Single Perents

Single Perents
bagian 36



" Ya gue mana tau! Gue bukan pegawai rumah sakit! " ucap Reta yang masih ngeles di balik telpon dengan suara tinggi pula.


" Terserah kamu! " ucapku kemudian mengakhiri percakapan kami. Kalau aku lanjutkan tidak akan selesai selesai bicara dengan dia! Yang ada malah emosi. Kelakuan nglesnya itu yang tidak bisa hilang. Saat aku berbalik, aku sudah tidak melihat keberadaan Andrian, mungkin dia bersama Rian. Aku mengunggu Reta dilur ruangan, sudah berjam jam aku menggu dia tidak kunjung datang. Padahal sudah aku jelaskan bagaimana caranya! Masa iya dia masih tidak mengerti.


" Difa, " ucap dengan nafas yang terengah engah, jongkok beberapa saat mengatur nafasnya, kemudia berjalan ke arahku. Reta mentapku sangat lama dengan raut wajah kasian dan mata yang berkaca kaca. Apakah penampilanku berantakan sekali sampai dia menatapku seperti ini.


" Habis maraton lo! " ucapku dengan nada mengejek untuk mencairkan suasan, agar tidak menjadi suasana yang mengaharukan.


" tinggi banget tempatnya! Sampai capek aku naik tangganya! " ucap Reta yang masih terengah engah dengan senyum palsunya, mungkin agar aku terhibur. Aku tau dia tidak akan melakukan tindakan sebodoh itu! Dian seperti ini, karena kawatir dengan Rian sampai berlarian. Cuam dia gengsi untuk mengatakan semua itu.


" ngapain kamu naik tangga? Kan ada lift! " ucapku pura pura heran


" aku tidak tau tempat liftnya dimana? " ucap Reta pelan sekali hapir seperti berbisik


" kan bisa tanya Reta! " ucapku pura pura kesal. Aku bersyukur sekali memiliki sahabat seperti dia.


" oh ya! Bagaimana keadaan Rian? " ucap Reta dengan tersenyum, seakan akan memberikan energi positifnya kepadaku. Aku tidak menjawab pertanyaan hanya berjalan membukakan pintu ruangan Rian dirawat. Biar dia tau sendiri keadaan Rian. Aku masuk diikuti dengan Reta dibelakangku.


" Rian! " teriak Reta setelah melihat Rian


" sssttuuuuttt! " ucapku bersamaan dengan Andrian


" he he he maaf! Maaf! Maaf! " ucap Reta cengengsan. Kebiasan deh Reta! Sukanya teriak mulu tidak tau kondisi! Kasian Rian dia baru saja tertidur. Reta mendekat ke Rian dan tiba tiba saja meneteskan air mata melihat kondisi Rian yang juga membuatku menetesksan air mata. Baru kali ini Reta menepihkan rasa gengsinya dan menangis. Rasanya aku tidak becus menjadi ibunya Rian, pasti Rian sangat tidak beruntung memiliki ibu seprti diriku. Aku menangis dengan menutup mulutku, agar suara tangisanku tidak terdengar. Tidak terkecuali Andrian, baru kali ini aku melihat Andrian meneteskan air mata kemudian langsung menghapusnya. Reta mengusap aor matanya dan bertanya ke arahku.


" Oh ya Difa! Pak Rehan kemana? Dari tadi aku tidak melihatnya? " ucap Reta mencairkan suasana sambil melihat kearahku. Aku menghapus air mataku dan barulah menjawab pertanyaannya.


" oh mas Rehan, dia sedang pergi mencari makanan, tapi gak tau aampai sekarang belum kembali, " ucapku disisa sisa tangisanku


" oh! Eh ternyata ada kaka ipar disini! Eh maksutnya mantan kaka ipar, " ucap Reta saat melihat Andrian, entahlah kenapa baru sekarang dia melihat Andrian? Jadi dari tadi Andrian yang begitu besarnya tidak terliahat oleh Reta! Jelas Reaksi Andrian yang disapa Reta hanya melihatnya sejenak dan kemudian kembali berfokus pada Rian. Dia menatap Reta tanpa ada sepatah katapun, bahkan tidak ada senyuman yang terukir dibibirnya. Ternyata selama dua tahun ini, sifat dinginya tidak berubah sama sekali.


" Pak Rehan! " ucap Reta tiba tiba yang spontan aku melihat ke arah pandangan Reta. Aku melihat mas Rehan yang membawa banyak kantong plastik dan tersenyum kearahku.


" Reta kemana? " ucapku saat tidak melihat kebradaan Reta diantara mereka.


" Reta…" ucap mas Rehan yang terpotong


" Reta pulang, katanya lupa mengunci pintu, " ucap Andrian dingin memotong ucapan mas Rehan.


" oh, " ucapku singkat, karena tidak tau harus bicara apa lagi.


" oh ya? Ini makanannya! Ayo dimakan nanti keburu dingin! " ucap mas Rehan tersenyum sambil menyiapkan makanan yang ada dikantong plastik yang ia bawa ke atas meja. Ternyata ia membelikanku nasi gorong, entah dari mana dia membeli nasi gorong dijam segini.


" Kenapa berdiri saja? Sini! " ucap mas Rehan menepuk sofa yang ada disampingnya. Aku pun berjalan dan duduk di sebelah mas Rehan.


" Maaf mas Rehan, saat ini aku tidak berselera makan, " ucapku penuh penyesalan dan memang untuk saat ini aku berselera sama sekali, untuk m8num saja tidak berselera apalagi makan.


" ayolah Difa! Dari tadi kamu kan belum makan, tolong makan sesuap ini ya? Kalau kamu sakit siapa yang akan merawat Rian! Kalau kamu tidak memikirkan tubuhmu, setidaknya pikirkan Rian!Aaa, " ucap mas Rehan membujukku dan menyodorkan sedok dengan nasi gorong diatasnya. Benar yang dikatakan mas Rehan, kalau aku sakin bagaimana dengan Rian? Dengan terpaksa aku menerima suapan dari mas Rehan, sebanarnya tidak berselera sama sekali. Tapi aku kasian sama mas Rehan, dia sudah bela belain pergi mencarikan aku nasi goreng eh sekarang dia sampai menyuaipiku. Kalau aku tidak memakannya sama saja menyakiti hatinya. Setelah memakanya mas Rehan kembali menyuapiku.


" Tidak usah mas Rehan! Aku bukan anak kecil, " ucapku serius karena suapin lagi. Rasanya cagung ada Andrian disini yang dari tadi melihat kebersamaan kami.


" Tidak ada orang dewasa yang harus disuruh makan dulu, apalagi kamu harus disuapin dulu baru mau makan! Apa namananya kalau bukan anak kecil! " ucap mas Rehan dengan nada menggoda. Aku mengambil sendok yang ada ditangan mas Rehan.


" Oh kamu sekarang sudah dewasa ya? " ucap mas Rehan menggodaku lagi


" sudahlah mas Rehan, " ucapku serius


" oke oke maaf, " ucap mas Rehan dengan tersenyum. Mungkin dia melakukan semua ini untuk menghiburku seperti yang dilakukan Reta tadi.


" Kalian! Bisa gak diam! Tinggal makan saja masih berisik! Rian baru saja tidur, jangan sampai karena kalian Rian terbangun! " ucap Andrian ketus dengan beranjak dari tempat duduknya dan setelag itu pergi dari ruangan. Kenapa Andrian? Pasahal dari tadi aku dan mas Rehan berbicaranya berbisik nyaris tidak terdengar. Bagaimana dia bisa mendengarnya? Jarak antara aku dan mas Rehan jauh dari dia, sekitar tiga meter, tajam sekali pendengaran dia. Aku melanjutkan makanku walaupan tidak lahap dan rasanya hambar saat aku memakanya, tapi setidaknya perutku terisi meski cuma tiga sendok. Sisa makanaku dimakan mas Reahan.