Single Perents

Single Perents
bagian 35



Andrian keluar dari ruangan itu, melihat kearah mas Rehan dan kemudian marah marah kepadaku.


" Kamu tau, aku tidak meminta hak asuh Rian, kerena aku berfikir bahwa kamu bisa menjaga Rian dengan baik melebihi diriku! Bahkan aku menganggap kamu berbeda dengan Ella! Aku berfikir kamu lebih baik dari Ella, ternyata kamu dan dia sama saja! " ucap Andrian marah menekankan kata 'kamu dan dia sama saja' yang membuatku sangat sesak hingga mengangis.


" ma ma maafkan aku Andrian! " ucapku gemetar disela sela tangisanku.Benar yang dikatakan Andrian aku dan Selena sama saja. Sekarang kita sama sama membuat Rian diambang kematian. Selena membuang anaknya karena orang tua Andrian tidak mau menerimanya dan Rian, disisi itu dia harus melanjukan karirnya dan tidak mau membuat orang tuanya malu. Sedangkan aku lalai menjaga Rian sampai membuatnya seperti ini dan aku hanya mementingkan kebhagianku.


" Kamu lebih meperdulikan kehidupan barumu daripada Rian! " ucap Andrian tersenyum miring yang membuatku menangis menjadi jadi.


" Andrian sudahlah! Difa tidak sengaja melakukanya! Anda seharunya memahami dia! " ucap mas Rehan membelaku, karena dia tidak tega melihatku menangis seperti ini. Andrian kembali tersenyum miring.


" Tidak sengaja! tidak ada kata sengaja jika berurusan dengan nyawa! " ucap Andrian sinis


" Memang anda pikir Difa menginginkan ini? Anda juga tau, Difa sangat menyayangi Rian! " Ucap mas Rehan bersikeras membelaku.


" Menyayangi? " ucap Andrian yang membuat mas Rehan marah. Mas Rehan menghampiri Andrian, meremas kerah Andrian dengan kepalan tangan mengaharah ke Andrian, bersiap meniniju Andrian. Adi dengan sigab menghentikan kepalan tangan mas Rehan menuju wajah Andrian.


" Sudahlah kalian! Jangan membuat keributan disini! Seharuanya kita berdoa untuk kesembuhan Rian! " ucapku menghentikan perkelahian mereka. Perlahan mas Rehan menurunkan tanganya dan melepaskan kerah Andrian.


Setelah situasi tadi, keadaan disini menjadi tenang tidak ada suara sedikitpun. Semuanya berdoa berharap Rian bisa terselamatkan. Tidak lama setelah itu, dokter keluar dari ruangan. Semua orang yang ada disini langsung berjalan ke arah dokter dan bertanya kondisi Rian. Katanya Rian sudah melewati masa keritnya dan akan segera dipindahkan ke rawat inap. Ucap doketer itu yang membutku dan semua orang yang ada disini menghembuskan nafas lega. Maafkan bunda Rian! Bunda tidak becus menjagamu! Seharusnya bunda lebih memperhatikan dirimu!


Setelah dipindahkan ke ruang VIP, aku selalu berada disamping Rian sambil memegang tanganya. Andrian berdiri disamping Rian, mas Rehan pergi mebelikan sesuatu untuk aku makan, sedangkan Adi aku tidak tau kemana dia pergi. Kami semua hanya menunggu Rian mebuka matanya. Rasanya sedih sekali melihat Rian terbaring disini dengan keadan kepala, tangan dan kakinya diperban, alat bantu nafas di hidungnya. Dari tadi aku hanya menangisi dia.Tiba tiba saja ponselku berdering, aku menghapus air mataku, mengangkatnya dan pergi keluar ruangan.


" Hallo! " ucapku pelan dengan sisa sisa tangisanku


" woy! Lo dimana! Gak tau apa kalau sudah tengah malam! Lo gak kasian sama Rian! Lo ajak anak kecil begadang! " ucap Reta teriak teriak dari balik ponsel yang membuatku spontan menjauhakan ponsel dari telingaku. Setelah tidak terdengar suara teriakan Reta barulah aku dekatkan kembali ponsel ke telingaku.


" Aku sedang di rumah sakit sekarang, " ucapku pelan dan sama sekali tidak ada niatan membalas teriakan Reta.


" Rumah sakit! Rumah sakit mana! Siapa yang sakit Difa! Katakan jangan diam aja! " ucap Reta kembali berteriak yang membuatku kembali menjauhkan ponsel dari telingaku dan menghembuskan nafas berat.


" Ri an, Ri an mengalami kecelakaan, " ucapku pelan sedikit gemetar


" bagaimana bisa! Rumah sakit mana? Kamur share lokasinya, aku akan segera kesana, " ucap Reta panik dan kemudian menutup telponya. Aku mengirim lokasi rumah sakit ini ke Reta. Setelah itu aku kembali ke dalam untuk mendapingi Rian. Saat aku membuka pintu, aku melihat sudah tersadar bersama Andrian. Melihat itu aku langsung berlari ke arah Rian.


" Bunda, " Rintihnya saat melihatku, Andrian beranjak dari tempat duduknya untuk mempersilahkan aku duduk disana.


" Iya Rian bunda ada disini! " ucpku meneteskan air mata, duduk disampinya dan memegamg tanganya.


" iya Ian bunda tidak menangis, " ucapku menghapus air mataku.


" Bunda, ma maafkan ian! Ian tidak nulut sama bunda, " rintih Rian meminta maaf kepadaku


" tidak Rian! Tidak! Bunda yang salah, bundatidak becus menjagamu! Karena bunda kamu berbaring disini! maafkan bunda Rian! maafkan bunda! " ucapku menangis sambil mencium tanganya. Rian berusaha meraih kepalaku dengan tangan kirinya.


" Sekarang Rian istirahat ya? Nanti papa yang menenagkan bunda! " ucap Andrian yang membuat Rian menghentikan tanganya. Rian menjawabnya dengan mengangguk patuh. Andrian menupuk punggungku.


" Ayo! Biarkan Rianistirahat, " ucap Andrian lebut mengajakku keluar. Aku keluar besama Andrian. Aku sangat bingung dengan perubahan perilaku Andrian, tadi saja dia marahnya sampai begitu. Tapi kenapa sekarang dia sangat berbeda sekali? Saat sudah berada di luar ruangan, tiba tiba saja Andrian memelukku.


" Kamu bisa menangis sepuasnya, samapai kamu merasa tenang dan maafkan perilakuku tadi, " ucap Andrian tulus. Aku mengangis menjadi jadi dipelukan Andrian. Andrian mengelus rambutku untuk menenagkanku. Rasanya sangat nyaman sekali apalagi dia adalah orang yang aku rindukan selama dua tahun ini. Tak lama setelah itu aku sadar bahwa dia bukan lagi miliku, aku melepaskan pelukanku darinya. Sekarang aku dan dia sudah menjalani hidup kita sendiri sendiri. Andrian bersam Selena dan aku bersama mas Rehan.


" Terima kasih, " ucapku selanjutnya, karena takut membuat dia tersinggung. Tiba tiba ponselku berdering lagi dan lagi lagi Reta yang menelpon. Aku mengangkat telpon Reta dan menjauh dari Andrian.


" Ada apa Reta? " ucapku pelan


" kamu itu bagaimana sih! Aku tidak tau kamarnya yang mana! " ucapanya teriak teriak dari balik telpon yang membuatku menjauhkan ponsel dari telingaku.


" Mbak tolong dikecilkan suaranya, sekarang ada di rumah sakit! Bagaiman mbak ini! " ucap suara ibu ibu dari balik telepon yang memarahi Reta, sontak membuatku tersenyum.


" Iya buk maaf! Maaf! Sekali lagi maaf ya bu! " ucap Reta meminta maaf ke ibu ibu tadi.


" Makanya lo itu jangan teriak teriak! " ucapku menyalahkan dia.


" Ya! " ucap Reta kembali berteriak dan aku kembali menjauhkan ponsel dari telingaku.


" Teriak lagi, " ucap ibu ibu itu sekali lagi


" maaf bu! Maaf! Maaf semua! Maaf! " ucap Reta yang kembali meminta maaf


" ini semu gara gara kamu tau! Coba saja kalau kamu memberi tau aku Rian dirawat dikmar mana! Aku tidak akan teriam teriak seperti tadi dan tidak dimarahi sama ibu ibu itu! " ucap Reta kesal


" kenapa jadi salah aku sih! Lo sendiri tadi yang teriak teriak! Lagipulalo kan bisa tanya ke resepsionis 'Riano Andrian Lesmana berada di kamar berapa?' kan tanya itu kan bisa! Masak iya udah berumur dua puluh tujuh tahun tidaktau hal itu! " ucapku menyindir Reta, tapi entahlah dia mengngerti dengan sibdiranku atau tidak, karena dia selalu tidak peka saat disindir.