Single Perents

Single Perents
bagian 32



Keesokan paginya aku menjalankan aktivitasku seperti biasa walau dirumah yang berbeda. Sebenarnya agak aneh, setelah terbiasa ke tempat itu dan kbali ke tempat awal mulaku. Tapi lama kelamaan aku akan terbiasa dengan ini.


Aku meminta bercerai tanpa mengetahui prosesnya, aku sangat bingung sekarang apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku menanyakannya dimana? Dia kan pernah becerai dengan suami petamanya. Tapi kalau dipikir pikir lagi, masa iya ke tetangga sebelahku itu yang ada jadi bahan gosip. Apalagi orang itu suka menggosip, tapi rata rata semuatetanggaku suka ngegosip, gak ada satu pun, Kecuali tetanggaku yang dekat lift yang susah tua tinggal sendirian. Tidak terkecuali sahabatku sendiri Reta, tidaka aku sangka saat mengantarkan Rian, Reta ikut ikutan ngegosip sama ibu ibu itu. Katanya gak sudi ngegosip kayak ibu ibu dan waktunya terbuang sia sia, ternya dia mengingkari omonganya sendiri. Tapi aku yakin Reta tidak akan pernah menyeritakan masalahku ke orang lain. Dia adalah salah satu manusia yang aku percayai setelah diriku sendiri dan Rian pastinya.


Setelah pulang mengantarkan Rian, aku menyiapkan dokumen dokumenku untuk melamar kerja lagi. Kalau aku gak kerja siapa yang bayar kebutuhanku dan Rian.


" Gimana dengan perceraianmu? Jadi? " ucap Reta yang datang tiba tiba mumbuaktu kaget.


" Iya, " ucapku yang masih sibut dengan dokumen dokumen yang ada di depanku.


" Lo tau gak persaratanya? " ucap Reta sok tau


" emang lo tau? " tanyaku yang sangat sangat meragukan Reta. Karena gak mungkin Reta tau, dia gak pernah bercerai dan malas membaca buku ataupun bertanya. Seperti pada masa SMA dulu dia hanya duduk tertidur dan tidak pernah membuka bukunya bahkan tidak pernah mengerjakan tugasnya. Tapi aku heran dia bisa masuk kuliah dan lulus.


" Enggak sih! Tapi aku tau siapa orang yang akan membantumu, " ucap Reta dwngan wajah sok misterius.


" Siapa? " ucapku malas


" pengacara itu, siapa namanya? pak Ren Ren, " ucap Reta mengingat ingat nama orang itu.


" Pak Rehan! " ucapku malah dan sibuk sendiri


" iya benar itu! kamu kan bisa tanya ke dia, " ucap Reta antusias. Benar juga ya? Aku lupa kalau pak Rehan itu pengacara dan pastinya tau tentang hal ini. Kenapa aku tidak terpkirkan tentang itu sebelumnya. Tapi apa pak Rehan marah ke aku, karena kejadian kemarin Andrian membuatnya malu di depan banyak orang. Seakan akan pak Rehan penjahatnya. Semoga saja dia tidak marah.


" Benar katamu, " ucapku dengan menengo ke arah Reta.


" Benarkan? makanya kamu itu jangan meragukan aku! aku itu pintar! " ucap Reta memuji muji dirinya sendiri dan tidak aku hiraukan sama sekali. Aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi meninggalkan Reta dengan ocehan tidak jelasnya. Aku pergi ke restoran tempat pak Rehan dan semoga saja pak Rehan disana, jadi aku tidak mencarinya kemana mana. Sekalian meminta maaf ke dia. Untunya harapanku menjadi kenyataan pak Rehan ada di Restoran dan bertemu denganku di area parkiran.


" Difa? Kenapa bisa kamu disini? " ucap pak Rehan heran dengan keberadaanku disana, karena aku tidak pergi kesana tanpa ada permintaan dari pak Rehan.


" Pak maaf ya? untuk yang kemarin, aku ingin menyusul pak Rehan, tapi keadaan tidak memungkinkan, " ucapku penuh penyesalan dengan wajah yang menyedihkan berharap pak Rehan memaafkan aku.


" Gak papa Difa! kamu jangan terlalu merasa bersalah seperti ini, " ucap pak Rehanlembut dengan tersenyum yang membuatku senyumanku seketika mengembang.


" Terima kasih pak! terima kasih! " ucapku kegirangan


" jadi apa alasanmu datang kemari? " ucap pak Rehan to the poin yang membuatku seketika kehilangan senyumku.


" Bagaimana kalau kita makan diluar, saya meneraktirmu sarapan? " ucap pak Rehan yang lebih baik sedikit meprivasi percakapan kita. Mungkin pak Rehan sudah paham siapa orang yang akan bercerai, walau aku menyembunyikannya. Aku menyetujui ajakan pak Rehan dengan anggukan kepala. Aku mengikuti pak Rehan dari belakang dan kami duduk di pojok dekat kaca. Pak Rehan duduk di depanku dan memesankan makanan untuk kami.


" Apa kamu tidak ingin memikirkan kembali tentang ini? " tanya pak Rehan yang membuatku tekejut, ternyata memang benar pak Rehan sudah paham apa yang aku katakan.


" Kenapa? Kamu lupa? Kamu pernah menceritakan ke saya kalau kamu tidak punya saudar, " ucap pak Rehan melihat ekspresi wajah terkejutku. Aku menepuk jidatku, oh iya aku kan pernah becerita tentang itu kenapa aku bisa lupa sih!


" Saya cuma ingin kamu tidak menyesali keputusanmu! Sedih berkepanjangan yang akan membuat hati saya sesak, " lanjut pak Rehan menasehatiku


" maaf pak? " ucapku yang gak paham atau lebih tepatnya memastikan kalau tadi aku tidak salah dengar. Masak iya pak Rehan bilang seperti itu? Gak mungkin.


" Tidak lupakan saja! Intinya saya tidak ingin kamu menyesalianya, " ucap pak Rehan serius


" saya lihat Andrian sangat mencintai kamu, begitu juga dengan dirimu, kenapa kaliqn ingin bercerai kalau salaing mencintai, " lanjut pak Rehan menasehatiku. Mencintai apanya pak! Dia itu hanya mencintai satu orang di dunia ini dan sayangnya bukan aku. Sampai sampai dia rela menentang orang tuanya dan merelakan anaknya.


Saat aku meliahat ke arah pintu masuk restoran, aku melihat Andrian dengan Selena bergandeng tangan mesra, yang membuatku seaqk. Tiba tiba Andriqn berhenti dan menghadap ke arahku mata kita bertemu dan tidak telalu lama Andrian mlihat ke arah pak Rehan. Karena melihat aku terpaku terlalu lama, pak Rehan mengikuti arah pandanganku. Dia juga melihat kebersamaan Andrian dan Selena.


" Difa! Difa! " ucap pak Rehan menggerkan tanganku, untik menyadarkan aku.


" Iya pak, " ucapku kaget dan mengarahkan pandanganku ke pak Rehan


" kamu gak papa kan? " ucap pak Rehan yang mungkin sekqrqng sudah mengerti apa maksudku untuk meminta bercerai dengan Andrian.


" Sejak kapan ini terjadi? " ucap pak Rehan serius. Aku tau arah pembicaraan pak Rehan, pak Rehan bertanya sejak kapan Selena hadir di kehidupan kami.


" sejak pertama aku menjadi istri Andrian, " ucapku jujur. Sebenarnya aku ingin menyembunyikanya, tapi takdir yang mengungkapnya.


" Apa kita perlu pindah tempat makan? " tanya pak Rehan halus


" tidak usah pak, aku biaa mengatasinya! Lagi pula kita sudah memesan makanan, " ucapku bohong. Sebenarnya aku ingin sekali menghilang dari sini, mengilang dari hadapan mereka. Rasanya sesak lama lama disini, padahal dulu aku tidak pernah merasakan sampai seperti ini walaupun aku melihat kemesraan mereka setiap hari. Kenapa sekarang terasa menyakinkan?


" Difa! Difa! " ucap pak Rehan menyadarakan aku dari lamunanku


" beneran gak papa? Apa mending pindah aja, gak usah makan disini, kalau soal pesanan kita bisa kok batalin! " ucap pak Rehan kawatir


" gak usah pak! gak papa, " ucapu sekali lagi berbohong