bersamaku. Aku tersenyum kearah Rian, menggandeng tangan Rian erat erat dan membawanya ke meja yang jauh dari mereka.
" Rian mau makan apa? " ucapku dengan lembut
" telcelah unda, " ucap Rian tersenyum yang membuatku sangat gemas dan mencubit pipi cabynya.
" Cakit unda, " ucap Rian sambil mengus pipinya
" iya Rian bunda minta maaf! " ucapku sambil memeluk Rian. Aku memesan semua makanan kesukaan Rian. Tidak menunggu terlalu lama pesan kita akhirnya datang, Rian memakan lahab makanan yang ada didepannya. Mungkin dia sangat lapar, karena perjalan yang kita tempuh itu tidak dekat. Setelah selesai makan, aku membayar dengan kartu keredit yang diberi Andrian. Berjalan ke Andrian dan memberikan kartu keredit berserta hp yang dia berikan ke aku.
" Ini semua barang barang yang kamu berikan! sekarang gue balikin! " ucapku menaruh semua barang pemberian Andrian ke meja
" aku minta cerai Andrian! aku sudah tidak kuat melihat kamu selalu bersama dia! memilih dia dibandingkan diriku! selalu mengutamakan dia! selama ini aku bertahan hanya untuk Rian, Rian sangat membutuhkan kasisayang seorang ayah! tapi setelah aku pikir pikir lagi lebih baik dia kehilangan kasisayang seorang ayah daripada membenci ayahnya! maaf karena tidak bisa mempertahankan pernikahan ini! " ucapku dengan nada rendah dan menekankan setiap katanya agar tidak terdengar yang lain, tapi tetap saja banyak tatapan menuju ke arah kami. Aku sudah tidak kuat menahnya, air mataku keluar dengan derasnya saat mengatakan kata kata tadi. Sebenarnya aku tidak ingin bercerai dengan Andrian, tapi aku jugu tidak mau tersakiti terus menerus. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita Andrian, dengan ini kamu bisa bersama dengan kekasihmu itu tanpa ada penghalang lagi. Mungkin seiring dengan berjalanya waktu aku bisa melupakanmu dan menjalani kehidupanku bersama Rian. Aku pergi dari tempat mereka, memanggil Rian, menggandeng tanganRian dan pergi dari restoran ini.
" Unda kenapa? " ucap Rian kawatir melihat air mataku yang mengalir dan membuatku menghentikan melangkah kakiku.
" enggak bunda gak kenapa napa, " ucapku menghapus air mataku dan menyamakan tinggiku dengan Rian.
" Rian maafkan bunda ya? " ucapku dengan paruh dan Rian mengangguk dengan polosnya, aku tahu senenarnya Rian tidak tau apa yang aku maksud.
" Ayo! " ucapku menggandeng tangan Rian dan mulai melangkah
" Difa! " teriak seseorang yang menghentikan langkahku, saat aku menoleh ternyata itu Andrian yang sedang berlari ke arahku.
" Difa tolong dengarkan aku! aku mohon ke kamu bertahanlah sedikit lagi aku akan menyelesaikan masalah ini! " ucap Andrian lembut sambil memegang tanganku
" maaf Andrian aku sudah tidak bisa! " ucapku melepaskan tanganku dan pergi. Aku melihat raut wajah kecewa diwajah Andrian, aku tidak tau itu memang benar atau sekedar khaylanku saja. Aku pergi dari hadapan Andrian, menghentikan taksi dipinggir jalan dan pulang ke apertemunku yang dulu dan menjlani hidupku seperti dulu sebwlum kedatangan Andrian dari hidup kita berdua. Sesampainya di apartemen aku membayar ongkos taksi dan masuk ke dalam.
" Unda kenapa kita ke cini? ini kan bukan lumah kita? " ucap Rian bingung karena aku menvqjaknya ke apartemen dan bukan rumah Andrian.
" Bukanya ini rumah kita Rian? " ucapku dwngan tersenyum
" bukan unda ini lumah kita yang dulu bukan yang cekalang, " ucap Rian sebal dengan ucapanku
" ini sekarang rumah kita Rian! " ucapku tegas yang membuat Rian terdiam. Aku nenggandeng Roan pergi ke apartemen.
" Sekarang Rian pergi ke kamar mandi, cuci kaki, cuci tangan dan sikat didi! apa mau bunda bantu? " ucapku lembut
" endak! " ucap Rian dengan cemberut dan pergi ke kamar mandi. Aku hanya menghembuskan nafas frustasi, sepertinya sangat sulit membuat Rian mengerti dengan situasi ini. Membutuhkan waktu lama untuk Rian beradeptasi dengan situasi baru ini. Tiba tiba pintu apartemen terbuka dna ternyata itu si Reta.
" Emangnya gak boleh? ini kan apartemen gue! " ucapku debgan suara paruh
" kenapa kamu Difa? penampilanmu berantakan, suaramu paruh dan matamu merah, apakah ada masalah? " ucap Reta halus yang membuatku menangis lagi. Dengan sigab Reta langsung memelukku dan menenangkanku.
" Aku sudah gak kuat Reta hiks hiks melihat Andrian bersamanya setiap harinya hiks hiks dan di rumah yang sama Reta hiks hiks! " ucapku terisak
" sudah sudah, " ucap Reta menenangkan aku. Aku juga bersyukur memiki sahabat seperti Reta yang selalu menemaniku saat senang dan susah. Walapun kami selalu bertengkar tapi sebenarnya kami salaing menyayangi. Keluarganya swperti keluargaku sediri dan keluargaku seperti keluarganya. Kami juga seperti saudara meski tak sedarah.
" Terus bagaimana dengan hubunganmu? " ucapnya yang melihatku sudah mulai tenang dan melepaskan pelukannya.
" Aku dan Andrian bercerai, " ucapku yang masih ada sisa sisa isakan tangisku. Reta menghembuskan nafas berat.
" Kenapa? berikan kesempatan dulu Andrian untuk menjelaskanya! jangan main cerai aja! becirakan baik baik dulu, kalau sudah tidak ada harapan barulah bercerai, jangan gegabah mengambil keputusan nanti berujung penyesalan! " ucap Reta dengan nada lembut. Benar juga yang diucapkan Reta, tapi aku dan Andrian tidak ada apa apa, kami menikah hanya untuk memberikan keluarga yang lengkap untuk Rian.
" Tapi Reta, aku hanya menjadi penghalang hubungan Andrian dengan kekasihnya! dan kekasihnya itu ibu kandungnya Rian! " ucapku yang sudah tidak terisak
" ibu kandungnya Rian! jadi kamu mau menyerahkan Rian ke Andrian dan kekasihnya! " ucap Reta marah
" bukan gitu juga Reta, ya gak mungkin lah aku mau nyerahin Rian, Rian itu anakku, aku yang membesarkannya, lagipula saat dia satu rumah dengan kami dia tidak pernah memperhatikan Rian! nyapa aja jarang atau mungkin gak pernah! " ucapku tidak membenarkan ucapan Reta
" terus kalau kamu cerai sama Andrian , mereka gak memperjuangkan hak asuhnya Rian gitu? " ucap Reta dengan nada sedikit meninggi
" lagipula suatu saat Andrian juga menceraikanku! " ucapku juga gak kalah dengan nada suaranya Reta
" iya juga sih! tapi kamu sudah menyewa pengacara? " ucap Reta cengengesan
" lah itu…" ucapku yang terpotong
" unda Ian udah celecai, " ucap Rian yang keluar dari kamar mandi
" hey Rian! " ucap Reta manyapa Rian
" halo tante Reta, bunda!! " ucap Rian lemas karena sudah mengantuk apalagi dijam segini.
" iya Rian! besok aja bicaranya Reta, " ucapku kemudian menghampiri Rian dan mengantarkannya tidur. Tidak membutuhkan waktu lama Rian terlelap dari tidurnya setelah aku nyanyikan lagu tidur. Dan untuk malam ini aku tidur bersama Rian karena apartemen ini hanya memiliki dua tenpat tidur yang satunya dipakai Reta, kan gak mungkin aku tidur dengan Reta.