
Setelah masuk ke mobil, mobil pak Rehan melaju dengan kencang menuju sekolah Rian karena, aku sudah terlambat lima menit menjemput Rian dan pastinya Rian sudah menunggu. Sesampainya di sekolahnya Rian aku segera bergegas turun mencari keberadaan Rian dimana mana tapi tidak aku temukan. hampir seluruh sekolah aku mencarinya. Rian kamu dimana nak bunda kawatir.
" Gimana Rian uada ketemu?"
" belum pak gimana ini pak, apa jangan jangan Rian diculik pak?" ucapku dengan gentar. Pak Rehan langsung memelukku untuk menenangkan ku.
" Jangan berpikir enggak enggak kita pasti Menemukan Rian, sekarang kita ke ruang guru tanya siapa yang membawa Rian?" ucap pak Rehan melepaskan pelukannya
aku dan pak Rehan pergi menuju kantor. Disana kami mencari guru yang terakhir mengajar Rian dan katanya Rian sudah pulang dan dijemput dengan seorang wanita yang dikira itu aku. Aku menjadi semakin kawatir Rian benar benar diculik. Pak Rehan menyarankan untuk bertanya kepada satpam sekolah ini atau melihat rekaman CCTV yang ada di sekolah ini. Dan kami segera menuju ke pos satpam. Pak Rehan menanyakan keberadaan Rian dengan menyebutkan ciri cirinya. Dan katanya satpam nya ya pak tadi ada anak kecil yang sama dengan yang dengan yang disebutkan bapak berdiri di depan pagar, saya tanya katanya masih nunggu jemputan dan gak terlalu lama ada wanita yang turun dari mobil mewah, saya samperin katanya sekretaris ayahnya, dan setelah itu kaca belakang mobil terbuka memperlihatkan pria yang berkacamata hitam yang katanya ayahnya mau saya cegah anaknya udah lari kegirangan dan lagi pula wajahnya juga sama persis. Sesuai yang diucapkan satpam itu satu orang yang aku pikirkan ya siapa lagi kalau bukan si Andrian. Fakta tersebut membuat ku kecewa aku seperti seorang ibu yang menelantarkan anaknya
" Gimana sih bapak ini masak gara gara wajahnya sama, kalau orang tadi itu peculik bapak mau bertanggung jawab?" ucap pak Rehan dengan marah marah
" maaf pak" ucap satpam itu dengan menyesal
" bapak ini…"
" sudah pak nanti saya jelaskan" ucapku memotong perkataan pak Rehan
aku menarik tangan pak Rehan masuk kedalam mobil. Saat sudah didalam mobil aku menjelaskan bahwa yang menjemput Rian itu benar benar ayahnya. Aku melihat wajah pak Rehan yang kecewa, tapi kenapa pak Rehan kecewa apa gara gara aku tadi memotong perkataannya. Kalau begitu ya aku minta maaf, jadi gak enak deh sama pak Rehan.
" Jadi kita harus cari dimana kalau begini," ucap pak Rehan dengan nada datar
" kita kekantor tempat ayah Rian bekerja"
aku menjelaskan lokasinya kepada pak Rehan. Tidak lama setelah itu ada telfon masuk dan aku tidak tau nomer siapa?.
" Siapa yang telfon? angkat aja siapa tau penting," ucap pak Rehan dengan nada yang sama datar.
Aku mengangkat telfon itu dan yang aku yakin suara itu Andrian.
" Rian sama saya, nanti malam Rian saya antar"
setelah mengucapkan itu telfon langsung ditutup dan tidak memberikan aku kesempatan untuk berbicara, dasar.
" Kita putar balik aja pak Rian nanti malam diantar sama ayahnya"
" ya udah kalau gitu saya antar pulang"
" iya pak"
" Maaf pak merepotkan bapak dan terimakasih sudah mengantarkan saya serta tadi membantu mencari Rian"
pak Rehan hanya menganggukkan kepalanya.
" Oh ya besok saya jemput jam tujuh," ucap pak Rehan yang menghentikan ku saat membuka pintu mobil
" bapak tidak mampir sebentar," ucapku sebelum keluar dan sudah membuka pintu mobil
" tidak terimakasih saya masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan"
aku turun dari mobil dan menunggu sampai mobil pak Rehan tidak terlihat lagi. Aku melangkah masuk menuju ke apartemenku dan membuka pintu apartemenku. Aku melepas sepatuku dan langsung menuju kamar merebahkan tubuhku ke kasur kesayangan melepaskan penatku. Tidak lama setelah itu aku ketiduran dan bangun saat jam empat sore dan masih memakai baju saat aku keluar tadi. Mungkin karena kecapean jadi sampai ketiduran tanpa mengganti pakaianku. Aku menatap langit langit kamarku untuk mengumpulkan kesadaran ku sepenuhnya. Setelah terkumpulnya kesadaran ku aku langsung menuju ke kamar mandi membersihkan tubuhku. Aku keluar dari kamar mandi memakai baju dan membersihkan apartemenku yang sudah lama tidak aku bersihkan mungkin sudah lima hari karena, setelah balik kerja aku capek jadi gak deh sempet bersihin rumah. Pertama tama aku memberikan ruang tamu yang paling utama nanti kalau ada tamu gak dibicarain apa lagi tetangga sebelahku itu masuk duluan sebelum dipersilahkan kalau udah masuk uh semuanya dicek mulai dari ruang tamu kamarku dapur sampai sampai kamar mandi dicek juga. Tapi jangan kawatir tetanggaku itu berkunjung waktu gak ada obrolan yang dibicarakan dengan ibu ibu yang ada di apartemen ini. Sudah satu bulan ini deh tetangga kampr** ku itu tidak berkunjung mungkin lagi bicarain tetangga yang tempatnya deket pintu lift yang katanya sih hamil duluan. Sudah tiga jam aku menunggu Rian diruang tamu dan meminum secangkir teh setelah membersihkan semua ruangan yang ada apartemenku. Rasanya aku kesepian sekali padahal baru delapan jam aku ditinggal Rian, aku tidak bisa ngebayangin hidupku tanpa ada Rian di sisiku. Sudah jam setengah sembilan malam tapi kenapa Rian gak diantar antar pulang besok kan Rian harus sekolah. Apa Rian lebih nyaman tinggal dengan rumah mewah dengan ayahnya daripada tinggal di apartemen kecil bersama bundanya. Mungkin disana lebih banyak mainan untuk Rian dan yang pastinya lebih mahal dari yang aku berikan pada Rian. Bagaimana jika Rian gak mau pulang? trus bagaimana dengan aku? menyendiri gitu. Tidak tidak Rian bukan anak seperti itu pasti sekarang Rian sudah sangat merindukan bundanya. Dan tak lama setelah itu suara bel apartemen berbunyi. Pasti ini Rian aku segera berlari menuju pintu dan membukanya dan benar itu Rian yang sedang menggandeng tangan laki laki itu.
" unda," ucap Rian melepaskan tangan laki laki itu dan berlari memeluk kaki ku dan aku pun jongkok menyesuaikan tinggi Rian dan memuluk nya.
" unda tau Ian cangat melindukan unda"
" iya Rian bunda tau"
aku ingat bahwa disini bukan hanya aku dan Rian tapi masih ada laki laki itu didepan pintu. Aku melepaskan pelukanku dengan Rian dan mempersilakan dia masuk. Walaupun sih ditolak katanya kerjaannya banyak tapi, Rian memaksanya menarik narik tangannya agar masuk dan aku menutup pintu apartemen.
" Mau minum apa?"
" terserahlah"
" papa ayo, ayo papa, Ian tunjukin kamalnya Ian, ayo papa," ucap Rian menarik narik tangannya Andrian
" iya iya Rian," ucap Andrian dan mengikuti Rian dari belakang
Padahal Rian sama Adrian baru bertemu tapi kok lengket banget ya? apakah itu yang dinamakan ikatan batin. Aku membuat teh untuk Andrian dan meletakkannya di meja ruang tamu. Aku mendengar suara Rian yang antusias menunjukan mainannya pada Andrian.
" Rian semua mainan Rian kan sudah ditunjukkan ke papa sekarang papa mau pulang," ucap Andrian meyakinkan Rian
" dak papa, papa belum minum, kata unda kalau ada tamu halus minum dulu sebelum pulang"
aku gak ingat kapan ya aku bicara seperti itu pada Rian, entalah aku gak ingat.