Single Perents

Single Perents
bagian 28



" Tapi kenapa membuat lo marah? walaupun gue bersama dia apa hubungannya sama lo? " ucapku yang udah males melih perlilakunya, selalu aku saja yang salah dimatanya dan selalu dicurigai, heran deh!


" Karena kamu istriku, " ucapnya dengan penuh penekanan dan seketika membuat mulutku terbungkam. Setelah pertengkaran hebat itu, kesunyian terjadi diantara kami, sampai mobil terpakir di restoran seafood. Aku pun turun terlebih dahulu setelah mesin mobil berhenti, ya gimana lagi perut udah keroncongan. Saat berada di dalam Andrian tidak kunjung muncul, kemana sih dia! Apa mungkin dia gak mau bayarin aku makan gara gara pertwngkaran tadi?


" Maaf mbak mau pesan apa? " ucap karyawan restoran


" maaf nanti aja! masih nunggu seseorang! " ucapku dengan tersenyum dan karyawan restoran itu tersenyum dan pergi. Sebenarnya sih! inginya cepat cepat pesen makanan, tapi nanti kalau pesan siapa yang bayarin, aku kan lagi gak bawa uang! jadi nunggu dulu sebentar. Perut tahan dulu ya? Dan setelah menunggu lama bukan lama sih! lebih tepatnya lama banget si Andrian akhirnya muncul. Rasanya aetelah melihat dia lega banget, akhirnya makan juga dan penantianku selama ini terbalaskan juga.


" Ayo! " ucap Andrian menarik tanganku


" loh kok ayo sih! kan gue belum makan? " ucapku dengan wajah sedih agar dia kasian. Ya ya lah jahat banget dia! masak gue dibiatin kelaparan? sadis! Dan ternya rencanaku lancar, Andrian pun melepaskan tanganku dan duduk dihadapanku, seketika membuatku tersenyum.


" Mbak! " ucap Andrian memanggil salah satu karyawan restoran dan orang itu segera menuju ke arah kami. Ya gitu dong! baru Andrianku, loh kok Andrianku sih ralat ralat ucapku pada diriku sendiri dan gak sengaja tanganku reflek menepuk mulutku.


" Kamu kenapa? " tanya Andrian yang melihat tingkah anehku dengan tersenyum tipis yang nyaris tak terdeteksi.


" Ngak papa, " ucapku dengan menggeleng gelengkan kepala


" pesan apa mas? " ucap karyawan itu sambil memberikan menunya ke Andrian.


" Ini dua sama nasinya dua, dibungkus ya mbak? " ucap Andrian dan menyerahkan buku menu itu.


" Loh kok dibungkus? " ucapku setelah mbak itu pergi


" iya aku ada pekerjaan mendadak, " ucap Andrian


" ini pasti tentang Selena kan? " ucapku ke dia dengan sinis dan tidak di jawab sama dia. Kalau tidak di jawab pasti benar seratus persen perkerjaan mendadak itu ada kaitanya dengan Selena, si selingkuhanya itu.


" Sudah gue duga, karena ya gak mungkin lo buru buru seperti ini kalau bunkan tentang selingkuhan lo itu! " ucapku sinis dengan nada rendah dan hanya bisa di dengar oleh kami berdua. Kalau aku terik teriak sama saja mepermalukan diriku sendiri didepan orang banyak seperti ini.


" Terserah kamu bilang apa! " ucap Andria peneh penekanan, seskan kata katanya melambangkan kemarahannya. Sebelum aku menjawab ucapannya tiba tiba karyawan itu datang dan mengantarkan pesanan kami, gagal sudah!


" Ini pesanannya! " ucap karyawan itu menaru pesanan kami dimeja


" jadi totalnya berapa suanya mbak? " tanya Andrian


" tiga ratus lima puluh mas, " ucap karyawan itu dan langsung dibayar oleh Andrian dengan uang pas. Setelah itu dia beranjak dari tempat duduknya dan mengbil pesanan itu diatas meja.


" Ayo! " ajak Andrian ke aku dan tidak aku gubris, karena aku udah males sama dia.


" Ayo! " ucap Andrian sambil menggandeng tanganku menuju parkiran, membukakan pintu seperti biasa. Aku pun masuk ke mobil, saat di dalam mobil Andrian menyerqhkan bungkus makanan itu ke aku.


" Kamu makan, " ucapnya dengan nada perhatian dan mulai mengendarai mobilnya. Serba salah hidupku sekarang, mau aku makan tapi gengsi, tapi kalau gak aku makan lapar banget, apalagi aku punya riwayat lambung. Dan pada akhirnya aku memutusakan untuk memakan makan yang dibungkus dipangkuanku. Aku memakan lahap makananku dan saat aku tidak sengaja menatapnya Andrian, aku melihat Andrian senyum srnyum sendiri sambil fokus di jalan. Aku tau ini pasti ada hubungannya sama Selena, apa Selena sudah pulangnya? kalau enggak kenapa Andrian terburu dan bahagia seperti ini, kalau bukan Selena siapa lagi kan? aku? sudah jreas jelas mustahil. Daripada memikirkan mereka yang membuat hati dan pikiranku gak vit, lebih baik ngelanjutin makan aja agar gak stres. Setelah aku selesai makan, Andrian mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah menghabiskan waktu cukup lama akhirnya kami sampai di rumah. Saat di halaman rumah aku melihat Rian sedang bermain bola dengan Adi di halaman. Tumben tumbennya si Adi punya waktu banyak sampai sampai sempat main sama Rian. Biasanya aja, dia singkat banget waktu mampir ke rumah. Setelah mobil berhenti, aku pun segera turun dan menghampiri Rian yang sedang bermain.


" Unda! " teriak Rian setelah melihatku dan berlari ke arahku.


" Enggak kok! buktinya bunda ada disini, " ucapku menyesuaikan tinggiku dengan Rian. Setelah itu Rian berlari ke Adi.


" Om Adi, om Adi, bohong ya ke Rian? nanti hidungnya panjang lo! " ucap Rian dengan menunjuk hidungnya


" kata bu gulu kalau bohong hidungnya panjang, " ucap Rian yang membuat Adi gemas dan langsung menggendong Rian sambil mencubit hidungnya.


" Adi! " ucap Andrian yang tiba tiba sudah berada di sampingku


" Iya Andrian, " ucap Adi sambil menurunkan Rian kemudian berjalan beriringan dengan Andrian, sebenarnya sih! aku mau menguping pembicaraan mereka, tapi sayangnya perkataan mereka pelan banget dan jalanya terlalu cepat. Jadi ya! enggak bisa dengar apa yang mereka bicarakan.


" Unda! ayo! " ucap Rian yang menarik tanganku ke dalam rumah


" Rian mau ajak bunda kemana? " tanyaku penasaran karena melihat keantusiasan Rian. Rian tidak menjawab pertanyaanku dia hanya tersenyum dan menarik tanganku lebih kuat. Ternya Rian mengajaku ke kamarnya dan menunjukan hasil gamabrnya di sekolah. Disana ada aku, Rian, dan Andrian.


" Ini aku, unda cama papa! " ucap Andrian menunjuk gamabaranya satu persatu


" bagus banget gamabarnya anak bunda! " ucapku dengan lembut sambil mengelus rambut Rian


" sebentarya bunda foto dulu, " ucapku sambil mencari keberadaan telponku. Aku sudah mencari disaku bajuku ternyata tidak ada, apa ketinggalan di mobil ya?


" Aduh! hp bunda ketinggalan di mobil, bunda ambil dulu ya? " ucapku dengan perasaan gak enak ke Rian kerena Rian sudah mengatur posenya untuk difoto.


" Maaf ya Rian? sebentar saja bunda ambilnya! " ucapaku meyakinkan Rian dan Rian pun mengangguk kecewa. Aku tergesa gesa mengambil ponselku di mobil Andrian. Saat berjalan melewati kamar Andrian, aku melihat Andrian dengan membawa komper.


" Lo mau lemana? kok bawa koper segala! " ucapku dengan terkejut dengan hal yang aku lihat ini.


" Aku mau keluar negeri, perjalan bisnis, " ucap Andrian dengan tersenyum


" mungkin aku cuma empat hari disana, " lanjut Andrian


" sama siapa? " ucapku yang kawatir ke dia


" sama Adi, selama aku tidak ada kamu tinggal di rumahnya mama ya? " ucap Andrian yang membutku lega karena dia pergi sama Adi dan juga penasaran kenapa harus tinggal ke rumahnya orang tuanya Andrian.


" Kenapa? " ucapku penasaran


" Aku cuma kawatir saja, kamu dan Rian disini sendirian, " ucapnya


" papa mau kemana? " ucap Rian yang sudah berada disampingku. Andrian menghmapirinya dan menyesuaikan tingginya dengan Rian.


" papa mau pergi dulu, gak lama cuma empat hari, " ucap Andrin dengan nada lembut sambil mengelus kepala Rian.