
Aku dan Rian mengantarkan Andrian sampai didepan rumah. Sebenarnya sih, mau aku antar sampai bandara, tapi katanya gak usah cukup disini aja. Sebelum dia berangkat, untung saja aku tidak melupakan hpku yang tertinggal di mobilnya. Coba kalau lupa? aku gak bisa bayangin hidupku tiga hari kedepan. Setelah Andrian berangkat aku pergi ke kamar Rian, karena udah malam dan besok Rian harus sekolah. Aku membacakan dongeng sampai Rian terlelap. Setelah itu barulah aku pergi ke kamarku.
Besok paginya aku menjalankan rutinitas pagiku seperti biasa bedanya cuma gak ada Andrian dan juga mbok Surti jadinya aku menyiapkan sarapan untuk kita. Aku mengantar Rian ke sekolah seperti biasa. Untuk hari ini aku berencana mengunjungi teman temanku yang bekerja di restoran, kareana sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka. Saat samoai di restoran aku masuk dari pintu belakang untuk mengejutkan mereka. Gak kebayang gimana ekspresi terkejutnya mereka.
" Surprise! " ucapku dengan bersemangat yang membuat mereka tidak terkejut sama sekali, sekali lagi mungkin.
" Surprise! " ucapku sekali lagi
" ini pesanangnya untuk meja nomer 2, " ucap mbak Tami ke salah satu karyawan restoran
" Tina! kamu bersihin meja itu, " ucap mbak tami menujuk meja yang berada di pojok kanan
" iya mbak, " ucap Tina
" mbak ini pesanannya meja 4 mbak, " ucap karyawan restoran dengan menyerahkan sobekan kertas yang berisi pesanan pemesan.
" oh ya! " ucap mbak Tami dan menyerahlanya ke bagian memasak. Aku rasa seperti orang yang tak kasap mata disini! tidak terlihat semua orang yang berlalu lalang didepanku. Aku hanya diam melamun, entah kenapa rasanya kecewa benget!
" Difa! " ucap mbak Tami yang mengejutkan aku.
" Ah? oh ya mbak Tami! " ucapku kaget. Akhirnya ada orang yang menyadari kebaradaanku disini.
" loh kok kamu disini Difa? mau pesan makanan ya? " ucap mbak Tami yang tidak sesuai harapan.
" eh iya, " ucapku dengan tesenyum kecewa
" kalau mau pesan itu gak perlu datang kesini, cukup pesan di neja kamu, " ucap mbak Tami dengan lembut.
" Eh Difa! ngapain kamu disini? udah bangkrut suami lo! " ucap salah satu karyawan yang nusuk banget.
" Atau jangan jangan lo udah cerai sama suami lo! dan sekarang ngincar pak Rehan! ya kan? ngaku deh! " ucap karyawan lainya
" terserah lo deh! " ucapku yang malas meladeni ucap mereka dan pergi kekursi pengunjung.
" Mbak Difa! kok bisa disini? kok gak kasih kaba kalau mau kesini! " ucap Tina terkejut dan antusias. Setidaknya ada satu orang terkejut dan cukup membuatku bahagia.
" Oh iya aku sengaja buat kamu terkejut! " ucapku tersenyum
" mbak Difa mau pesan apa? " ucap Tina dengan siap menyatat
" rekomundasi kamu aja deh! " ucapku yang kembali ceria
" oke mbak, ya ini sama yang ini ya? " ucap Tina menunjuk menu dan aku menjawabnya dengan anggukan kepala. Setelah itu Tina pergi dengan membawa pesananku. Apa pak Rehan bohong ya? katanya mereka merindukan aku, tapj nyatanya cuna Tina doang.
" Difa! " ucap pak Rehan yang berada didepanku
" eh pak Rehan, duduk pak! " ucapku berdiri
" iya terima kasih, gimana udah ketemu sama teman teman kamu? " ucap pak Rehan antusias
" i iya pak, " ucapku dengan tersenyum canggung
" Gimana reaksi mereka? terkejut bqnget kan liat kamu? " ucap pak Rehan antusias
" iya pak, " ucapku ragu dan sedikit canggung. ya pantes lah ragu? wong mereka gak terkejut sama sekali. Dan setelah itu Tina datang membawa pesananku yang tadi.
" Terima kasih, " ucapku, hanya dibalas anggukan oleh Tina dan setelah itu pergi.
" Pak! " ucapku menawari pak Rehan apa yang aku pesan tadi
" enggak usah! kamu makan aja, tadi aku sudah makan, " ucap pak Rehan menolak tawaranku dengan halus dan aku membalasnya dengan senyuman. Aku pun menyantap makananku walaupu dengan perasaan gak enak. Karena cuma aku sendiri yang makan dan orang didepanku hanya melihatk saja. Gak terasa udah pukul setengah dua bekas.
" Ya udah pak aku pamit dulu, mau jemput Rian, " ucapku ke pak Rehan
" Kamu kesini naik apa? biar saya antar! " ucap pak Rehan perhatian
" gak usah pak! nanti saya pesan ojek online aja! lagi pula pak Rehan sedang sibuk, " ucapku dengan halus takut menyakiti hatinya pak Rehan.
" Enggak saya free sekarang, jadi biar saya antar ya? " ucap pak Rehan dengan ternyum dan penuh dengan harapan yang membuatku tidak bisa untuk menolak permintaannya. Tapi gak papa lah lumayan hemat ongkos. Saat didalam mobil tiba tiba handphoneku berdering dan ternyata itu si Reta.
" Apa? " ucapku dengan ketus
" sensi amat bun! " ucap Reta dengan nada menghoda
" iya ada apa Reta? " ucapku dengan lembut setelah menarik nafas panjang
" besok pertikahannya adik gue, gue ngingeti lo agar lo gak lupa, gue tau lo itu kan pelupa! " ucap Reta dengan nada sombong
" iya Reta terima kasih, " ucapku sebelum mematikan panggilan kami. Bagaimana ini? bagaimana caranya aku bisa kesana? mobil lagi diserfis, ya masak harus pakai motor? kasian Rian kalau kesananya pakai motor, tempatnya dekat enggak papa, tapi ini tempatnya jauh, dari sini memakan waktu sekitar dua jam. Apa bilang aja ke Reta ya kalau aku gak bisa datang kesana? atau mungkin aku bisa naik bus aja ya? Nanti ke tempat acaranya naik taksi.
" Dif Difa, " ucap pak Rehan yang membuatku terbangun dari lamunanku
" eh iya pak! " ucapku kaget
" kenapa kok bengong? " ucap pak Rehan penasaran
" enggak pak! tadi cuma mikir gimana caranya saya pergi kepernikahan adiknya Reta besok, " ucapku terus terang
" emangnya suami kamu kemana? " tanya pak Rehan
" pergi ke luar negeri, tadi malam berangkat dan mobil yang ada di eumah sesang diserfis, " ucapku tampa ragu
" bagaimana kalau saya antar? " ucap pak Rehan menoleh ke arahku dan tersenyum
" boleh pak, tapi pak Rehan gak sibuknkan? " ucapku yang langsung mengiyani. Kan mumpung ada tumpangan geratis dan gak usah pusing pusing naik bus.
" Enggak saya besok gak sibuk, besok jam berapa? " ucap pak Rehan dengan semangat
" jam setengah satu pak berangkatnya, " ucapku dengan tersenyum
" oke, " ucap pak Rehan dan mepanjutkan menyupir mobilnya. Sesampainya di sekolahnya Rian aku sudah bisa melihat Rian yang sedang menunggu didepan gerbang bersama anak anak lainya. Saat aku turun dari mobil, Rian berteriak dan berlari kearahku.
" Unda! " teriaknya dan langsung memeluk kakiku. Sebelium aku menggendong Rian, tiba tiba Rian sudah digendong pak Rehan.
" Om Lehan, " ucap Rian antusias dengan ekspresi terkejut dan sedang berada digendongan pak Rehan. Mungkin Rian terkejut karena sudah lama tidak bertemu dengan pak Rehan.
" Iya jagoan, " ucap pak Rehan dan kemudian memasukan Rian di kursi belakang. Setelah semuanya sudah masuk pak Rehan mengatarkan kami pulang.
"