
" Maaf tadi ponsel anda tidak sengaja saya bawa, saya kembalikan pada waktu sekitar jam sepuluh, nanti Saya suruh pak Joko yang mengantar anda, " ucap Andrian sebelum mengakhiri panggilannya. Setelah itu aku hanya terdiam melamun tanpa mengucapkan sepatah kata pun mencerna perkataan Andrian.
" Difa, Difa, " ucap bi Surti sambil menepuk pelan pundakku yang membuatku terperonjok kaget dan tak sengaja menjatuhkan ponsel milik bi Surti ( pllaakkk ). Aku pun segera mengambil ponsel itu dan menghidupkannya, tapi saat berkali kali aku coba ponsel itu tidak mau hidup. Haduh gimana nih! kenapa gak nyala nyala sih! ayolah kumohon nyala dong! Dan akhirnya aku pun menyerah, menatap mata bibi sambil tersenyum berharap bibi gak marah.
" maaf bi ponsel bibi mati, tapi jangan kawatir bi nanti akan aku perbaiki, " ucapku merasa bersalah
" iya gak papa Difa, lagipula ponsel bibi sudah lama jadi wajarlah kalau rusak, " ucap bi Surti lembut dengan tersenyum yang seperti dipaksakan, mungkin agar aku tidak merasa bersalah dan sebenarnya itu tidak apa apa.
" sekali lagi maaf ya bi? ponselnya aku bawa dulu ya bi? sementara bibi pake ponselku dulu deh! tapi setelah ketemu! " ucapku meyakinkan bibi
" nggak usah! bibi bisa perbaiki sendiri! " ucap bibi gelagapan dengan raut wajah cemas dan mencoba Untuk mengambil ponselnya dari tanganku, tapi sebelum itu aku menarik ponselnya bibi ke samping, jadi gak bisa mengambil ponselnya.
" Biar aku saja yang memperbaikinya bi, aku usahakan secepatnya kok bi, jadi bibi gak usah kawatir, " ucapku meyakinkan Si bibi dan direspon dengan anggukan kepala oleh Si bibi. Untung saja si bibi orangnya baik coba kalau enggak udah suruh ganti yang baru, apalagi uang tabunganku habis, nanti darimana aku dapat uang? pinjaman ke Reta? dia mana punya uang, buat bayar kontrakan aja gak bisa, buktinya dia tidak di apartemenku sekarang. Aku berpamitan ke bibi terlebih dahulu sebelum ke atas sambil menunggu jam sepuluh. Kenapa sih harus ketemuan ke suatu tempat? padahal kan bisa di titipkan ke Adi, sopirnya atau aku langsung ke sana buat mengambil ponselku di seketarisnya kan bisa! buang waktu saja! katanya tadi sibuk, banyak urusan dan apalah itu! kenapa ngajak ketemu? aneh banget. Aku juga masih males lihat mukanya dan yang paling aku sesali, aku belum sempat menolak tawarannya. Saat memikirkan semua itu tanpa aku sadari aku tertidur pulas dan saat terbangun jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. waduh udah pukul setengah sebelas nih! pasti dia udah nunggu lama di sana. Aku pun langsung bergegas memberikan diri dan mengganti bajuku. Saat aku mengganti bajuku, aku ingat bahwa dari tadi aku masih memakai jas milik Adi dan lupa untuk mengembalikannya saat mengantarkan aku pulang. Aku lupa lagi! gimana nih! oh ya nanti kan aku ketemu sama Andrian, sekalian aja aku titipin sama dia dan servisin ponselnya bi Surti. Setelah selesai aku turun dan segera menuju parkiran.
" Maaf ya pak udah nunggu lama, " ucapku ke pak Joko yang berada di dekat pintu mobil
" enggak kok Bu, " ucap pak Joko yang kemudian membukakan pintu mobil. Selama perjalanan tidak ada sepatah katapun yang aku lontarkan begitu juga dengan pak Joko, mungkin pak Joko tau kalau aku dalam mode off. Sesampainya di tempat tujuan, ternyata tempat ketemuannya di sini, di kafe tempat biasa aku dan Reta nongkrong. Dengan langkah yang berat ( maksutnya itu berat hati, bukan aku yang berat sampai gak kuat buat melangkah ) aku pun masuk ke kafe itu. Di sana aku melihat Andrian yang berada di dekat jendela kaca yang juga tempat favoritku di kafe ini. Aku berjalan mendekat ke arahnya, duduk di depannya dan menaruh tas yang aku bawa yang berisi ponsel bibi yang rusak dan jas Adi. Di atas meja sudah ada minuman yang juga merupakan minuman favoritku juga, alah mungkin kebetulan.
" Ngapain sih lo ngajak ketemuan! gue itu males lihat muka lo! " ucapku dengan nada tinggi dan menunjuk ke arahnya, sementara dia hanya diam mematung tanpa menjawab perkataanku.
" Mana ponsel gue! gue males di sini lama lama! apa lagi liat muka lo! " lanjutku sama dengan nada tinggi. Aku menumpahkan semua emosiku sekarang.Tiba tiba saja tanganku di tarik sama dia, ya aku pastinya ngelawan dong, tapi tetap saja Andrian menarik tanganku, ya akhirnya aku pasrah saja daripada tanganku nanti sakit. Tiba tiba Andrian mengeluarkan salep dari jasnya dan mulai mengobati memar di tanganku akibat ulahnya yang juga membuat jantungku deh degan.
" Selain ini gak ada luka lagi? " ucap Andrian setelah mengobati memar di tanganku
" nggak ada! " ucapku gelagapan dan cepat cepat menarik tanganku sebelum jantungku meledak
" dimana ponselku? " ucapku canggung
" habiskan minuman kamu dulu! " ucap Andrian tenang dan meminum minumannya. Setelah perkataan Andrian itu, aku segera menghabiskan minumanku sampai tidak tersisa apa pun ( tapi gelasnya masih utuh loh ya )
" sudah! sekarang mana ponsel gue! "
" ini, " ucap Andrian menyerahkan ponsel dan dua kartu, satunya kartu kredit dan ATM
" apa ini? dan juga ini kan bukan ponsel gue! " ucapku setelah mengetahui itu bukan ponselku dan gak tau maksutnya dia mengeluarkan kartu itu.
" gue gak mau yang baru! yang gue mau ponsel gue yang lo ambil, balikin! " ucapku dengan penuh penekanan
" udah rusak, " ucap Andrian dengan gampangnya
" what! rusak! lo apain ponsel gue sampai rusak? "ucapku kaget
" jatuh, " ucapnya singkat dan gak ada rasa bersalahnya sama sekali yang membuatku semakin tersulut amarah. Sabar Difa, sabar, sabar, dia memang seperti itu dan seperti itu sifatnya, jadi kamu harus banyak banyak bersabar.
" Ya udah gue pergi! " ucapku pergi dengan mengambil ponsel dan kedua kartu itu melewati dia. Tiba tiba dia ikut berdiri dan menarikku dalam pelukannya yang membuatku diam mematung, karena tindakan tiba tiba yang dia lakukan.
" Maaf, " ucapnya yang kemudian melepaskan pelukannya dan pergi dengan membawa tas yang aku taruh di atas meja, mungkin dia tahu di dalamnya ada jas milik Adi. Setelah sekitar sepuluh menit lamanya saat kepergiannya, aku tetap berdiri mematung di sana dan mengontrol denyut jantungku. Dan untuk saja ada salah satu karyawan kafe yang menyadarkan aku, kalau tidak mungkin aku akan berdiri di sana sampai kafenya tutup, terima kasih banyak untuk mbak mbak tadi. Aku pun keluar untuk menyuruh pak Joko untuk pulang, karena kasian dia harus menunggu lama dan setelah itu aku menelpon Reta. Untung saja di ponsel baru ini ada nomornya Reta.
" Halo, ini dengan siapa ya? " ucap Reta dari balik telepon. Tumben banget dia pake bahasa sopan, ah aku kerjain aja dia.
" ehm ehm a i u, oke, " ucapku menjauh dari ponselku
" Halo, halo "
" iya ibu, saya dari bank, saya mau beritahu ibu kalau tagihan kartu kreditnya kok belum di bayar bayar ya? " ucapku ala pegawai bank
" kalau boleh tau berapa ya mbak? " ucap Reta ragu ragu
" sekitar seratus lima puluh juta Bu, "
" apa!! gak mungkin mbak saya menghabiskan uang sampai segitu! " ucap Reta syok
" saya juga gak tau Bu yang tertulis di sini seperti ini "
" ini pasti penipuan mbak atau mungkin kartu kreditku dibajak mbak…" ucapnya panik
" ha ha ha ha, lo lucu deh Ret kalau panik ha ha ha, " ucapku memotong perkataan Reta