Single Perents

Single Perents
bagian 38



Dia hanya diam saja dan tiba tiba saja memberikan amplob kepadaku. Saat aku membukanya, ternyata isinya surat hak asuh. Aku sangat terkejut membaca idi surat ini, sampai samoai setelah membaca surat itu aku diam mematung. Andrian ingin mengambil hak asuh Rian.


" Difa! Difa! Ada apa? " tanya Reta saat melihatku diam mematung


" oh gak papa! " ucapku yang masih bingung apa yang terjadi saat ini. Karena penasaran, Reta menarik surat yang ada di tanganku dan membacanya.


" Lo sudah gila Andrian! Bagaimana bisa lo melakukan hal ini! Lo tega misahin ibu dari anaknya! " teriak Reta kasar, karena kaget saat membaca surat itu. Andrian tidak memedulikan perkataan Reta dan malah pamit pulang.


" Woy Andrian! Lo mau pergi kemana! wah! Wah! benar benar gila dia! " ucap Reta yang terus terusan mencaci Andrian. Saat aku sadar Andrian meninggalkan apartemen ini, aku langsung keluar mengejar Andrian ingin meminta kejelasan tentang surat ini. Samapai sampai aku tidak menggubris teriakan Reta yang terus menerus memanggil namaku. Saat melihat pintu lift ingin tertutup, aku berlari agar tidak tertinggal jauh dengan Andrian. Bisa dikatakan ini sebuah keberuntungan, karena sekarang aku berdua dengan Andrian di dalam lift.


" Andrian, apa maksutmu dengan surat tadi! Itu gak benar kan? " ucapku melihat ke arah Andrian. Aku masih tidak percaya dengan kejadian itu, dengan harapan penuh bahwa surat itu sebuah kekeliruan.


" Aku ingin mengambil hak asuh Rian! Munurutku Rian lebih aman bersamaku! " ucap Andrian dingin sam bil melihat kedepan.


" Bagaimana denganku? Bagaimana dengan Rian? " ucapku meyakinkan Andrian agar tidak melakukan hal ini.


" Kamu bisa bertemu Rian setiap hari, " ucapnya singkat seakan akan itu bukan masalah besar


" oh ya! Jika kamu ingin dua puluh empat jam bersama Rian, kamu bisa rujuk kembali denganku! " ucap Andrian dengan mudahnya sebelum keluar dari lift.


Aku hanya diam mematung mencerna perkataan dia tadi. Apa maksut Andrian tadi! Rujuk? Bagaimana dia bisa mengatakan itu padaku dengan mudahnya! Apa mungkin merutnya hal itu bukan masalah besar! Aku harus kembali menata hatiku agar tidak disakiti terakhir kali. Jika aku rujuk dengannya, bagaimana dengan mas Rehan? Lagipula dia juga masih bersam dengan Selena. Bagaiman dia berpikir untuk rujuk, jika masih ada seorang wanita disisinya. Bagaimana ini! Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengatakan semuanya pada mas Rehan ya? Dia kan pengacara hebat, pastinya dia bisa mengambil kembali hak asuh Rian kepadaku.


" maaf kak, mau ke lantai berapa? " ucap perempuan yang memakai seragam SMP yang menyadarkan aku dari lamuananku.


" oh iya, lantai lima, " ucapku spontan dan ia pencet tombol lima. Bagaimana ini? Aku takut sekali jika mas Rehan tidak bisa memenangkannya. Aku tidak akan bisa terus bersama Rian. Apa mungkin Andrian melakukan ini karena aku tidak becus menjaga Rian dan menyebabakan Rian kecelakaan? Tapi tetap saja bukan seperti ini caranya! Rasanya aku menyesal telah membujuk Rian untuk pergi bersama Andrian. Seharunya tadi aku biarkan Rian pulang bersamaku dan besama mas Rehan. Seharusnya aku tega dengan Andrian. Biarkan dia merasa kecewa kalau Rian lebih memilih bersama mas Rehan dibandingkan dia, karena memang benar selama dua tahun ini dia tidak pernah sekalipun menanyakan keadaan Rian. Dia benar benar tidak tau berterima kasih! Tega banget dia sama aku!


" Kak kaka! " ucap perempuan itu menepuk bahuku


" eh iya ada apa? " tanyaku spontan karena kaget


" iya makasih, " ucapku dengan tersenyum dan keluar dari lift, ternyata dia juga ikut keluar. Berarti dia tetanggaku! Tapi aku tidak pernah dengar ada tetanggaku yang memiliki anak SMP. Mau tanya tapi gak enak. Aku berjalan dengan pelan pelan dan mengikuti anak SMP tadi. Ternyata dia tetangga pas bersebelahan denganku, tapi itu anaknya siapa? Yang aku tau tetanggaku anaknya udah SMA. Aku membuka pintu apartemunku, disana ada Reta yang terlihat gelisa. Duduk di sofa dengan menggik kukunya dan bangkit dari duduknya saat melihat diriku.


" Bagaimana? Apa yang terjadi? " ucap Reta dengan raut wajah kawatir


" dimana Rian? " ucapku tidak menjawab perkataan Reta malah menanyakan keberadaan Rian yang tidak terlihat.


" Dia berda di kmarny sedang bermain! Bagaimana tadi? " ucap Reta serius


" ternyata Andrian benar benar ingin mengambil hak asuh Rian, " ucapku dengan nada kecewa dan menceritakan secara terperinci tentang kejadian tadi di lift.


" Udah gila orang itu! Bisa bisanya dia mengkatakan ingin rujuk dengan lo! Dia lupa atau sudah demensia kalau sudah menyakiti loseperti itu! Gue heran ada orang seperti itu di muka bumi! " ucap Reta emosi


" gue gak ngerestuin lo balik sama dia! " ucap Reta sok jadi orang tua


" siapa juga yang mau balik sama dia! " ucapku nyolot


" kalau samalahnya tetang Rian kita bisa bicara dengan pak Rehan, pak Rehan pasti punya solusi dengan masalah ini, " ucap Reta bijak


" iya iya aku tau, " ucapku malas


" kira kira Rian tadi denger gak ya? " ucapku kawatir dengan Rian, aku takut dia mengerti dan mendengarkan ucapanku dan Reta. Karena dulu waktu orang tuaku berpisah, aku mengerti dan mendengar pertengkaran mereka yang sama sama tidak menginkan aku. Beda dengan orang tua di luar sana, jika terjadi perceraian dia akan memperebutkan hak asuh anaknya. Sedangkan orang tuaku malah mereka merebutkan untuk tidak mengasuhku dan pada akhirnya aku diasuh nenekku. Rasanya aku seperti anak yang tidak diharapkan, walaupun kata nenekku dulu orang tuaku menikah karena saling mencintai. Padahal waktu itu aku masih sangat kecil dan sayangnya peristiwa itu masih saja membekas dipikiranku. Kadangkala hal itu menjadi mimpi burukku tiap malam. Karena hal itu aku sangat menghidari yang namanya perceraian, perceraian akan merusak mental anak. Tapi mau bagaimana lagi aku tersiksa dengan hubungan itu dan mrnurutku hal itu juga bisa menghilanhkan kemungkinan Rian membenci ayahnya, karena menurut Rian aku adalah ibunya dan sekaligus ibu kandungnya sementara Selena dia anggak sebagai wanita yang sudah mengambil ayahnya. Dia juga berpikir karean wanita itu aku selalu menangis. Walaupun berkali menyakinkan Selena lah ibu kandungnya dan bahwa Selena tidak merebut ayahnya. Tapi tetap saja dia menolak dan tetap saja sangat membenci ibu kandungnya sendiri. Tapi aku tidak bisa langsung memaksanya untuk mempercayai perkataanku, jadi aku mnjelaskannya secara perlahan.


" Sepertinya tidak Difa! Dia masih kecil mana tau dia tentang hal ini! " ucap Reta dengan secara logis. Memang benar sacar logis anak sekecil itu tidak akan tau tetang hal ini, tapi kita tidak tau perasaannya seperti apa dan tingakat kecerdasannya!


" Aku tidak yakin, " ucaplu yang ragu dengan ucapan Reta. Setelah itu aku melihat Rian di kamarnya dan untungnya Rian sudah tidur dengan mainan yang berantakan. Hal itu yang membuatku sangat lega semua hal buruk yang aku takutkan tidak terjadi. Aku membereskan semua mainan Rian yang berserakan dan menempatkan Rian ke posisi yang nyaman serta tidur disampinnya