
Alarm hpku membangunkan aku dan tentunya dengan Rian juga.
" Unda dimana papa?" ucap Rian setelah menengok ke kiri dan tidak menemukan keberadaan ayahnya itu
aduh gimana ini apa yang harus aku katakan pada Rian dan gak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya.
" eh itu pa papamu u udah bangun duluan tadi Rian mungkin sekarang dia ada di ruang tamu," ucapku asal
Dan Rian segera turun dari tempat tidur menuju ke ruang tamu untuk memastikan keberadaan ayahnya itu. Aduh gimana ini semoga tebaanku benar. Aku pun turun dari tempat tidur menuju ke ruang tamu. Dan syukurlah tebaanku benar Andrian ada di ruang tamu sedang memainkan androidnya.
" Papa, papa!" ucap Rian berteriak memanggil papanya dengan raut wajah berbinar
mungkin waktu bangun tadi dia takut papanya pergi lagi dan ninggalin Rian. Saat Rian memanggilnya, Andrian langsung menghentikan aktivitas dan langsung menggendong tubuh Rian.
" Iya jagoannya papa," ucap Andrian saat menggendong Rian dan Rian tertawa dengan lepasnya
sungguh pemandangan yang membahagiakan. Aku meninggalkan interaksi antara ayah dan anak itu.
" Rian ayo mandi sudah hampir siang nanti sekolahnya terlambat loh," ucapku menghampiri mereka setelah selesai mandi dan ganti baju
" iya unda, unda unda Ian mandi cama papa ya?"
" iya Rian"
" makaci unda, Ian sayang unda," ucap Rian turun dari gendongan Andrian dan memelukku
Rian sekarang ini sangat bahagia aku ingin melihat Rian seperti ini setiap harinya. Rian sudah bahagia bersama aku dan sangat bahagia kalau ada ayahnya juga. Aku menyiapkan seragam sekolah Rian dan menuju dapur menyiapkan sarapan untuk kita berdua ups sampai lupa untuk kita bertiga. Aku memasak nasi goreng seperti biasa dan menyiapkan minuman untuk kita bertiga: susu untuk Rian, teh untukku dan mungkin kopi hitam buat Andrian. Setelah sudah siap semuanya aku melihat Rian rapi memakai seragamnya dan Andrian juga rapi dengan jasnya yang di pakai semalam dan terlihat lebih segar menuju meja makan tapi bukan meja makan juga sih meja di ruang tamu yang aku sulap menjadi meja makan. Maklum lah dengan gajiku yang minim mana bisa beli meja makan dan inilah yang disebut ekonomi kreatif. Rian duduk di sebelahku dan Andrian duduk berhadapan denganku. Kami makan dengan diam dengan Rian yang aku suapi.
" Saya tidak makan makanan yang berminyak"
" ya udah," ucapku mengambil piring yang berisi nasi goreng dari hadapannya dan memakanya setelah menyuapi Rian
" Maaf saya tidak minum kopi hitam di pagi hari"
" ya udah kalau gitu aku yang minum," ucapku mengambil cangkir kopi yang berada di depannya dan meminumnya. Ya walaupun aku sudah kenyang sebenarnya dari pada membazir makanan. Kalau kamu ya mudah cari duitnya kalau kita nih kaum menengah ke bawah susah bos cari duitnya. Nih orang Rewel banget sih. Tapi gak papa lah berkat dia aku bisa makan nasi goreng dua piring plus kopi hitam, ini merupakan sarapan terkenyangku. Andrian melihatku dengan tatapan takjub mungkin gak pernah melihat wanita yang makanya sebanyak ini dan secepat ini. Kalau aku ma bodoh amat kalau lapar ya makan, gak ada kata diet di kampusku. Setelah aku membersihkan meja aku pun membawa piring dan gelas kotor ke dapur dan mencucinya . Dan kami pun berangkat dengan Rian berada di gendongan Andrian sementara aku mengekorinya dari belakang dengan membawa tasnya Rian. Saat di lorong apartemen aku bertemu dengan tetangga kepoku itu. Waduh ketemu sama nih orang semoga tidak ada hal hal buruk yang terjadi nanti Tuhan.
" Eh ketemu abang ganteng lagi, mau kemana bang?" ucapnya dengan nada genit dan tidak di gubris sama sekali sama Andrian dia tetap jalan terus seperti gak ada hambatan.
" Maaf mbak kami sudah terlambat"
" oh pasti mbak Difa telat ya bangunnya? atau jangan jangan lagi berantem sama suami," ucap tetanggaku yang belum selesai aku tinggalkan dan menyusul Andrian dan Rian yang sudah jauh. nih nih yang namanya di beri hati minta jantung aku tuh jaga perasaan sih dia malah nyalain aku ya udah aku tinggal aja ngapain di ladenin. Aku jadi salut deh sama yang di lakukan Andrian gak jadi aku protes deh. Sesampai di loby apartemen aku melihat pak Rehan yang melihatku dan Rian bersama Andrian dan pergi sebelum menemuiku pasti dia ke sini mau menjemput aku dan Rian. Aku pun memanggil pak Rehan.
" Pak Rehan!" ucapku dan menghampiri pak Rehan
" pak kenapa gak langsung menghampiri saya?"
" om Lehan" ucap Rian berteriak turun dari gendongan Andrian dan berlari menghampiri pak Rehan yang langsung di gendong pak Rehan.
" Oh jagoan"
Andrian yang melihat diam saja membeku dan tak lama kemudian menghampiri kita bertiga.
" oh ya om ini papanya Ian, cekalang Ian punya papa jadi gak di ejek lagi sama teman teman Ian," ucap Rian yang masih berada di gendongan pak Rehan dan aku bisa melihat ekspresi kekecewaan di wajah pak Rehan
" Saya Andrian, ayahnya Rian," ucap Andrian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Rehan
" oh saya Rehan bosnya Difa," ucap pak Rehan menerima jabat tangan dari Andrian
" saya disini tadi habis dari rumah teman"
tapi yang aku tahu pak Rehan gak punya teman yang tinggal di apartemen ini dan lagi pula masak bertamu di rumah orang pagi pagi kayak gini. Tapi bisa saja sih mungkin teman dekat dan yang aku gak tahu.
" Ya udah, saya duluan, Difa, pak Andrian dan good bye jagoan," ucap pak Rehan setelah menurunkan Rian dan pergi setelah melambaikan tangan buat Rian
" dadah om Lehan," ucap Rian dengan melambaikan tangannya
" ayo Rian nanti sekolahnya telat," ucap Andrian
" ayo papa unda," ucap Rian menggandeng tanganku dan Andrian
kami pun berjalan menuju parkiran tempat mobil Andrian di parkir. Dan aku akui mobil Andrian itu terlihat mewah dan pastinya harganya mahal. Kami pun masuk dengan posisi Andrian di kursi pengemudi, aku di samping Andrian dan Rian berada di belakang dan semua ini Rian yang mengatur posisi kami. Saat sampai di sekolah Rian, Rian ingin di antarkan hingga di depan kelasnya dengan menggandeng tanganku dan Andrian dan dengan senang hati kami turuti. Setelah mengantarkan Rian ke kelasnya aku dan Adrian pergi menuju mobil Andrian.