Single Perents

Single Perents
bagian 21



" Unda! unda angun unda! " teriakkan Rian yang membuatku terbangun dari tidur nyenyakku


" ehm, " ucapku yang masih bergeliat dalam tidurku


" unda angun! Ian halus belangkat cekolah unda! " ucap Rian yang masih berusaha membangunkan aku. Sebentar apa katanya sekolah? apa sekolah! Aku pun langsung beranjak bangun karena mendengar kata sekolah dari Rian.


" Rian sudah mandi? Rian sudah sarapan? Rian siap siap? bukunya sudah di tata Rian? semalam kan Rian tidurnya lebih awal…" ucapku terpotong saat melihat Rian yang sudah berseragam dan menggendong tasnya


" oh, " lanjutku dengan melongo


" ayo unda antalkan Ian ke cekolah! " ucap Rian sambil menarik tanganku


" iya iya Rian, " ucapku mengikuti langkah Rian dari belakang sampai teras depan rumah dan anehnya mulai keluar dari kamar, banyak tatapan mata menuju ke arahku, bukankah mereka aneh banget, ya aku tau aku itu cantik, tapi jangan gitu juga tatapannya, ngebuat aku malu, sepertinya mereka gak pernah liat orang bening dikit. Sesampainya di teras depan aku melihat Andrian yang berada di depan mobil bersama dengan Adi yang sedang membicarakan sesuatu yang penting dan penuh emosi. Tapi sangat di sayangkan, karena jarak aku dengan mereka terlalu jauh jadi aku tidak bisa menguping pembicaraan mereka. Sementara Rian melepaskan tanganku dan berlari menuju ayahnya.


" Papa! " teriak Rian, sementara Andrian tidak menggubris teriakan anaknya itu dan malah menatap lekat ke arahku sambil menahan tawanya.


" Papa! " teriak sekali lagi Rian sambil merentangkan tangannya untuk minta di gendong dan langsung di gendong Andrian. Nggak cuma Andrian doang yang menahan tawanya, Adi juga melakukannya, emang ada apa sih sama mereka.


" Apa? " ucapku berbisik nyaris tidak ada suara kepada Adi, sementara Adi menjawabku dengan memegang rambutnya dan dengan spontan aku mengikuti arah gerak tangannya. Yang aku rasakan saat memegang rambutku adalah kusut dan berantakan pastinya. Aku pun segera berlari menuju kaca jendela untuk melihat seperti apa penampilanku sekarang dan yang aku lihat, sesuai dengan dugaanku tadi, rambut kusut plus berantakan, dan di bagian wajah ada bekas air liur yang sudah mengering, serta pakaian yang kusut. Kalau aku mengganti baju dan membersihkan diri itu akan memakan banyak waktu dan membuat Rian telat ke sekolahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri dengan cepat dengan caraku, pertama segera menuju ke kran air yang ada di taman depan rumah yang digunakan untuk menyiram tanaman dan mencuci wajahku di sana, ke dua aku menggerai rambutku dan menyisirnya dengan jari jari tanganku, dan yang terakhir…


" Adi hush hush, tolong hush berikan jas lo, " ucapku sambil mengatur nafasku setelah berlari dari kran air menuju Adi


" Hem? " ucap Adi yang belum paham apa yang aku katakan, karena sibuk menertawaiku, dasar Adi!


" mana jas lo! " ucapku dengan nada kesal dan melihat ke arah Andrian yang masih menah tawa setelah melihat tingkah lakuku, yang membuatku semakin kesal.


" Ayo! " ucapku sedikit menyentak


" oh iya iya, " ucap Adi melepaskan jasnya dan memberikannya kepadaku, aku pun mengambilnya dengan kasar dan segera memakainya untuk menutupi baju kusutku.


" Papa, papa mau antal Ian? " tanya Rian dengan polosnya dan penuh dengan harapan. Sebenarnya aku juga melakukan hal sama tanpa bisa aku kontrol. Sebelum dijawab sama Andrian si nenek lampir itu keluar.


" Maaf ya Rian papa lagi banyak urusan, jadi Rian diantara sama baby sitter itu ya? " ucapnya dengan nada mengejek sambil mengelus rambut Rian.


" Woy nenek lampir! apa barusan yang Lo katakan? " ucapku berteriak dan sudah aba aba ingin menarik rambut nenek lampir itu, tapi langsung dicengkeram tanganku sama Andrian, setelah menurunkan Rian dari gendongannya pastinya, sangking kuatnya cengkramannya sampai sampai membuat aku merintih kesakitan.


" Kamu sama Rian biar aku yang antar ya? " tanya Adi kepadaku setelah membantuku berdiri dan aku hanya meresponnya dengan anggukan kepala. Selama perjalanan menuju ke sekolahnya Rian air mataku tidak kunjung berhenti walaupun sudah aku paksa untuk berhenti, dan juga dadaku rasanya sesak sekali, entahlah aku juga tidak tau apa penyebabnya. Sesampainya di sekolah Rian, aku mengusap mataku dengan kasar.


" Biar aku saja yang turun, kamu di mobil saja, " ucap Adi yang menghentikan tanganku membuka pintu mobil


" tapi Rian…"


" Ian diantel om Adi aja unda, " ucap Rian yang sangat pengertian sama bundanya. Setelah menunggu beberapa menit di dalam mobil Adi kembali.


" Kamu langsung pulang atau mau mampir kemana dulu? " tanya Adi


" langsung pulang aja "


" oke, " ucap Adi sambil menghidupkan mesin mobilnya dan setelah itu keheningan terjadi, karena aku sudah malas untuk bicara.


" Difa aku minta maaf atas nama Andrian, mungkin dia punya alasan tersendiri melakukan hal itu, " ucap Adi serius. Alasan tersendiri apanya, iya sih alasan tersendiri buat ngelindungin kekasihnya dan lebih tepatnya sih selingkuhannya, tapi aku sadar diri kok kalau aku itu cuma istri di atas kertas dan aku tidak akan mengharap lebih. Tanpa aku sadari aku sudah sampai di depan rumah dan segera turun dari mobil, tapi sebelum turun aku mengucapkan terima kasih terlebih dahulu kepada Adi. Setelah itu aku langsung berlari menuju kamarku dan mencari keberadaan ponselku buat nelpon Reta. Aku ingin menceritakan semuanya pada Reta, mungkin dia punya solusi untuk masalahku. walaupun gak punya sih! setidaknya dia bisa membuatku tertawa dan melupakan semua masalahku. Aku sudah mencarinya di seluruh sudut kamarku, tapi tetap saja aku tidak bisa menemukan ponselku. Apa mungkin ada di kamar Rian ya? kan semalam aku tidur di kamarnya Rian. Aku pun langsung pergi ke kamarnya Rian dan mulai mencari di seluruh sudut kamar, tapi hasilnya nihil. Kemana sih aku narunya, apa aku coba telpon aja ya? tapi pakai ponselnya siapa? oh ya ponselnya si bibi. Aku pun segera turun dan mencari keberadaannya di dapur.


" bibi! bibi! " ucapku berteriak untuk menemukannya


" iya nyonya, " ucap bibi setelah berlari ke arahku


" jangan panggil begitu bi, aku risih dengernya, panggil aku Difa, oke? "


" Difa? " ucap bibi ragu dan aku tanggapi dengan memberikan kedua ibu jariku


"ada apa nyon maksutkuDifa? " ucap bibi yang masih canggung


" bi aku mau pinjam ponselnya sebentar, mau nelpon ponselku, soalnya aku cari dari tadi tidak ada "


" oh ya boleh boleh, " ucap bibi memberikan ponselnya. Aku mulai mengetik nomor teleponku dan menelpon ponselku. Anehnya kenapa kok gak ada suara nada deringnya? padahal nada dering ponselku itu keras. Tak lama setelah itu ada orang yang mengangkat ponselku dan yang terlintas dalam benakku saat itu adalah pencuri.


" Woy pencuri balikin hp gue! atau enggak gue laporin ke polisi! " teriakku dan malah terdengar suara wanita


" pak Andrian sebentar lagi meeting akan di mulai, " ucap seorang wanita di balik ponsel. Apa? Andrian!! jadi ponselku ada pada Andrian?